Hubungan Belanda dengan Indonesia
Indonesia |
Belanda |
|---|---|
| Misi diplomatik | |
| Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag | Kedutaan Besar Belanda, Jakarta |
| Wakil | |
| Laurentius Amrih Jinangkung | Marc Gerritsen |
Hubungan Belanda dengan Indonesia digambarkan sebagai hubungan khusus[1] yang berakar pada sejarah panjang interaksi kolonial selama berabad-abad. Hubungan ini dimulai pada masa perdagangan rempah-rempah, ketika Belanda mendirikan pos dagang Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) di wilayah yang kini dikenal sebagai Indonesia, sebelum kemudian menjajahnya sebagai Hindia Belanda hingga pertengahan abad ke-20. Indonesia merupakan koloni terbesar yang pernah dimiliki Belanda.
Pada awal abad ke-21, pemerintah Belanda berkomitmen untuk memperkuat hubungan dengan Indonesia, dengan menekankan bahwa hubungan ekonomi, politik, dan antarmasyarakat perlu terus dipererat dan dikembangkan lebih lanjut.[2]
Sejarah

Cornelis dan Frederick de Houtman,[4] adalah dua bersaudara penjelajah asal Belanda yang menemukan rute pelayaran dari Eropa ke Indonesia dan berhasil memulai perdagangan rempah-rempah Belanda. Pada tahun 1592, Cornelis de Houtman dikirim oleh para pedagang Amsterdam ke Lisbon untuk mencari sebanyak mungkin informasi tentang Kepulauan Rempah-rempah (sekarang di wilayah Maluku). Ketika de Houtman kembali ke Amsterdam, para pedagang memastikan bahwa Banten adalah tempat yang paling tepat untuk membeli rempah-rempah. Pada tahun 1594, mereka mendirikan Compagnie van Verre (secara harfiah berarti "perusahaan jarak jauh"), dan pada 2 April 1595, empat kapal berangkat dari Amsterdam: Amsterdam, Hollandia, Mauritius, dan Duyfken.
Cornelis de Houtman dan armadanya tiba pada 27 Juni 1596 di perairan Banten, kemudian kembali pada 14 Agustus 1597 dengan membawa 240 karung lada, 45 ton pala, dan 30 bal fuli (bunga pala).[5]
Pada tahun 1603, VOC memulai operasinya di wilayah yang sekarang disebut Indonesia, di mana mereka berperang untuk memperluas kekuasaannya.[6] Meskipun sejarah Indonesia juga mencatat adanya kekuatan kolonial Eropa lainnya, Belanda-lah yang berhasil memperkuat cengkeramannya atas kepulauan ini. Setelah kebangkrutan VOC pada tahun 1800, Belanda mengambil alih kendali langsung atas kepulauan tersebut pada tahun 1826.[7] Setelah itu, mereka juga berperang melawan penduduk pribumi dan kemudian menerapkan sistem kerja paksa serta perbudakan kontrak hingga tahun 1870, ketika pada tahun 1901 mereka memperkenalkan "Kebijakan Etis Belanda dan Kebangkitan Nasional Indonesia", yang mencakup peningkatan investasi pada pendidikan pribumi dan reformasi politik yang terbatas.

Namun, baru pada abad ke-20 kekuasaan Belanda benar-benar menguat dan membentuk wilayah yang kemudian dikenal sebagai Indonesia. Setelah pendudukan Jepang selama Perang Dunia II, Belanda berusaha kembali menegakkan kekuasaannya,[8] di tengah perjuangan bersenjata dan diplomatik yang sengit yang berakhir pada Desember 1949. Tekanan internasional kemudian memaksa Belanda secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia.[9] Pada tahun 1960, pemerintah Indonesia di bawah Soekarno memutuskan seluruh hubungan diplomatik dengan Belanda, dan hubungan tersebut baru dipulihkan pada tahun 1968 oleh pemerintahan Orde Baru.
Kunjungan kepala negara
Pada tahun 1970, Presiden Soeharto melakukan kunjungan resmi ke Belanda, yang kemudian dibalas dengan kunjungan kenegaraan oleh Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard ke Indonesia pada tahun 1971.[10] Ratu Beatrix dan Pangeran Claus juga melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada tahun 1995.[11] Pada 22 April 2016, Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan resmi ke Belanda.[12] Pada 10 Maret 2020, Raja Willem-Alexander melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia dan secara mengejutkan menyampaikan permintaan maaf atas kekerasan berlebihan yang terjadi pada masa awal kemerdekaan Indonesia.[13][14] Pada 25 September 2025, Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan ke Belanda dan mengadakan pertemuan dengan Raja Willem-Alexander dan Ratu Máxima Zorreguieta untuk mempertahankan hubungan positif antara kedua negara, khususnya dalam kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan.[15]
Ratu Juliana

Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard pernah ke Indonesia pada tahun 1971[16] sambil membawa "oleh-oleh", antara lain naskah manuskrip Kakawin Nagarakretagama. Naskah lontar ini berasal dari Lombok dan sampai ke Belanda karena dijarah oleh KNIL pada tahun 1894, sewaktu tentara Belanda menaklukkan Lombok.
Pada kunjungan kenegaraan Ratu Belanda ke Indonesia yang pertama tersebut, Ratu Juliana juga mengunjungi Yogyakarta, Danau Toba, dan Bali.
Ratu Beatrix
Ratu Beatrix dan Pangeran Claus mengunjungi Indonesia pada tahun 1995, bertepatan dengan 50 tahun kemerdekaan Indonesia dari Belanda.
Raja Willem-Alexander
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya. |
Raja Willem-Alexander (cucu Ratu Juliana) dan Ratu Maxima mengunjungi Indonesia pada tahun 2020. Ini merupakan kunjungan kedua Willem-Alexander setelah sebelumnya mengunjungi Indonesia bersama Ratu Beatrix dan ayahnya, Pangeran Claus pada tahun 1995.[17]
Hubungan Politik

Hubungan antara kedua negara telah dirusak oleh niat separatis Organisasi Papua Merdeka.[18] Selain itu, Republik Maluku Selatan juga merupakan populasi Kristen yang berusaha memisahkan diri dari mayoritas-Muslim Indonesia. Dalam lapisan ini, mereka telah menyerang berbagai target[19] di Belanda pada 1970-an dan 1980-an, berusaha untuk memaksa negara itu untuk menekan Indonesia menjadi memungkinkan untuk memisahkan diri dari bangsa mereka.[20] Hubungan politik kemudian tegangnya seperti pejabat Indonesia menolak untuk mengunjungi Belanda, sementara kelompok itu diizinkan untuk membawa kasus ke pengadilan terhadap mereka. Pada tahun 2010, Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, membatalkan kunjungan ke Belanda setelah aktivis kelompok meminta pengadilan Belanda untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan baginya. langkah itu dikecam oleh aktivis pro-Indonesia Maluku di Jakarta. Namun, kunjungan Menteri Luar Negeri Belanda, Bernard Bot ke Indonesia pada tahun 2005 untuk merayakan ulang tahun kemerdekaan ke-60 ditandai dengan momen bersejarah dalam hubungan antara kedua negara. Setelah berkunjung, hubungan antara Indonesia dan Belanda lebih lanjut ditingkatkan dan diperkuat oleh perluasan kerjasama dalam berbagai bidang.[21]
Pada tahun 2010, Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono membatalkan kunjungan ke Belanda setelah aktivis kelompok tersebut meminta pengadilan Belanda untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan untuknya.[22] Langkah tersebut dikutuk oleh aktivis Maluku pro-Indonesia di Jakarta.[23]
Ekonomi dan perdagangan

Belanda merupakan salah satu mitra dagang terpenting Indonesia di Eropa. Nilai perdagangan antara Belanda dan Indonesia pada tahun 2024 mencapai US$5,7 miliar. Belanda secara konsisten menjadi investor terbesar dari Uni Eropa dan menempati peringkat 10 besar investor teratas di Indonesia.[24]
Pelabuhan Rotterdam dan Bandara Schiphol Amsterdam telah menjadi pintu masuk utama bagi produk-produk Indonesia ke Uni Eropa.[butuh rujukan]
Sebaliknya, perusahaan-perusahaan Belanda memandang Indonesia sebagai gerbang mereka menuju pasar ASEAN yang lebih luas, yang merupakan rumah bagi lebih dari 500 juta penduduk.[butuh rujukan]
Bantuan pembangunan
Selama lebih dari 25 tahun, dari 1966 hingga 1992, bantuan pembangunan diberikan oleh Belanda kepada Indonesia dalam kerangka Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI).[25]
IGGI didirikan pada akhir tahun 1960-an untuk membantu mengkoordinasikan aliran bantuan luar negeri ke Indonesia, dan dipimpin serta diselenggarakan oleh pemerintah Belanda selama lebih dari dua dekade, khususnya sepanjang tahun 1970-an dan 1980-an.
Namun, pada awal tahun 1990-an, Menteri Kerja Sama Pembangunan Belanda saat itu, Jan Pronk, menjadi semakin kritis terhadap kebijakan dalam negeri Indonesia. Sebagai tanggapan, pada awal tahun 1992, pemerintah Indonesia menyatakan tidak ingin lagi berpartisipasi dalam pertemuan tahunan IGGI di Den Haag, dan lebih memilih agar kelompok konsultatif donor baru, yaitu Consultative Group on Indonesia (CGI), dibentuk dan dipimpin oleh Bank Dunia.[26]
Kemiliteran

Militer Indonesia kadang-kadang masih membeli peralatan dari Belanda. Meski saat ini Indonesia telah menjadi negara yang berdaulat, Indonesia telah memfokuskan kedepan untuk bidang militer yang jauh lebih kuat karena masa kelamnya dijajah oleh bangsa barat dan juga Jepang, militer Indonesia telah mencapai angka peringkat 14 dunia dari GFP (Global Fire Power) data yang telah dikumpulkan, bahkan telah menjadi negara dengan bidang militer paling maju di ASEAN.[27]
Militer Indonesia membeli kapal-kapal angkatan laut dari Belanda, seperti fregat kelas Van Speijk dan kapal perang kelas SIGMA (fregat kelas Martadinata dan korvet kelas Diponegoro).[28]
Hubungan Kebudayaan

Jejak pengaruh Belanda di Indonesia mencakup kata serapan dari bahasa Belanda dalam bahasa Indonesia serta pengaruh kuliner. Beberapa hidangan Indonesia diadopsi dan kemudian memengaruhi kuliner Belanda. Meskipun hubungan budaya kini tidak lagi seerat dahulu, keberadaan agama Kristen di Indonesia merupakan hasil dari penyebaran agama oleh para misionaris Belanda.[29] Selain itu, terdapat populasi orang Indonesia yang cukup besar di Belanda. Banyak dari mereka mendirikan gereja-gereja sendiri dalam apa yang disebut sebagai "misi terbalik", yang merujuk pada kegiatan misionaris Belanda di masa kolonial.[30]
Warisan lain dari masa kolonial di Indonesia adalah sistem hukum yang diwarisi dari Belanda. Pada tahun 2009, Menteri Kehakiman Belanda Ernst Hirsch Ballin mengunjungi Indonesia, yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai langkah awal dalam upaya reformasi sistem hukumnya.[31]
Selama berabad-abad hubungan kolonial, sejumlah lembaga kebudayaan di Belanda—seperti Tropenmuseum dan Rijksmuseum voor Volkenkunde di Leiden—menyimpan koleksi besar artefak arkeologi dan etnologi Indonesia. Keduanya merupakan pusat studi Indonesia terkemuka di Eropa, yang berfokus pada budaya, sejarah, arkeologi, dan etnografi Indonesia.
Erasmus Huis—pusat kebudayaan Belanda di Jakarta—didirikan pada tahun 1970 sebagai bentuk kerja sama budaya untuk memajukan seni dan pertukaran kebudayaan antara Indonesia dan Belanda. Selain berbagai pameran, pertunjukan musik, dan pemutaran film, kuliah umum mengenai budaya Belanda dan Indonesia juga secara rutin diselenggarakan di aula dan galeri Erasmus Huis.[32]
Tokoh Indonesia-Belanda
Lihat pula
- Hubungan luar negeri Indonesia
- Hubungan luar negeri Belanda
- Daftar Duta Besar Belanda untuk Indonesia
- Daftar Duta Besar Indonesia untuk Belanda
- Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag
- Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Jakarta
- Perusahaan Hindia Timur Belanda
- Orang Indo
- Hindia Belanda
- Uni Belanda-Indonesia
Referensi
- ^ Marsudi, Retno (April 2, 2012). "Indonesia and the Netherlands: A special relationship". The Jakarta Post. Diakses tanggal 29 May 2013.
- ^ "Netherlands to put new emphasis on ties with Indonesia". The Jakarta Post. February 21, 2013. Diakses tanggal 29 May 2013.
- ^ "Di Mana Letak Museum Fatahillah? Temukan Jawabannya di Sini!". kumparan. Diakses tanggal 2025-11-01.
- ^ "Cornelis de Houtman - Mozaik Tirto". Tirto.id. Diakses tanggal 2018-07-30.
- ^ "Melipat Laba di Pelayaran Kedua". Historia. 5 May 2018. Diakses tanggal 2018-07-30.
- ^ Ricklefs, hal. 29
- ^ Ricklefs (1991), hal. 24
- ^ "Perang Kemerdekaan Indonesia" Belanda ingin menduduki kembali Indonesia
- ^ Bidien, Charles (5 December 1945). "Independence the Issue". Far Eastern Survey. 14 (24): 345–348. doi:10.2307/3023219. ISSN 0362-8949. JSTOR 3023219.; "Indonesian War of Independence". Military. GlobalSecurity.org. Diakses tanggal 2006-12-11.
- ^ "State visit of Queen Juliana and Prince Bernhard to the Republic Indonesia in 1971". Dutch Docu Channel, via Youtube. Diakses tanggal May 20, 2014.
- ^ "Queen Beatrix and the former Dutch colonies". KITLV. Diarsipkan dari asli tanggal April 19, 2014. Diakses tanggal May 20, 2014.
- ^ Indonesian President Joko Widodo visits Netherlands APnews. Published 22 April 2016
- ^ Pieters, Janene (10 March 2020). "Dutch King apologizes for colonial past in Indonesia". NL Times. Diakses tanggal 10 March 2020.
- ^ Gorbiano, Marchio Irfan (10 March 2020). "Breaking: Dutch monarch offers apology for past 'excessive violence'". The Jakarta Post. Diakses tanggal 10 March 2020.
- ^ "Indonesische president op bezoek bij de koning en koningin". Blauw Bloed (dalam bahasa Belanda). 26 September 2025. Diakses tanggal 28 September 2025.
- ^ State visit of Queen Juliana and Prince Bernhard to the Republic Indonesia 1971
- ^ 21-31 augustus 1995 - De Koningin, Prins Claus en de Prins van Oranje brengen een staatsbezoek aan Indonesië.
- ^ Papuan self-determination - historical roots VII | Webdiary - Founded and Inspired by Margo Kingston
- ^ Moluccans in the Netherlands: a snapshot about Refugees in Holland
- ^ "RMS issue frustrates Dutch-Indonesian relations | Radio Netherlands Worldwide". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-03-25. Diakses tanggal 2010-11-30.
- ^ "Political Affairs - Netherlands Embassy in Jakarta". Diarsipkan dari asli tanggal 2010-12-01. Diakses tanggal 2010-11-30.
- ^ "Indonesia leader delays Dutch visit". www.aljazeera.com. Diakses tanggal 2019-09-28.
- ^ "INDONESIA: Group of pro-government activists protest against rivals seeking the arrest of President Susilo Bambang Yudhoyono". www.gettyimages.co.uk. Diakses tanggal 2019-09-28.
- ^ "Pererat Hubungan Dagang dan Investasi Indonesia-Belanda". Neraca. 2025-06-18. Diakses tanggal 2025-11-01.
- ^ Dutch development policy in Indonesia, including the work of the IGGI, is discussed in detail in J.A. Nekkers and P.A.M. Malcontent (eds), 2000, Fifty Years of Dutch Development Cooperation 1949-1999, The Hague: Sdu publishers.
- ^ According to Malcontent and Nekkers, the episode caused "an uproar" in The Hague. For details, see P.A.M. Malcontent and J.A, Nekkers, "Introduction: Do something and don't look back", in J.A. Nekkers and P.A.M. Malcontent, ibid., p. 51.
- ^ THE DUTCH - INDONESIA CORPORATE CONNECTION - Moluccas International Campaign for Human Rights
- ^ "THE DUTCH - INDONESIA CORPORATE CONNECTION". Moluccas International Campaign for Human Rights (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-09-28.
- ^ "Archived copy" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2011-07-19. Diakses tanggal 2010-11-30. Pemeliharaan CS1: Salinan terarsip sebagai judul (link)
- ^ "Henry Institute - Centers and Institutes" (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2020-08-12. Diakses tanggal 2019-09-28.
- ^ "VIVAnews - Indonesia-Netherlands Relations: We Cannot Extradite Fugitive". Diarsipkan dari asli tanggal 2010-08-22. Diakses tanggal 2010-11-30.
- ^ "The Erasmus Huis, Dutch Cultural Centre in Jakarta Indonesia". The Erasmus Huis. Diarsipkan dari asli tanggal May 20, 2014. Diakses tanggal May 20, 2014.
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


