Gempa bumi Bali 1815

Gempa bumi dan tsunami Bali 1815
Linuh Bali 1815
Gempa bumi Bali 1815 di Bali
Gempa bumi Bali 1815
Waktu setempat22:00-23:00 WITA
MagnitudoMw 7.0[1]
Episentrum8°00′S 115°00′E / 8.0°S 115.0°E / -8.0; 115.0
SesarSesar Naik Busur Belakang Flores
Wilayah bencanaBali
Jawa Timur
Lombok
Hindia Belanda
Intensitas maks.MMI X (Ekstrem)
TsunamiYa, setinggi 8–11 meter
Korban11.453 tewas[2]

Pada 22 November 1815, Gempa bumi tektonik berkekuatan 7,0 Mw melanda Bali, gempa terjadi antara pukul 22.00 hingga 23.00 WITA. Gempa memiliki Skala intensitas maksimum X (Ekstrem) menyebabkan kerusakan parah di Buleleng, Tabanan, dan Denpasar. Diperkirakan 11.453 korban tewas dilaporkan. Bencana tersebut memicu tanah longsor yang menewaskan 10.253 orang di Singaraja, dengan 1.200 korban jiwa lainnya akibat tsunami yang terjadi setelahnya. Peristiwa ini adalah gempa bumi paling mematikan kedua di Indonesia, setelah Gempa bumi Samudra Hindia 2004 yang menewaskan lebih dari 167.000 orang.

Gempa bumi

Gempa bumi dahsyat terjadi di Bali dan selalu berulang, dengan perkiraan setiap 30 hingga 60 tahun sekali, seperti pada peristiwa tahun 1815, 1857, 1917, 1976, dan terakhir 1979. Para ahli memperingatkan bahwa peristiwa serupa dapat terjadi di masa mendatang.[3]

Gempa bumi dan tsunami tersebut diduga akibat pecahnya sesar dorong pada Sesar Naik Busur Belakang Flores, Patahan tersebut merupakan sumber dari sekitar 26 gempa bumi berkekuatan 6,0+ sejak tahun 1960, termasuk Gempa bumi Flores 1992, dan Gempa bumi Lombok 2018.[3] Gempa bumi ini diperkirakan terjadi pada kedalaman dangkal, 40 km (25 mil) di bawah kerak bumi. Peristiwa Gempa bumi 1815 ini merupakan gempa bumi tertua yang terdokumentasi di sepanjang patahan tersebut. Pemodelan gempa berkekuatan 7,3 momen pada kedalaman 10 km (6,2 mil) dapat menghasilkan Modifikasi Mercalli intensitas VIII–IX di sepanjang bagian utara tengah dan timur Bali. Modifikasi Mercalli intensitas V di Surabaya. Di Lombok gempa terasa dengan intensitas VII.

Dampak

Gempa terjadi pada pukul 22.00 WITA. Di Buleleng serangkaian guncangan kuat menyusul dan berlangsung selama satu jam. Guncangan terasa di Kota Bima, Surabaya, dan Lombok. Sebuah "ledakan" besar terdengar, di sepanjang pesisir pantai.[4] Ledakan tersebut memicu tanah longsor yang mengubur Singaraja dan Buleleng, yang mengakibatkan sedikitnya 10.253 orang meninggal. Celah besar terlihat melintasi Danau Tamblingan, dari Buleleng hingga Tabanan. Longsor sungai terbendung hingga menyebabkan banjir besar.[5]

Ledakan-ledakan yang dilaporkan ini disebabkan oleh runtuhnya lereng gunung selama gempa bumi. Hujan deras sebelum gempa bumi juga menyebabkan ketidakstabilan lereng gunung ini yang berkontribusi pada tanah longsor. Tanah longsor membawa bebatuan selebar 15 hingga 30 m (49 hingga 98 kaki); tanah longsor tersebut mengalir ke Sungai Banyumala dan meningkatkan volumenya sambil mengumpulkan puing-puing sungai. Pejabat Belanda Bloemen Waanders melaporkan kedalaman aliran 3 hingga 3,6 m (9,8 hingga 11,8 kaki) sementara Gusti Panji Sakti mengatakan kedalamannya 6 hingga 12 m (20 hingga 39 kaki). Menurut Waanders, 17 desa ditelan oleh longsor tersebut.[2]

Tsunami yang merusak juga menghantam pantai Bali, menewaskan 1.200 orang lainnya.[5] Tsunami ini dipicu oleh tanah longsor yang memasuki laut di sepanjang pantai. Tsunami tersebut menghancurkan beberapa desa tetapi tidak ada tsunami yang dilaporkan di Lombok dan Jawa di dekatnya. Sakti memperkirakan tsunami mencapai 2 hingga 3 m (6 kaki 7 inci hingga 9 kaki 10 inci). Bangunan-bangunan pesisir pelabuhan Buleleng di Kecamatan Pabean tersapu oleh tsunami.

Lihat pula

Referensi

  1. ^ "Katalog Gempabumi Signifikan dan Dirasakan". bmkg.go.id. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Diakses tanggal 16 Oktober 2021.
  2. ^ a b Faral, Audrey; Lavigne, Franck; Sastrawan, Wayan Jarrah; Suryana, I Gede Putu Eka; Schrikker, Alicia; Pageh, Made; Made, Atmaja Dewa; Kesiman, Made Windu Antara; Malawani, Mukhamad Ngainul; Hadmoko, Danang Sri. "Deadliest natural disaster in Balinese history in November 1815 revealed by Western and Indonesian written sources". Natural Hazards. 120: 12011–12041. doi:10.1007/s11069-024-06671-5.
  3. ^ a b Felix, Raquel P.; Judith A., Hubbard; Kyle E., Bradley; Karen H., Lythgoe; Linlin, Li; Adam D., Switzer (2022). "Tsunami hazard in Lombok and Bali, Indonesia, due to the Flores back-arc thrust". Natural Hazards and Earth System Sciences. 22 (5): 1665–1682. Bibcode:2022NHESS..22.1665F. doi:10.5194/nhess-22-1665-2022. S2CID 248899725.
  4. ^ "Significant Earthquake Information". ngdc.noaa.gov. NOAA National Centers for Environmental Information. Diakses tanggal 16 October 2021.
  5. ^ a b "Tsunami Event Information". ngdc.noaa.gov. NOAA National Centers for Environmental Information. Diakses tanggal 16 October 2021.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement