Sutan Martua Raja
Sutan Martua Raja | |
|---|---|
Sutan Martua Raja beserta putranya, Mangaraja Onggang Parlindungan (1924). | |
| Anggota Chuo Sangi-In | |
| Daerah pemilihan | Sumatera Timur |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 19 Desember 1873 Onderafdeeling Sipirok, Keresidenan Tapanuli, Hindia Belanda |
| Meninggal | 1951 Pematangsiantar |
| Kebangsaan | Indonesia |
| Pendidikan | Kweekschool Padangsidempuan (1889-1893) |
| Pekerjaan | Guru, Peneliti Sejarah |
| Dikenal karena |
|
Sutan Martua Raja Siregar (disingkat SMR; 19 Desember 1873 – 1951) adalah seorang tokoh pendidikan, guru, dan peneliti sejarah Batak. Ia dikenal sebagai narasumber utama dalam penyusunan buku kontroversial Tuanku Rao yang ditulis oleh putranya, Mangaraja Onggang Parlindungan. SMR juga pernah menjabat sebagai anggota Chuo Sangi-In (Dewan Pertimbangan Pusat) mewakili Sumatera Timur pada masa pendudukan Jepang.
Silsilah
Berikut adalah silsilah dari Sutan Martua Raja:[1]
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Pendidikan dan Karier
SMR masuk Sekolah Rakyat di Sipirok pada tahun 1884 hingga 1889. Saat duduk di bangku Sekolah Rakyat, SMR sudah mulai menuliskan fakta-fakta Sejarah Batak, terutama perihal para leluhurnya, Tuanku Lelo dan Tuanku Ali Sakti. SMR bekerja sama dengan pamannya, Tanduk Nasution, yang pada tahun 1914 - 1928 menjadi Demang Toba yang berkedudukan di Balige. Lalu pada tahun 1889, SMR melanjutkan pendidikannya di Kweekschool Padang Sidempuan.[2] Semasa duduk di bangku sekolah Kweekschool itulah, SMR mempelajari lebih mendalam mengenai Sejarah Batak dari gurunya, Guru Batak, yang merupakan mantan murid dari Willem Iskandar.
Pada tahun 1891, SMR dihadiahi oleh Guru Batak, salinan dari naskah buku "De Komst Van De Islam In Mandailing" karangan Willem Iskandar. Saat itulah SMR pertama kali mendapatkan fakta-fakta Sejarah Batak pada waktu "Zaman Bondjol", yang exact berikut angka-angka tahunnya. Dalam kurun waktu antara tahun 1893 - 1899, SMR menjadi Guru Bantu di Sekolah Rakyat di Pargarutan, Sipirok. Dengan menggunakan fakta-fakta Sejarah Batak peninggalan Willem Iskandar, SMR berhasil merekonstruksi Pertempuran Pargarutan tahun 1816, dimana Torkis Harahap dikalahkan oleh Tentara Padri, Pertempuran Pasirampulu tahun 1833 dimana Jatenggar Siregar menang, dan Pertempuran Batunadua tahun 1833 dimana Tuanku Lelo tewas. Di Pargarutan, dalam hal fact finding fakta-fakta Sejarah Batak, SMR sangat banyak dibantu oleh muridnya, Parada Harahap, yang kelak menjadi seorang wartawan terkemuka.[1]
Pada tahun 1899 - 1914, SMR menjadi Guru Kepala Sekolah Rakyat di Sipirok. Pada masa itu, SMR menyelidiki perihal figur bernama Pongkinaingolngolan Sinambela (yang pada tahun 1798 - 1804 menjadi Stable Boy pada Raja Baun Siregar serta pada Jamangarait Nasution), dan juga menyelidiki perihal Tuanku Rao (yang pada tahun 1816 - 1818 menjadi Panglima Tentara Padri yang bermarkas di bukit Dolok Pamelean, Sipirok). SMR memperoleh fakta bahwa sosok Pongkinaingolngolan Sinambela adalah identik dengan sosok Tuanku Rao, sebuah fakta yang tidak diketahui oleh Willem Iskandar. Dalam mempelajari Sejarah Batak di Sipirok, SMR sangat banyak dibantu oleh sepupu sekaligus muridnya, Jansen Nasution, yang adalah putra dari Pendeta Petrus Nasution. SMR dan Jansen Nasution adalah sama-sama cucu dari Hussni Bin Idris alias Jarumahot Nasution di Parausorat, Sipirok.
Semasa menjadi Guru Kepala Sekolah Rakyat di Sipirok, SMR bekerja sama dengan Kontrolir BB di Sipirok, Cornelis Poortman dalam menyelidiki Sejarah Batak, sebuah kerjasama yang berlangsung selama hampir 40 tahun. Pada tahun 1914 - 1918, SMR menjadi Guru Kepala Sekolah Rakyat di Tarutung. Selepas itu, SMR menjadi Guru Sejarah di Normaalschool, Pematangsiantar (tahun 1918 - 1939). Untuk mata pelajaran sejarah di Normaalschool Pematangsiantar, SMR membuat Outline perihal "Zaman Bondjol di Tanah Batak (1816 - 1833)". Meskipun Outline pelajaran sejarah dimaksud dicabut dari kurikulum Normaalschool Pematangsiantar pada tahun 1921 oleh Inspecteur Van Inlandsch Onderwijs, dengan alasan isinya terlalu jauh dari ajaran sejarah sistem kolonial Belanda, tetapi salinannya masih tersimpan berkat Paulus Pangulu Hutagalung, seorang murid dari SMR. Selama menjadi Guru Sejarah di Normaalschool Pematangsiantar, SMR juga menyelidiki perihal "Sejarah suku Simalungun", "Sejarah suku Karo", "Sejarah Kerajaan Aru/Sipamutung" (yang meninggalkan Candi Sipamutung), serta perihal Kesultanan Aru/Barumun yang beragama Islam mazhab Syiah. Pada tahun 1930 - 1932, SMR, dalam usia hampir 60 tahun, aktif melakukan penelitian sejarah di Tanah Karo.
Pada tahun 1951, Sutan Martua Raja wafat di Pematangsiantar, dalam usia 74 tahun.[1]
Capita Selecta Sutan Martua Raja
Capita Selecta Sutan Martua Raja, merupakan kumpulan hasil penyelidikan sejarah yang dilakukan selama kurang lebih 90 tahun (1851-1941), dalam bentuk kertas-kertas tua yang berisi catatan/tulisan tangan, yang dikumpulkan oleh SMR. Penyelidikan sejarah dimaksud, yaitu mengenai:
- Fakta-fakta Sejarah Batak
- Fakta-fakta Sejarah Minangkabau
- Fakta-fakta Sejarah Islam di Indonesia.[1]
Penyelidikan sejarah dimaksud, berturut-turut dilakukan oleh empat orang, yaitu:
- Willem Iskandar, merupakan Guru Kweekschool Tanobato/Mandailing,
- Guru Batak, Guru Kweekschool Padangsidempuan, merupakan mantan murid dari Willem Iskandar,
- Sutan Martua Raja, Guru Sejarah di Normaalschool Pematangsiantar, mantan murid dari Guru Batak,
- Resident Poortman, Kontrolir Belanda yang terakhir ada di Sipirok (1905).[1]
Kumpulan hasil penyelidikan sejarah tersebut, diberikan oleh SMR kepada putranya, Mangaradja Onggang Parlindungan, pada tahun 1941. Di kemudian hari, 10 persen dari catatan-catatan koleksi SMR tersebut ditulis ulang oleh putranya sejak tahun 1960, untuk kemudian dipatenkan melalui notaris.[1]
Dalam pengantar Buku "Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao, terror agama Islam mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833", Ir. Mangaradja Onggang Parlindungan, sebagai penulis dari buku tersebut, mengatakan bahwa buku tersebut merupakan "Capita Selecta" dari koleksi SMR.[1]
Daftar Angka-angka Tahunan Sejarah Batak
Sutan Martua Raja menyusun ringkasan kronologi sejarah Batak yang kemudian menjadi dasar penulisan buku Tuanku Rao. Berikut adalah ringkasan kronologi menurut versi SMR:
± 3000-1000 tahun sebelum masehi
Suku Batak, sebagai bagian dari Proto Malayan Tribes (kelompok etnis Proto Melayu), saat itu masih bertempat tinggal di pegunungan perbatasan Myanmar dan Thailand. Bersama-sama dengan Proto Malayan Tribes lainnya, yaitu: Suku Karen, Toraja, Tayal, Ranau, Bontoc, Meo, dan lain-lain. Sifat karakteristik dari semua Proto Malayan Tribes, adalah: cenderung untuk in splendid isolation di lembah-lembah sungai serta di plateau di pegunungan. Cenderung tidak menyukai berhubungan dengan orang-orang yang datang dari tepi pantai laut, orang-orang yang biasanya membawa ajaran agama, seperti misalnya agama Hindu, Buddha, Islam, dan Kristen.
Sifat tersebut, sangat kuat dipertahankan oleh orang-orang Batak dan orang-orang Toraja hingga Abad ke-19. Hingga kini juga masih kuat dipertahankan oleh orang-orang Tayal di Taiwan, orang-orang Bontoc di Fiipina, serta oleh orang-orang Meo di Thailand.
± 1000 tahun sebelum masehi.
Oleh suku-suku Mongol yang menjelajah ke arah selatan, terdesaklah suku-suku Syan (orang-orang Myanmar, Thailand dan Kamboja) ke arah selatan. Suku-suku Syan tersebut, di sepanjang sungai-sungai Salween dan Irawadi, mendesak pula suku-suku Proto Melayu ke arah selatan, yang terpaksa meninggalkan splendid isolation di pegunungan, dan malah sampai ke tepi laut di Teluk Martaban. Suku-suku Proto Melayu tersebut pergi ke seberang lautan, mencari tempat-tempat tinggal yang baru, yang lebih menjamin splendid isolation di daerah pegunungan.
Suku Bontoc mendarat di Filipina, Suku Toraja di Sulawesi Selatan, Suku Tayal di Taiwan, dan Suku Ranau di Lampung. Suku Karen tetap berada di Myanmar, serta Suku Meo tetap berada di Thailand.
Suku Batak berlabuh di sebelah Barat Pulau Sumatera, didalam tiga gelombang:
- Gelombang pertama Suku Batak mendarat di Nias, Mentawai, Siberut, dan pulai-pulau lain hingga ke Enggano.
- Gelombang kedua Suku Batak mendarat di muara Sungai Simpangkanan. Memasuki pedalaman menjelajah sepanjang Sungai Simpang Kiri, dan menetap di Kutacane. Berkembang dari Kutacane mendjadi orang-orang Suku Gayo serta orang-orang Suku Alas. Yang tinggal menetap di sekitar Sungai Simpangkanan, menjadi orang-orang Suku Pakpak.
- Gelombang ketiga, Mainstream dari Suku Batak mendarat di muara Sungai Sorkam, Tapanuli Tengah. Memasuki pedalaman sepanjang Sungai Sorkam up country, dan melewati Tele mencapai pantai Barat Danau Toba, menetap di kaki Gunung Pusuk Buhit di Sianjur Sagala Limbong Mulana, di seberang kota Pangururan yang sekarang.
Suku Batak berangsur-angsur berkembang in splendid isolation di Sianjur Sagala Limbong Mulana, Di situ terjadi dua branches (cabang) dari Suku Batak, yaitu:
A. Tatea Bulan, yang di dalam adat dianggap yang tertua.
B. Isumbaon, yang di dalam adat dianggap yang bungsu.
± 1000 tahun sebelum masehi - tahun 1510 Masehi.
Di Sianjur Sagala Limbong Mulana, Dinasti Sori Mangaraja memerintah selama 90 generasi. Selaku Pagan Priest Kings serta selaku Chief Witch Doctors memerintah Suku Bangsa Batak, di dalam pemerintahan theocracy.
Dinasti Sori Mangaraja terdiri atas orang-orang Marga Sagala dari Tatea Bulan. Dinasti Sori Mangaraja sangat disegani di Tanah Batak Selatan, yang sebagian besar penduduknya berasal dari Tatea Bulan Branch.
Karena keterbatasan lahan pertanian, maka, Suku Batak dari Sianjur Sagala Limbong Mulana serta dari sekitar Danau Toba, berkembang secara sentripetal. Pecahnya epidemi di suatu tempat, menyebabkan juga perpindahan penduduk orang-orang Suku Batak. Perpindahan-perpindahan penduduk tersebut masih berlangsung hingga kini ke daerah-daerah lain.. Dalam abad ke-19, sangat banyak perpindahan orang-orang Batak dari Tanah Batak Selatan ke Selangor/Malaya.
± Tahun 450 Masehi
Daerah Toba telah dihuni dan diusahakan oleh bagian-bagian dari suku Batak yang berasal dari Sianjur Sagala Limbong Mulana, terutama dari Isumbaon branch/klan Sibagot Ni Pohan. Sedangkan pada saat yang bersaman, di Toba juga bermukim sekelompok minoritas yang berasal dari kelompok (branch) Tatea Bulan, di antaranya yaitu orang-orang marga Lubis.
Sebagian dari orang-orang marga Lubis terdesak keluar dari Toba, dan pergi merantau ke arah selatan. Sedangkan sebagian dari mereka tetap berada di daerah Toba dan Uluan, sampai sekarang.
Orang-orang marga Lubis yang pergi merantau ke selatan tersebut, pada sekitar tahun 900 masehi terpaksa hanya sampai di Mandailing Selatan, karena harus berhadapan dengan orang-orang suku Minangkabau yang berasal dari sekitar Danau Singkarak, yang pergi merantau ke arah utara. Adapun benteng dari klan marga Lubis terletak di Pakantan Dolok.
Pada masa itu, klan marga Lubis mengalahkan suku Lubu, yang merupakan suatu kelompok etnis Negroid Dravidik yang berasal dari India, yang melalui Kepulauan Andaman serta Nikobar, berlabuh di muara Sungai Batang Toru. Suku Lubu bertahan di hutan-hutan sekitar Muara Sipongi.
Tahun 600-1200 Masehi
Kerajaan Nagur di Simalungun.
Kerajaan Nagur merupakan suatu kerajaan pagan yang berdiri sendiri, lepas dari Dinasti Sori Mangaraja di Sianjur Sagala Limbong Mulana. Kerajaan Nagur didirikan oleh orang-orang suku Simalungun, yang berasal dari Tomok, Ambarita dan Simanindo, di Pulau Samosir, bukan dari Toba, seperti halnya orang-orang marga Lubis di Mandailing.
Kerajaan Nagur di Simalungun kerap dikunjungi oleh kapal-kapal dagang dari Tiongkok, pada zaman DInasti Sui (Tahun 570-620 Masehi). Pada saat itu para pedagang Tiongkok mendirikan kota-pelabuhan Sang Pang To, di tepi Sungai Bah Bolon, kurang lebih tiga kilometer dari kota Perdagangan yang sekarang.
± Tahun 850 Masehi
Kelompok marga Harahap dari Tatea Bulan branch, yang berasal dari Habinsaran, seluruhnya pergi merantau ke arah timur, menduduki daerah aliran Sungai Kualu dan Sungai Barumun di Padanglawas. Di sana mereka bermata pencaharian sebagai peternak sapi. Dalam waktu dua generasi saja, orang-orang marga Harahap sudah menduduki seluruh daerah Padanglawas, antara Sungai Asahan dan Sungai Rokan. Sebagian dari mereka, melalui daerah Sipirok, memasuki dan menduduki daerah Angkola, dan di sana bemata pencaharian sebagai petani.
± Tahun 900 Masehi
Marga Nasution terbentuk di Mandailing. Sejak zaman Raja Salomo, sudah ada komunitas pelaut keturunan multi-etnis, terutama dari Bugis, yang menetap di sekitar pelabuhan Natal dan Muaralabuh (Singkuang). Mereka secara sukarela masuk dalam sistem adat Batak Dalihan Na Tolu, dengan Datu Nasangti Sibagot Ni Pohan, sebagai pemimpin, yang membentuk suatu marga, yaitu Nasution.
Pada masa itu juga, Martua Raja Doli, dari Sianjur Sagala Limbong Mulana, dengan para pengikutnya, merebut dan menduduki kampung Lottung di Samosir Timur. Di situ terbentuklah klan (kelompok marga) Lottung Si Sia Marina, yang terdiri atas tujuh marga yang dianggap bersaudara di dalam adat patriarki, yaitu marga-marga: Situmorang, Sinaga, Nainggolan, Pandiangan, Simatupang, Aritonang dan Siregar.
± Tahun 1050 Masehi
Terjadi Plague epidemics (wabah penyakit) di kawasan Lottung, yang menyebabkan klan Lottung Si Sia Marina tersebar ke berbagai wilayah. Klan marga Siregar terbagi dua menjadi Siregar Sigumpar dan Siregar Muara, keduanya bermukim di Toba.
±Tahun 1100 - 1250
Berdirinya Kerajaan Aru (Sipamutung), sebuah kerajaan vassal (boneka) dari Kerajaan Cola pimpinan Rajendra Cola, seorang raja penganut Hindu-Siwa dari India Selatan yang merebut Sri Langka yang Buddhist. Kerajaan Aru Sipamutung sangat banyak menghasilkan emas. Terutama di daerah aliran sungai Barumun, Batang Angkola, dan Batang Gadis. Namun, setelah cadangan emas di situ habis, maka para penambang emas yang beragama Hindu Siwa itu pun kembali ke Sri Lanka. Peninggalannya adalah Candi SIpamutung, sebuah kompleks candi yang lebih luas daripada kompleks Candi Prambanan atau Penataran di Pulau Jawa.
Tahun 1200 Masehi
Kerajaan Nagur di Simalungun dimusnahkan oleh orang-orang suku Karo.
Tahun 1200 - 1285 Masehi
Kerajaan Nagur yang belum sempat berkembang tersebut, dilanjutkan oleh orang-orang Gayo, di daerah hulu Sungai Pasai, hingga tahun 1285 Masehi. Raja Nagur yang terakhir, Meurah Silu, menjadi Sultan Malikussaleh, Sultan Samudera Pasai yang pertama.
Tahun 1200 - 1508 Masehi
Kerajaan Aru (Wampu), yaitu suatu kerajaan Karo yang pagan, yang juga lepas dari Dinasti Sori Mangaraja di Sianjur Sagala Limbong Mulana.
Tahun 1275-1289 Masehi
Ekspedisi Pamalayu. Tentara Singasari merebut daerah aliran Sungai Batanghari dan Sungai Kampar yang merupakan kawasan penghasil lada. Untuk mengamankan hasil-hasil dari ekspedisi Pamalayu, tentara Singasari dikerahkan menduduki muara Sungai Asahan. Pangeran Singasari Indra Warman menjadi raja bawahan Singasari di Asahan.
Tahun 1292 Masehi
Keraton Singasari direbut dan dihancurkan oleh Jayakatwang, yang merupakan Raja Kediri. Pangeran Indra Warman tidak mau mengakui Jayakawang sebagai raja. Begitu pula ketika Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja Majapahit, Pangeran Indra Warman tetap tidak mau mengakui Raden wijaya, sepupunya tersebut, sebagai raja. Indra Warman menganggap dirinyalah penerus tahta kerjaan Singasari.
Untuk mengantisipasi pembalasan dari kerajaan Majapahit terhadap dirinya, Indra Warman memndahkan pusat dari kerajaan barunya tersebut ke pedalaman Sumatera.
Tahun 1293 - 1339 Masehi
Kerajaan Silo yang beragama Hindu, didirikan oleh Raja Indra Warman yang berasal dari Kerajaan Singasari, beserta para tentara bawahannya. Kerajaan Silo terdiri dari para bangsawan yang adalah orang-orang Jawa dari Singasari, dan penduduknya kebanyakan adalah orang-orang Simalungun dari marga Siregar Silo.
Tahun 1331 - 1364 Masehi
Kerajaan Majapahit di bawah Maha Patih Gajah Mada menjadi kerajaan maritim yang kuat.
Tahun 1339 Masehi
Tentara Kerajaan Majapahit mendarat di muara Sungai Asahan, menjelajah sepanjang Sungai Silo, dan menghancurkan Kerajaan Silo, menewaskan Raja Indra Warman. Tentara Majapahit, langsung di bawah komando Gajah Mada, juga merebut Kerajaan Aru (Wampu), serta ke-Syahbandar-an Tamiang (bawahan Kesultanan Samudra Pasai). Di rawa-rawa Sungai Tamiang, tentara Majapahit menderita kekalahan akibat sergapan dari gerilyawan Islam dibawah pimpinan Panglima Mula Setia. Gajah Mada pun meninggalkan sisa pasukannya, kembali ke Pulau Jawa.
Para keturunan Raja Indra Warman, mendirikan Kerajaan Dolok Silo dan Kerajaan Raya Kahean.
Tahun 1339 - 1947
Kerajaan Dolok Silo dan Kerajaan Raya Kahean lambat laun berubah menjadi kerajan-kerajaan Simalungun, yang beragama Hindu. Kerajaan tersebut tetap eksis selama ± 600 tahun, menjadi dinasti yang tertua di kepulauan Indonesia pada abad ke-20. (250 tahun lebih tua daripada Dinasti-dinasti Mataram di Pulau Jawa).
Berdiri pula dua kerajaan Simalungun, yaitu Kerajaan Siantar dan Kerajaan Tanah Jawa. Raja-raja Siantar juga adalah keturunan dari Raja Indra Warman. Sedangkan raja-raja Tanah Jawa adalah para pendatang dari Pulau Samosir, yakni orang-orang marga Sinaga. Namun nama "Tanah Jawa" tetap digunakan, untuk menunjukkan tanah asal dari Raja Indra Warman (Pulau Jawa).
± Tahun 1350 Masehi
Orang-orang marga Siregar memasuki daerah Sipirok, di Tanah Batak Selatan.
Tahun 1416 Masehi
Armada Tiongkok dari Dinasti Ming, dibawah komando Laksamana Haji Sam Po Bo (atau yang lebih dikenal dengan nama Cheng Ho), merebut dan menduduki Muaralabuh di muara Sungai Batang Gadis. Di situ didirikan penggergajian kayu, dan pelabuhan Sing Kwang (Tanah Baru).
Tahun 1416 - 1513 Masehi
Orang-orang Tionghoa yang beragama Islam mazhab Hanafi bermukim di Sing Kwang, di Tanah Batak. Kayu meranti dari Tanah Batak digunakan untuk membangun istana-istana dan pagoda di Peking, Tiongkok.
Pada masa itu, unsur-unsur kebudayaan Tionghoa diserap kedalam marga Nasution, tunduk kepada sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu.
± Tahun 1450 - 1500 Masehi
Dengan dukungan dari Kesultanan Malaka, Datuk Sahilan dan beberapa orang Minangkabau pendukungnya dari sekitar Sungai Kampar, mengIslamkan orang-orang Batak marga Marpaung yang bermukim di sekitar muara Sungai Asahan, dan juga orang-orang Simalungun di daerah Kisaran, Tinjauan, Perdagangan, Bandar, Tanjungkasau, Bedagai, Bangun Purba, dan Sungaikarang.
Tahun 1450 - 1818 Masehi
Perdagangan garam dengan karavan kuda, di daerah Uluan Toba dan Samosir, didominasi oleh orang-orang marga Marpaung yang beragama Islam mazhab Syafii. Mereka membentuk komunitas Batak Muslim yang pertama di Tanjung Balai.
Tahun 1508 Masehi
Kerajaan Aru (Wampu) yang pagan, dimusnahkan oleh Kesultanan Aceh (yang saat itu sedang baru terbentuk). Kerajaan Aru yang berada di daerah aliran Sungai Wampu tersebut, adalah cikal bakal dari Kesultanan Langkat.
Tahun 1508 - 1523 Masehi
Kesultanan Aru (Deli Tua) di daerah aliran Sungai Deli, merupakan kesultanan bawahan dari Kesultanan Aceh. Penduduknya mayoritas merupakan orang-orang Karo, baik yang sudah maupun yang belum di-Islamkan. Kesultanan Aru (Deli Tua) merupakan cikal bakal dari Kesultanan Deli.
Karya Sastra
Selain menjadi guru sejarah, SMR juga adalah seorang penulis buku bacaan di sekolah rendah. Bukunya yang terkenal berjudul Doea Sadjoli: boekoe siseon dakdanak di sikola terdiri dari dua jilid yang diterbitkan di Batavia oleh s’Landsdrukkerij, 1917, 1918, 1919. Karena menurut penilaian SMR, anak sekolah rendah mengalami kesulitan memahami Doea Sadjoli jilid dua, SMR memutuskan untuk menulis satu buku pengantar ke jilid dua, berjudul Ranteomas: udul ni Doea Sadjoli I: boekoe siseon ni anak sikola, artinya: rantai emas, yang menjembatani jilid satu ke jilid dua buku Doea Sadjoli. Ketiga buku tersebut ditulis dalam bahasa Angkola Mandailing. Cetakan kedua Ranteomas diterbitkan kembali di Medan oleh Penerbit Islamiyah, 1960. Kemudian Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan lagi buku ini pada tahun 1981. Buku lain bacaan anak sekolah rendah dalam bahasa Toba ditulis oleh SMR dibantu oleh Arsenius Lumban Tobing, berjudul Soeloesoeloe: boekoe sijahaon ni angka anak sikola metmet na di Tano Batak, diterbitkan di Batavia oleh 's Landsdrukkerij pada tahun 1921.[3]
Teori Tentang Indrawarman (Kerajaan Silo di Simalungun)
Prof. Dr. Slamet Mulyana, seorang sejarawan dan juga Guru Besar dari Universitas Indonesia, dalam buku "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara islam di Nusantara" (1968, terbit ulang 2006), mengemukakan salah satu teori dari SMR, mengenai sosok bernama Indrawarman:
- Faktanya ialah bahwa tentara Singasari dalam Ekspedisi Pamalayu tahun 1275, berhasil merebut kerajaan Dharmaçraya/Jambi untuk menguasai daerah penghasil lada di Sungai Dareh di Minangkabau Timur.
- Untuk mengamankan hasil Ekspedisi Pamalayu terhadap pihak Islam di daerah muara Sungai Pasai, maka sebagian dari tentara Singasari di bawah pimpinan Indrawarman ditempatkan di muara sungai Asahan.
- Pada tahun 1293, panglima Indrawarman tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit, yang menggantikan kerajaan Singasari. Panglima Indrawarman lalu mendirikan kerajaan Silo, jauh di pedalaman Simalungun untuk menyelamatkan dirinya dari ancaman Majapahit.
- Ketika Gajah Mada menjadi patih amangkubumi (dari tahun 1331-1364), tentara Majapahit mendirikan kerajaan Pagaruyung di Minangkabau dan memusnahkan kerajaan Silo di Simalungun.[4]
Secara terpisah, dalam bukunya Tuanku Rao, Mangaradja Onggang Parlindungan menganggap teori tersebut menjadi "penjelasan" mengapa di daerah Simalungun, selama kurang lebih 20 generasi, eksis sebuah kerajaan bernama "Kerajaan Tanah Jawa". MOP menggambarkan bagaimana ayahnya, SMR, melakukan field-research dalam usia 50 tahun, terhadap reruntuhan dari Keraksaan (ibukota kerajaan Silo) dan Dolok Sinumbah, yang sudah tertutup semak belukar selama 600 tahun, sebagaimana halnya reruntuhan Angkor Wat, Angkor Tom dan Borobudur.[1]
Penghargaan

Karena jasa-jasanya yang besar dalam dunia pendidikan, pemerintah kolonial Belanda menganugerahkan bintang jasa kepada Sutan Martua Raja. Asisten Residen Pematangsiantar, Ezerman, menyematkan bintang jasa pendidikan tersebut pada tahun 1924, dalam sebuah upacara yang dihadiri oleh sejumlah pejabat (ambtenaar) Belanda, tokoh bumiputera, dan guru-guru.
Penganugerahan ini mendapat perhatian luas dari media massa pada masa itu. Profil dan foto Sutan Martua Raja (tercatat dengan nama **J. Soetan Martoewa Radja**) dimuat secara khusus dalam majalah populer Pandji Poestaka edisi April 1924. Liputan media mengenai penghargaan ini dianggap penting sehingga dicatat dalam laporan resmi tinjauan pers pemerintah kolonial, Overzicht van de Inlandsche en Maleisch-Chineesche Pers (IPO) Nomor 16 Tahun 1924.[5]
Dalam pidatonya sebelum menyematkan bintang jasa, Asisten Residen Ezerman menyampaikan apresiasinya:
Toean Soetan Martoea Radja... Daholoe toean beladjar di kweekschool Padang Sidempuan, kemoedian toean diangkat menjadi goeroe pada beberapa tempat, hingga ketika diboeka Normaalschool di Pematang Siantar ini, toean didjadikan mendjadi goeroe disini. Disegala tempat jang toean tempati, selaloe toean bekerdja dengan setia dan berdjasa. Segala jang mengepalai pekerdja'an toean selaloe menoendjoekkan kesoekaannja akan pekerdja'an itoe. Tidak hanja dipekerdja'an Gouvernement sahadja toean menoendjoekkan kebaikan, tetapi kehidoepan Particulier toean poen, adalah toean selaloe mendjadi tjontoh toeladan jang baik bagi segala orang...
— Asisten Residen Ezerman, Pematangsiantar (1924)[3]
Pandangan Teman Sejawat
Prof. Dr. H. Hamka, dalam sebuah bukunya, "Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao", menyebut sosok Sutan Martua Raja sebagai seorang yang memiliki "budi bahasa halus", dan "taat sebagai seorang Kristen". Pandangan itu dikemukakan oleh Hamka berdasarkan pengalamannya saat bersama-sama dengan SMR menjadi anggota Chuo Sangi-In, Badan Perwakilan Provinsi Sumatera Timur yang dbentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang.[6]
Lihat juga
Referensi
- ^ a b c d e f g h Parlindungan, Ir. Mangaradja Onggang (2007). Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao, Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833. Yogyakarta: Lembaga Kajian Islam dan Studi (LKiS). hlm. 614–643. ISBN 9789799785336. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ "Bag 5. Sejarah Sipirok : Putra Daerah Sipirok Sutan Martua Raja (1873-1951)".
- ^ a b Harahap, Basyral Hamidy (2007). Greget Tuanku Rao. Depok: Komunitas Bambu. hlm. 5–8. ISBN 9789793731162. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Muljana, Slamet (2005). Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LKiS Yogyakarta. hlm. 13–14. ISBN 9789798451164. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Overzicht van de Inlandsche en Maleisch-Chineesche Pers, No. 16, 1924 (Report) (dalam bahasa Belanda). Batavia: Bureau voor de Volkslectuur (Balai Pustaka). 1924-04. Diakses tanggal 2024-01-05.
Merangkum isi majalah Pandji Poestaka edisi April 1924 yang memuat foto dan profil J. Soetan Martoewa Radja.
- ^ Hamka (2017). FAKTA DAN KHAYAL TUANKU RAO. Jakarta: Republika Penerbit. hlm. 10. ISBN 9786020822716. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Daftar Pustaka
Buku dan Publikasi
- Hamka (2017). Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao. Jakarta: Republika Penerbit. ISBN 9786020822716.
- Harahap, Basyral Hamidy (2007). Greget Tuanku Rao. Depok: Komunitas Bambu. ISBN 9789793731162.
- Muljana, Slamet (2005). Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LKiS Yogyakarta. ISBN 9789798451164.
- Parlindungan, Mangaradja Onggang (2007). Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833 (Edisi Cetakan ulang). Yogyakarta: LKiS. ISBN 9789799785336.
- Siregar, Soetan Martoea Radja (1917). "Doea sadjoli : boekoe siseon dakdanak di sikola". WorldCat (OCLC 66906232).
Arsip dan Dokumen Pemerintah
- Overzicht van de Inlandsche en Maleisch-Chineesche Pers (IPO), No. 16 (Report) (dalam bahasa Belanda). Batavia: Bureau voor de Volkslectuur. 1924. ;
- Regeerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, Deel 2 (dalam bahasa Belanda). Batavia: Landsdrukkerij. 1938.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.




