Nyarumkop, Singkawang Timur, Singkawang

Nyarumkop
Negara Indonesia
ProvinsiKalimantan Barat
KotaSingkawang
KecamatanSingkawang Timur
Kodepos
79251
Kode Kemendagri61.72.03.1002 Suntingan nilai di Wikidata
Kode BPS6172020004 Suntingan nilai di Wikidata
Luas21,86 km²
Jumlah penduduk4.360 jiwa (2020)
Kepadatan199 jiwa/km²
Peta
PetaKoordinat: 0°52′37.39656″N 109°3′42.39518″E / 0.8770546000°N 109.0617764389°E / 0.8770546000; 109.0617764389

Nyarumkop adalah nama kelurahan yang berada di kecamatan Singkawang Timur, kota Singkawang, provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Pada tahun 2020, kelurahan ini terdiri dari 4 Rukun Warga (RW) dan 13 Rukun Tangga (RT), mempunyai penduduk sebanyak 4.360 jiwa, dengan luas wilayah 21,86 km² dan kepadatan penduduknya adalah 199 jiwa/km².[1]

Daerah ini menjadi Stasi Nyarumkop saat kedatangan misionaris Kapusin atau OFMCap.[2]

Demografi

  Kristen Katolik (67.23%)
  Islam (27.95%)
  Buddha (2.62%)
  Kristen Protestan (2.18%)
  Konghucu (0.02%)

Kota Singkawang termasuk sebagai kota yang memiliki beragam Suku, Agama, Ras dan Adat istiadat (SARA) di Indonesia, demikian juga halnya di kelurahan ini. Keberagaman etnis atau suku di Singkawang diwakili tiga suku mayoritas, yaitu Tionghoa (disebut juga dengan "Cina"), Dayak, dan Melayu, sehingga ada muncul julukan CiDaYu (Cina, Dayak, Melayu).[3] Kota Singkawang merupakan kota yang mayoritas penduduknya berasal dari etnis Tionghoa dan ini adalah komunitas Tionghoa terbesar di Indonesia. Ada suku pendatang lain seperti Jawa, Madura, Bugis, Batak, Sunda dan Banjar.[3]

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik kota Singkawang tahun 2020 mencatat, bahwa pemeluk agama di kelurahan ini yakni Kristen 69,41% (Katolik 67,23% dan Protestan 2,18%), kemudian Islam 27,95%, Budha 2,62% dan Konghucu 0,02%.[1] Etnis Tionghoa di Singkawang mayoritas beragama Budha, sementara warga etnis Dayak umumnya beragama Kristen, sementara etnis Melayu mayoritas beragama Islam.[3] Bahasa yang digunakan pada umumnya adalah bahasa Indonesia atau juga Melayu, Dayak dan bahasa Mandarin.

Pendidikan

Nyarumkop memiliki Salah satu pusat pendidikan yang terkenal dan Tertua di Kalimantan Barat yaitu Persekolahan Katolik Nyarumkop atau biasa di singkat (PKN) yang merupakan Persekolahan Katolik yang di kelola dan dimiliki oleh Keuskupan Agung Pontianak). Persekolahan ini sudah berdiri sejak 1916 yang dimulai oleh para-para misionaris Kapusin atau OFMCap dari Belanda yang memindahkan pendidikan dari Pelanjau karena musibah sebelumnya.[4] Persekolahan ini menyediakan Pendidikan dari TK,SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi khusus untuk para calon Imam Diosesan dan Imam atau Biarawan ordo lain nya. yaitu: TK Santa Lucia, SD Santa Klara, SMP Santo Aloysius Gonzaga, SMA Santo Paulus yang merupakan sekolah naungan Yayasan Perguruan Masyarakat Kalimantan Barat (YPMKB) dan Seminari Menengah Santo Paulus dan Tahun Orientasi Panggilan (Topang) yang dinaungi dan dimiliki langsung oleh Keuskupan Agung Pontianak

Persekolahan Katolik Nyarumkop

Pada 8 Mei 1922, terdapat 4 sekolah di Stasi Nyarumkop yang berlokasi di Nyarumkop, Tiang Tanjung, Sibale, dan Pajintan. Sekolah Nyarumkop didirikan pada 17 Februari 1917 dengan jumlah murid 57 orang dan 21 murid tinggal di asrama. Sekolah di Tiang Tanjung didirkan pada 19 Maret 1919 dengan jumlah murid sebanyak 37. Sekolah di Sibale didirikan pada 14 April 1918 dengan 24 siswa. Sekolah di Pajintan yang berdiri pada 15 Maret 1922 ditutup pada 1927 karena kurang diminati dengan 38 murid.[2]

Pada Desember 1924 dikeluarkan ikhtisar murid sekolah dan asrama dengan Mgr Bos sebagai Superior Regularis selama 19 tahun. Jumlah murid tercatat saat itu di Nyarumkop sebanyak 54 murid dengan 30 murid tinggal di asrama, Sibale dengan 34 murid, Pajintan dengan 29 murid, Sejiram dengan 95 murid di asramayang pembagiannya 67 putra dan 29 putri, serta Laham dengan 141 putra dan 69 putri, total di Laham adalah 203 murid.[2]

Pada 15 November 1925, jumlah murid di Nyarumkop sebanyak 72 orang, Pajintan sebanyak 35 orang, Sibale 42 orang, dan Tiang Tanjung sebanyak 38 orang. Pada tanggal yang sama dikirim 2 murid ke Manado (Tomohon) untuk mengikuti pendidikan guru (Normaalschool). Pater Fulgensiu dan Guru Anden berangkat ke Singkawang padal 11 Maret 1929 lalu besoknya ke kampung Peladis untuk meresmikan sekolah.[5]

Murid di Nyarumkop pada awal tahun ajaran bulan Agustus tahun 1939 sebanyak 99 orang murid di Sekolah Rakyat dan 73 orang murid di Sekolah Lanjutan. Pada tahun yang sama tepatnya bulan Juni, dikirim lagi dua murid menuju Manado untuk tujuan yang sama seperti tahun 1925.[5]

Referensi

Pekerjaan

Berdasarkan data BPS Kota Singkawang tahun 2020, pekerjaan warga kelurahan ini terdiri dari pegawai swasta, pedagang, Pegawai Negeri Sipil (PNS), petani, wiraswasta dan pensiunan.[1]

Reeferensi

  1. ^ a b c "Kecamatan Singkawang Timur Dalam Angka 2020" (pdf). www.singkawangkota.bps.go.id. Diakses tanggal 4 Oktober 2020.
  2. ^ a b c Aloy 2019, hlm. 10.
  3. ^ a b c Wijaya, Ekhi Sakti. "Singkawang, The New City of Kalimantan". Suara.com. Diakses tanggal 4 Oktober 2020.
  4. ^ Aloy 2019, hlm. 8.
  5. ^ a b Aloy 2019, hlm. 11.

Karya dikutip

  • Aloy, Aloysius. RB. Sugiantoro (ed.). Semangat Dayak: Catatan Perjuangan Politik Partai Persatuan Dayak-PPD (1945-1963). Jakarta: Penerbit Buku Kompas. ISBN 978-623-241-007-7.

Pranala luar



Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement