Among Tani Dagang Layar
Netralitas artikel ini dipertanyakan. |
Gaya atau nada penulisan artikel ini tidak mengikuti gaya dan nada penulisan ensiklopedis yang diberlakukan di Wikipedia. |

Among Tani ke Dagang Layar (disederhanakan Among Tani Dagang Layar; Hanacaraka: ꦄꦩꦺꦴꦁꦠꦤꦶꦣꦒꦁꦭꦪꦂ) adalah sebuah paradigma pembangunan dan visi strategis yang dicanangkan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di bawah kepemimpinan Hamengkubuwana X sebagai gubernur. Visi ini menandai pergeseran arah pembangunan dari berbasis daratan (land-based) menuju optimalisasi potensi maritim (sea-based) di pesisir selatan DIY.[1][2][3] Konsep ini mengadopsi prinsip kejawen tentang keseimbangan alam di daratan dan lautan.
Secara konseptual, gagasan ini menandai pergeseran orientasi pembangunan DIY yang sebelumnya berpusat pada sektor agraris di wilayah daratan menuju pemanfaatan potensi maritim di pesisir selatan sebagai motor penggerak ekonomi baru.[1][3][4] Pembangunan di DIY secara historis memang menunjukkan ketimpangan antara wilayah tengah dan utara yang berkembang pesat dan wilayah selatan yang cenderung menjadi area pinggiran dengan aksesibilitas terbatas. Paradigma ini lahir sebagai respons untuk mentransformasikan pesisir selatan dari "halaman belakang" menjadi "halaman depan" atau pintu gerbang utama pembangunan daerah.
Latar belakang
Secara historis, pusat pertumbuhan ekonomi dan kebudayaan di DIY didominasi oleh sektor agraris yang berlokasi di wilayah pedalaman (utara dan tengah), khususnya di wilayah metropolitan Kartamantul yang meliputi Kota Yogyakarta, sebagian Kabupaten Sleman, dan sebagian Kabupaten Bantul. Kondisi ini menyebabkan wilayah pesisir selatan cenderung menjadi area belakang yang kurang berkembang dibandingkan wilayah utara yang memiliki aksesibilitas lebih tinggi.[5][6]
Pada 21 September 2012, dalam pidato penyampaian visi misi dan program calon Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta periode 2012–2017 yang berjudul "Menyongsong Abad Samudra Hindia untuk Kemuliaan Martabat Manusia Jogja", Hamengkubuwana X secara resmi memperkenalkan reorientasi visi ini. Paradigma ini didasari pada posisi geografis DIY di wilayah Kabupaten Kulon Progo, Bantul, dan Gunungkidul yang memiliki garis pantai sepanjang kurang lebih 110 kilometer yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia.[3][4]
Konsep filosofis
Secara filosofis, "Among Tani" merepresentasikan identitas tradisional masyarakat DIY yang berbasis pada aktivitas agraris dan kearifan lokal pedalaman. Dalam visi ini, sektor pertanian tidak ditinggalkan, melainkan dipertahankan sebagai fondasi ketahanan pangan dan akar budaya. Sementara itu, "Dagang Layar" merujuk pada aktivitas bahari, pelayaran, dan perdagangan lintas batas yang melambangkan keberanian untuk mengeksplorasi sumber daya laut serta konektivitas global.[3][7][8] Integrasi kedua istilah ini menuntut perubahan pola pikir masyarakat dan birokrasi agar mampu mengoptimalkan potensi ekonomi biru (blue economy) di sepanjang Samudra Hindia. Pengembangan konsep ini secara filosofis berakar pada prinsip kejawen, yang menekankan keseimbangan antara harmoni mikrokosmos dan makrokosmos (manusia dan alam),[9] dalam hal ini menyatukan potensi daratan (bumi) dan lautan (tirta).
Implementasi

Implementasi nyata dari visi ini diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur skala besar di sepanjang pesisir selatan Kabupaten Kulon Progo, Bantul, dan Gunungkidul. Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) dibangun untuk membuka isolasi wilayah dan menghubungkan sentra-sentra ekonomi baru di pesisir. Kehadiran Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo merupakan komponen kunci dalam konsep "Dagang Layar" untuk menyediakan konektivitas udara internasional yang mendukung logistik ekspor-impor dan pariwisata.[10] Selain itu, pemerintah melakukan penataan kawasan pantai, pengembangan pelabuhan perikanan seperti Tanjung Adikarto, serta penguatan industri pariwisata bahari untuk mendorong diversifikasi pendapatan masyarakat pesisir.[8][11]
Implementasi infrastruktur tersebut didukung secara krusial oleh pembangunan jembatan-jembatan strategis yang berfungsi sebagai konektor utama untuk memutus isolasi geografis akibat bentang alam sungai-sungai besar. Jembatan Kretek 2 yang membentang di atas Muara Sungai Opak menjadi salah satu proyek monumental yang menghubungkan kawasan Parangtritis dengan wilayah pesisir selatan Bantul. Secara visual, jembatan ini mengusung ornamen "Luku" atau alat bajak sawah yang melambangkan filosofi "Among Tani" dalam struktur bangunan modern.[12][13][14] Selain itu, pembangunan Jembatan Kabanaran yang menghubungkan Bantul dengan Kulon Progo di muara Sungai Progo diposisikan untuk mempercepat akses menuju Bandara YIA.[15][16][17][18][19][20]
Mitigasi bencana dan keberlanjutan
Reorientasi pembangunan ke arah selatan juga mempertimbangkan aspek risiko bencana, mengingat wilayah pesisir DIY merupakan zona rawan tsunami dan abrasi. Dalam paradigma ini, pembangunan ekonomi maritim diintegrasikan dengan upaya mitigasi bencana berbasis ekosistem, seperti penanaman vegetasi sabuk hijau (green belt) yang terdiri dari hutan mangrove dan cemara udang.[21][22] Selain berfungsi sebagai pelindung alami dari ancaman laut, area ini juga dikembangkan untuk menjaga kelestarian ekosistem pesisir. Langkah ini menunjukkan bahwa transformasi menuju ekonomi laut dilakukan dengan pendekatan berkelanjutan yang menyeimbangkan antara eksploitasi ekonomi dan perlindungan terhadap keselamatan warga serta lingkungan hidup.
Referensi
- ^ a b Chairunnisa, Indira; Rijanta, R; Hasanati, Surani (2017). "Operasionalisasi Konsep Among Tani Dagang Layar Untuk Pembangunan Wilayah Di Daerah Istimewa Yogyakarta". Jurnal Bumi Indonesia. 6 (1).
- ^ Milagsita, Anindya. "Makna Among Tani Dagang Layar, Filosofi Menara Luku Jembatan Kretek 2 Bantul". detikjogja. Diakses tanggal 2026-01-07.
- ^ a b c d Widi, Tugi (2018-06-24). "Among Tani Dagang Layar: Apakah Itu?". seputargk.id. Diakses tanggal 2026-01-07.
- ^ a b Juniarto, Arief (2017-08-09). Natalia, Mediani Dyah (ed.). "PEMDA DIY: Fokus ke Selatan, Usung Among Tani Dagang Layar". Harian Jogja. Diakses tanggal 2026-01-07.
- ^ Hakim, Luqman (2022-07-06). Soebanto, Herry (ed.). "Sosiolog: Pola pertumbuhan di DIY menyerupai kota metropolis". Antara News Yogyakarta. Diakses tanggal 2026-01-07.
- ^ "Sultan Minta Sleman dan Bantul Sinkronkan Tema Pembangunan". Pemda DIY. 2025-04-14. Diakses tanggal 2026-01-07.
- ^ Sidik, Hery (2018-12-05). Soebando, Herry (ed.). "DPRD: Maknai Ulang "Among Tani Dagang Layar"". Antara News Yogyakarta. Diakses tanggal 2026-01-07.
- ^ a b Hidayat, Totok (2019-09-09). Arief, Faizal R. (ed.). "Wagub DIY Ajak Masyarakat untuk Berpaling ke Pembangunan Kemaritiman". TIMES Indonesia. Diakses tanggal 2026-01-07.
- ^ Utami, Kartika Margi (2024-11-25). "Filosofi Kejawen: Menemukan Harmoni Dalam Kehidupan Modern". Kumparan. Diakses tanggal 2026-01-07.
- ^ Simamora, Beltahmamero (2023-01-10). "National Project Land Acquisition Controversy: New Yogyakarta International Airport (NYIA)". PERSPEKTIF (dalam bahasa Inggris). 12 (1): 144–152. doi:10.31289/perspektif.v12i1.8277. ISSN 2684-9305.
- ^ Febriani, Uli (2017-09-17). "Festival Among Tani Dagang Layar Optimalkan Potensi Wisata Pesisir Selatan DIY". Harian Jogja. Diakses tanggal 2026-01-07.
- ^ Anam, Khoirul (2023-06-07). "Baru Diresmikan, Intip 4 Fakta Menarik Jembatan Kretek 2". CNBC Indonesia. Diakses tanggal 2026-01-07.
- ^ Anas, Anwar (2022-09-28). "Jembatan Kretek II, Among Tani Dagang Layar". Own Talk. Diakses tanggal 2026-01-07.
- ^ Hermawati, Arinta Dwi (2024-07-26). "Jadi Ikon Pertanian di Yogyakarta, Jembatan Senilai Rp364 Miliar Ini Didesain Memuat Filosofi Among Tani Dagang Layar". Ayo Bandung. Diakses tanggal 2026-01-07.
- ^ Prasetya, Anggara Wikan (2025-10-31). "Jembatan Pandansimo Hubungkan YIA dengan Wisata Pantai di Bantul via JJLS". Kompas.com. Diakses tanggal 2026-01-07.
- ^ "Jembatan Kabanaran Hadir, Presiden Prabowo Dorong Penataan Terintegrasi dan Penguatan UMKM". Presiden Republik Indonesia. 2025-11-19. Diakses tanggal 2025-11-19.
- ^ Juniarto, Arief (2017-08-09). Natalia, Mediani Dyah (ed.). "PEMDA DIY: Fokus ke Selatan, Usung Among Tani Dagang Layar". Harian Jogja. Diakses tanggal 2026-01-07.
- ^ Prabowo, Kautsar Widya (2025-11-19). "Resmikan Jembatan Kabanaran di Bantul, Presiden Harap Permudah Konektivitas Warga". Metro TV News. Diakses tanggal 2025-11-19.
- ^ Chairunnisa, Indira; Rijanta, R; Hasanati, Surani (2017). "Operasionalisasi Konsep Among Tani Dagang Layar Untuk Pembangunan Wilayah Di Daerah Istimewa Yogyakarta". Jurnal Bumi Indonesia. 6 (1).
- ^ Pertana, Pradito Rida. "Prabowo Resmikan Jembatan Kabanaran Penghubung Bantul-Kulon Progo". detikjogja. Diakses tanggal 2025-11-19.
- ^ Rahmadhani, Tasya; Rahmawati, Yunita Fera; Qalbi, Raihanatu; P, Nada Fithriyyah H.; Husna, Selma Nafilatul (2021-11-01). "Zonasi dan Formasi Vegetasi Hutan Mangrove: Studi Kasus di Pantai Baros, Yogyakarta". Jurnal Sains Dasar. 10 (2): 69–73. doi:10.21831/jsd.v10i2.43912. ISSN 2443-1273.
- ^ Syahbudin, Atus; Adriyanti, Dwi Tyaningsih; Bai, Hu; Ninomiya, Ikuo; Osozawa, Katsuya (2013-01-01). "New Social Values on the Establishment of Cemara Udang (Casuarina Equisetifolia) in the Southern Coast of Yogyakarta". Procedia Environmental Sciences. The 3rd International Conference on Sustainable Future for Human Security, SUSTAIN 2012, 3-5 November 2012, Clock Tower Centennial Hall, Kyoto University, JAPAN. 17: 79–88. doi:10.1016/j.proenv.2013.02.014. ISSN 1878-0296.
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


