Seminari Menengah Santo Laurensius Ketapang
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Juni 2025) |
| Seminari Menengah Santo Laurensius Ketapang | |
|---|---|
| Informasi | |
| Nama latin | Seminarium Minorum San Laurentii Ketapang |
| Didirikan | 14 Juli 1983 oleh Mgr. Blasius Pudjaraharja |
| Jenis | Seminari |
| Rektor / Ketua | RD. Fransiscus Suandi |
| Rentang kelas | Kelas 1 - KPA |
| Alamat | |
| Lokasi | Komplek Pastoral Bina Utama Jl. Gatot Subroto no. 36 Payak Kumang – Ketapang – Kalbar 78851, Ketapang, Kalimantan Barat, Indonesia |
| Tel./Faks. | 0534-32181 |
| Koordinat | 1°49′35″S 109°57′55″E / 1.8264607019°S 109.96519883759316°E |
| Moto | |
| Moto | Adveniat Regnum Tuum |
Seminari Menengah Santo Laurensius Ketapang adalah sebuah seminari Katolik yang berada di Keuskupan Ketapang. Seminari ini beralamat di Komplek Pastoral Bina Utama Jl. Gatot Subroto no. 36 Payak Kumang – Ketapang – Kalbar 78851.
Seminari Menengah Santo Laurensius Ketapang menampung dan mendidik para calon imam di tingkat menengah. Selain pendidikan di Seminari, para siswa mengikuti pendidikan di SMA Pangudi Luhur Santo Yohanes.
Latar Belakang Pemilihan Nama Seminari
Nama Santo Laurentius dipilih sebagai nama resmi seminari ketika lembaga ini secara resmi berdiri dalam struktur Keuskupan Ketapang. Pemilihan nama ini memiliki makna simbolis dan historis yang kuat. Nama tersebut diambil dari nama baptis Frater Laurentius Sutadi, yang pada waktu itu ditugaskan menjadi rektor seminari. Selain itu, penetapan tanggal resmi berdirinya seminari pada 10 Agustus 1989 bertepatan dengan Pesta Santo Laurentius, seorang martir yang dikenal karena kesetiaannya kepada iman dan Gereja. Maka, nama dan tanggal tersebut diangkat sebagai simbol awal mula perhatian khusus terhadap pembinaan calon imam di Keuskupan Ketapang.
Sejarah
Gagasan mendirikan Seminari Menengah St. Laurentius berawal dari keprihatinan Mgr. Blasius Pujaraharja, Uskup Ketapang, atas semakin berkurangnya jumlah imam di keuskupannya. Pada masa itu, sebagian besar imam yang melayani berasal dari Kongregasi Passionis (CP), yaitu para misionaris asal Belanda yang sudah lanjut usia. Jumlah imam CP yang bisa diharapkan untuk melanjutkan karya misi sangat terbatas, dan hampir tidak ada bantuan dari keuskupan lain. Sementara itu, imam dari Keuskupan Agung Semarang yang diperbantukan ke Ketapang hanya satu orang. Situasi ini membuat kebutuhan akan tenaga imam dari Keuskupan Ketapang sendiri menjadi sangat mendesak.
Sebelum tahun 1983, calon imam dari Keuskupan Ketapang biasanya dikirim ke Seminari Menengah Nyarumkop, namun jumlahnya sangat sedikit dan tidak setiap tahun ada calon yang dikirim. Kesadaran bahwa panggilan menjadi imam belum cukup mendapat perhatian mendorong keinginan untuk mendirikan seminari lokal. Dengan kehadiran seminari menengah di Ketapang, diharapkan perhatian terhadap panggilan hidup imamat dapat lebih berkembang, khususnya dari kalangan umat di pedalaman. Mengingat kondisi dasar pendidikan umat di wilayah pedalaman yang masih lemah, maka kemampuan intelektual bukanlah syarat utama. Yang lebih penting adalah kerinduan untuk mengikuti panggilan menjadi imam dan diterima dalam proses pembinaan seminari.
Seminari mulai dirintis pada tanggal 14 Juli 1983. Pada masa awal, para calon imam tinggal di sebuah kamar di asrama milik karyawan Keuskupan Ketapang. Mereka dibimbing oleh Sr. Maria Goretti, OSA, dan mendapatkan pelajaran tambahan seperti bahasa Latin dari Pastor Bernardinus, CP. Kehidupan harian para seminaris dijalani secara mandiri dengan arahan dan pengawasan dari suster. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA di St. Yohanes, mereka yang ingin melanjutkan ke tahap pembinaan selanjutnya dikirim ke Seminari Tinggi St. Paulus Nyarumkop untuk mengikuti program Tahun Orientasi Panggilan (TOPANG).
Namun, perkembangan seminari pada masa-masa awal tidak berjalan mulus. Antara tahun 1983 hingga Juli 1986, tidak ada lulusan SMP atau SMA yang masuk ke seminari. Karena Sr. Maria Goretti semakin sibuk dengan tugas lain, maka pada Juli 1986 para seminaris dititipkan di asrama Bruder FIC. Tahun 1987, tidak ada siswa yang masuk seminari. Baru pada tahun 1988 beberapa siswa mulai kembali masuk, dan pada Juli 1989 terdapat lima orang seminaris yang ditempatkan di dua asrama berbeda: tiga orang di asrama Bruder FIC dan dua orang di asrama St. Yusuf, dengan harapan bahwa keberadaan mereka dapat mendorong minat menjadi imam di antara penghuni asrama lainnya.
Perhatian lebih besar mulai diberikan pada Agustus 1989 ketika Pastor Zakarias Lintas menunjuk Frater Sutadi—yang kala itu sedang menjalani Tahun Orientasi Panggilan di Paroki St. Gemma Ketapang—untuk mendampingi para seminaris secara khusus. Momen ini bertepatan dengan Pesta Santo Laurentius dan menjadi penanda awal perhatian serius terhadap pembinaan panggilan imamat di Keuskupan Ketapang. Maka, nama baptis Frater Laurentius Sutadi diabadikan sebagai nama pelindung seminari. Tanggal 10 Agustus 1989 pun ditetapkan sebagai hari resmi berdirinya Seminari Menengah St. Laurentius.
Perkembangan selanjutnya menunjukkan kemajuan. Pada Juli 1990, beberapa lulusan SMP menyatakan keinginan untuk menjadi imam. Agar pembinaan menjadi lebih efektif, para seminaris dipindahkan ke salah satu unit bangunan di Pusat Pastoral BIMA di Payakumang. Sejak saat itu, selalu ada seorang imam atau frater yang secara khusus ditugaskan untuk mendampingi mereka. Puncaknya, pada bulan Mei 1993, pembangunan gedung seminari secara fisik dimulai sebagai wujud nyata dari komitmen jangka panjang Keuskupan Ketapang terhadap pembinaan calon imam. Akhirnya, pada tanggal 5 Februari 1994, Romo Ph. Istejamaya resmi ditugaskan sebagai direktur Seminari Menengah St. Laurentius, menandai era baru dalam pengelolaan dan pengembangan seminari ini.[1]
Fasilitas
- Lapangan Bola
- Lapangan Basket
- Lapangan Volly
- Kapel
- Ruang Rekreasi
- Studio Musik
- Ruang Komputer
- Ruang Perpustakaan
Acara dan Kegiatan
- Personal Branding
- Laurensius Day
- Opera
Rektor
- Sr. Maria Goretti, OSA (1983-1986)
- Frater Laurentius Sutadi (1989-1994)
- RD. Ph. Istejamaya (1994-2004)
- RD. Stefanus Magut (2004-2006)
- RD. Ph. Istejamaya (2006-2008)
- RD. Atmoharjono (2008-2011)
- RD. Cyrilus Ndora (2011-2018)
- RD. Andreas Setyo Budi Sambodo, Pr[2] (2018–2022)
- RD. Fransiscus Suandi (2022-2025)
- RD. Agustinus Mudjianto (2025-Sekarang)
Referensi
- ^ Ranubaya, Fr Fransesco Agnes (2024-06-01). "Sejarah Berdirinya Seminari Menengah St. Laurensius Keuskupan Ketapang | Website Resmi Keuskupan Ketapang" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-02.
- ^ OSA, Sr Kristine (2020-09-13). "Kenormalan Baru bagi Romo, Positif Mules-mules". SESAWI.NET (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-02.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



