W. J. Ratulangi
W. J. Ratulangi | |
|---|---|
Rapat massa di Manado, 22 Februari 1946. Ratulangi berada dalam foto ini. | |
| Menteri Penerangan Negara Indonesia Timur ke-6 | |
| Masa jabatan 13 Maret 1950 – 10 Mei 1950 (non-aktif sejak 3 Mei 1950) | |
| Presiden | Tjokorda Gde Raka Soekawati |
| Perdana Menteri | Patuan Doli Diapari |
| Residen Koordinator Daerah Sulawesi Utara | |
| Masa jabatan 21 Februari 1956 – 1958 | |
| Presiden | Sukarno |
| Gubernur | Lanto Daeng Pasewang Andi Pangerang Pettarani |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | Tidak diketahui Minahasa, Hindia Belanda |
| Meninggal | Tidak diketahui |
| Suami/istri | A. Kuyt |
| Profesi | Dokter hewan, politisi |
W. J. Ratulangi (atau Ratulangie) adalah seorang tokoh kebangsaan Indonesia dan pelopor kemerdekaan asal Minahasa. Ia dikenal karena pernah menjadi Menteri Penerangan pada Kabinet Negara Indonesia Timur dan sebagai tokoh pendidik dan pendiri Universitas Sam Ratulangi dan Universitas Negeri Gorontalo.
Kehidupan Awal
W. J. Ratulangi menempuh pendidikan kedokteran hewan dan mulai bekerja menjadi seorang dokter hewan pada tahun 1929. Dari tahun 1933 sampai tahun 1938, ia tercatat menjadi dokter hewan pemerintah yang berdinas di Kota Manado.
Pada tahun 1932, W. J. Ratulangi menikah dengan A. Kuyt di Semarang.
Karier Politik
Masa Pendudukan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang, W. J. Ratulangi sebagai seorang nasionalis Indonesia yang tinggal di Manado turut mempelopori gagasan kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 12 September 1944, pemerintah pendudukan Jepang di Manado mendirikan organisasi Komite Tenaga Rakyat (KTR) yang beranggotakan 12 orang, termasuk Ratulangi sendiri.[1] Organisasi KTR pada bulan April 1945 mengalami pergantian nama menjadi Badan Persiapan Pemerintahan Kemerdekaan Indonesia (BPPKI) untuk Wilayah Menado Syu dan pada bulan Agustus 1945 diganti lagi menjadi Panitia Kemerdekaan Indonesia (PPKI) Sulawesi Utara/Tengah. Ratulangi tetap menjadi anggota dalam kedua organisasi ini.[1]
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, W. J. Ratulangi bertugas untuk menerima berita proklamasi dari Jakarta.[2] Mengikuti proklamasi di Jakarta, pada tanggal 21 Agustus 1945 pasukan pendudukan Jepang di Manado menyerahkan kekuasaan pada PPKI Sulawesi Utara/Tengah.
Revolusi Kemerdekaan
Pada bulan September 1945, pasukan Sekutu mendarat di Manado dan diikuti oleh pasukan NICA, yang menyebabkan putusnya pemerintahan Indonesia yang merdeka di Manado. Namun demikian, tokoh-tokoh nasionalis Indonesia di Manado berniat untuk merebut kekuasaan dari tangan NICA. Pada tanggal 14 Februari 1946, rakyat Manado yang dipimpin oleh pasukan nasionalis menguasai Manado dalam Peristiwa Merah Putih. Setelah berhasil mengambil alih kekuasaan di Manado, W. J. Ratulangi dipercaya untuk menjadi staf pemerintahan bidang ekonomi pada tanggal 16 Februari 1946. Dalam jabatan ini, Ratulangi menghadiri Rapat Raksasa Kebulatan Tekad Rakyat di Lapangan Tikala Manado pada tanggal 22 Februari 1946. Namun demikian, keadaan ini tidak berlangsung lama karena pasukan Belanda kembali menguasai Manado.
Setelah Peristiwa Merah Putih, W. J. Ratulangi kembali bekerja sebagai seorang dokter hewan untuk pemerintah di Manado, namun tetap aktif dalam politik nasionalis Indonesia. Pada bulan November 1949, ia menjadi calon dalam pemilihan umum di Minahasa untuk menjadi anggota Parlemen Negara Indonesia Timur mewakili partai Gerakan Indonesia Merdeka. Ratulangi mendapat 6.000 suara dari total 48.000 pemilih di daerah tersebut, sehingga ia tidak terpilih.[3]
Pada tanggal 13 Maret 1950, Ratulangi diangkat menjadi Menteri Penerangan dalam Kabinet Negara Indonesia Timur pimpinan Patuan Doli Diapari. Sebelum ia sempat lama menjabat, Kapten KNIL Andi Azis menyatakan pemberontakan melawan Republik Indonesia Serikat untuk mempertahankan keberlangsungan Negara Indonesia Timur. Pada tanggal 6 April 1950, Ratulangi selaku Menteri Penerangan berangkat ke Jakarta bersama Kolonel Ahmad Yunus Mokoginta untuk berunding dengan pemerintah Republik Indonesia Serikat. Mereka kemudian kembali ke Makassar, sedangkan Kapten Andi Azis berangkat ke Jakarta dan kemudian ditahan oleh pemerintah pusat.[4] Setelah pemberontakan yang dipimpin Andi Azis di Makassar berhasil diredakan oleh TNI, Ratulangi bersama para menteri yang duduk dalam Kabinet Diapari ditahan oleh pemerintah Indonesia pada tanggal 3 Mei 1950, namun tidak lama kemudian Ratulangi dibebaskan. Ketika Martinus Putuhena menjadi Perdana Menteri Negara Indonesia Timur, jabatan Ratulangi sebagai Menteri Penerangan digantikan oleh Henk Rondonuwu, seorang rekan nasionalis Minahasa.
Gerakan Permesta
Pada tanggal 21 Februari 1956, Ratulangi diangkat oleh Kabinet Burhanuddin Harahap sebagai Residen Koordinator untuk daerah Sulawesi Utara. Dalam jabatannya sebagai Residen Koordinator, Ratulangi mendukung gerakan Permesta yang banyak melibatkan tokoh Minahasa. Ratulangi menyambut dan mendukung konferensi Permesta pada bulan Juni 1957 yang melantik Residen Koordinator Sulawesi Tengah H. D. Manoppo sebagai Gubernur Sulawesi Utara versi Permesta.[5] Ia juga mendampingi delegasi Sulawesi Utara ke Jakarta pada bulan September 1957 yang dipimpin oleh Daniel Julius Somba dan Ventje Sumual.
Meski Ratulangi tidak terlibat langsung dalam perang antara Permesta dengan pemerintah pusat dalam masa puncaknya (1958-1961), ia berperan penting dalam mendukung pembentukan Permesta dan persiapan dalam konflik melawan pemerintah pusat.
Karier Akademik
Pada tahun 1958, Ratulangi terlibat dalam pembentukan Perguruan Tinggi Manado (PTM) yang menjadi cikal-bakal Universitas Sam Ratulangi. Pada tahun 1961 sampai 1963, Ratulangi menjadi Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sulawesi Utara dan Tengah (sekarang Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi).[6] Setelah selesai menjabat pada tahun 1963, ia berperan penting dalam mendirikan 'Junior College' Universitas Sulawesi Utara dan Tengah di Gorontalo (sekarang Universitas Negeri Gorontalo). Ia tercatat menjadi salah seorang Pimpinan Umum 'Junior College' Universitas Sulawesi Utara dan Tengah di Gorontalo sekaligus Pembantu Rektor II dalam struktur universitas.
Referensi
- ^ a b Manus, Laurens Th. (1991). SEJARAH Revolusi Kemerdekaan (1945- 1949) Daerah Sulawesi Utara (PDF). Manado: DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN. hlm. 49. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Reading 9B. Pidató Pym Présidèn Pada Tanggal 17 Agustus 1945. Ithaca, NY: Cornell University Press. 2019-12-31. hlm. 131–134.
- ^ Blijf op de hoogte!; perscommentaren voor officieren KNIL & KL, jrg 4, 1949, no. 10 (1949-12-10). "Twapro-K.K.M.". Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ^ Harvey, Barbara (1974). TRADITION, ISLAM, AND REBELLION: SOUTH SULAWESI 1950-1965 (PDF). Ithaca: Cornell University. hlm. 210. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ bolmongnews, redaksi (2021-09-16). "Memoar H. D. Manoppo, Menjadi Gubernur dan Dilupakan". BolmongNews. Diakses tanggal 2025-12-16.
- ^ "Sejarah – Fakultas Pertanian Unsrat" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-16.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.






