Sampajañña
| Terjemahan dari Sampajañña | |
|---|---|
| Indonesia | pemahaman jernih berkesadaran jernih |
| Inggris | clear comprehension, clear knowing, fully alert, full awareness, attention, consideration, discrimination, comprehension, circumspection, introspection |
| Pali | सम्पजञ्ञ (sampajañña) |
| Sanskerta | संप्रजन्य (saṃprajanya) |
| Jepang | 正知 (rōmaji: Shouchi) |
| Tibet | ཤེས་བཞིན་ (Wylie: shes bzhin, THL Phonetic: shé zhin) |
| Vietnam | tỉnh giác |
| Khmer | សម្បជញ្ញៈ (Sampachannheak) |
| Daftar Istilah Buddhis | |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
| Bagian dari seri tentang |
| Kewawasan |
|---|
|
|
Sampajañña (Pāli; Skt.: saṃprajña, samprajñatā, Tib: shes bzhin), juga dikenal sebagai sampajāna, adalah istilah yang sangat penting untuk praktik meditasi dalam semua tradisi Buddhis. Istilah ini merujuk pada "Proses mental yang melaluinya seseorang secara terus-menerus memantau batin dan jasmaninya (nāmarūpa) sendiri. Dalam praktik samatha, fungsi utamanya adalah untuk mencatat terjadinya kelambanan (middha) dan kegelisahan (uddhacca) batin."[1] Istilah ini sangat sering ditemukan dalam pasangan 'perhatian-penuh dan pemahaman-jernih' (Pali: sati sampajañña, Skt.: smṛti saṃprajña) atau 'perhatian-penuh dan introspeksi'.
Sampajañña telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris (dan padanannya dalam bahasa Indonesia) dengan berbagai cara seperti "kesinambungan", "pemahaman jernih",[2] "pengetahuan jernih",[3] "pemahaman saksama yang terus-menerus tentang ketidakkekalan",[4] "kewaspadaan penuh"[5] atau "kesadaran penuh",[6] "perhatian, pertimbangan, pembedaan, pemahaman, kehati-hatian",[7] dan "introspeksi".[1]
Entri kamus
Entri pada The Princeton Dictionary of Buddhism menyatakan (isi entri diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa Inggris):
"saṃprajanya . (P. sampajañña; T. shes bzhin; C. zhengzhi; J. shōchi; K. chŏngji正知 ). Dalam bahasa Sanskerta, "pemahaman jernih," "kehati-hatian," "introspeksi"; sebuah istilah yang terkait erat dengan, dan sering kali muncul dalam gabungan kata bersama, perhatian penuh atau kewawasan (S. SMṚTI, P. sati). Dalam penjelasan tentang praktik pengembangan penyerapan meditatif (DHYĀNA), smṛti merujuk pada faktor perhatian penuh yang mengikat pikiran pada objek, sementara saṃprajanya adalah faktor yang mengamati pikiran untuk menentukan apakah ia telah menyimpang dari objeknya. Secara khusus, sumber-sumber Pāli merujuk pada empat aspek pemahaman jernih, yang melibatkan penerapan perhatian penuh dalam praktik. Pertama adalah tujuan (P. sātthaka), yaitu, apakah tindakan tersebut akan memberikan manfaat terbaik bagi diri sendiri dan orang lain; kriteria utamanya adalah apakah tindakan tersebut mengarah pada pertumbuhan dalam dharma. Kedua adalah kesesuaian (P. sappāya): apakah suatu tindakan selaras dengan waktu, tempat, dan kapasitas pribadi yang tepat; kriteria utamanya adalah keterampilan dalam menerapkan cara yang tepat (P. upāyakosalla; S. UPĀYAKAUŚALYA). Ketiga adalah ranah meditasi (gocara): yaitu, semua pengalaman harus dijadikan topik kesadaran yang penuh perhatian. Keempat adalah tanpa-delusi (asammoha): yaitu, mengenali bahwa apa yang tampak sebagai tindakan seseorang pada kenyataannya hanyalah serangkaian proses mental dan fisik yang impersonal; aspek saṃprajanya ini membantu menangkal kecenderungan untuk memandang semua peristiwa dari sudut pandang pribadi yang egois. Dengan demikian, saṃprajanya memperluas kejernihan pemikiran yang dihasilkan oleh perhatian penuh dengan menggabungkan faktor-faktor tambahan dari pengetahuan yang benar (JÑĀNA) atau kebijaksanaan (PRAJÑĀ)."[8]
Dalam kepustakaan Pali
Tripitaka Pali
Penjelasan tentang pemahaman jernih (sampajañña) yang paling terkenal diserukan oleh Sang Buddha bersamaan dengan praktik perhatian penuh (sati) dalam Satipaṭṭhāna Sutta:
Di sini (dalam ajaran ini) seorang biku berdiam merenungkan jasmani dalam jasmani, tekun, memiliki pemahaman jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan di dunia;
ia berdiam merenungkan perasaan dalam perasaan, tekun, memiliki pemahaman jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan di dunia;
ia berdiam merenungkan kesadaran dalam kesadaran, tekun, memiliki pemahaman jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan di dunia;
ia berdiam merenungkan objek-objek mental dalam objek-objek mental, tekun, memiliki pemahaman jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan di dunia.[9]
Pemahaman jernih berkembang dari perhatian penuh pada pernapasan (ānāpānasati) dan selanjutnya hadir bersamaan dengan perhatian penuh untuk keempat satipaṭṭhāna.[10][9]
Kitab komentar
Meskipun kitab-kitab nikāya dalam Suttapiṭaka tidak merinci apa yang dimaksud Sang Buddha dengan sampajañña, kitab-kitab komentar (aṭṭhakathā) bahasa Pāli menganalisisnya lebih lanjut ke dalam empat konteks pemahaman seseorang:[11]
- tujuan (Pāli: sātthaka): menahan diri dari aktivitas yang tidak relevan dengan Jalan.
- kesesuaian (sappāya): melakukan aktivitas dengan cara yang bermartabat dan berhati-hati.
- ranah (gocara):[12] mempertahankan pengekangan indra yang selaras dengan perhatian penuh (sati).
- tanpa-delusi (asammoha): melihat sifat sejati dari realitas (lihat tiga corak umum).
Komentar kontemporer
Kritis terhadap tujuan Perhatian Benar (Nyanaponika)
Dalam sebuah korespondensi antara Bhikkhu Bodhi dan B. Alan Wallace, Bhikkhu Bodhi menggambarkan pandangan Y.M. Nyanaponika Thera tentang "perhatian benar" (sammā-sati) dan sampajañña sebagai berikut,
- ... Saya harus menambahkan bahwa Y.M. Nyanaponika sendiri tidak menganggap "perhatian semata" (bare attention) sebagai makna yang mencakup keseluruhan dari satipaṭṭhāna, melainkan hanya mewakili satu fase, yakni fase awal, dalam pengembangan meditatif dari perhatian benar. Beliau berpendapat bahwa dalam praktik perhatian benar yang tepat, sati harus diintegrasikan dengan sampajañña, pemahaman jernih, dan hanya ketika keduanya bekerja sama, barulah perhatian benar dapat memenuhi tujuan yang dimaksudkannya.[13]
Lihat pula
- Asaṃprajanya – ketiadaan kewaspadaan, ketiadaan kehati-hatian, dll.
- Sammprajnata dalam ashtanga yoga Patanjali
- Meditasi Buddhis
- Perhatian penuh (sati)
- Samatha-vipassanā
- Satipaṭṭhāna
Catatan
- ^ a b Wallace, B. Alan (2016). Heart of the Great Perfection. MA, USA: Wisdom publications. hlm. 629 (e-book). ISBN 978-1-61429-236-4.
Glosarium=introspeksi (Tib. shes bzhin, Skt. saṃprajanya). Proses mental yang melaluinya seseorang memantau tubuh dan pikirannya sendiri. Dalam praktik samatha, fungsi utamanya adalah mencatat terjadinya kelambanan dan kegelisahan.
Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ^ Komentar (543 SM); Payutto (1972) Dictionary of Buddhism; TW Rhys Davids (1921); Bodhi (2005), hlm. 283; dan, Soma (2003), hlm. 60–100.
- ^ Anālayo (2006), hlm. 141 ff.
- ^ VRI (1996), hlm. 8–11.
- ^ Satipaṭṭhāna Sutta [Khotbah tentang Penegakan Perhatian Penuh] Majjhima Nikāya 10. (Diterjemahkan dari bahasa Pali oleh Thanissaro Bhikkhu). dhammatalks.org. Diperoleh dari https://www.dhammatalks.org/suttas/MN/MN10.html.
- ^ Nhat Hanh (1990), hlm. 50–51.
- ^ Rhys Davids & Stede (1921–25), hlm. 690, entri "Sampajañña".
- ^ Robert E. Buswell Jr., Jr. Lopez Donald S. (2014). The Princeton Dictionary of Buddhism. Princeton, USA: Princeton University Press. hlm. 57190 (lokasi e-book kindle). ISBN 978-0-691-15786-3.
- ^ a b Satipatthana Sutta: The Foundations of Mindfulness, diterjemahkan dari bahasa Pali oleh Nyanasatta Thera [1]
- ^ Anālayo (2006), hlm. 141–2.[2]
- ^ Anālayo (2006), hlm. 143–5; Bodhi (2005), hlm. 442, n. 34; dan, Nyanaponika (1996), hlm. 46.
- ^ Meskipun tiga jenis sampajañña lainnya memiliki terjemahan standar, gocara telah diterjemahkan dengan berbagai cara. Gocara (Pāli) secara harfiah berarti "padang rumput" atau "penggembalaan", berdasarkan kata go (sapi) dan cara (berjalan). Dengan demikian, Rhys Davids & Stede (1921–25), hlm. 254, memberikan definisi yang agak harfiah untuk gocara-sampanna sebagai "menggembala di ladang perilaku yang baik". Lihat pula Anālayo (2006), hlm. 56, di mana, misalnya, ia mencatat: "Sebuah khotbah dalam Aṅguttara Nikāya membandingkan praktik satipaṭṭhāna dengan keterampilan seorang gembala sapi dalam mengetahui padang rumput yang tepat untuk sapi-sapinya." Dalam artikel ini, terjemahan gocara sebagai "ranah" didasarkan pada Bodhi (2005), hlm. 442, dan Nyanaponika (1996), hlm. 49–51. Secara alternatif, Soma (2003), hlm. 61, 64, menerjemahkan gocara sebagai "tempat berdiam" (Inggris: resort), sementara Anālayo (2006), hlm. 143, 145, menggunakan terjemahan harfiah "padang rumput" (Inggris: pasture).
- ^ Wallace & Bodhi (2006), hlm. 4. Menurut korespondensi ini, YM Nyanaponika menghabiskan sepuluh tahun terakhirnya tinggal bersama dan dirawat oleh Bhikkhu Bodhi. Bhikkhu Bodhi menyebut YM Nyanaponika sebagai "kalyāṇamitta terdekat dalam hidup saya sebagai seorang biku."
Referensi
- Anālayo (2006). Satipatthāna: The Direct Path to Realization. Birmingham: Windhorse Publications. ISBN 1-899579-54-0.
- Bodhi, Bhikkhu (ed.) (2005). In the Buddha's Words: An Anthology of Discourses from the Pāli Canon. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-491-1.
- Nhat Hanh, Thich (terj. Annabel Laity) (1990). Transformation and Healing : the Sutra on the Four Establishments of Mindfulness . Berkeley, CA: Parallax Press. ISBN 0-938077-34-1.
- Nyanaponika Thera (1996). The Heart of Buddhist Meditation. York Beach, ME: Samuel Weiser, Inc. ISBN 0-87728-073-8.
- Rhys Davids, T.W. & William Stede (ed.) (1921–5). The Pali Text Society's Pali–English Dictionary. Chipstead: Pali Text Society. Mesin pencari daring umum untuk PED tersedia di http://dsal.uchicago.edu/dictionaries/pali/.
- Soma Thera (2003). The Way of Mindfulness. Kandy: Buddhist Publication Society. ISBN 955-24-0256-5.
- Satipaṭṭhāna Sutta [The Establishing of Mindfulness Discourse] MN 10. (Diterjemahkan dari bahasa Pali oleh Thanissaro Bhikkhu). dhammatalks.org. Diperoleh dari https://www.dhammatalks.org/suttas/MN/MN10.html.
- Vipassana Research Institute (VRI) (1996). Mahāsatipatthāna Sutta: The Great Discourse on the Establishing of Awareness. Seattle, WA: Vipassana Research Publications of America. ISBN 0-09-649484-0.
- Wallace, B. Alan dan Bhikkhu Bodhi (Musim Dingin 2006). The nature of mindfulness and its role in Buddhist meditation: A correspondence between B. Alan Wallace and the Venerable Bhikkhu Bodhi. Manuskrip tidak diterbitkan, Santa Barbara Institute for Consciousness Studies, Santa Barbara, CA.
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


