Hipernatremia
| Hipernatremia | |
|---|---|
| Nama lain | Hipernatraemia |
| Natrium | |
| Spesialisasi | Penyakit dalam |
| Gejala | Merasa haus, lemah, mual, kehilangan nafsu makan[1] |
| Komplikasi | Bingung, kedutan otot, perdarahan di sekitar otak[1][2] |
| Jenis | Volume rendah, volume normal, volume tinggi[1] |
| Metode diagnostik | Serum natrium > 145 mmol/L[3] |
| Diagnosis banding | Kadar protein darah rendah[4] |
| Frekuensi | ~0.5% di rumah sakit[2] |
Hipernatremia, juga dieja hipernatraemia, adalah tingginya kadar ion natrium dalam darah.[3] Gejala awal mungkin termasuk rasa haus, lemah, mual, dan kehilangan nafsu makan yang kuat.[1] Gejala parah meliputi kebingungan, kedutan otot, dan pendarahan di dalam atau di sekitar otak.[1][2] Kadar natrium serum normal adalah 135 - 145 mmol/L (135 - 145 mEq/L).[5] Hipernatremia umumnya didefinisikan sebagai kadar natrium serum lebih dari 145 mmol/L.[3] Gejala parah biasanya hanya terjadi bila kadarnya di atas 160 mmol/L.[1]
Hipernatremia biasanya diklasifikasikan berdasarkan status cairan seseorang yaitu volume rendah, volume normal, dan volume tinggi. Hipernatremia volume rendah dapat terjadi akibat berkeringat, muntah, diare, obat diuretik, atau penyakit ginjal. Hipernatremia volume normal bisa karena demam, haus secara tidak tepat, peningkatan nafas berkepanjangan, diabetes insipidus, dan beberapa di antaranya disebabkan oleh litium.[1] Hipernatremia volume tinggi dapat disebabkan oleh hiperaldosteronisme, karena perawatan kesehatan disebabkan seperti terlalu banyak pemberian larutan garam 3% atau natrium bikarbonat, atau makan terlalu banyak garam (meski jarang terjadi).[1][2] Kadar protein darah rendah dapat menyebabkan kesalahan hasil pengukuran natrium yang menjadi sangat tinggi.[4] Penyebabnya biasanya bisa ditentukan oleh sejarah kejadian. Pengujian urin bisa membantu jika penyebabnya tidak jelas.[1]
Jika onset hipernatremia lebih dari beberapa jam, maka bisa dipulihkan dengan relatif cepat menggunakan larutan garam normal dan dekstrosa 5% intravena. Jika tidak, pemulihan harus terjadi secara perlahan dengan air garam setengah normal, untuk mereka yang tidak mampu minum air. Hipernatremia karena diabetes insipidus akibat gangguan otak, bisa diobati dengan pengobatan desmopressin. Jika diabetes insipidus disebabkan oleh masalah ginjal obat yang menyebabkannya mungkin perlu dihentikan.[1] Hipernatremia memengaruhi 0,3-1% orang di rumah sakit. Paling sering terjadi pada bayi, mereka dengan gangguan status mental, dan orang tua. Hipernatremia dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian tetapi tidak jelas penyebabnya.[2]
Tanda-tanda dan gejala
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya. |
Penyebab
Hipernatremia terjadi ketika terjadi ketidakseimbangan antara jumlah natrium dan air dalam tubuh, biasanya akibat kehilangan air yang lebih besar dibandingkan kehilangan natrium atau karena peningkatan asupan natrium yang tidak sebanding dengan air. Berdasarkan status volume cairan tubuh, penyebab hipernatremia dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori utama: hipovolemik, normovolemik, dan hipervolemik.[6]
Hipernatremia hipovolemik
Hipernatremia hipovolemik terjadi ketika tubuh kehilangan air dan natrium, tetapi kehilangan air lebih besar daripada natrium sehingga konsentrasi natrium plasma meningkat. Kehilangan cairan dapat berasal dari sumber ekstrarenal maupun renal. Penyebab ekstrarenal yang sering meliputi diare, yang lebih sering menyebabkan hipernatremia dibandingkan muntah karena kehilangan air yang lebih besar daripada elektrolit, terutama pada diare osmotik. Kehilangan cairan juga dapat terjadi melalui keringat berlebih, demam, atau penguapan dari saluran pernapasan, misalnya pada pasien dengan ventilasi mekanik.[6]
Hipernatremia normovolemik
Hipernatremia normovolemik biasanya disebabkan oleh defisit air murni tanpa perubahan signifikan pada jumlah natrium tubuh. Sebagian besar defisit air terjadi pada kompartemen intraseluler sehingga penurunan volume cairan ekstraseluler sering tidak terlihat secara klinis. Kondisi yang sering menyebabkan hipernatremia jenis ini adalah diabetes insipidus, baik akibat gangguan produksi hormon antidiuretik di otak maupun gangguan respons ginjal terhadap hormon tersebut.[6]
Hipernatremia hipervolemik
Hipernatremia hipervolemik terjadi ketika terdapat kelebihan natrium yang lebih besar dibandingkan air, sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat sementara volume intraseluler menurun akibat penyusutan sel. Kondisi ini relatif jarang dan sering terjadi di lingkungan medis, misalnya akibat pemberian larutan garam hipertonik secara berlebihan, pemberian natrium bikarbonat hipertonik selama resusitasi kardiopulmoner, atau dialisis dengan cairan hipertonik. Pada situasi ini, peningkatan natrium tubuh menyebabkan ekspansi volume cairan ekstraseluler dan peningkatan tonisitas cairan tubuh.[6]
Perawatan
Penatalaksanaan hipernatremia berfokus pada empat prinsip utama, yaitu mengatasi penyebab yang mendasari, memperbaiki gangguan volume cairan ekstraseluler, mengganti defisit air, dan mempertahankan keseimbangan cairan tubuh selama proses pemulihan. Pada hipernatremia yang disertai hipovolemia berat, langkah pertama adalah memulihkan volume cairan ekstraseluler untuk memperbaiki perfusi jaringan. Hal ini biasanya dilakukan dengan pemberian larutan saline isotonik, dengan jumlah dan kecepatan pemberian disesuaikan dengan kondisi klinis pasien, seperti tanda hipoperfusi atau syok. Setelah volume cairan ekstraseluler stabil, terapi selanjutnya adalah mengganti defisit air secara bertahap. Koreksi kadar natrium harus dilakukan perlahan karena penurunan konsentrasi natrium yang terlalu cepat dapat menyebabkan pembengkakan sel otak dan komplikasi neurologis. Penggantian air dapat dilakukan melalui beberapa cara. Jika pasien mampu minum, asupan air oral merupakan metode yang paling sederhana. Selama proses ini, kadar natrium plasma dan status cairan tubuh harus dipantau secara berkala untuk mencegah koreksi yang terlalu cepat atau terlalu lambat.[6]
Selain mengganti defisit air awal, dokter juga perlu memperhitungkan kehilangan cairan yang berkelanjutan, seperti penguapan melalui kulit dan pernapasan, yang biasanya diperkirakan sekitar satu liter per hari dan dapat lebih tinggi pada pasien dengan demam atau ventilasi mekanik. Jika kondisi neurologis pasien membaik dan mekanisme rasa haus masih berfungsi, terapi selanjutnya biasanya cukup dengan pemenuhan kebutuhan cairan melalui minum air secara normal.[6]
Lihat juga
Referensi
- ^ a b c d e f g h i j Reynolds, RM; Padfield, PL; Seckl, JR (25 March 2006). "Disorders of sodium balance". BMJ (Clinical research ed.). 332 (7543): 702–5. doi:10.1136/bmj.332.7543.702. PMC 1410848. PMID 16565125.
- ^ a b c d e Lin, M; Liu, SJ; Lim, IT (August 2005). "Disorders of water imbalance". Emergency medicine clinics of North America. 23 (3): 749–70, ix. doi:10.1016/j.emc.2005.03.001. PMID 15982544.
- ^ a b c Muhsin, SA; Mount, DB (March 2016). "Diagnosis and treatment of hypernatremia". Best practice & research. Clinical endocrinology & metabolism. 30 (2): 189–203. doi:10.1016/j.beem.2016.02.014. PMID 27156758.
- ^ a b Kliegman, Robert M.; Stanton, Bonita M. D.; Geme, Joseph St; Schor, Nina F. (2015). Nelson Textbook of Pediatrics (dalam bahasa Inggris) (Edisi 20). Elsevier Health Sciences. hlm. 348. ISBN 9780323263528.
- ^ Kuruvilla, Jaya (2007). Essentials of Critical Care Nursing (dalam bahasa Inggris). Jaypee Brothers Publishers. hlm. 329. ISBN 9788180619205.
- ^ a b c d e f "Hypernatremia - an overview | ScienceDirect Topics". www.sciencedirect.com. Diakses tanggal 2026-03-27.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


