Sewulan, Dagangan, Madiun
Sewulan | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Masjid Al-Basyariyah Sewulan | |||||
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Madiun | ||||
| Kecamatan | Dagangan | ||||
| Kode Kemendagri | 35.19.04.2010 | ||||
| |||||
Sewulan adalah desa di kecamatan Dagangan, Madiun, Jawa Timur, Indonesia.
Di desa ini terdapat masjid sekaligus makam Raden Mas Bagus Harun atau Ki Ageng Basyariyah. Mendirikan Masjid Sewulan pada tahun 1740. Raden Mas Bagus Harun Merupakan putra dari Adipati Sumoroto yaitu Ki Ageng Nolojoyo Ponorogo.
Sejarah

Pada masa Kesultanan Mataram, daerah Madiun dan sekitarnya merupakan bagian dari "Mancanegara Wetan". Di daerah ini banyak berdiri desa perdikan yaitu desa yang mendapatkan hak khusus dari kerajaan misalnya bebas pajak. Desa perdikan yang berdiri di Kecamatan Dagangan yaitu Desa Banjarsari dan Sewulan, keduanya adalah desa yang diberi kekhususan untuk mengelola pesantren untuk menyebarkan Agama Islam. Keduanya juga merupakan sentra kerajinan yang masih bertahan sampai sekarang, Banjarsari dengan sentra sapu ijuknya dan Sewulan sebagai sentra pande besi.[1][2]
Sewulan adalah tanah perdikan yang diberikan oleh Sultan Pakubuwono II kepada Kiai Ageng Basyariyah (Raden Mas Bagus Harun) atas jasanya. Saat itu, Pakubuwono II mengalami kegagalan melawan VOC dan berhenti melakukan perlawanan. Pemberontak anti-VOC yang terdiri dari aliansi Jawa-Tionghoa pimpinan Raden Mas Garendi / Sunan Kuning (Amangkurat V) tidak puas atas bergantinya kebijakan ini dan kemudian berhasil menyerang dan menguasai Keraton Kartasura pada Juni 1742. Pakubuwono II melarikan diri ke Mancanegara Wetan untuk menggalang kekuatan, salah satunya meminta bantuan Kiai Muhammad Besari di Tegalsari Ponorogo. Kiai Muhammad Besari kemudian mengirimkan Bagus Harun dan santri lainnya untuk membantu menguasai keraton. Pada November 1742, Keraton Kartasura berhasil dikuasai dan Pakubuwono II kembali menjadi raja.[1][2]
Beliau kemudian memberikan hadiah kepada mereka yang telah membantunya salah satunya Kiai Ageng Basyariyah (Raden Mas Bagus Harun) yang mendapatkan tanah perdikan di daerah Sewulan. Menurut legenda, Kiai Ageng Basyariyah mendapatkan hadiah songsong (payung) dan lampit (tikar) dari Pakubuwono II. Kemudian songsong tersebut dihanyutkan di air terjun Bang Pluwang, Kiai Ageng Basyariyah mendapat perintah dari Kiai Muhammad Besari untuk menyebarkan Islam di daerah tempat songsong tersebut ditemukan kembali. Songsong tersebut kemudian ditemukan di daerah belantara di Madiun selatan. Kiai Ageng Basyariyah kemudian membabat hutan dan mendirikan masjid dan desa baru bernama Sewulan karena didirikan pada Lailatulqadar atau malam seribu bulan (sewu wulan) pada tahun 1740-an.[1][2]
Referensi
- ^ a b c Zuanti Fitria Melani Melani (2023). "Rekam Jejak Perjuangan Ki Ageng Basyariyah di Madiun Selatan 1710-1811". Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam. 13 (2). Padang: UIN Imam Bonjol.
- ^ a b c Akhlis Syamsal Qomar; Setya Yoga Pratama (2024). "Antara Merdeka dan Dijajah: Problematika Kawula Desa Perdikan di Wilayah Eks Karesidenan Madiun, 1742-1962". Jurnal Sejarah Indonesia. 7 (2). Makassar: Universitas Hasanuddin.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



