Konektivisme

Konektivisme adalah kerangka teori yang digunakan untuk memahami cara belajar di era digital. Teori ini menyoroti bagaimana teknologi internet, seperti peramban web, mesin pencari, wiki, forum daring, dan media sosial, membuka cara-cara baru bagi orang untuk belajar. Dengan teknologi, manusia bisa saling berbagi dan memperoleh informasi di seluruh dunia dengan cara yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan sebelum munculnya era digital.[1] Pembelajaran tidak hanya terjadi dalam diri seseorang, tetapi juga melalui jaringan dan hubungan antarmanusia.

Yang membedakan konektivisme dari teori lain seperti konstruktivisme adalah pandangannya bahwa pengetahuan bisa berada di luar diri manusia, misalnya di dalam organisasi atau basis data. Fokus utama konektivisme adalah pada hubungan antar berbagai sumber informasi, karena hubungan inilah yang membantu seseorang terus belajar, lebih penting daripada pengetahuan yang sudah dimiliki.[2] Dalam konektivisme, pengetahuan dilihat sebagai jaringan, sedangkan belajar dipahami sebagai proses mengenali pola dalam jaringan tersebut.[3][4] Teori ini memiliki kemiripan dengan konsep zona perkembangan proksimal dari Vygotsky dan teori aktivitas dari Engeström.[5] Istilah "teori pembelajaran untuk era digital"[6] menunjukkan bahwa konektivisme menekankan peran besar teknologi dalam memengaruhi cara manusia hidup, berkomunikasi, dan belajar. Secara keseluruhan, konektivisme menggabungkan prinsip-prinsip dari teori chaos, jaringan, kompleksitas, dan swaorganisasi.[6]

Sejarah

Konektivisme pertama kali diperkenalkan pada tahun 2004 melalui sebuah postingan blog yang kemudian diterbitkan sebagai artikel pada tahun 2005 oleh George Siemens.[6] Gagasan ini dikembangkan lebih lanjut pada tahun yang sama melalui dua publikasi, yaitu Connectivism: Learning as Network Creation karya Siemens dan An Introduction to Connective Knowledge karya Stephen Downes. Kedua karya tersebut mendapat perhatian besar di dunia blog, dan sejak itu muncul banyak perdebatan mengenai apakah konektivisme layak disebut sebagai teori pembelajaran untuk era digital. Pada tahun 2007, Bill Kerr ikut terlibat dalam perdebatan ini melalui serangkaian kuliah dan diskusi, demikian pula Forster, keduanya dalam Konferensi Konektivisme Daring di Universitas Manitoba.[7] Kemudian pada tahun 2008, dalam konteks pembelajaran digital dan e-learning, Siemens dan Ally kembali meninjau ulang konektivisme dan membahas implikasi teknologinya.

Referensi

  1. ^ "CONNECTIVISM (SIEMENS, DOWNES)". June 2015. Diakses tanggal 13 May 2019.
  2. ^ "Jan05_01". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-09-08. Diakses tanggal 2007-08-11.
  3. ^ AlDahdouh, Alaa A.; Osório, António J. & Caires, Susana (2015). "Understanding Knowledge Network, Learning and Connectivism" (PDF). International Journal of Instructional Technology and Distance Learning. 12 (10): 3–21. doi:10.5281/zenodo.46186. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2019-02-14.
  4. ^ Siemens, George (2006). Knowing Knowledge. Vancouver, BC, Canada: Lulu Press.
  5. ^ Fry, Heather; Steve Kerridge; Stephanie Marshall (2003). Understanding Student Learning. Routledge Falmer. hlm. 21. ISBN 9780415434645.
  6. ^ a b c Siemens, George (2005). "Connectivism: A Learning Theory for the Digital Age" (PDF). International Journal of Instructional Technology and Distance Learning. 2: 1–9.
  7. ^ "Online Connectivism Conference". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-03. Diakses tanggal 2013-05-03.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement