Tari Orek-Orek
Tari Orek-Orek adalah kesenian tari tradisional yang berkembang di masyarakat Ngawi. Tarian ini termasuk dalam kelompok tari pergaulan yang memadukan antara gerak tari dan nyanyian[1] dengan iringan tetabuhan yang cara memukulnya salah satunya dengan dikorek.
Tarian ini tercipta pada tahun 1980 dari kesenian orek-orek yang tidak lagi ditampilkan. Tokoh yang terlibat adalah seniman pemimpin Sanggar Sri Budaya di Ngawi bernama Sri Widajati. Tarian ini dipentaskan dalam berbagai kegiatan daerah, seperti perlombaan, hari jadi kabupaten, bersih desa, acara hajatan, festival budaya, dan pasar Djadoel yang digelar setiap Ahad Legi. Berdasarkan Surat Keputusan No. 6614/R/MURI/8/2014, tari Orek-orek tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai tari massal dengan jumlah peserta terbanyak.[1][2]
Bentuk permainan
Mengikuti pola/ bentuk teater/ tontonan yang diselingi gerak, tari, nyanyi dan kemudian pesan dapat disampaikan melalui tembang.
Komponen tari
Pemain
Dalam pementasan kesenian ini, jumlah pemain umumnya antara tujuh sampai delapan orang. Mereka tidak hanya berperan sebagai pemeran, tetapi juga sebagai penabuh gamelan. Sebagai contoh, ketika tiga atau empat orang tampil di panggung, sementara yang lain memainkan gamelan.[3] Penari Orek-Orek selalu berjumlah genap karena tarian ini disajikan secara berkelompok antara pihak lelaki dan perempuan.[1][2]
Pengiring
Pertunjukan tari orek-orek disertai dengan permainan seperangkat gamelan yang terdiri dari bonang barung, bonang penerus, demung, slenthem, saron barung, peking atau saron penerus, gender barung, gambang, kenong, siter, kendang, gong, dan kempul. Umumnya, tari Orek-orek diiringi gamelan dengan laras slendro maupun pelog, tanpa mengubah bentuk penyajian.[3] Gendhing yang digunakan pada pertunjukan seni orek-orek berbentuk srepegan, di mana setiap gatra terdiri atas empat pukulan kempul dan dua pukulan kenong, serta setiap dua gatra diakhiri dengan satu pukulan gong. Vokal gendhing dibawakan dalam bentuk sindhenan tunggal, baik berupa wangsalan maupun koor dengan syair yang telah tersedia. Di antara sindhen dan penggerong terdapat senggakan yang saling melengkapi.[3]
Kostum
Pada pertunjukan tari Orek-Orek, penari perempuan mengenakan busana berupa kebaya tanpa kutubaru yang dipadankan dengan sehelai kain panjang yang disebut bathik atau cinde. Penari juga menggunakan sampur serta sabuk putri atau slepe.[3]
Sementara itu, penari pria tampil dengan pakaian atasan berupa rompi dan baju berlengan panjang. Pakaian bawahan penari pria berupa celana panji. Penampilan penari pria ini juga disertai dengan penggunaan kain panjang dan iket kepala berwarna hitam.[3]
Aksesori
Penampilan penari wanita Orek-Orek turut dilengkapi dengan penggunaan perhiasan seperti gelang, kalung, antin-anting, cundhuk jungkat, cundhuk manthul, serta sanggul tekuk. Sementara itu, penari pria membawa perlengkapan tambahan berupa keris.[3]
Tata rias
Wajah penari wanita Orek-Orek diberi riasan untuk menggambarkan karakter putri lanyap yang berani, lincah, dan ceria. Penari mengenakan perona mata berwarna kuning, merah, dan hitam, pensil alis, celak hitam, shading cokelat tua untuk menegaskan hidung, perona pipi berwarna merah, dan lipstik merah untuk membentuk bibir yang proporsional. Riasan ini ditandai dengan alis hitam yang mengikuti garis atas alis dan melengkung ke bawah, celak hitam dengan ujung tajam yang sedikit terangkat, serta mata yang tampak tajam.[2]
Kegunaan
Semua pementasan dilakukan pada acara-acara resmi, sedekah laut, sedekah desa dll. Di mana merupakan ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberhasilan dalam bertani/bercocok tanam, mencari ikan dll. Kemudian berkembang dipentaskan pada acara-acara orang punya kerja, hiburan pada acara-acara resmi Pemerintah Daerah juga dalam penyambutan tamu-tamu Negara yang datang ke Rembang.
Referensi
- ^ a b c Mahardika, Ardian Agus (2015). "Tari Orek-Orek Di Kabupaten Ngawi Tahun 1981-2014". Avatara: Jurnal Pendidikan Sejarah. 3 (3): 534–545.
- ^ a b c Sari, Putri Anggita; Dewi, Lutfiati (2020). "Kajian Bentuk Dan Makna Tata Rias, Busana Dan Aksesoris Tari Orek-Orek Khas Ngawi". Jurnal Tata Rias. 9 (2).
- ^ a b c d e f Tari orek-orek Ngawi (PDF). Surabaya: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1993. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


