Penyerangan Soanggama

Penyerangan Soanggama
Bagian dari Konflik Papua
Tanggal15 Oktober 2025
LokasiSoanggama, Homeyo, Intan Jaya, Papua Tengah
Hasil Kemenangan Indonesia
Pihak terlibat
TNI-AD TPNPB
Tokoh dan pemimpin
Lucky Avianto Undius Kogoya
Pasukan
Kodap VIII/Intan Jaya
Korban
Tidak ada 3, 6, or 14 tewas[a]
9 or 12 warga sipil tewas[b]

Pada tanggal 15 Oktober 2025, pasukan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat melangsungkan penyerangan ke kampung Soanggama di distrik Homeyo, Intan Jaya, yang digunakan salah satu kesatuan wilayah Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) sebagai markas. Penyerangan tersebut berhasil memukul mundur TPNPB dari Soanggama. Dalam penyerangan tersebut, 15 orang tewas termasuk anggota TPNPB dan warga sipil.

Latar belakang

Sejak tahun 2020, Kabupaten Intan Jaya di Papua Tengah menjadi salah satu daerah paling rawan konflik di Papua Indonesia. Antara 2020 dan 2023, sekitar 100 insiden bersenjata terjadi di Intan Jaya.[1] Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat di Intan Jaya beroperasi di bawah kesatuan Komando Daerah Pertahanan (Kodap) VIII yang dipimpin Undius Kogoya. Kodap VIII juga beroperasi di Kabupaten Paniai.[2] Sepanjang tahun 2024, Kodap VIII terlibat dalam sejumlah baku tembak dengan TNI-AD, dan terusir dari Paniai.[3]

Di awal 2024, Tentara Nasional Indonesia membentuk Komando Operasional Habema (Koops Habema) untuk mengkoordinasikan operasi militer di wilayah pegunungan Papua.[4] Di Oktober 2025, Koops Habema dipimpin oleh Mayjen Lucky Avianto, yang juga merupakan Panglima Kodam XXIV/Mandala Trikora.[5]

Penyerangan

Satu detasemen dari Koops Habema mulai bergerak ke arah Soanggama pada tanggal 14 Oktober 2025. Menurut TNI-AD, markas TPNPB di Soanggama diduduki 30 orang anggota TPNPB.[6] Detasemen tersebut terdiri dari prajurit Yonif 500 dan Yonif 712 di bawah Satuan Tugas (Satgas) Rajawali II.[7] Sekitar pukul 5:30 pagi pada tanggal 15 Oktober, baku tembak mulai berlangsung dan terus sampai pukul 12:00 ketika anggota TPNPB mundur ke hutan sekeliling Soanggama. Menurut TNI-AD, detasemen tersebut berhasil menyita 1 pucuk senjata api dan sejumlah senjata dan amunisi lainnya.[6][8]

Setelah TPNPB mundur dari Soanggama, TNI-AD menetapkan Soanggama sebagai pos taktis untuk Koops Habema.[9]

Kelanjutan

Menurut TNI-AD, dalam baku tembak di Soanggama 14 orang anggota TPNPB terbunuh, termasuk 3 orang yang telah lama buron. Juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, mengakui bahwa TNI-AD berhasil merebut Soanggama pada tanggal 16 Oktober, tapi menurutnya hanya 3 orang anggota TPNPB yang tewas sementara 12 orang korban tewas lainnya merupakan warga sipil.[10] Menurut Tim Mediasi Konflik yang didirikan Pemkab Intan Jaya, enam orang anggota TPNPB terbunuh dan sembilan orang warga sipil (termasuk beberapa orang yang salah diidentifikasi sebagai anggota TPNPB).[11] Dua orang anggota TPNPB diluar ini belakangan meninggal selama pengejaran TNI-AD, termasuk Undius Kogoya yang meninggal karena sakit pada tanggal 22 Oktober.[12]

Penduduk kampung Soanggama dipaksa mengungsi karena baku tembak yang berlangsung.[13] Ribuan penduduk Intan Jaya berdemonstrasi pada tanggal 28 Oktober di kantor bupati untuk menuntut investigasi atas pembunuhan warga sipil. Demonstran juga menuntut presiden Prabowo Subianto untuk menarik kesatuan militer non-organik dari Intan Jaya. Penyerangan tersebut dilabeli sebagai "Peristiwa Soanggama berdarah" oleh para demonstran.[14] Sejumlah pelajar asal Intan Jaya juga melaporkan penyerangan Soanggama sebagai pelanggaran hak asasi manusia berat ke kantor Komnas HAM di Jayapura.[15] Majelis Rakyat Papua mendesak dibukanya perundingan antara pemerintah dan TPNPB, dan meminta ada investigasi terkait tewasnya warga sipil.[16]

Catatan kaki

  1. ^ Berturut-turut klaim dari TPNPB, Pemkab Intan Jaya, dan TNI-AD.
  2. ^ Berturut-turut klaim dari Pemkab Intan Jaya dan TPNPB.
  1. ^ "Managing Conflict in Papua: Suggestions for a New President" (PDF) (dalam bahasa Inggris). Institute for Policy Analysis of Conflict. 6 Februari 2024. hlm. 18. Diakses tanggal 28 Oktober 2025.
  2. ^ IPAC 2024, hlm. 11.
  3. ^ "Markas KKB Pimpinan Undius Kogoya Berhasil Diduduki". Polri. 17 Juni 2024. Diakses tanggal 28 Oktober 2025.
  4. ^ "Profil Koops Habema, Pasukan TNI untuk Hadapi TPNPB OPM di Papua". Tempo. 16 Mei 2025. Diakses tanggal 28 Oktober 2025.
  5. ^ "Profil Mayjen Lucky Avianto, Peraih Adhi Makayasa Jadi Pangdam XXIV/Mandala Trikora". KOMPAS.com. 8 Agustus 2025. Diakses tanggal 28 Oktober 2025.
  6. ^ a b "Kronologi TNI Lumpuhkan Markas OPM di Soanggama Papua". Tempo. 17 Oktober 2025. Diakses tanggal 28 Oktober 2025.
  7. ^ "Intan Jaya Menangis! Soanggama Berdarah". DETIK PAPUA. 28 Oktober 2025. Diakses tanggal 28 Oktober 2025.
  8. ^ "TNI Bebaskan Warga Soanggama Papua dari Cengkraman OPM". metrotvnews.com. 17 Oktober 2025. Diakses tanggal 28 Oktober 2025.
  9. ^ Ramandey, Silas (10 November 2025). "Operasi Terukur TNI -Polri Jaga Stabilitas Keamanan di Papua Tengah". Portal Papua. Diakses tanggal 25 November 2025.
  10. ^ "OPM Klaim Pertempuran dengan TNI di Soanggama Hanya Akibatkan Tiga Anggotanya Tewas, Sisanya Sipil". Republika. 16 Oktober 2025. Diakses tanggal 28 Oktober 2025.
  11. ^ Sekenyap, Elisa (23 Oktober 2025). "HRW Desak Militer RI Usut Tewasnya Warga Sipil di Soanggama". Suara Papua. Diakses tanggal 28 Oktober 2025.
  12. ^ "Koops Habema Membenarkan Bahwa Pangkodap VIII Soanggama Undius Kogoya Meninggal Dunia Dalam Pelarian Pasca Kontak Tembak". indonesiasatu.co.id. 27 Oktober 2025. Diakses tanggal 28 Oktober 2025.
  13. ^ "Kementerian HAM: Terjadi Pengungsian Massal di Papua". Republika. 19 November 2025. Diakses tanggal 20 November 2025.
  14. ^ "Ribuan Warga Demo di Intan Jaya Desak Presiden Prabowo Tarik Militer Non Organik di Tanah Papua". Odiyaiwuu.com. 28 Oktober 2025. Diakses tanggal 28 Oktober 2025.
  15. ^ "Penembakan Yang Menewaskan Belasan Orang Di Intan Jaya Diadukan Ke Komnas HAM Papua". Jubi. 30 Oktober 2025. Diakses tanggal 20 November 2025.
  16. ^ Sekenyap, Elisa (7 November 2025). "MRP Desak Presiden Prabowo Buka Perundingan Dengan TPNPB Sikapi Tragedi Soanggama". Suara Papua. Diakses tanggal 25 November 2025.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement