Templat:Penjelasan jhana

Dalam sutta-sutta, jhāna dimasuki ketika seseorang 'duduk bersila dan menegakkan perhatian penuh (sati)'. Menurut tradisi Buddhis, praktik ini dapat didukung oleh ānāpānasati, perhatian penuh pada pernapasan, sebuah praktik meditatif inti yang dapat ditemukan di hampir semua aliran agama Buddha. Kitab Suttapiṭaka dan Āgama mendeskripsikan empat tahap rūpa jhāna. Rūpa merujuk pada alam materi/jasmaniah, dalam pengertian netral, berbeda dengan alam kāma (nafsu, keinginan indrawi) dan alam arūpa (alam tanpa materi).[1] Meskipun ditafsirkan dalam tradisi Theravāda sebagai deskripsi mengenai konsentrasi dan keterpusatan pikiran yang semakin mendalam, pada asalnya jhāna tampaknya mendeskripsikan sebuah perkembangan mulai dari penyelidikan tubuh dan pikiran serta usaha meninggalkan kondisi-kondisi yang tidak bajik, menuju "keseimbangan batin dan perhatian-penuh yang murni,"[2] sebuah pemahaman yang juga dipertahankan dalam Zen dan Dzogchen.[3][2] Deskripsi standar dari jhāna, berikut interpretasi tradisional dan alternatifnya, adalah sebagai berikut:[2][note 1]

  1. Jhāna pertama:
    Terasing (vivicceva) dari keinginan terhadap kesenangan indrawi, terasing (vivicca) dari kondisi-kondisi yang tidak bajik [lainnya] (akusalehi dhammehi, dhamma yang tidak bajik[4]), seorang biku memasuki dan berdiam di dalam jhāna pertama, yang merupakan pīti ("kegiuran," "kegembiraan") [mental] dan sukha ("kebahagiaan"; juga: 'langgeng', berlawanan dengan 'sementara' (dukkha)) [jasmani] "yang lahir dari viveka" (secara tradisional diartikan "keterasingan"; secara alternatif, "pembedaan" (atas dhamma)[5][note 2]), disertai dengan vitakka-vicāra (secara tradisional, penempatan/penempelan awal dan sinambung/terus-menerus pikiran pada objek meditasi; secara alternatif, penyelidikan awal dan investigasi lanjutan[8][9][10] terhadap dhamma (kotoran batin[11] dan pikiran-pikiran yang bajik[12][note 3]); juga: "pemikiran diskursif"[note 4]).
  2. Jhāna kedua: 
    Sekali lagi, dengan meredanya vitakka-vicāra, seorang biku memasuki dan berdiam dalam jhāna kedua, yang merupakan pīti [mental] dan sukha [jasmani] "yang lahir dari samādhi" (samādhi-ja; tradisional: lahir dari "konsentrasi"; alternatif: "penyadaran [...] yang mengetahui namun tanpa penalaran konseptual,"[20] "membawa latensi atau saṅkhāra yang terpendam ke pandangan yang jelas"[21][note 5]), dan memiliki sampasādana ("keheningan,"[23] "ketenteraman batin"[18][note 6]) serta ekaggatā (penyatuan/kemanunggalan pikiran,[23] kesadaran) tanpa vitakka-vicāra
  3. Jhāna ketiga:
    Dengan memudarnya pīti, seorang biku berdiam dalam upekkhā (keseimbangan batin," "pelepasan afektif"[18][note 7]), sato (penuh-perhatian) dan [dengan] sampajañña ("memahami dengan jernih," mengetahui sepenuhnya,"[24] "penyadaran yang membedakan"[25]). [Masih] mengalami sukha pada jasmaninya, ia memasuki dan berdiam dalam jhāna ketiga, yang sehubungan dengan itu para mulia menyatakan, "berdiam dalam kebahagiaan [jasmani], seseorang bersikap seimbang dan penuh perhatian".
  4. Jhāna keempat:
    Dengan ditinggalkannya [keinginan akan] sukha ("kebahagiaan") dan [penolakan terhadap] dukkha ("rasa sakit"[26][25]) serta dengan lenyapnya [pergerakan batin antara] somanassa ("sukacita batiniah,"[27]) dan domanassa ("dukacita batiniah"[27]) sebelumnya, seorang biku memasuki dan berdiam dalam jhāna keempat, yang bersifat adukkhaṃ asukhaṃ ("tidak menyakitkan juga tidak menyenangkan,"[26] "kebebasan dari rasa bahagia dan rasa sakit"[28]) dan memiliki upekkhā-sati-pārisuddhi (kemurnian sempurna dari keseimbangan-batin dan perhatian-penuh).[note 8]

Catatan

  1. ^ Keren Arbel merujuk pada Majjhimanikāya 26, Ariyapariyesana Sutta, The Noble Search
    Lihat pula:
    * Majjhima Nikaya 111, Anupada Sutta
    * AN 05.028, Samādhaṅga Sutta: The Factors of Concentration.
    Lihat Johansson (1981), Pali Buddhist texts Explained to Beginners untuk terjemahan kata per kata.
  2. ^ Arbel menjelaskan bahwa "viveka" biasanya diterjemahkan sebagai "pelepasan," "pemisahan," atau "keterasingan," tetapi makna utamanya adalah "pembedaan" (diskriminasi). Menurut Arbel, penggunaan vivicca/vivicceva dan viveka dalam deskripsi jhāna pertama "memainkan kedua makna kata kerja tersebut; yaitu, maknanya sebagai pembedaan (kearifan) dan konsekuensinya berupa 'keterasingan' serta pelepasan," sejalan dengan "pembedaan atas sifat pengalaman" yang dikembangkan oleh empat satipaṭṭhāna.[5] Bandingkan dengan Dōgen: "Terpisah dari segala gangguan dan berdiam sendirian di tempat yang tenang disebut "menikmati ketenteraman dan ketenangan.""[6]
    Arbel berpendapat lebih lanjut bahwa viveka menyerupai dhamma vicaya, yang disebutkan di dalam bojjhaṅga, suatu deskripsi alternatif mengenai jhāna, tetapi merupakan satu-satunya istilah bojjhaṅga yang tidak disebutkan dalam deskripsi standar jhāna.[7] Bandingkan dengan Suttanipāta 5.14 Udayamāṇavapucchā (Pertanyaan Udaya): "Kemurnian keseimbangan batin dan perhatian penuh, yang didahului oleh penyelidikan prinsip-prinsip—ini, Aku nyatakan, adalah pembebasan oleh pencerahan, penghancuran kebodohan batin.” (Terjemahan: Sujato)
  3. ^ Suttanipāta 5.13 Pertanyaan Udaya (terj. Thanissaro): "Dengan kesenangan dunia terbelenggu. Dengan awal pikiran hal itu diperiksa."
    Chen 2017: "Samādhi dengan pemeriksaan umum dan penyelidikan mendalam secara spesifik berarti menyingkirkan dhamma yang tidak bajik, seperti nafsu serakah dan kebencian, untuk menetap dalam sukacita dan kebahagiaan yang disebabkan oleh ketiadaan pemunculan, dan untuk memasuki meditasi pertama dan sepenuhnya berdiam di dalamnya."
    Arbel 2016, hlm. 73: "Oleh karena itu, saran saya adalah bahwa kita harus menafsirkan eksistensi vitakka dan vicāra di dalam jhāna pertama sebagai 'residu' yang bajik dari perkembangan pikiran bajik sebelumnya. Mereka menandakan 'gema' dari pikiran-pikiran bajik tersebut, yang bergema pada seseorang yang memasuki jhāna pertama sebagai sikap-sikap bajik terhadap apa yang sedang dialaminya."
  4. ^ Dalam Tripitaka Pali, Vitakka-vicāra membentuk satu ungkapan, yang merujuk pada pengarahan pikiran atau perhatian seseorang pada suatu objek (vitakka) dan penyelidikannya (vicāra).[10][13][14][15][16] Menurut Dan Lusthaus, vitakka-vicāra adalah penelitian analitis, sebuah bentuk paññā. Ia "melibatkan pemfokusan pada [sesuatu] dan kemudian memecahnya menjadi komponen-komponen fungsionalnya" untuk memahaminya, "membedakan sejumlah faktor pengkondisi yang terlibat dalam suatu peristiwa fenomenal."[17] Tradisi komentar Theravāda, sebagaimana diwakili oleh Visuddhimagga karya Buddhaghosa, menafsirkan vitakka dan vicāra sebagai penerapan perhatian awal dan kelangsungannya pada suatu objek meditasi, yang berpuncak pada penenteraman pikiran ketika beralih ke jhāna kedua.[18][19] Menurut Martin Stuart-Fox dan Rod Bucknell, hal ini mungkin juga merujuk pada "proses normal pemikiran diskursif," yang didiamkan melalui penyerapan di dalam jhāna kedua.[19][18]
  5. ^ Terjemahan standar untuk samādhi adalah "konsentrasi"; tetapi, terjemahan/penafsiran ini didasarkan pada penafsiran komentar, sebagaimana dijelaskan oleh sejumlah penulis kontemporer.[2] Tilmann Vetter mencatat bahwa samādhi memiliki cakupan makna yang luas, dan "konsentrasi" hanyalah salah satunya. Vetter berpendapat bahwa jhāna kedua, ketiga, dan keempat adalah sammā-samādhi, "samādhi benar," yang dibangun di atas "penyadaran spontan" (sati) dan keseimbangan batin yang disempurnakan di dalam jhāna keempat.[22]
  6. ^ Terjemahan umum, yang didasarkan pada penafsiran komentar atas jhāna sebagai kondisi penyerapan yang meluas, menerjemahkan sampasādana sebagai "keyakinan internal." Namun, seperti yang dijelaskan Bucknell, kata tersebut juga berarti "menenteramkan," yang lebih tepat dalam konteks ini.[18] Lihat juga Passaddhi (ketenteraman).
  7. ^ Upekkhā adalah salah satu dari Brahmavihara.
  8. ^ Bersama dengan jhāna keempat datanglah pencapaian pengetahuan yang lebih tinggi (abhiññā), yaitu pemadaman baik semua kekotoran mental (āsava) maupun kekuatan batin.[29] Sebagai contoh dalam AN 5.28, Sang Buddha menyatakan (Thanissaro, 1997.):
    "Ketika seorang biku telah mengembangkan dan mempraktikkan konsentrasi benar yang mulia dengan lima faktor dengan cara ini, maka pada salah satu dari enam pengetahuan yang lebih tinggi mana pun ia mengarahkan pikirannya untuk diketahui dan direalisasikan, ia dapat menyaksikannya sendiri kapan pun ada celah...."
    "Jika ia menginginkannya, ia menggunakan berbagai kekuatan supranormal (iddhi). Setelah menjadi satu ia menjadi banyak; setelah menjadi banyak ia menjadi satu. Ia muncul. Ia lenyap. Ia pergi tanpa halangan menembus dinding, benteng, dan gunung seolah-olah menembus ruang angkasa. Ia menyelam ke dalam dan keluar dari bumi seolah-olah itu adalah air. Ia berjalan di atas air tanpa tenggelam seolah-olah di atas tanah kering. Duduk bersila ia terbang di udara seperti burung bersayap. Dengan tangannya ia menyentuh dan membelai bahkan matahari dan bulan, yang begitu perkasa dan kuat. Ia menggunakan pengaruh dengan tubuhnya bahkan sampai ke alam Brahma. Ia dapat menyaksikannya sendiri kapan pun ada celah ..."

Referensi

  1. ^ Fuller-Sasaki (2008).
  2. ^ a b c d Arbel 2016.
  3. ^ Polak 2011.
  4. ^ Johansson 1981, hlm. 83.
  5. ^ a b Arbel 2016, hlm. 50-51.
  6. ^ Maezumi & Cook (2007), hlm. 63.
  7. ^ Arbel 2016, hlm. 106.
  8. ^ Wayman 1997, hlm. 48.
  9. ^ Sangpo & Dhammajoti 2012, hlm. 2413.
  10. ^ a b Lusthaus 2002, hlm. 89.
  11. ^ Chen 2017, hlm. "samadhi: A calm, stable and concentrative state of mind".
  12. ^ Arbel 2016, hlm. 73.
  13. ^ Rhys-Davids & Stede 1921–25.
  14. ^ Guenther & Kawamura 1975, hlm. Kindle Locations 1030-1033.
  15. ^ Kunsang 2004, hlm. 30.
  16. ^ Berzin 2006.
  17. ^ Lusthaus 2002, hlm. 116.
  18. ^ a b c d e Bucknell 1993, hlm. 375-376.
  19. ^ a b Stuart-Fox 1989, hlm. 82.
  20. ^ Arbel 2016, hlm. 94.
  21. ^ Lusthaus 2002, hlm. 113.
  22. ^ Vetter 1988, hlm. XXVI, note 9.
  23. ^ a b Arbel 2016, hlm. 86.
  24. ^ Arbel 2016, hlm. 115.
  25. ^ a b Lusthaus 2002, hlm. 90.
  26. ^ a b Arbel 2016, hlm. 124.
  27. ^ a b Arbel 2016, hlm. 125.
  28. ^ Johansson 1981, hlm. 98.
  29. ^ Sarbacker 2021, hlm. entry: "abhijñā".

Sumber bacaan

  • Arbel, Keren (2016), Early Buddhist Meditation. The Four Jhanas as the Actualization of Insight, Routledge
  • Berzin, Alexander (2006), Primary Minds and the 51 Mental Factors
  • Bucknell, Robert S. (1993), "Reinterpreting the Jhanas", Journal of the International Association of Buddhist Studies, 16 (2)
  • Chen, Naichen (13 March 2017). The Great Prajna Paramita Sutra, Volume 1 (dalam bahasa Inggris). Wheatmark, Inc. ISBN 978-1-62787-457-1.
  • Fox, Martin Stuart (1989 ), "Jhana and Buddhist Scholasticism", Journal of the International Association of Buddhist Studies, 12 (2) ; Pemeliharaan CS1: Tahun (link)
  • Fuller-Sasaki, Ruth (2008), The Record of Lin-Ji, University of Hawaii Press
  • Guenther, Herbert V.; Kawamura, Leslie S. (1975), Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding" (Edisi Kindle), Dharma Publishing
  • Johansson, Rune Edvin Anders (1981), Pali Buddhist Texts: Explained to the Beginner, Psychology Press
  • Kunsang, Erik Pema (2004), Gateway to Knowledge, Vol. 1, North Atlantic Books
  • Lusthaus, Dan (2002), Buddhist Phenomenology: A Philosophical Investigation of Yogacara Buddhism and the Ch'eng Wei-shih Lun, Routledge
  • Maezumi, Taizan; Cook, Francis Dojun (2007), "The Eight Awarenesses of the Enlightened Person": Dogen Zenji's Hachidainingaku", dalam Maezumi, Taizan; Glassman, Bernie (ed.), The Hazy Moon of Enlightenment, Wisdom Publications
  • Polak, Grzegorz (2011), Reexamining Jhana: Towards a Critical Reconstruction of Early Buddhist Soteriology, UMCS
  • Rhys-Davids, T.W.; Stede, William, ed. (1921–25), The Pali Text Society's Pali–English dictionary, Pali Text Society)
  • Sangpo, Gelong Lodro; Dhammajoti, Bhikkhu K.L. (2012), Abhidharmakosa-Bhasya of Vasubandhu: Volume 3, Motilal Banarsidass
  • Sarbacker, Stuart Ray (2021), Tracing the Path of Yoga: The History and Philosophy of Indian Mind-Body Discipline, State University of New York Press
  • Vetter, Tilmann (1988), The Ideas and Meditative Practices of Early Buddhism, BRILL
  • Wayman, Alex (1997), "Introduction", Calming the Mind and Discerning the Real: Buddhist Meditation and the Middle View, from the Lam Rim Chen Mo Tson-kha-pa, Motilal Banarsidass Publishers

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement