Pergiwa Pergiwati

Tokoh utama lakon ini: Gatotkaca dan Pergiwa

Pergiwa - Pergiwati merupakan judul sebuah cerita lakon pertunjukan wayang kulit yang berkaitan dengan masa muda tokoh Gatotkaca.[1] Menurut cerita Mahabharata berbahasa Sanserkerta yang ditulis oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh pada era kerajaan Kadiri (abad 12) dan kemudian dikembangkan menjadi cerita lakon wayang kulit, Pergiwa dan Pergiwati adalah putri kembar Raden Arjuna dengan Dewi Manuhara (putri Bagawan Sidik Wacana dari biara Andhong Suwiwi), yang tidak ada dalam naskah cerita Mahabharata versi asli dari India. Pergiwa menikah dengan Gatotkaca, sementara Pergiwati menikah dengan Pancawala (putra Prabu Puntadewa dan Dewi Drupadi). Lukisan Gatotkaca dan Pergiwa - Pergiwati ini terdapat di istana Merdeka di Jakarta sebagai hasil karya dari pelukis Basuki Abdullah.[2]

Alur Cerita

Endang Pergiwa dan Endang Pergiwati merupakan dua bersaudara kembar. Sejak kecil Pergiwa dan adik kandungnya, Pergiwati tinggal bersama ibu dan kakeknya di pertapaan Andong Sumiwi. Setelah remaja, keduanya pergi meninggalkan pertapaan Andong Sumiwi menuju ke Madukara untuk menemui ayahnya yang bernama Arjuna. Konon, Pergiwa memiliki sifat dan watak yang setia, baik hati, sabar, dan baik hati. Sementara Pergiwati memiliki sifat dan watak yang setia, jujur, sabar, dan mudah mengasihi orang lain.[1]

Untuk menemani perjalanan Pergiwa dan Pergiwati mencari ayahnya, sang kakek meminta tolong kepada cantrik (muridnya) yang bernama Janaloka. Janaloka ternyata memiliki niat untuk menyunting kedua putri Arjuna itu, akan tetapi ia telah bersumpah di hadapan gurunya (kakek dari Pergiwa dan Pergiwati) bahwa ia akan mati dikeroyok 100 orang apabila menikahi keduanya.

Pada sisi kisah yang lain diceritakan bahwa Duryodana, raja dari kerajaan Hastinapura sedang mencari gadis kembar yang akan dijadikan sebagai istri untuk anaknya yang bernama Lesmana Mandrakumara. Untuk mendapatkan gadis kembar tersebut maka dikerahkan 99 orang kurawa beserta Adipati Karna ke berbagai pelosok negeri. Dalam perjalanan Adipati Karna dan 99 orang Kurawa itu bertemu dengan Pergiwa dan Pergiwati. Kemudian mereka menanyakan tentang asal-usul dan maksud perjalanan keduanya.

Setelah menceritakan asal-usul dan maksud perjalanannya, maka kedua gadis kembar tersebut diminta untuk menjadi pendamping calon mempelai dari Hastinapura. Ternyata keduanya menolak dan melarikan diri. Janaloka yang sedang mengawasi dari jauh mengetahui bahwa kedua purti Arjuna tersebut memerlukan pertolongannya. Akhirnya Pergiwa dan Pergiwati meminta tolong kepada Janaloka, akan tetapi Janaloka mengajukan syarat apabila ia berhasil mengalahkan Kurawa dan Adipati Karna, keduanya harus mau menjadi isterinya. Namun, sebelum kedua puteri itu menjawab, Janaloka sudah harus menghadapi pasukan Kurawa. Dalam pertempuran yang begitu dahsyat, akhirnya Janaloka tewas sesuai dengan sumpah yang pernah ia ucapkan.

Pergiwa dan Pergiwati terus dikejar oleh para Kurawa, namun dalam pengejaran itu mereka bertemu dengan Abimanyu, kakak mereka berdua tetapi dari lain ibu. Setelah menceritakan permasalahan yang dihadapinya maka Abimanyu kemudian menyerang para Kurawa. Karena jumlah yang tidak seimbang, maka Abimanyu terdesak dan tiba-tiba datanglah Gatotkaca dari angkasa. Karena serangan yang dilancarkan Gatotkaca maka para Kurawa akhirnya dapat dikalahkan, dan Pergiwa dan Pergiwati diantar Abimanyu dengan pengawalan Gatotkaca untuk menghadap ayahnya. Saat itulah asmara mulai bersemi di antara Gatotkaca dan Pergiwa. Singkat cerita, kedua gadis tersebut akhirnya jatuh hati; Pergiwa menikah dengan Gatotkaca, dan Pergiwati dinikahkan dengan Pancawala (saudara sepupu Abimanyu).[3]

Makna Filosofis

Lakon Pergiwa–Pergiwati ini tidak hanya menyajikan kisah cinta dan kepahlawanan, tetapi juga memuat nilai falsafah yang dalam. Pesan moral yang pertama adalah mengenai Kesetiaan dan Ketulusan. Pergiwa dan Pergiwati melambangkan kesetiaan dalam hubungan. Cinta mereka bukan sekadar didorong oleh rupa dan kesaktian, tetapi ketulusan hati. Kisah ini mengingatkan bahwa hubungan sejati dibangun atas dasar kejujuran dan kelurusan budi. Kemenangan atas Keangkaramurkaan merupakan pesan moral yang kedua. Kehadiran para Kurawa yang ingin memaksa dan menguasai Pergiwa–Pergiwati menjadi simbol sifat angkara murka. Kemenangan Abimanyu dan Gatotkaca menggambarkan bahwa kebajikan, akhlak, dan kehormatan pada akhirnya akan mengalahkan hawa nafsu.[4][5]

Referensi

  1. ^ a b "Mengenal Koleksi Benda Seni Kenegaraan (Bag-5)". setkab.go.id. Diakses tanggal 4 Nov 2025.
  2. ^ "Tokoh wayang Pergiwa dan Pergiwati". radarmadiun.jawapos.com. Diakses tanggal 4 Nov 2025.
  3. ^ "Bung Karno dan Kisah di Balik Lukisan Gatotkaca, Pergiwa, Pergiwati". kompas.id. Diakses tanggal 4 Nov 2025.
  4. ^ "Jejak Itu Bernama Sejarah". malahayati.ac.id. Diakses tanggal 4 Nov 2025.
  5. ^ "TOKOH ARJUNA SEBAGAI TITIK TEMU ANTARA WAYANG DAN CARITA BARATAYUDA" (PDF). lib.unnes.ac.id. Diakses tanggal 4 Nov 2025.

Lihat pula

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement