Pulau Warhiranggah

Paara Uskup di Papua di Pulau Misi Pasca Merayakan 129 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua (2023)

Pulau Warhiranggah adalah sebuah pulau yang menjadi pusat wisata religi misi Katolik di Tanah Papua. Dalam bahasa penduduk lokal di Fakfak, mengartikan Warhiranggah sebagai batu pecah. Pastor Cornelis Johann Le Cocq d'Armandville SJ justru menyebutnya pulau Bone dengan pengertian pulau yang indah, baik dan bagus. Belakangan masyarakat di wilayah ini menyebutnya pulau Bonyum. Pulau Warhiranggah disebut pusat wisata religi bagi gereja Katolik di Papua, karena pada 1895, pastor Le Cocq membuka pos misi pertama kalinya di pulau tersebut. [1]

Sejarah

Kontak awal

Pada 22 Mei 1894, penduduk lokal yang beragama Islam di kampung Sekru, yakni bapak Dunari Samai, Umar Halatan Serkanasa dan seorang lagi dari klan Diapruga menerima pastor Cornelis Johannes Le Cocq d'Armandville. Mereka menerima dengan lapang dada, dimana menyediakan rumah untuk tinggal dan mengajaknya makan minum bersama. Penduduk lokal ini tidak menganut Katolik, melainkan mendampingi pastor guna menjumpai penduduk di wilayah Torea yang belum beragama.[2]

Kontak awal perdana ini ditandai dengan baptisan perdana yang melibatkan 10 orang di kali Sekru. Keesokan harinya, pastor Le Cocq membaptis sebanyak 63 orang di kampung Torea, sekarang berdiri sebuah gereja Katolik. Selanjutnya, ia berusaha mencari tempat untuk membuka pos misi Katolik di daerah ini. Dari kunjungan di beberapa titik, ia melihat pulau Warhiranggah sebagai tempat yang menut dia tepat untuk membuka pos misi Katolik.[3]

Kembali ke Langgur

Akhir Mei 1894, ia pergi ke Langgur, Maluku. Disana ia mencari tukang bangunan untuk merancang rangka bangunan dan membangunnya di pulau Warhiranggah. Selain itu, ia mencari guru pengajar yang bersedia mengajar di sekolah pertama yang hendak ia buka di samping pastoran dan gerejanya.[4]

Disana ia bertemua konfraternya, yakni Bruder Zinken SJ dan te Boekhorsot, yang kemudian akan membangun pastoran, gereja dan sekolah darurat. Selain itu, ia bertemu dengan guru Christianus Pelletimu, seorang yang berasal dari Ambon dan beragama Protestan. [5]

Semalam di Raduria

Pada akhir April Le Cocq dan rombongan untuk membuka pos misi Katolik masuk di Fakfak. Kali ini mereka masuk di kampung Raduria pada 1 Mei 1895. Disana mereka membangun kontak dengan penduduk lokal, yakni bapak Kondagat Antonius Hindom, Mensara Lukas Hindom, Podpojen David Temongmere dan lainnya. Semalam pastor Le Cocq tidur di pondok kecil di pinggir pantai Raduria. [6]

Membangun Pos Misi

Pada tanggal 2 Mei 1895, penduduk lokal mengantar pastor Le Cocq dan rombongan ke pulau Warhiranggah atau Bonyom. Mereka masuk di pulau ini dengan bahan bangunan, dan alat-alat kerja menggunakan kapal kecil yang disewa dari Tual serta perahu lokal yang disiapkan penduduk lokal. [7]

Disini pastor membangun gereja, pastoran dan sekolah darurat. Selain itu, ada sebuah sumur yang didirikan di bawah kaki bukit dan samping pastoran. Sumur tersebut sekarang diebut sumur Le Coce. Hingga saat ini sumur tersebut masih dirawat dan dikelolah oleh bapak Hendrikus Temongmere asal kampung Bringkendik. [8]

Pengembangan Wisata Religi

Masyarakat Fakfak ramai-ramai membersihkan pulau Warhiranggah menjelang perayaan 22 Mei 2023

Sejak 2010/11 mulai merayakan perayaan misi Katolik di Tanah Papua di pulau ini. Sekarang mulai dikembangkan sebagai pusat wisata religi misi Katolik di Tanah Papua. Le Cocq Foundation, sebuah lembaga yang fokus mengembangkan pulau misi ini sedang mendorong pembangunan gua Maria, jembatan, tempat-tempat perhentian (Salib), patung Kristus Raja, rumah singgah dan lainnya. [9]

  1. ^ "130 Tahun Misi Katolik Di Tanah Papua, Pulau Bonyom Dijadikan Situs Bersejarah | Jubi Papua" (dalam bahasa American English). 2024-05-22. Diakses tanggal 2025-10-09.
  2. ^ Perajaka, Maximus Ali. "Jejak Kaki Pastor Le Cocq SJ di Kampung Sekru, Fakfak, Tanah Papua - Katolikku". Jejak Kaki Pastor Le Cocq SJ di Kampung Sekru, Fakfak, Tanah Papua - Katolikku. Diakses tanggal 2025-10-09.
  3. ^ Letsoin, Ronaldo (2022-08-24). "Dibaptis Oleh Pastor Cornelis Le Cocq d'Armanville, Orang Kampung Torea Adalah Umat Katolik Pertama di Tanah Papua". DETIK PAPUA. Diakses tanggal 2025-10-09.
  4. ^ Komsoskms.org (2023-05-11). "Agama Katolik di Kampung Raduria". KOMSOS KEUSKUPAN MANOKWARI-SORONG. Diakses tanggal 2025-10-09.
  5. ^ "Gereja Santo Yosep Pekerja, Fakfak". Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. 2025-10-08.
  6. ^ "Cornelis Johann Le Cocq d'Armandville". Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. 2025-10-08.
  7. ^ "Mengunjungi lokasi pos misi Katolik pertama di Tanah Papua - WAGADEI.ID - Ko Baca, Biar Ko Tahu!". wagadei.id. 2025-08-04. Diakses tanggal 2025-10-09.
  8. ^ Itlay, Soleman (2025-08-04). "Mengenal Pos Misi Katolik Pertama di Papua". Adil Untuk Perubahan (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-10-09.
  9. ^ "Pulau Bone Sendiri Dikenal Sebagai Situs Sejarah Keagamaan Yang Memiliki Nilai Spritual Tinggi Bagi Umat. Katolik di. Papua Setiap Tanggal 22 Mei". Diakses tanggal 2025-10-09.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement