Gilgamesh, Enkidu, dan Dunia Bawah
Gilgamesh, Enkidu, dan Dunia Bawah (disingkat GED) adalah salah satu dari lima karya berbahasa bahasa Sumeria yang masih lestari, hikayat ini mengisahkan sang pahlawan Gilgamesh. Teks ini dikenal oleh masyarakat kala itu melalui incipit-nya, ud ri-a ud sud-rá ri-a atau "Pada masa itu, di hari-hari nan jauh itu". Karya ini terdiri dari 330 baris.[1]
Selain beberapa baris awal prolog yang berisi ungkapan-ungkapan kosmologis umum, GED merupakan teks yang unik dalam khazanah kesusastraan Sumeria maupun kesusastraan Akkadia, karena hanya memiliki sedikit kemiripan dengan karya lain yang telah dikenal.[2]
Struktur
Para sejarawan umumnya membagi GED ke dalam tiga kisah bagian:[1]
- Sebuah prolog mitologis dan kosmologis (baris 1–26)
- Episode tentang pukku dan mekkû, ketika Enkidu menyampaikan gagasan untuk turun ke dunia bawah kepada Gilgamesh (147–171)
- Turunnya Enkidu untuk mengambil kembali pukku dan mekkû (172–selesai)
Ketiga episode ini tidak sepenuhnya membentuk kesinambungan kronologis satu sama lain; tampaknya pada awalnya beredar sebagai kisah-kisah terpisah, sebelum akhirnya berpadu dan dibentuk menjadi GED.[3]
Alur Kisah
Ringkasan mendetail dari kisah ini adalah sebagai berikut:[4]
- Asal mula peradaban manusia dan bagaimana dunia dibagi di antara para dewa (baris 4–13)
- Enki berlayar menuju dunia bawah dengan perahu (14–26)
- Sebuah kekacauan menyebabkan pohon ḫalub tercabut; Inanna yang menyamar menyelamatkannya dan menanamnya di taman miliknya di Uruk, dengan harapan kelak dapat dijadikan kursi dan ranjang (27–39)
- Inanna mendapati kondisi pohon itu menyedihkan karena gangguan burung Anzu, seorang sukubus, dan seekor ular (40–43)
- Inanna memohon bantuan kepada Utu, dewa matahari, tetapi ia menolak (44–90)
- Inanna lalu meminta pertolongan Gilgamesh, raja Uruk, yang menyetujuinya: ia menghadapi ketiga makhluk yang merusak pohon itu, menebangnya, lalu membuat kursi dan ranjang bagi Inanna. Untuk dirinya sendiri, ia menciptakan sebuah bola dan tongkat (pukku dan mekkû) (91–150)
- Gilgamesh kemudian menggunakan kedua benda itu dalam suatu permainan yang berujung pada penindasan terhadap rakyat Uruk; rakyat pun memohon pertolongan kepada Utu (150–164)
- Sebagai akibatnya, bola dan tongkat Gilgamesh dilemparkan ke dalam Dunia Bawah (164–167)
- Enkidu, sang pendamping Gilgamesh, menawarkan diri untuk mengambil kembali benda-benda tersebut; Gilgamesh setuju dan menasihatinya tentang tata krama yang harus dijaga di Dunia Bawah agar tidak dikenali sebagai orang asing (168–205)
- Namun, ketika Enkidu berada di Dunia Bawah, ia gagal mematuhi nasihat itu — Dunia Bawah mengenalinya dan menahannya (206–221)
- Gilgamesh memohon kepada Enlil agar menyelamatkan Enkidu, tetapi permohonannya diabaikan (222–230)
- Enki kemudian turun tangan dan meminta Utu membuka jalan agar Enkidu dapat kembali (231–243)
- Bagian terakhir adalah dialog antara Enkidu dan Gilgamesh, di mana Gilgamesh memperoleh pengetahuan dari Enkidu mengenai keadaan yang dialami jiwa-jiwa di Dunia Bawah (244–akhir)
Prolog
Prolog GED tersusun atas dua bagian: pada paruh awal, ia menghadirkan sebuah kosmogoni dan antropogeni; sementara pada paruh berikutnya, ia berkisah tentang perjalanan Enki menembus Dunia Bawah. Prolog ini barangkali dahulu merupakan pembuka dari sebuah epos Gilgamesh yang lebih luas dan lebih kuno, di mana GED hanyalah salah satu bagiannya, sebagaimana ditunjukkan oleh keberadaan kosmogoni di dalamnya.[5]
Sejumlah peneliti berpendapat bahwa tujuan kosmogoni dalam prolog ini berbeda dari yang ditemukan dalam karya teks wacana tanding Mesopotamia. Kosmogoni di sini berfungsi sebagai wacana kosmik yang lebih luas, sedangkan wacana tanding atau seteru digunakan semata untuk memperkenalkan tokoh-tokoh utama. Namun, pandangan lain menyatakan bahwa tak ada prolog Sumeria (termasuk prolog GED) yang dimaksudkan untuk menampilkan kosmogoni dalam pengertian yang serupa dengan teks seperti Enuma elish.[6] Bagi para sarjana seperti Gadotti, prolog ini justru berperan sebagai pembuka yang menyiapkan jalan bagi kisah yang akan tersusun sesudahnya.[7]
Paruh awal prolog ini kerap digunakan dalam berbagai kajian untuk membantu merekonstruksi kosmogoni Sumeria kuno.[8][2] Salah satu ciri kosmologis menonjol yang disebutkan di dalamnya ialah pemisahan langit dan bumi. Prolog ini juga memperkenalkan tiga unsur utama kosmos: Langit (wilayah kekuasaan An), Bumi (wilayah Enlil), dan Dunia Bawah (wilayah Ereshkigal). Dikisahkan pula bahwa Ereshkigal menerima Dunia Bawah dari An dan Enlil sebagai bagian dari maskawin.[9] Horowitz berpendapat bahwa teks ini barangkali masih menyimpan jejak unsur kosmologis keempat dalam pandangan Mesopotamia: yakni Lautan atau Samudra.[10]
Paruh kedua prolog menuturkan kisah perjalanan Enki ke Dunia Bawah dengan menumpang sebuah perahu. Tujuan maupun hasil dari perjalanan ini tidak dijelaskan dengan gamblang: mungkin karena kisah itu begitu masyhur sehingga tak perlu lagi diuraikan, atau mungkin pula dianggap tidak penting bagi keseluruhan teks sehingga dilewatkan begitu saja. Kisah-kisah Mesopotamia lain juga kerap mencatat perjalanan yang tanpa penjelasan mengenai alasan keberangkatannya. Ada kemungkinan bahwa perjalanan Enki sekadar dimaksudkan untuk memberi bayangan awal atas perjalanan Enkidu yang muncul kemudian dalam kisah. Bisa pula perjalanan ini berfungsi sebagai penanda bahwa seseorang memang mungkin menembus Dunia Bawah sejak awal, serta menyiapkan peran Enki kelak dalam menolong Enkidu keluar dari sana ketika ia terjebak. Bahwa Enki sendiri menghadapi kesulitan dalam perjalanannya tampaknya dimaksudkan untuk mencerminkan betapa sukar jalan yang kelak ditempuh Enkidu.
Sejumlah teks Mesopotamia mencatat kepercayaan akan adanya sungai-sungai yang mengalir menuju Dunia Bawah (mirip dengan Styx dalam kosmologi Yunani), dan kepercayaan inilah yang kemungkinan besar menjadi latar pemahaman tentang bagaimana perjalanan Enki dapat menghantarnya ke tempat tersebut.[11]
Referensi
Catatan
- ^ a b Gadotti 2014, hlm. 1.
- ^ a b Lisman 2013, hlm. 44–48.
- ^ Gadotti 2014, hlm. 2.
- ^ Gadotti 2014, hlm. 4–5.
- ^ Gadotti 2014, hlm. 7.
- ^ Gadotti 2014, hlm. 7–8.
- ^ Gadotti 2014, hlm. 11, 21–24.
- ^ Van Dijk 1965.
- ^ Gadotti 2014, hlm. 12–13.
- ^ Horowitz 1998, hlm. 135–136.
- ^ Gadotti 2014, hlm. 15–19, 21.
Sumber
- Gadotti, Alhena (2014). Gilgamesh, Enkidu, and the Netherworld and the Sumerian Gilgamesh Cycle. De Gruyter.
- Horowitz, Wayne (1998). Mesopotamian Cosmic Geography. Eisenbrauns.
- Lisman, J.W. (2013). Cosmogony, Theogony and Anthropogeny in Sumerian texts. Ugarit-Verlag.
- Van Dijk, J.J.A. (1965). "Le motif cosmique dans la pensée sumérienne". Acta Orientalia. 28: 1–59.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


