Al-Barra' bin Ma'rur
| Al-Barra' bin Ma'rur البراء بن معرور | |
|---|---|
| Lahir | Al-Barra' bin Ma'rur Madinah, Arab Saudi |
| Meninggal | 622 M ( 1 Hijriah ) Madinah, Arab Saudi |
| Sebab meninggal | Meninggal karena usia atau umur tua |
| Dikenal atas | Sahabat Nabi |
| Anak | Bisyr bin Al Barra' ( anak laki-laki ) |
| Orang tua | Ma'rur bin Shahkr bin Khansa As Salami (ayah) |
Al-Barra' bin Ma'rur bin Shahkr As Salami Al Khazraji Al Anshari Al Madani ( Bahasa Arab :البراء بن معرور بن صخر) ialah seorang Sahabat Nabi dari kalangan Bani Salamah yang mengikuti Baiat Aqabah ke-2 dan merupakan ayah dari Sahabat Nabi lainnya, yakni Bisyr bin Al Barra'. Ibunya bernama al-Rubab binti al-Nu‘man bin Imri al-Qais bin Zaid bin Abdul Asyhal.[1] la masih keponakaii Sa‘ad bin Muadz. Ia dikenal sebagai seorang elit atau petinggi di Bani Salamah dan juga dikenal akan kisahnya yang menginfaq-kan sepertiga hartanya untuk Muhammad dan juga setia kepada Ka'bah sebagai Qiblat shalat kaum Muslimin.
Silsilah
Karena Bani Salamah merupakan keturunan dari kabilah Khazraj, maka laqabnya ialah 'As Salami Al Khazraji'. Nasab lengkapnya ialah 'Al Barra' bin Ma'rur bin Shahkr bin Khansa' bin Sinan bin Ubaid bin Adiy bin Ghanam bin Ka'ab bin Salamah As Salami'. Lalu, dari Salamah lanjut kepada "Salamah bin Sa'ad bin Ali bin Asad bin Rasyid bin Tazd bin Jashm bin Al-Khazraj".[2]
Biografi
Ia dikenal sebagai sosok Sahabat Nabi yang pintar, pemberani dan cerdas serta tegas terhadap masalah agama Islam. Ia diketahui merupakan ayah kandung dari Sahabat Nabi lainnya bernama 'Bisyr bin Al Barra'' yang berasal dari Bani Salamah. Ia masuk Islam melalui dakwah Mushab bin Umair saat pertama kali menyebarkan Islam di Madinah.[1]
Abdullah bin Ka'ab bercerita bahwa di tengah perjalanan setelah mereka keluar dari Madinah menuju Mekah, al-Barra berkata, "Wahai anggota rombongan, aku telah bermimpi. Demi Allah, aku tidak tahu apakah kalian akan setuju dengan mimpiku ini atau tidak.’
Kami bertanya, ‘Bagaimanakah mimpimu itu?’ la menjawab, ‘Aku bermimpi bahwa aku tidak boleh memunggungi bangunan ini (Ka‘bah) dan aku harus shalat menghadapnya.’
Kami menjawab, ‘Demi Allah, yang kami tahu, Nabi kita hanya shalat menghadap ke Syam (Baitul Makdis) dan kami tidak mau menyimpang darinya.’ Al-Barra berkata, ‘Baiklah kalau begitu, aku tetap akan shalat menghadapnya (Ka‘bah).’
Kami menjawab, ‘Kami tidak mau melakukannya.’ Maka, saat datang waktu shalat, kami semua menghadapke Syam, sedangkan al-Barra menghadap Ka‘bah sampai akhirnya kami tiba di Makkah. Kami selalu mencela apa yang dilakukannya dan ia tidak memedulikan celaan kami. la kukuh dengan pendapatnya, shalat menghadap Ka‘bah. Saat kami tiba di Makkah, ia berkata kepadaku, ‘Hai keponakanku, mari kita pergi menghadap Rasulullah saw. hingga kita bisa menanyakan apa yang telah kulakukan selama perjalanan. Demi Allah, ada yang mengganjal di hatiku ketika melihat kalian menentangku.’
Maka kami berangkat untuk menemui Nabi dan menanyakan persoalan itu. Saat bertemu Nabi bersama Abbas bin Abdul Mutholib Nabi menjawab, "Sebenarnya kau telah menghadap kepada kiblat yang benar, seandainya kau bersabar."[1]
Saat mengambil baiat Aqabah kedua, Al-Barra' bin Ma'rur memegang tangan Nabi dan berkata, "Benar. Demi yang mengutus engkau dengan benar, kami benar-benar akan melindungi engkau sebagaimana kami melindungi istri-istri kami. Maka baiatlah kami wahai Rasulullah. Demi Allah, kami adalah orang-orang yang mahir dalam perang dan mengepung musuh. Kami mewarisinya sejak dahulu."[3]
Kematian
Sebelum dirinya wafat karena sakit, dia sempat mewasiatkan untuk menginfaq-kan sepertiga hartanya kepada Muhammad, dengan rincian 1/3 harta pertamanya ditunjukkan khusus untuk Muhammad, 1/3 yang ke-2 untuk Jihad Fisabilillah dan untuk keperluan agama Islam dan 1/3 terakhir untuk anak-anaknya.
Muhammad menerima 1/3 harta tersebut, namun pada akhirnya, harta tersebut dikembalikan lagi oleh Muhammad kepada anak dari Al Barra' bin Ma'rur.[4]
- 1/3 harta ==> untuk Muhammad
- 1/3 harta ==> untuk Keperluan Agama
- 1/3 harta ==> untuk warisan anaknya
Ketika Nabi berhijrah ke Madinah, ia mengunjungi makam al-Barra, shalat, dan mendoakannya di sana. Kemudian Nabi mengembalikan harta wasiat kepada ahli warisnya dan berdoa, “Ya Allah, ampunilah ia, rahmatilah ia, dan masukkan ia ke dalam surga, dan sungguh Engkau telah melakukannya.”[1]
Adapun putranya, Bisyir bin al-Barra terbunuh setelah Pertempuran Khaibar karena memakan daging beracun dari wanita yahudi, Zainab binti al-Harits yang hendak diberikan kepada Nabi.[3]
Lihat Juga
Referensi
- ^ a b c d Muhammad Raji Hassan, Kinas (2012). Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi. Jakarta: Penerbit Zaman. ISBN 978-979-024-295-1
- ^ [1]"بشر بن البراء بن معرور الانصاري الخزرجي"
- ^ a b Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1
- ^ [2]"Sahabat yang Pertama Kali Mewasiatkan Sepertiga Hartanya pada Rasulullah"
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



