Sesar Walanae
| Sesar Walanae | |
|---|---|
Peta Sesar Walanae | |
| Negara | Indonesia |
| Wilayah | Kabupaten Wajo, Kabupaten Soppeng, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Sidrap, Kabupaten Bone |
| Provinsi | Sulawesi Selatan |
| Karakteristik | |
| Panjang | 130 km |
| Tektonika lempeng | |
| Status | Aktif |
| Gempa bumi | Gempa bumi Parepare–Pinrang 1997 (M5.9) |
| Jenis | Mendatar (Strike-slip) |
Patahan Walanae atau Patahan Walennae (disebut pula Sesar Walanae atau Sesar Walennae) adalah sebuah patahan yang membentang mulai dari Pulau Flores menuju ke Pulau Sulawesi bagian selatan dan barat dan memiliki panjang sekitar 130 km (81 mi).
Keberadaan Patahan Walanae menimbulkan potensi gempa bumi yang rentan di tiga daerah, yakni Kota Parepare, Kabupaten Pinrang dan Kabupaten Polewali Mandar. Meskipun Sesar Walanae merupakan zona aktif gempa bumi, frekuensi gempanya jauh lebih kecil dibandingkan sesar aktif lain di Sulawesi.
Lokasi
Lokasi Patahan Walanae dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan berada di bagian selatan.[1]
Ukuran
Patahan Walanae tergolong sebagai sesar mendatar. Panjang segmen terpanjangnya mencapai 130 km.[2] Bentangan Patahan Walanae dimulai dari bagian barat Australia menuju ke bagian utara melewati Pulau Flores. Bentangannya kemudian berlanjut dari pantai bagian timur Pulau Selayar menuju ke Kabupaten Sinjai, Kabupaten Bone, Kabupaten Soppeng dan Kabupaten Sidenreng Rappang. Selanjutnya, bentang Patahan Walane terbagi menjadi tiga yakni ke arah Kota Parepare, Kabupaten Pinrang dan satunya lagi ke Kabupaten Polewali Mandar di Provinsi Sulawesi Barat.[3]
Pergeseran
Patahan Walanae merupakan sebuah patahan sekunder yang mengalami pergeseran mengikuti lempeng tektonik pada daerah Cincin Api Pasifik.[4] Daerah Patahan Walanae dengan potensi gempa bumi tertinggi terletak di Kota Parepare, Kabupaten Pinrang dan Kabupaten Polewali Mandar. Karena di ketiga lokasi ini terjadi perpecahan Patahan Walanae. Lempeng Australia setiap waktu dapat menimbulkan gempa bumi di ketiga wilayah ini karena pergeserannya terus belangsung sejauh 6 hingga 7 sentimeter per tahun di Indonesia Timur.[3]
Lihat pula
Referensi
Catatan kaki
- ^ Tim Pusat Studi Gempa Nasional 2017, hlm. 170.
- ^ Tim Pusat Studi Gempa Nasional 2017, hlm. 56.
- ^ a b Rachman 2012, hlm. 68.
- ^ Rachman 2012, hlm. 67.
Daftar pustaka
- Pusat Studi Gempa Nasional (2017). Irsyam, M., dkk. (ed.). Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 (PDF). Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman. ISBN 978-602-5489-01-3. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Rachman, Anwar Jimpe (2012). "Sinjai: Belajar di Atas Patahan Walennae". Hidup di Atas Patahan: Pengalaman Kelola Bencana di Tiga Kabupaten (Bengkulu Utara, Sinjai, Maluku Tenggara). Sleman: INSIST Press. hlm. 43–78. ISBN 978-602-8384-55-1. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


