Ki Herjuno Pramariza Fadlansyah

Ki Herjuno Pramariza Fadlansyah adalah seorang dalang cilik millenial dari Jakarta. Pada tanggal 4 November 2022, dalang cilik ini telah mengadakan pagelaran wayang kulit bersama Ki Danesworo Rafi Ramadhan dengan lakon Dewa Ruci yang diselenggarakan oleh Kemenko PMK dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda, menyambut Hari Pahlawan, dan sekaligus Hari Wayang Nasional, yang merupakan Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang telah ditetapkan oleh UNESCO pada pada tanggal 7 November 2003. Lakon wayang tersebut mengisahkan kebijaksanaan seorang guru terhadap para murid-muridnya tanpa membeda-bedakan satu dengan lainnya. Melalui cerita lakon wayang ini, semoga filosofi-filosofi dalam kisah wayang pada umumnya, terutama terkait dengan karakter integritas, bekerja keras dan semangat gotong-royong dapat tersebar luas, karena pagelaran ini juga disiarkan secara live oleh TVRI Stasiun Jakarta, dan direlay ke Stasiun TVRI di pulau Jawa, Bali dan NTB.[1] Pagelaran Wayang Dalang Milenial ini turut dihadiri oleh Sekretaris Deputi Bidang koordinasi Kamtibmas Kemenko Polhukam Brigjen Polisi Hadi Gunawan, Rektor Universitas Indraprasta PGRI Jakarta Prof. Dr. Sumaryoto, Kepala Stasiun TVRI Jakarta Erwin Hendarwin, dan para tamu undangan.[2]

Dalang muda yang masih berumur 19 tahun ini merupakan lulusan dari SMAN 6 Depok, Jawa Barat.[3] Lewat pagelaran wayang semacam ini diharapkan masyarakat, terutama generasi muda dapat lebih mengenal, merasa memiliki dan mencintai kebudayaan tradisional Indonesia dan budaya Nusantara.[4][5][6]

Wahyu Dharma

Pada tanggal 15 Februari 2025, Ki dalang membawakan kisah atau lakon Wahyu Dharma. Kisah ini menceritakan tentang sebuah wahyu dengan sebutan "Wahyu Darma" berupa anugerah ilahi yang melambangkan kebijaksanaan dan kebenaran. Dalam kisah ini, pihak Kurawa yang akan dimasukkan ke dalam kawah Candradimuka oleh Madrasena, kemudian diselamatkan oleh Bratasena (Bima Muda). Setelah para Pandawa berkumpul kembali dan bertemu dengan Raja Trestarastra dan Resi Bisma, dua ekor burung muncul dan berubah wujud menjadi Batara Guru dan Batara Narada, yang kemudian menganugerahkan Wahyu Dharma kepada Yudhistira. Pagelaran wayang kulit ini merupakan kolaborasi dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) dan TVRI Jawa Timur di Graha Sawunggaling, Kampus II Lidah Wetan.

Kegiatan ini dihadiri oleh Rektor Unesa bersama Wakil Rektor dan Dekan serta Direktorat terkait Singkung Unesa, dan disiarkan secara langsung oleh TVRI. Dalam acara tersebut, rektor Unesa menyampaikan bahwa seni dan budaya Nusantara merupakan warisan berharga yang harus terus dilestarikan. Kebudayaan adalah jati diri bangsa kita, karena itu kita harus terus memperkuat ketahanan budaya melalui berbagai kolaborasi untuk melahirkan inovasi dan kegiatan yang meramaikan geliat seni di masyarakat, termasuk generasi muda dan pelajar. Tanpa kerja sama berbagai pihak, acara seperti ini mungkin tidak akan terwujud. Wayang Kulit bukan sekadar tontonan, melainkan warisan budaya yang harus dilestarikan dan dikembangkan sebagai bagian dari jati diri bangsa.[7]

Wahyu Trimanggala

Dalam rangka perayaan pertama Hari Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia memberikan sertifikat apresiasi kepada Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) dan kepada dalang milenial Herjuno Pramariza Fadlansyah atas komitmen dan kontribusinya dalam pelestarian dan pengembangan seni budaya Indonesia. Acara ini berlangsung di Benteng Vredеburg kota Yogyakarta, pada tangal 17 Oktober 2025, yang dilanjutkan dengan pertunjukkan wayang dengan lakon Wahyu Trimanggala oleh Ki dalang.[8] Kementerian Kebudayaan (Kemenkebud) Republik Indonesia menetapkan 17 Oktober sebagai Hari Kebudayaan untuk memperkuat identitas dan persatuan bangsa. Penetapan ini menegaskan pentingnya kebudayaan sebagai kekuatan hidup dalam kehidupan sehari-hari.[9]

Referensi

  1. ^ "Lestarikan Wayang Kepada Anak Muda Melalui Dalang Millenial". kemenkopmk.go.id. Diakses tanggal 18 Oktober 2025.
  2. ^ "Kemenko PMK Lestarikan Wayang kepada Anak Muda melalui Dalang Milenial". mediaindonesia.com. Diakses tanggal 18 Oktober 2025.
  3. ^ "Sosok Ki Herjuno Pramariza, Dalang Muda Dan Tampan Lestarikan Budaya di Era Digital". batiktv.id. Diakses tanggal 18 Oktober 2025.
  4. ^ "Peringati Hari Wayang, Kemenko PMK Tampilkan Dalang Milenial". suarakarya.co.id. Diakses tanggal 18 Oktober 2025.
  5. ^ "Lestarikan Wayang pada Anak Muda melalui Dalang Milenial". nasional.tvrinews.com. Diakses tanggal 18 Oktober 2025.
  6. ^ "Pagelaran Wayang Kulit Unesa-Unindra: Wujud Nyata Pelestarian Budaya Nusantara". unesa.ac.id, 15 Februari 2025. Diakses tanggal 18 Oktober 2025.
  7. ^ "Collaboration of Epic Unesa, Unindra and TVRI Preserving National Culture through Wayang Kulit Performance". en.unesa.ac.id (artikel dalam bhs Inggris). Diakses tanggal 19 Oktober 2025.
  8. ^ "Kementerian Kebudayaan Apresiasi Unindra dan Dalang Milenial di Hari Kebudayaan 2025". kompasiana.com. Diakses tanggal 19 Oktober 2025.
  9. ^ "Hari Kebudayaan Tegaskan Peran Generasi Muda dan Kampus". rri.co.id. Diakses tanggal 19 Oktober 2025.

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement