Sindangkasih, Ranomeeto Barat, Konawe Selatan
Sindangkasih ᮞᮤᮔ᮪ᮓᮀᮊᮞᮤᮂ | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Sulawesi Tenggara | ||||
| Kabupaten | Konawe Selatan | ||||
| Kecamatan | Ranomeeto Barat | ||||
| Kode pos | 93871 | ||||
| Kode Kemendagri | 74.05.22.2002 | ||||
| Luas | 7,04 km²[1] | ||||
| Jumlah penduduk | 1.937 jiwa[1] | ||||
| Kepadatan | 275,34 jiwa/km²[1] | ||||
| |||||
Sindangkasih (aksara Sunda: ᮞᮤᮔ᮪ᮓᮀᮊᮞᮤᮂ) adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Ranomeeto Barat, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi, Indonesia. Desa ini didirikan oleh para transmigran suku Sunda yang berasal dari Jawa Barat.
Sejarah
Pada tahun 1968, diadakan program transmigrasi yang disponsori oleh Pemerintah Indonesia ke Provinsi Sulawesi Tenggara. Salah satu lahan yang di sediakan pemerintah berada di Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan. Kecamatan Ranomeeto saat itu terdiri dari sepuluh desa, yaitu desa Ambaipua, Boro-Boro, Amoito, Amokuni, Lameuru, Opaasi, Onewila, Ranooha, dan Rambu-Rambu Jaya.
Wilayah yang di jadikan lahan transmigrasi adalah desa Ambaipua, Boro-Boro, Opaasi, dan Lameuru. Desa Ambaipua menampung warga transmigrasi terutama yang berasal dari Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat dan Bali, serta sebagiannya tersebar di desa lain.
Setelah penduduk semakin banyak dilakukanlah pemekaran desa. Desa Ambaipua dimekarkan menjadi tiga desa yaitu desa Ambaipua, Sindangkasih, Jati Bali. Nama Sindangkasih diusulkan oleh transmigran suku Sunda dari Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Sedangkan nama Jati Bali di usulkan oleh warga transmigran dari Bali.[2]
Demografi
Pada awal transmigrasi tahun 1968 penduduk yang bermukim di desa Sindangkasih sekitar 50 kepala keluarga. Namun pada 2013, jumlahnya mencapai 1.536 jiwa yang terdiri dari 783 laki-laki dan 753 perempuan. Pada tahun 1968, masyarakat transmigran dipercayakan oleh pemerintah untuk mengelola sawah, kebun, dan ladang sebagai sumber mata pencaharian. Oleh karena itu, banyak dari mereka berprofesi sebagai petani dan sekian tahun terbukti desa Sindangkasih ini mulai memiliki koperasi, penggilingan padi sebanyak 2 unit, akses transportasi, serta peternakan yang dimiliki masyarakat desa Sindangkasih.
Mayoritas penduduk Sindangkasih menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari.[3] Dialek bahasa Sunda yang digunakan oleh penduduk desa Sindangkasih memiliki persentase perbedaan sebesar 64,50% dengan bahasa Sunda yang digunakan di Jawa Barat, khususnya bahasa Sunda Priangan.[4]
Geografi
Secara geografis, desa ini terletak di sebelah utara Sulawesi Tenggara. Sindangkasih merupakan wilayah transmigrasi yang letaknya tidak jauh dari kota Kendari, yang memiliki jarak tempuh kira-kira 35 km dari pusat kota Kendari.[2]
Referensi
- ^ a b c Kependudukan Desa Sindangkasih gis.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 28 Mei 2022.
- ^ a b "Sejarah Terbentuknya Desa Sindangkasih". sindangkasih-oke.blogspot.com. Diakses tanggal 28 Mei 2022.
- ^ Deni Anggoleta (21 Oktober 2020). "Berkunjung Ke Desa Sindangkasih Ranomeeto Konawe Selatan Desa Transmigrasi Sejak 1968". www.denianggoleta.com. Diakses tanggal 28 Mei 2022.
- ^ "Bahasa Sunda (Provinsi Sulawesi Tenggara)". petabahasa.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Jakarta Timur: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 5 September 2025 – via Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Pemeliharaan CS1: Lain-lain (link)
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



