Larutan gula intravena
Struktur kimia dekstrosa | |
| Data klinis | |
|---|---|
| Nama lain | larutan dekstrosa, larutan glukosa |
| AHFS/Drugs.com | monograph |
| License data | |
| Rute pemberian | Intravena |
| Kode ATC | |
| Pengenal | |
| ChemSpider |
|
| UNII | |
Larutan gula intravena, juga dikenal sebagai larutan dekstrosa, adalah campuran dekstrosa (glukosa) dan air.[1] Larutan ini digunakan untuk mengobati gula darah rendah atau kehilangan cairan tanpa kehilangan elektrolit. Kehilangan cairan tanpa kehilangan elektrolit dapat terjadi pada demam, hipertiroidisme, kalsium darah tinggi, atau diabetes insipidus. Juga digunakan dalam pengobatan kalium darah tinggi, ketoasidosis diabetik, dan sebagai bagian dari nutrisi parenteral. Larutan ini diberikan dengan cara disuntikkan ke dalam vena.[2]
Efek sampingnya dapat meliputi iritasi pembuluh balik tempat pemberiannya, gula darah tinggi, dan pembengkakan.[2][3] Penggunaan berlebihan dapat mengakibatkan natrium darah rendah dan masalah elektrolit lainnya.[2] Larutan gula intravena termasuk dalam keluarga obat kristaloid.[4] Larutan ini tersedia dalam berbagai konsentrasi termasuk dekstrosa 5%, 10%, dan 50%.[2] Meskipun awalnya bersifat hipertonik, larutan tersebut menjadi hipotonik seiring metabolisme gula.[5] Larutan ini tersedia juga versi yang dicampur dengan larutan garam fisiologi.[3]
Larutan dekstrosa untuk penggunaan medis mulai tersedia pada tahun 1920-an dan 1930-an.[6][7] Larutan ini termasuk dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia.[8]
Penggunaan medis
Pemberian larutan gula 5% selama dan setelah bedah biasanya mencapai keseimbangan yang baik antara reaksi kelaparan dan hiperglikemia yang disebabkan oleh aktivasi simpatik. Larutan 10% mungkin lebih tepat ketika respons stres dari reaksi tersebut telah berkurang, setelah sekitar satu hari pasca bedah. Setelah lebih dari sekitar dua hari, regimen nutrisi parenteral total yang lebih lengkap diindikasikan.
Pada pasien dengan hipernatremia dan euvolemia, air bebas dapat diganti menggunakan larutan 5% D/W atau larutan garam 0,45%.
Pada pasien dengan gangguan metabolisme asam lemak (FOD), larutan 10% mungkin tepat saat tiba di ruang gawat darurat.
Efek Samping
Glukosa intravena digunakan di beberapa negara Asia sebagai penambah energi, tetapi bukan bagian dari perawatan medis rutin di Amerika Serikat di mana larutan glukosa adalah obat resep. Imigran Asia di Amerika Serikat berisiko terkena infeksi jika mereka mencari pengobatan glukosa intravena. Pengobatan ini mungkin tersedia di klinik-klinik pinggir jalan yang melayani imigran Asia, meskipun tidak memiliki efek lebih dari sekadar minum air gula. Prosedur ini umumnya disebut "ringer".[9]
Larutan dekstrosa pekat tidak boleh diberikan secara subkutan atau intramuskular, karena dapat menyebabkan kematian sel melalui dehidrasi dan nekrosis selanjutnya.
Jenis

Jenis glukosa/dekstrosa meliputi:
- D5W (5% dekstrosa dalam air), yang terdiri dari 278 mmol/L dekstrosa
- D5NS (5% dekstrosa dalam larutan garam fisiologis), yang juga mengandung larutan garam fisiologis (0,9% b/v NaCl).
- D5LR (5% dekstrosa dalam larutan Ringer laktat)
- D50 – 50% dekstrosa dalam air
Persentase tersebut adalah konsentrasi massa, jadi larutan glukosa/dekstrosa 5% mengandung 50 g/L glukosa/dekstrosa (5 g per 100 ml). Pemakaian ini tidak tepat tetapi banyak digunakan, seperti yang dibahas pada Konsentrasi massa (kimia) § Pemakaian dalam biologi
Glukosa menyediakan energi 4 kkal/gram, jadi larutan glukosa 5% menyediakan 0,2 kkal/ml. Jika disiapkan dari dekstrosa monohidrat; yang menyediakan 3,4 kkal/gram; larutan 5% menyediakan 0,17 kkal/ml.[11]
Referensi
- ^ "Dextrose". The American Society of Health-System Pharmacists. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Januari 2017. Diakses tanggal 8 Januari 2017.
- ^ a b c d British national formulary: BNF 69 (Edisi 69). British Medical Association. 2015. hlm. 683–684. ISBN 978-0-85711-156-2.
- ^ a b Stuart MC, Kouimtzi M, Hill SR, ed. (2009). WHO Model Formulary 2008. World Health Organization. hlm. 491. hdl:10665/44053. ISBN 978-92-4-154765-9.
- ^ David SS (2016). Clinical Pathways in Emergency Medicine (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 62. ISBN 978-81-322-2710-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Januari 2017.
- ^ Waldmann C, Soni N, Rhodes A (2008). Oxford Desk Reference: Critical Care (dalam bahasa Inggris). OUP Oxford. hlm. 142. ISBN 978-0-19-922958-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Januari 2017.
- ^ Skipper A (2012). Dietitian's Handbook of Enteral and Parenteral Nutrition (dalam bahasa Inggris). Jones & Bartlett Publishers. hlm. 283. ISBN 978-0-7637-4290-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Januari 2017.
- ^ Nelms M, Sucher K (2015). Nutrition Therapy and Pathophysiology (dalam bahasa Inggris). Cengage Learning. hlm. 89. ISBN 978-1-305-44600-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Januari 2017.
- ^ World Health Organization model list of essential medicines: 21st list 2019. Geneva: World Health Organization. 2019. hdl:10665/325771. WHO/MVP/EMP/IAU/2019.06.
- ^ Jiha Ham (20 Maret 2015). "A Life Upended After an IV Glucose Treatment Popular Among Asian Immigrants". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 Maret 2015. Diakses tanggal 21 Maret 2015.
Although many doctors warn Asian immigrants in New York that the effects of injecting glucose differ little from drinking sugary water, many Asians, especially of older generations, still use the intravenous solution. In their homelands, it is commonly prescribed by doctors as a method to cure colds, fevers and sometimes an upset stomach.
- ^ eMedicine > Hypernatremia: Treatment & Medication Diarsipkan 2 March 2011 di Wayback Machine. By Ivo Lukitsch and Trung Q Pham. Updated: 19 April 2010
- ^ Calculating Parenteral Feedings Diarsipkan 3 December 2010 di Wayback Machine. D. Chen-Maynard at California State University, San Bernardino. Retrieved September 2010. HSCI 368
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


