Tragedi Jakarta 1998: Gerakan Mahasiswa di Indonesia
| Tragedi Jakarta 1998: Gerakan Mahasiswa di Indonesia | |
|---|---|
![]() | |
| Produser | Tino Saroengallo |
| Penata musik | Thoersi Argeswara |
| Penyunting | Sentot Sahid |
Perusahaan produksi | Jakarta Media Syndication |
Tanggal rilis |
|
| Durasi | 43 menit[1] |
| Negara | Indonesia |
| Bahasa | Indonesia Inggris |
Tragedi Jakarta 1998: Gerakan Mahasiswa di Indonesia (bahasa Inggris: The Army Forced Them to Be Violent: Student Movement in Indonesia) adalah film dokumenter tahun 2002 karya produser film Tino Saroengallo. Dokumenter tersebut menyoroti gerakan mahasiswa Indonesia yang menuntut penurunan Presiden Soeharto dan kemudian Presiden Habibie, serta peristiwa-peristiwa terkait seperti Tragedi Trisakti dan Tragedi Semanggi.
Latar belakang
Pada tahun 1998, Indonesia menjadi salah satu negara terdampak parah dalam krisis keuangan Asia tahun 1997. Akibat krisis tersebut, tingkat inflasi dan pengangguran meningkat tajam dan menciptakan ketidakpuasan terhadap pemerintah Indonesia, yang dinilai korup dan lambat di tengah krisis. Pada bulan April hingga Mei 1998, setelah terpilihnya kembali Presiden Soeharto dalam pemilihan umum legislatif Indonesia 1997, para mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai universitas di Indonesia melakukan demonstrasi, sembari menuntut pemilihan ulang dan tindakan-tindakan yang efektif untuk mengatasi krisis.
Sinopsis
Pada tanggal 12 Mei 1998, para mahasiswa dari Universitas Trisakti melakukan unjuk rasa yang berlangsung damai di daerah kampus. Tidak lama kemudian, aparat keamanan mulai hadir dan mengawasi para demonstran, yang menuntut aksi turun ke jalan hingga Gedung MPR/DPR untuk menyampaikan aspirasi secara penuh. Dalam peristiwa tersebut, aparat keamanan mulai menembaki para pengunjuk rasa yang berusaha untuk turun, menewaskan empat orang mahasiswa yaitu Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan dan Hendriawan Sie.
Selama dua hari berikutnya, kerusuhan Mei 1998 berada pada puncaknya. Sepekan kemudian pada tanggal 21 Mei 1998, terjadi demonstrasi besar-besaran dari mahasiswa-mahasiswi dari berbagai universitas, yang berhasil menerobos kompleks Gedung MPR/DPR tanpa perlawanan yang berarti, sembari menyerukan penurunan Soeharto. Setelah gagal menggalang dukungan berbagai tokoh, baik agama dan masyarakat, ditambah pengunduran diri menteri-menterinya, Soeharto menyatakan berhenti dari jabatan dan kemudian digantikan oleh Wakil Presiden Habibie.
Meski pada awalnya para mahasiswa meluapkan kebahagiaan mereka, akan tetapi pada bulan Oktober 1998, mahasiswa dan mahasiswi mulai kembali menyatakan ketidakpuasannya, oleh karena Habibie yang dianggap tidak berbeda dengan mantan presiden Soeharto, yang masih dikelilingi oleh tokoh-tokoh loyalis dan dilindungi oleh militer. Para mahasiswa juga memprotes kebijakan dwifungsi yang masih berlaku. Dengan jumlah unjuk rasa semakin bertambah setiap harinya, aparat keamanan mulai meningkatkan jumlah personelnya dan diperlengkapi dengan persenjataan.
Pada tanggal 10–13 November 1998, Sidang Istimewa MPR dilaksanakan untuk mempercepat pemilihan umum untuk diselenggarakan pada tahun 1999. Sidang tersebut ditolak oleh mahasiswa-mahasiswi, disebabkan oleh para pesertanya yang ditunjuk secara pribadi oleh Soeharto. Penjagaan militer, brimob, dan pengamanan lain diperketat untuk menghadapi demonstran yang dipandang semakin agresif. Pada malam sidang terakhir, penembakan terhadap mahasiswa-mahasiswi terjadi di Simpang Susun Semanggi. Dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Semanggi tersebut, 18 orang tewas.[a]
Para mahasiswa kembali berunjuk rasa beberapa hari setelah kejadian, sembari menyerukan untuk digelarnya "sidang rakyat". Protes-protes tersebut dilakukan oleh karena lambatnya langkah Presiden Habibie untuk melaksanakan penyelidikan terhadap harta kekayaan Soeharto dan para kroninya, serta untuk menuntut agar Soeharto diadili. Pada akhir bulan November 1998, marinir dan korps polisi perempuan mulai ikut dilibatkan dalam menghalau demonstran, yang mana korps polisi tersebut dilibatkan untuk menghadang para pengunjuk rasa perempuan.
Pada bulan Desember 1998, para mahasiswa kembali turun ke jalan untuk berkonfrontasi langsung dengan aparat, didasari oleh rasa balas dendam atas tindakan-tindakan kekerasan dari para aparat, yang dialami oleh kolega-kolega dan sesama mahasiswa. Di Taman Ria Senayan, para demonstran mampu memukul mundur barikade aparat, meski pimpinan-pimpinan mahasiswa telah memperingati mereka untuk menghindari jatuhnya korban.
Catatan
Referensi
- ^ Ratna, Lulu (27 Mei 2016). "Kota dan Sinema Dalam Film Pendek Indonesia". Cinemapoetica.com. Diakses tanggal 8 Desember 2025.
- ^ Saroengallo, Tino (2002). Tragedi Jakarta 1998: Gerakan Mahasiswa di Indonesia. Jakarta Media Syndication (Motion picture).
Pranala luar
- The Army Forced Them to Be Violent di IMDb (dalam bahasa Inggris)
- Tragedi Jakarta 1998: Gerakan Mahasiswa di Indonesia di Filmindonesia.or.id
- Tragedi Jakarta 1998: Gerakan Mahasiswa di Indonesia di Indonesian Film Center
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



