Puasa Ramadan di Asia Tenggara

Puasa Ramadan di Asia Tenggara dilaksanakan oleh muslim selama bulan Ramadan. Pada tahun 1992, tercapai konsensus terhadap penetapan awal bulan Ramadan oleh Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) dengan kesepakatan penggunaan metode rukyat. Muslim di Asia Tenggara umumnya melafalkan niat puasa pada malam hari karena masyoritas muslim di Asia Tenggara mengikuti Mazhab Syafi'i.

Selama berpuasa Ramadan, muslim di Asia Tenggara tidak makan dan minum pada siang hari serta memperbanyak ibadah dan pembacaan Al-Qur'an. Puasa Ramadan di Asia Tenggara diadakan dalam waktu yang seragam oleh muslim di kawasan Asia Tenggara. Namun masing-masing masyarakat muslim di Asia Tenggara memiliki keunikan terkait kuliner yang dikonsumsi selama bulan Ramadan sebagai hasil perpaduan antara budaya Islam dengan budaya lokal di Asia Tenggara.

Penetapan

Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) telah menetapkan konsensus dalam upaya penyatuan kalender Hijriah di kawasan Asia Tenggara. Konsensus tersebut dihasilkan melalui musyawarah dengan tajuk Jawatan Kuasa Penyelarasan Rukyat dan Takwim Islam.[1] Pada tanggal 1–2 Juni 1992, MABIMS mengadakan musyawarah Jawatan Kuasa Penyelarasan Rukyat dan Takwim Islam yang ke-3 di Labuan, Malaysia. Dalam musyawarah tersebut, menteri agama dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura menyepakati penetapan awal bulan Ramadan berdasarkan rukyat atau hilal syar’i dengan ketinggian hilal sekurang-kurangnya 2 derajat. Ketetapan tambahan yang disepakati ialah jarak Bulan dan Matahari harus 3 derajat atau umur bulan harus 8 jam ketika matahari terbenam. Sedangkan Menteri Agama Brunei Darussalam memilih penetapan awal bulan Ramadan dengan metode rukyat atau istikmal.[2]

Pelaksanaan

Muslim di Asia Tenggara umumnya mengikuti Mazhab Syafi'i. Karena itu, niat untuk melaksanakan puasa Ramadan oleh muslim di Asia Tenggara umumnya dilafalkan pada setiap hari dalam waktu malam bulan Ramadan.[3] Puasa Ramadan di Asia Tenggara dilaksanakan oleh muslim mulai ketika matahari terbit hingga matahari terbenam dan umumnya berlangsung selama 30 hari.[4] Durasi puasa Ramadan di Asia Tenggara sekitar 13 jam dalam sehari.[5] Selama berpuasa Ramadan, muslim di Asia Tenggara tidak makan dan minum pada siang hari. Selain itu, muslim di Asia Tenggara yang berpuasa Ramadan memperbanyak ibadah dan pembacaan Al-Qur'an dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.[4]

Keunikan kuliner

Puasa Ramadan di Asia Tenggara diadakan dalam waktu yang seragam oleh muslim di kawasan Asia Tenggara. Namun masing-masing masyarakat muslim di Asia Tenggara memiliki keunikan yang membedakannya satu sama lain. Keunikan tersebut meliputi keunikan dalam gaya memasak, kebiasaan makan, dan pilihan makanan lokal yang dikonsumsi selama puasa Ramadan. Perbedaan tersebut disebabkan oleh perbedaan zona waktu, kondisi lingkungan dan iklim di Asia Tenggara.[6] Beragam kuliner yang disajikan selama masa puasa Ramadan di Asia Tengara merupakan perpaduan antara budaya Islam dengan budaya lokal di Asia Tenggara.[7] Beberapa kuliner khas yang umum dikonsumsi di Asia Tenggara selama masa puasa Ramadan yaitu pisang ijo, sayur lodeh, kicak, ketupat, kolak, nasi kerabu, dan serundeng.[8]

Lihat juga

Referensi

Catatan kaki

  1. ^ Maskufa, Sopa dan Hidayati 2021, hlm. 16.
  2. ^ Maskufa, Sopa dan Hidayati 2021, hlm. 18.
  3. ^ Umar, Nasaruddin (Februari 2020). Zarkasyi, J., dan Sukanti, A. (ed.). Kontemplasi Ramadan. Jakarta: Amzah. hlm. 21. ISBN 978-602-0875-93-4. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ^ a b "The Glory of Nation: Daily Prayers for the Muslim Peoples of Southeast Asia during Ramadan (10 March - 10 April 2024)" (PDF). Squarespace. halaman ke-2. Diakses tanggal 23 Maret 2025.
  5. ^ Hamidah, H., dan Ulva, A. (1 Maret 2025). "Ramadan Across the Globe: Cities with the Longest and Shortest Fasting Hours". Tempo.co (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 23 Maret 2025. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  6. ^ Halawa, Abdelhadi (2020). "Impact of Intermittent Dietary Restriction on the Health-related Outcomes of Faith-based Fasting". Journal of Ethnic Foods (dalam bahasa Inggris). 7 (14): 6. doi:10.1186/s42779-020-00047-3. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  7. ^ Ahmaddin, Nashran (2024). Hediansyah (ed.). Islam Agama Cinta: Menyusuri Semarak Islam yang Memesona. Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo. hlm. 87. ISBN 978-623-00-6864-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ^ Staf Wartawan Asia Tenggara (2024). "Ramadan Fuels Food Innovation in SEA: Analysts" (dalam bahasa Inggris).

Daftar pustaka

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement