Lugalbanda di Gua Pegunungan

Lugalbanda di Gua Pegunungan (atau Lugalbanda I, Lugalbanda di Padang Belantara) adalah sebuah kisah mitologis Sumeria. Kisah ini merupakan salah satu dari empat kisah yang tergolong dalam satu siklus yang mengisahkan pertikaian antara Enmerkar, raja Unug (Uruk), dengan seorang raja Aratta yang tak disebutkan namanya. Kisah ini dilanjutkan oleh cerita lain yang dikenal dengan judul Lugalbanda dan Burung Anzu, dan keduanya membentuk dua bagian dari satu rangkaian utuh. Dari sudut pandang sang penggubah, kisah ini berlatar jauh di masa kuno. Naskah-naskahnya diyakini digubah pada masa Ur III (abad ke-21 SM), meski hampir semua salinan yang masih ada kini berasal dari masa Isin–Larsa (abad ke-20 hingga ke-18 SM).[1][2] Tablet yang memuat kisah ini ditemukan di berbagai tempat di selatan Irak, terutama di kota Nippur, dan merupakan bagian dari kurikulum sekolah juru tulis Sumeria pada masa Babilonia Tua (abad ke-20 hingga ke-17 SM).[3]

Sisi depan tablet kisah Lugalbanda dalam Gua Gunung, periode Babilonia Tua, dari Irak selatan. Museum Sulaymaniyah, Kurdistan Irak
Sisi belakang tablet kisah Lugalbanda dalam Gua Gunung, periode Babilonia Tua, dari Irak selatan. Museum Sulaymaniyah, Kurdistan Irak

Ringkasan

Raja Sumeria, Enmerkar, berniat menaklukkan negeri Aratta. Ia menghimpun bala tentaranya dan berangkat menuju kota tersebut, yang terletak di pegunungan timur. Di antara para prajuritnya terdapat Lugalbanda, yang jatuh sakit parah hingga akhirnya ditinggalkan oleh saudara-saudaranya di sebuah gua, hanya dengan sedikit perbekalan, untuk bertahan hidup atau binasa di sana. Lugalbanda terbaring sakit selama dua hari; ia berdoa kepada para dewa Shamash, Inanna, dan Nanna agar disembuhkan, dan akhirnya para dewa mengabulkan doanya. Beberapa hari kemudian, ia berhasil menangkap seekor banteng liar dan dua ekor kambing hutan, sebelum ia berbaring dan menerima sebuah mimpi. Dalam mimpi itu ia diperintahkan untuk mempersembahkan hewan-hewan tangkapannya sebagai kurban, dan ia pun melaksanakan titah itu. Bagian akhir teks sangat rusak dan sulit dipahami, tetapi memberi sekilas gambaran tentang para dewa yang, meskipun berkuasa besar, juga menyingkapkan sisi gelap mereka.

Tanggapan

Dalam tradisi Sumeria lain, khususnya teks yang dikenal sebagai Daftar Raja Sumeria, Lugalbanda disebut sebagai penerus Enmerkar di takhta Uruk. Namun, dalam kisah-kisah Lugalbanda ini tak ada tanda-tanda demikian; ia hanya tampil sebagai salah seorang prajurit raja Enmerkar. Dalam riwayat lain, Lugalbanda juga dikenal sebagai ayah dari pahlawan mitologis Gilgamesh, yang kemudian menggantikannya sebagai raja Uruk.

Di antara karya sastra Sumeria, baik siklus Enmerkar–Aratta yang terdiri atas empat cerita maupun lima kisah Gilgamesh yang diketahui, "Lugalbanda di Padang Belantara" beserta lanjutannya, "Lugalbanda dan Burung Anzu", dipandang sebagai teks paling rumit dan indah dari masanya. Secara keseluruhan, keduanya berisi sekitar 1000 baris, penuh dengan simbolisme, unsur mitologis yang kuat, dan alur yang tak terduga, dengan latar silih berganti antara dunia fana dan dunia ilahi.[4]

Meski generasi awal para sarjana berusaha menemukan realitas sejarah di balik kisah ini, dengan menghubungkannya pada masa Dinasti Awal Sumeria, upaya tersebut umumnya bertumpu pada pencampuran data dari tradisi epik milenium kedua dengan pengamatan arkeologis yang kabur.[5] Kini dipandang bahwa sekalipun tradisi lisan kuno mungkin memengaruhi asal-usul cerita ini, naskah-naskah yang sampai kepada kita adalah karya sastra yang sangat bergaya, digubah oleh para juru tulis masa Ur III dan sesudahnya. Bagi para juru tulis itu, “teks-teks ini sesungguhnya berbicara tentang masa kini, meski ditempatkan di masa lampau; dan justru tindakan pemindahan ini yang menjadikannya fiksi, bukan etnografi atau sejarah.”[6]

Prolog

Seperti halnya Gilgamesh, Enkidu, dan Dunia Bawah, Nyanyian sang Cangkul, dan wacana tanding Sumeria, kisah Lugalbanda ini diawali dengan prolog kosmogoni. Berikut adalah terjemahan menurut Gadotti 2014.[7]

1. [Pada hari-hari nan lampau, ketika langit dipisahkan dari bumi]. 2. [Pada hari-hari nan lampau?], ketika segala yang patut telah ditetapkan … 3. Ketika panen dari masa-masa terdahulu … jelai … 4. Ketika [batas-batas?] ditetapkan dan tanah dibagi, 5. Ketika [batu-batu tapal?] didirikan dan nama-nama diukir, 6. Ketika bendungan dan kanal dibersihkan, 7. Ketika sumur-sumur digali tegak lurus ke bawah, 8. Ketika Sungai Efrat, sungai limpah-ruah milik Uruk, dibuka alirannya, 9. Ketika … telah ditegakkan, 10. Ketika … telah ditetapkan, 11. Ketika terang An telah merenggut […], 12. Ketika kuasa pangeran dan singgasana raja pertama kali bersemayam di Uruk, 13. Ketika tongkat kuasa dan tongkat kerajaan Kulaba terangkat tinggi di gelanggang perang, 14. Dalam pertempuran, gelanggang permainan Inanna, 15. Ketika bangsa berambut hitam diberkati dengan umur yang panjang (…).

Referensi

Kutipan

  1. ^ Vanstiphout, H. (2003). Epics of Sumerian Kings, Atlanta: SBL. hlm.1
  2. ^ Sebuah fragmen dari periode Ur III yang belum dipublikasikan memang ada. Lihat: Michalowski, P. (2009) “Maybe Epic: The Origins and Reception of Sumerian Heroic Poetry” dalam Epic and History, D. Konstans dan K. Raaflaub (eds.), Oxford: Blackwells. hlm.18 dan catatan no.8.
  3. ^ Vanstiphout, hlm.13
  4. ^ Michalowski, hlm.15–17.
  5. ^ Lugalbanda, Reallexikon der Assyriologie 7, hlm.117.
  6. ^ Michalowski, hlm.17
  7. ^ Gadotti 2014, hlm. 23–24.

Sumber

  • Gadotti, Alhena (2014). Gilgamesh, Enkidu, and the Netherworld and the Sumerian Gilgamesh Cycle. De Gruyter.

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement