Gereja Katolik di Papua

Gereja Katolik, Paroki St. Fransiskus Merauke 1960
Topik Keterangan
Jenis Kebijakan
Pengolongan Gereja Katolik Roma
Orientasi Latin
Kitab Suci Alkitab
Teologi Teologi Katolik
Badan pemerintahan Konferensi Waligereja Indonesia
Paus Leo IV
Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo
Nunsius Apostolik Piero Pioppo
Wilayah Indonesia
Bahasa Bahasa Daerah, Indonesia, Tok Pigsin, Latin, Inggris dan lainnya
Kantor Pusat Merauke
Didirikan 19 Juli 1844

Gereja Katolik di Tanah Papua bagian dari gereja Katolik Roma dengan berpusat pada kepemimpinan Paus sebagai kepala gereja tertinggi yang berkedudukan di Tahta Suci Vatikan, Roma. Pemerintah Indonesia mengakui enam agama yang tersebar di seluruh Indonesia, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu. Agama Katolik menjadi salah satu agama tertua yang tumbuh bersama dengan agama Islam dan Protestan di tanah Papua dengan jumlah penganut 5,7% dari jumlah penduduk 61.953 jiwa.[1]

Gereja Katolik di Tanah Papua atau Gereja Katolik Regio Papua meliputi Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Jayapura, Keuskupan Manokwari-Sorong, Keuskupan Agats dan Keuskupan Timika. Sedangkan wilayah-wilayah yang menjadi basis Katolik di Papua antara lain, yakni Fakfak, Bintuni, Kaimana, Merauke, Mimika, Asmat, Mappi, Boven Digoel, Paniai, Keerom, Maybrat, Tambrauw, Intan Jaya, Hugulama/Lembah Baliem atau Wamena, dan Oksibil.[2]

Jauh sebelumnya, orang Papua memiliki kontak dengan kerajaan-kerajaan dan bangsa-bangsa di Eropa, Timur Tengah dan Asia Tenggara, antara lain Imperium Romawi, China, Arab, India, Iran, Spanyol, Portugis, Belanda, dan Majapahit serta Tidore. Sistem perdagangan rempah-rempah yang dimainkan bangsa-bangsa ini memiliki andil terhadap penyebaran agama di Tanah Papua.[3]

Era kekuasaan Belanda dan Indonesia di Papua dimulai dengan ketegangan politik. Puncak ketegangan politik kedua belah pihak terjadi pada 1960-1969. Amerika Serikat (AS) ikut memainkan peran penting di balik gejolak politik di Papua. Era tersebut ikut memengaruhi eksistensi gereja Katolik di Papua. Pada saat itu mengalami dilema, antara mengikuti Belanda atau mendukung Indonesia. Pasca pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969) ikut menentukan posisi gereja Katolik di Papua.[4]

Gereja Katolik di Papua [dulu disebut Nueva Guinea] tumbuh dan berkembang bersamaan dengan gereja Katolik di Papua New Guinea (PNG) dengan mengikuti dekrit dari Paus Gregorius XVI pada abad ke-19. Namun seiring dengan berjalannya waktu mendapatkan pengaruh dari wilayah Hindia Belanda melalui misionaris asal Belanda yang mulai memasuki daerah ini.[5]

Zending Protestan lebih dulu mememasuki pulau Papua melalui pengaruh misionaris asal Jerman pada abad ke-19. Tepat tiga puluh sembilan tahun kemudian misonaris Katolik asal Belanda memasuki tanah Papua. Kendali Belanda di Papua ikut memengaruhi misi kekristenan dan kekatolikan di Papua dalam memperebutkan wilayah misi pelayanan pastoralnya.[6]

Pergolakan politik di Papua antara Belanda dan Indonesia ikut menentukan ini nasib dan masa depan gereja katolik Papua. Saat ini gereja Katolik regio Papua memiliki 1 keuskupan metropolit dan 4 keuskupan sufragan, yang bergabung dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang saat ini dipimpin oleh Uskup Bandung, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C.[7]

Komunitas biarawan yang memiliki andil besar dalam perintisan dan pengembangan misi Katolik di tanah Papua antara lain Serikat Jesus (SJ), Misionaris Hati Kudus Yesus atau Missionaries of the Sacred Heart of Jesus (MSC), Ordo Fratrum Minorum (OFM), Ordo Santo Agustinus (OSA) dan Ordo Salib Suci atau Ordo Sanctae Crucis (OSC). Sedangkan misionaris biaarawati yang merintis karya misi anatar lain dari Para Suster Putri Bunda Hati Kudus (PBHK), Para Suster Darah Mulia, Para Suster Ordo Ketiga Awam Fransiskan Brumen, Para Suster Tarekat Dina Santo Yosep (DSY), Para Suster Fransiskanes Bennebroek (KFSL) dan Para Suster Penolong Kristus.[8]

Papua merupakan pulau dengan mayoritas penduduk memeluk kekristenan, yakni Protestan yang menguasai di wilayah Utara dan Katolik di bagian Selatan. Sejak integrasi/aneksasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indoensia (NKRI) membuka peluang bagi agama lain, seperti Islam, Hindu, Buddha dan Konghocu berkembang di sini.

Pengangkatan uskup dari kalangan imam asli Papua oleh Tahta Suci Vatikan memberi pengakuan sekaligus memperkokoh posisi gereja Katolik di Tanah Papua. Penunjukkan ini sangat menarik, karena dilakukan setelah melewati perjalanan yang sangat panjang, yakni; masa gereja misi, gereja Indonesiaisasi dan partikular (papuanisasi). Di mana pada gereja misi dikendalikan oleh para misionaris Eropa, kemudian setelah Papua diintegrasikan ke dalam Indonesia tumbuh dalam warna gereja Nusantara. Kehdarian sosok para gembala baru di Tanah Papua ini memberikan harapan baru dalam 'membangun gereja yang menjadi Papua'.

Sejarah

Ringkasan

Pada 19 Juli 1844, Paus Gregorius XVI mengeluarkan sebuah dekrit yang disebut" Ex debbito Pastoralis," yang membentuk dua Vikariat baru yakni; Vikariat Mikronesia dan Vikariat Melanesia. Tahta Suci Vatikan menentukan garis bujur dari 125 derajat BT hingga 160 derajat BB yang meliputi Nueva Guinea (Papua), Tobbia, William, Shouten Eilanden, Vesset, Timollant, dan Ariou guna menjadikannya sebagai ladang karya misi Allah.[1] Pembagian wilayah ini menjadi cikal bakal terbentuknya wilayah gereja baru sebelum para misionaris Katolik memasuki di tanah misi.[9]

Sekitar 11 tahun kemudian, perkumpulan ‘De Christelijke Werkman’ (‘Pekerja Kristen’) di Jerman mengutus Carl W. Ottow dan Johann G. Geissler ke tanah misi. Seorang ex-imam Katolik asal Jerman yang pindah ke Protestan, Johannes Gosnner (1773-1858) memainkan peran penting dengan ide misi pengiriman para pekerja Tuhan melalui Berliner Misionsgesellschaf (Persekutuan Misi Berlin). Sedangkan di Belanda, Ottho Gerhard Heldring (1804-1876) mulai mengembangkan rencana kolonisasi yang disisipkan dengan ide mengenai zending.[10]

Pada 1850 Heldring yang memiliki sebuah organisasi Vrienden des Heeren (Sahabat-Sahabat Tuhan) mengunjungi Grossner di Berlin. Kemudian membicarakan kemungkinan merekrut orang, melatih, menyiapkan dan mengirimkannya ke tempat-tempat yang belum terjangkau. Ottow dan Geissler menjadi orang-orang pilihan dari sekiaan banyak orang yang masuk mengikuti bimbingan dan persiapan selama beberapa bulan. Kemudian kedua misionaris Zendeling ini tiba di Mansinam pada 5 Februari 1855 di pulau Mansinam, Manokwari, Papua Barat.[11]

Tidak lama, 39 tahun kemudian Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville SJ mendapat tugas secara khusus untuk membuka pos misi Katolik di Tanah Papua. Sebelumnya “si jago Tuhan” bekerja di Jawa, NTT dan Maluku, tetapi setelah mendapat petunjuk dari atasan ia merintis karya misi di tanah Papua. Pastor Le Cocq pertama kali masuk di Kampung Sekru, Fakfak, Papua Barat pada tanggal 22 Mei 1894.[12]

Di sini ia membangun kontak dengan penduduk lokal yang beragama Islam, yakni; Dunari Samai, Umar Halatan Serkanasa dan Diapruga. Dalam sepuluh hari berjalan, ia membaptis sebanyak 73 orang di kali Hibruh dan Kampung Torea. Setahun kemudian membuka pos misi Katolik pertama di pulau Bonyom, Kampung Brongkendik, Fakfak, Papua Barat. Pos misi meliputi gereja, pastoran, sekolah, dan sumur darurat pada tahun 1895. Bahkan membaptis 86 orang dari pos misi katolik pertama.[13]

Upaya Awal Masuk

Misionaris dari komunitas Serikat Jesuit (SJ) menjadi perintis pertama bagi gereja Katolik di tanah Papua. Mereka mendapat tugas langsung dari Vikaris Natavia, Mgr. Adamus C. Claessens pada akhir 1880-an untuk membuka pos misi di Maluku dan Nueva Guinea. Harus sangat hati-hati, karena masyarakat lokal belum bisa membangun kontak dengan orang asing. Keberadaan Inggris di bagian selatan—PNG membuat Claenssens untuk mengutus misionaris dan membuka pos di sini.[14]

Pastor Carolus van der Heyden SJ menjadi salah satu imam Yesuit yang mendapatkan tugas secara khusus membuka pos misi Katolik di Maluku. Pada 30 Desember 1890 terdampar di Kampung Itatuni/Vanderpaha, Werabuan, Fakfak, Papua Barat. Kapal yang ditumpanginya terbakar di pinggir pantai. Kejadiannya ini membuat segala rencana Heyden untuk melanjutkan perjalanan ke Maluku terhambat. Selama di sini sempat membangun kontak dengan penduduk lokal. Kemudian membaptis 15 orang pada 31 Desember 1890 di Siboru.[15]

Pada 21 Januari 1891 ia meninggalkan wilayah itu. Kemudian bersama Controleur pertama untuk Kepulauan Kei, tuan van der ‘Houts’ menuju ke Kei menggunakan kapal Gubernemen De Arend. Tiba di Kei pada 19 Februari 1891 dan melanjutkan tugas-tugas perutusannya. Setelah pastor Heyden pergi, tidak ada lagi misionaris Katolik yang masuk di wilayah Werabun. Akibatnya, penduduk lokal yang sebelumnya memeluk agama Katolik pindah ke Protestan.[16]

Pada 11 Juli 1891, pastor Heyden datang ke Seram, Maluku dengan tujuan membuka pos misi di sini di samping mempersipakan dalam membuka pos misi lanjutan di Nueva Guinea. Pada Oktober 1892 Uskup Amboina Mgr. A. C. Claessens memberikan perintah kepada Heyden untuk pergi melakukan peninjauan awal ke daratan selatan Papua. Tujuannya untuk mencari tempat yang agak baik supaya bisa membuka pos misi Katolik di Nueva Guinea di samping membendung langkah Inggris dari PNG.[17]

Ia memanfaatkan momen tim ekspedisi Belanda 1894 yang hendak berlayar guna melakukan eksplorasi pada flora dan fauna di wilayah ini. Tapi juga menyedikan, karena Bruder T. Klamer, SJ yang ikut Heyden meninggal setelah tiba di Maluku. Laporan-laporan yang dikirim pastor Heyden tentang keadaan di Nueva Guinea menembus di meja rapat para imam di Batavia. Dalam laporan survei itu menuntut agar seorang misionaris yang lebih energik ditugaskan di tanah misi.[18]

Penugasan Khusus

Pastor Cornelis Le Cocq d'Armandville, SJ

Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville SJ menjadi pilihan utama dari Mgr. Adam Carl Claenssens guna dikirim ke Nueva Guinea. Setelah mendapat tugas baru, pada 9 November 1891, Pater Le Cocq menuju ke Pulau Seram, Ambon. Lalu tahun 1892 Pater Le Cocq diutus untuk meninjau kampung Bomfia di bagian Timur pulau Seram. Pater Le Cocq mendarat di Waru dan menuju ke Bonfia. Ia meninggalkan di daerah ini karena mendapat penolakan dari masyarakat lokal untuk menjadi penganut Kristen. Pada tahun 1893 ia memasuki Kisse Wooi dan kepulauan Watubela.[19]

Pada awal 1894, Le Cocq pernah berkunjung juga di pulau Geser. Selama di sini, ia mengumpulkan banyak informasi tentang Nueva Gueinea melalui penduduk lokal setempat dan orang Papua yang pergi berdagang kesana. Monsinyur Claessens langsung memberikan tugas secara khusus kepada pastor Le Cocq guna membuka pos misi Katolik di Tanah Papua. Pastor yang dikenal dengan julukan “si jago Tuhan” ini menerima tugas perutusan itu dengan rasa gembira.[20]

Kontak Awal

Pada 22 Mei 1894, pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville SJ memasuki Kampung Sekru, Distrik Pariwari, Fakfak, Papua Barat. Tanggal ini disebut-sebut sebagai hari bersejarah bagi sejarah perkembangan misi Katolik di Tanah Papua. Peristiwa ini dianggap penting karena membangun kontak langsung dengan penduduk lokal yang beragam Muslim. Kemudian membaptis orang di sini.[21]

Penduduk lokal yang meneriman Le Cocq antara lain Dunari Samai, Umar Halatan Serkanasa dan Diapruga. Selama 10 hari lebih, ia menghabiskan waktu bersama penduduk lokal. Bahkan tidur bangun dan makan minum dengan penduduk Muslim dan yang belum beragama di kampung Sekru dan Torea. Keberanian untuk merendahkan diri dalam kebudayaan penduduk lokal menarik simpati orang.[22]

Karena itu ia mendapat dukung penuh dari penduduk lokal guna menyebarkan agama Katolik. Bahakan melakukan kunjungan di kampung-kampung masyarakat, berlayar ke tepian pantai dan pulau dalam melakukan peninjauan awal. Di sini penduduk lokal sambut dengan lapang dada. Keterbukaan hati pastor membuat penduduk lokal pun secara terbuka mendukung karya misinya.[23]

Baptisan Awal

Keesokan harinya, tepat 23 Mei 1894 ia membaptis 8 anak di kali Hibruh, Sekru. Keesok harinya, ia membaptis sebanyak 65 orang di kampung Torea—sekarang menjadi lokasi berdirinya Gereja Katolik St. Petrus Torea. Sakramen pembaptisan awal ini menjadi peristiwa penting, karena secara ekslusif menandai kehadiran gereja Katolik di Tanah Papua.[24]

Pos Misi Katolik

Selama di Fakfak, ia mengunjungi hampir semua wilayah pesisir yang ada di dalam kota. Salah satu tempat yang menarik perhatian adalah pulau "War Hiryamggah." War Hiryamggah dalam bahasa penduduk lokal, artinya "batu pecah. Namun, belakangan ini seringkali disebut Bone/Bonyom. Dalam bahasa Latin verarti baik, indah, dan damai. Pastor melihat pulau Bonyom itu sangat strategis. Selain indah, juga tak berpenghuni sehingga lebih mudah untuk membuka pos misi Katolik di sini. Setelah memastikan lokasi ini, pada awal 1895, pastor Le Cocq kembali ke Tual, Maluku.[25]

Disana ia bertemu dengan komfraternya, yakni pastor Heyden. Dia menceritakan pengalaman hidupnya selama disana. Sekaligus meminta dukungan darinya, karena ia hendak membuka pos misi pertama di wlayah ini. Pada kesempatan yang sama ia meminta kesediaan bruder Zinken SJ dan te Boekhorsot, SJ guna mendirikan pos misi di pulau Bonyom.[26]

Selain itu, ia mencari seorang guru yang nantinya akan mengajarkan anak-anak di sekolah Katolik. Usahanya tidak sia-sia. Akhirnya ia bertemua dengan guru katekis Protestan, Christianus Palletimu. Setelah memastikan sumber daya, bahan dan alat ia meminta kepada bruder Zinken SJ dan te Boekhorsot untuk merakit bahan bangunan dari Tual. Kemudian mengangkut semua peralaran bangunan dan misa menuju pulau Bonyom.[27]

Sumur Le Cocq di pulau War Hiryamggah (Bonyom), Kampung Brongkendik, Fakfak, Papua Barat

Pastor Le Cocq mulai membuka pos misi Katolik di pulau Bonyom sejak 2 Mei 1895. Pembukaan pos ditandai dengan pendirian gereja, pastoran, sekolah dan sumur darurat. Sumur Le Cocq hingga saat ini masih terawat baik di pulau misi ini. Sebanyak 10 anak pertama sekolah di sini. Beberapa hari kemudian, ia membaptis 86 orang di sini.[28]

Akhir Transisi

Setelah menyelesaikan tugas—mendirikan pos misi pertama di pulau Bonyom, selanjutnya pastor Le Cocq merencanakan perjalanan baru ke arah Selatan. Kali ini hendak membuka pos misi Katolik kedua di wilayah Mimika. Ia keluar bersama kaptain kapal, Pieter Salomon dari pulau Bonyum pada 5 Maret 1895. Tiba di Mimika pertengahan Mei 1896. Sempat membangun kontak dengan penduduk lokal.[29]

Namun, pada 27 Mei 1896 dinyatakan tewas di kampung Kipia dan Mapar, Mimika, Papua Tengah. Kematian pastor masih menyimpan “pertanyaan besar” bagi keluarga, komunitas, orang Mimikawe, orang Papua, dan gereja Katolik di Papua. Kasusnya pernah didrong hingga di pengadilan Banda Neira, Maluku. Akan tetapi dicabut oleh gereja Katolik sendiri dengan pertimbangan tertentu.[30]

Le Cocq telah meletakkan dasar gereja Katolik di Tanah Papua dengan harga yang sangat mahal itu, yaitu nyawanya sendiri. Nyawanya menjadi jaminan untuk mengembangkan misi Katolik di sini. Namun di lain sisi kepergian pastor Le Cocq menjadi pukulan telak bagi komunitasnya. Mereka sudah trauma. Konfraternya tidak mau lagi melanjutkan misi di Nueva Guinea, karena takut mengalami nasib yang sama.[31]

Akibatnya, selama 8 tahun misi di Nueva Guinea mengalami transisi serius. Melihat hal ini Kongregasi Hati Kudus Yesus bergerak cepat dalam membendung pengaruh Zendiri dari utara, juga pengaruh Jerman dan Inggris di PNG. Pada 1 Januari 1904, Serikat Jesus menyerahkan wilayah pelayanan di Nueva Guinea kepada MSC guna mengembangkan karya misi yang ditinggalkan Le Cocq.[2][32]

Perkembangan Misi

Kembangkan Misi

Kepergian Le Cocq pada 1896 membuat Missionarii Sacratissimi Cordis Iesu atau Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) bersedia mengambilalih karya misi di Nueva Guinea. Sejak awal 1896 ada pembicaraan serius di tingkatan tarekat untuk untuk memasuki di wilayah Nueva Guinea. Pada 1 September 1903, Pater Mathias Neijens MSC yang didampingi langsung Pater Hendricus MSC, berangkat dari Belanda ke Vatican untuk menyampaikan sekaligus meminta restu dari Paus Pius X untuk memasuki wilayah ini.[33]

Tepat tanggal 4 Maret 1896 Dewan Pimpinan Provinsi MSC Belanda sepakat bulat untuk menerima misi ke Irian Barat. Serah terima tugas antara SJ dan MSC pada 1 Januari pada 1904 menjadi peristiwa yang amat penting dalam upaya mengisi ruang kosong di ladang misi Tuhan. Kerjasama yang baik antara kedua belah tarekat ini menambah semangat pengembangan misi di Nueva Guinea bagi misionaris baru.[33]

Misi pengembangan ini diterima dengan mempertimbangkan semboyang dari pada tarekat ini, yaitu; “Semoga Hati Kudus Yesus dikasihi di mana-mana”. Ini untuk menyebarkan semangat hati Yesus kepada setiap orang, supaya dalam hidupnya sungguh-sungguh mencerminkan kualitas hidup dari pada Yesus sendiri. Untuk memwujudkan tugas dan tanggung jawab yang baru diembannya, jauh sebelumnya ada upaya peninjauan awal.[34]

Pimpinan tarekat ini memutuskan untuk mengirim 4 misionaris ke selatan Papua supaya melanjutkan ataupun mengembangkan karya misionaris sebelumnya. Mereka adalah pastor Henri Nollen, Phlipus Braun, bruder Melkior Oeman dan Dyonisius van Rossel MSC. Keempat saudara ini datang menggunakan kapal layar “De Valk” dariTual, Maluku. Tiba di Sungai Maro pada 14 Agutus 1905, pukul 3 subuh (pagi).[35]

Misionaris MSC mulai kembangkan misi di sejumlah daerah di Tanah Papua, yakni Mindiptana, Asmat, Mimika, Fakfak, Manokwari, Serui, Biak, dan Jayapura. Hampir semua wilayah pesisis Papua, termasuk wilayah pegunungan Meuwodide dikunjungi oleh misionaris MSC. Memasuki 1936/37, MSC menyerahkan wilayah utara kepada Ordo Fraterun Minorum (OFM). Sejak itu, mereka fokus melayani di wilayah selatan Papua, meliputi Merauke, Boven Digoel, Mappi dan Asmat.[36]

Jejak Misionaris Ordo Fraterum Minorum (OFM)

Seiring dengan berjalannya waktu, kongregasi MSC menyadari bahwa wilayah pengembangan di Irian Barat sagat luas. Karenanya membutuhkan tenaga imam dalam jumlah yang banyak guna bersama-sama melayani umat di sini. Karena itu, dewan tarekat tersebut memutuskan agar mengundang misionaris dari komunitas lain supaya bekerja bersama atas restu dari Mgr. Aert. Dari semua tarekat misionaris yang ada di Belanda, mereka lebih memilih OFM.[37]

Pada 23 November 1935, Pastor Nico Verhoeven MSC yang baru terpilih sebagai Provinsial Misionaris Hati Kudus menulis sebuah surat pendek kepada Kustos (Vice Provinsial), pastor Paulus Stein OFM yang baru menggantikan pastor Nonoratus Caminada, OFM. Para pimpinan ordo telah melakukan rapat dalam menanggapi surat tersebut. Mereka bisa menerima tawaran itu.[38]

Setelah menerima tawarannya, mereka mengirim 6 orang misionaris Fransiskan ke Nederlands Nieuw Guinea. Mereka adalah Saturninus van Egmond, Zeno Moors, Fulco Vugts, Philipus Tettero, Nerius Louter dan Sebastianus Vendrig OFM. Pada 18 Maret 1937, mereka menginjakan kaki pertama kali di Fakfak, Tanah Papua.[39]

Fransiskan mendapat kesempatan untuk menangani sebagian wilayah selatan yang meliputi Bintuni, Fakfak, Mimika, dan lainnya. Sedangkan wilayah utara berkaitan dengan Manokwari, Biak, Serui, Port Numbay, dan Keerom. Kemudian memasuki 1930/40-an, Fransiskan mulai merintis di wilayah pedalaman\ yakni; Paniai, Intan Jaya, Hugulama (bukan Lembah Baliem), Oksibil dan lainnya. Oksibil menjadi wilayah terakhir dari perintisan Fransiskan.[40]

Jejak Misionaris Santo Agustinus (OSA)

Para Fransiskan merasa bahwa wilayah pelayanan masih mereka masih luas dan membutuhkan tenaga baru lagi. Karena itu, mereka mencari komunitas biarawan baru agar membagi wilayah pelayanannya. Pilihannya adalah pada Ordo Santo Agustinus (OSA). Dalam rapat pimpinan ordo telah sepakat bahwa mereka mengundang OSA untuk masuk melayani umat di Nederlands Nieuw Guinea.[41]

Suratnya telah dikirim kepada pimpinan vikariat jenderalnya di Roma, Italy. Pada 1951/52 OFM mulai meningkatkan lobi di Roma untuk meyakinkan OSA. Upaya tersebut telah direstui oleh pimpinan ordo tersebut. Kemudian pada akhir 1952 mengirim 2 misionaris ke Nederlands Nieuw Guinea. Mereka adalah pastor Malachias Van Diepen OSA dan Alex Snelting OSA.[42]

Para misionaris ini tiba di Biak, Papua pada Pada 1 Januari 1953. Dari Biak mereka menuju ke Jayapura. Kemudian antara OFM dan OSA melakukan pertemuan untuk membicarakan wilayah pelayanan. Lalu Fransiskan percayakan OSA agar bekerja di wilayah Keerom, Manokwari, Maybrat, Tambrauw, Bintuni dan Fakfak. Hingga saat ini mereka melayani di Keerom, Maybrat, Tambrauw, Fakfak dan Kaimana.[43]

Jejak Misionaris Ordo Sanctae Cruicis (OSC)

Pada waktu yang sama, MSC di Merauke mengundang Ordo Sanctae Cruicis atau Ordo Salib Suci (OSC) untuk berkarya di Asmat. Kehadiran OSC ditandai dengan kedatangan Delmar Hesch, Francis, Clarence Neuner dan Yoseph De Louw OSC pada 15 Desember 1958 di pelabuhan Yamasy, Asmat, Papua Selatan. Sejak 2008 tidak lagi fokus berkarya di Asmat.[44]

Perkembangan Gereja Partikuler

Uskup Pribumi Papua

Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Yanuarius Teofilius Matopai You, Pr

Pada 29 Oktober 2022, Tahta Suci Vatikan menunjukkan Uskup Keuskupan Jayapura dari kalangan pribumi Papua, yaitu; Mgr. Yanuarius Teofilius Matopai You, Pr. Ia kemudian ditahbiskan pada 2 Februari 2023 di Gereja Katedral "Kristus Raja" Jayapura, Papua oleh Duta Besar Vatikan Untuk Indonesia, Piero Pioppo.[45]

Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bovitwos Baru, OSA

Kemudian pada 8 Maret 2025, Tahta Suci Vatikan menunjuk Uskup kedua dari kalangan orang pribumi untuk Keuskupan Timika, yakni; Mgr. Bernardus Bovitwos Baru, OSA. Ia akhirnya ditahbiskan di Gereja Katedral "Tiga Raja" Timika oleh Duta Besar Vatikan Untuk Indonesia, Piero Pioppo pada 14 Mei 2025.[46]


[1] Setyo, Albeth, (2021), Kehadiran dan Karya tarekat Msc di Papua (materi Seminar dan Lokakarya: Sejarah Masuknya Misi Katolik di Tanah Papua, 21-14 MARET 2021 di Paroki Kristus Terang Dunia Waena).

[2] Bdk. Sloot; 2012:45

[3] Menysul jejak pastor Fernandez (1550) dan Heyden (1891).

Referensi

  1. ^ databoks.katadata.co.id. "5,7% Penduduk di Papua Beragama Katolik | Pusat Data Ekonomi dan Bisnis Indonesia | Databoks". databoks.katadata.co.id. Diakses tanggal 2025-08-03.
  2. ^ You, Abeth (22 Mei 2024). "130 tahun misi Katolik di Tanah Papua, Pulau Bonyom dijadikan situs bersejarah". Jubi. Diakses tanggal 2025-08-03.
  3. ^ Budiman, R. P. (2022-10-29). "5 Teori Masuknya Islam di Papua, Menyebar di Pesisir Barat". ingatan.id (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-08-03.
  4. ^ "Gereja Katolik dan kisah orang-orang asli Papua – 'Mengapa suka duka kami jarang dibicarakan di atas altar?'". BBC News Indonesia. 2025-05-29. Diakses tanggal 2025-08-03.
  5. ^ Itlay, Soleman (2024). Jejak Perintisan Awal Misi Gereja Katolik di Tanah Papua. Yogyakarta: Kanisius. hlm. 3. ISBN 1024003025. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ^ Sloot, Jan (2012). Fransiskan Masuk Papua Jilid I: Periode Pemerintahan Belanda 1937-1962. Papua: Kustodi Fransiskan Duta Damai Papua. hlm. 35. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ^ Deri, Ansel (17 November 2022). "Uskup Keuskupan Bandung Mgr Subianto Terpilih Jadi Ketua Konferensi Waligereja Indonesia". Odiyaiwuu. Diakses tanggal 2025-08-03.
  8. ^ Gobai, Marinus (30 September 2024). "Suster Maria Serafika AK Rayakan Pesta Syukur 50 Tahun Kaul Kekal, 33 Tahun Berkarya di Papua". Katolikana. Diakses tanggal 2025-08-03.
  9. ^ Pekei, Titus (4 September 2024). "Makna Historis Kunjungan Paus Fransiskus di Vanimo, Papua New Guinea bagi Orang Papua". Katolikana. Diakses tanggal 2025-08-03.
  10. ^ Sloot, jan (2012). Fransiskan Masuk Papua Jilid I: Periode Pemerintahan Belanda 1937-1962. Papua: Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua. hlm. 34. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  11. ^ Sloot, Jan (2012). Fransiskan Masuk Papua Jilid I: Periode Pemerintahan Belanda 1937-1962. Papua: Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua. hlm. 36. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  12. ^ Itlay, Soleman (2024). Sejarah Perintisan Awal Misi Gereja Katolik di Tanah Papua. Yogyakarta: Kanisius. hlm. 21. ISBN 1024003025. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  13. ^ Itlay, Soleman (2024). Sejarah Perintisan Awal Misi Gereja Katolik di Tanah Papua. Yogyakarta: Kanisius. hlm. 40. ISBN 1024003025. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  14. ^ Itlay, Soleman (2024). Jejak Perintisan Awal Misi Gereja Katolik di Tanah Papua. Yogyakarta: Kanisius. hlm. 1. ISBN 1024003025. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  15. ^ Itlay, Soleman (2024). Jejak Perintisan Awal Misi Gereja Katolik di Tanah Papua. Yogyakarta: Kanisius. hlm. 12. ISBN 1024003025. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  16. ^ Itlay, Soleman (2024). Jejak Perintisan Awal Misi Gereja Katolik di Tanah Papua. Yogyakarta: Kanisius. hlm. 13–14. ISBN 1024003025. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  17. ^ Azizah, Ulvia Nur (08 September 2024). [Baca artikel detikjateng, "Apa Benar Papua Nugini Masuk Persemakmuran Inggris? Ini Penjelasannya" selengkapnya https://www.detik.com/jateng/berita/d-7530433/apa-benar-papua-nugini-masuk-persemakmuran-inggris-ini-penjelasannya. "Apa Benar Papua Nugini Masuk Persemakmuran Inggris? Ini Penjelasannya"]. Detik. Diakses tanggal 2025-08-03. ;
  18. ^ Itlay, Soleman (2024). Jejak Perintisan Awal Misi Gereja Katolik di Tanah Papua. Yogyakarta: Kanisius. hlm. 15. ISBN 1024003025. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  19. ^ Itlay, Soleman (2024). Sejarah Perintisan Awal Misi Gereja Katolik di Tanah Papua. Yogyakarta: Kanisius. hlm. 14–15. ISBN 1024003025. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  20. ^ Gwijangge, Ibrani (2024-05-22). "Le Cocq dan Refleksi 130 Tahun Misi Katolik di Papua". Odiyaiwuu. Diakses tanggal 2025-08-03.
  21. ^ Itlay, Soleman (2024). Jejak Perintisan Awal Misi Gereja Katolik di Tanah Papua. Yogyakarta: Kanisius. hlm. 21–23. ISBN 1024003024. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  22. ^ Tambunan, Paul Manahara (06 Februari 2024). "Cerita Keluarga Muslim Fakfak, Terima Penginjil Katolik Siar ke Pegunungan Papua Barat". Tribunnews. Diakses tanggal 2025-08-03.
  23. ^ KMS, Komsos (26 April 2023). "Agama Katolik Masuk di Sekru, Umat Katolik Papua Pertama Berasal Dari Kampung Torea". Komsoskms. Diakses tanggal 2025-08-03.
  24. ^ Itlay, Soleman (2024). Jejak Perintisan Awal Misi Gereja Katolik di Tanah Papua. Yogyakarta: Kanisius. hlm. 24. ISBN 1024003025. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  25. ^ Itlay, Soleman (2024). Jejak Perintisan Awal Misi Gereja Katolik di Tanah Papua. Yogyakarta: Kanisius. hlm. 36. ISBN 1024003025. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  26. ^ Media, Embara (23 Mei 2024). "Hadiri perayaan syukur 130 tahun misi katolik di pulau bone yohana hindom harap umat katolik dapat maknai dan kenang selalu peristiwa ini". Embaramedia. Diakses tanggal 2025-08-03.
  27. ^ Revolusi, Redaksi (2025-07-08). "Pulau Bone Sendiri Dikenal Sebagai Situs Sejarah Keagamaan Yang Memiliki Nilai Spritual Tinggi Bagi Umat. Katolik di. Papua Setiap Tanggal 22 Mei". Revolusi. Diakses tanggal 2025-08-03.
  28. ^ Itlay, Soleman (2024). Jejak Perintisan Awal Misi Gereja Katolik di Tanah Papua. Yogyakarta: Kanisius. hlm. 36–38. ISBN 1024003025. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  29. ^ Pranata, H. (22 November 1967). Ichtisar kronologis Sedjarah Gereja Katolik Irian-Barat Jilid I. Sukarnapura: Pusat Katolik. hlm. 3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  30. ^ H., Haripranata (22 November 1967). Ichtisar kronologis Sedjarah Gereja Katolik Irian-Barat Jilid I. Sukarnapura: Pusat Katolik. hlm. 3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  31. ^ Itlay, Soleman (2024). Jejak Perintisan Awal Misi Gereja Katolik di Tanah Papua. Yogyakarta: Kanisius. hlm. 62. ISBN 1024003025. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  32. ^ Sloot, Jan (2012). Fransiskan Masuk Papua Jilid I: Periode pemerintahan Belanda 1937-1962. Papua: Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua. hlm. 45. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  33. ^ a b You, Abeth (2022-03-21). "Menelusuri sejarah Gereja Katolik dan karya Tarekat MSC di Papua". Jubi. Diakses tanggal 2025-08-03.
  34. ^ "Mengenang 118 Tahun Misi Katolik Di Keuskupan Agung Merauke (1/2) | Jubi Papua" (dalam bahasa American English). 2023-08-15. Diakses tanggal 2025-08-03.
  35. ^ Yeimo, Hengky (2022-03-21). "Misionaris Katolik dan kebudayaan pesisir selatan Papua". Jubi. Diakses tanggal 2025-08-03.
  36. ^ Sloot, Jan (2012). Fransiskan Masuk Papua Jilid I: Periode Pemerintahan Belanda 1937-1962. Papua: Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua. hlm. 3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  37. ^ Sloot, Jan (2012). Fransiskan Masuk Papua Jilid I: Periode Pemerintahan Belanda 1937-1962. Papua: Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua. hlm. 3–5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  38. ^ Sloot, Jan (2012). Fransiskan Masuk Papua Jilid I: Periode Pemerintahan Belanda 1937-1962. Papua: Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua. hlm. 3–4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  39. ^ Sloot, Jan (2012). Fransiskan Masuk Papua Jilid I: Periode Pemerintahan Belanda 1937-1962. Papua: Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua. hlm. 7–11. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  40. ^ Namsa, Vredigando Engelberto (2024). Para Fransiskan Belanda yang Berkarya di Tanah Papua. Yogyakarta: Kanisius. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  41. ^ Alo, Stevanus (08 Mei 2023). "Anton Tromp, OSA: Anak Pedagang yang Total Mengabdi di Tanah Papua Hingga Ajal Menjemput". Odiyaiwuu. Diakses tanggal 2025-08-03.
  42. ^ "Tapak Tilas Robert Francis Prevost, OSA di Papua Barat Daya Sebelum Jadi Paus Leo XIV". Tribunsorong.com. Diakses tanggal 2025-08-03.
  43. ^ REDAKSI. "Sejarah Ordo Santo Agustinus di Keuskupan Sorong-Manokwari - WipaNews.com". Sejarah Ordo Santo Agustinus di Keuskupan Sorong-Manokwari - WipaNews.com. Diakses tanggal 2025-08-03.
  44. ^ Ohoiwirin, John (2018-09-16). "60 Tahun Karya Ordo Salib Suci di Lumpur Asmat". SESAWI.NET (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-08-03.
  45. ^ Sape, Agustinus (8 September 2017). "Ini Duta Besar Vatikan yang Baru untuk Indonesia, Pengganti Mgr. Antonio Guido Filipazzi". Kupang Tribunnews. Diakses tanggal 16 Agustus 2025.
  46. ^ "Untuk pertama kalinya, Vatikan tunjuk uskup orang asli Papua jadi uskup". indonesia.ucanews.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-08-16.


Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement