Sejarah filsafat modern awal
Jangan sampai tertukar dengan: Filsafat modern
Filsafat modern awal (juga disebut filsafat modern klasik)[1][2] adalah suatu periode dalam sejarah filsafat yang tumpang tindih dengan awal periode yang dikenal sebagai filsafat modern. Periode ini menggantikan era filsafat abad pertengahan. Filsafat modern awal biasanya dianggap berlangsung antara abad ke-16 dan ke-18, meskipun beberapa filsuf dan sejarawan menempatkan periode ini sedikit lebih awal. Pada masa ini, para filsuf berpengaruh seperti Descartes, Locke, Hume, dan Kant memberikan kontribusi besar terhadap pemahaman filsafat saat ini.
Gambaran umum
Periode modern awal dalam sejarah adalah sekitar tahun 1500–1789, tetapi label “filsafat modern awal” biasanya digunakan untuk menunjuk periode yang lebih sempit.[3]
Dalam pengertian yang paling sempit, istilah ini digunakan terutama untuk merujuk pada filsafat abad ke-17 dan ke-18, biasanya dimulai dengan René Descartes. Para filsuf abad ke-17 yang umumnya termasuk dalam analisis tersebut adalah Thomas Hobbes, Blaise Pascal, Baruch Spinoza, Gottfried Wilhelm Leibniz, dan Isaac Newton. Abad ke-18, yang sering dikenal sebagai Zaman Pencerahan, mencakup tokoh-tokoh modern awal seperti John Locke, George Berkeley, dan David Hume.[2]
Istilah ini terkadang digunakan lebih luas, mencakup para pemikir abad ke-16 yang lebih awal seperti Niccolò Machiavelli, Martin Luther, John Calvin, Michel de Montaigne, dan Francis Bacon.[4] Beberapa definisi juga memperluas jangkauan pemikir yang termasuk dalam label “modern awal”, seperti Voltaire, Giambattista Vico, Thomas Paine. Dengan definisi yang paling luas, periode modern awal dikatakan berakhir pada tahun 1804 dengan kematian Immanuel Kant. Dengan cara pandang ini, periode tersebut membentang dari para filsuf Renaisans akhir hingga hari-hari terakhir Zaman Pencerahan. Sebagian besar sarjana menganggap periode ini dimulai dengan Meditationes de Prima Philosophiae (Meditasi tentang Filsafat Pertama) karya René Descartes di Paris pada tahun 1641 dan berakhir dengan karya filsuf Jerman Immanuel Kant (Critique of Pure Reason) pada tahun 1780-an.[5]
Pada masa itu, berbagai pemikir menghadapi tantangan filosofis yang sulit: mendamaikan prinsip-prinsip pemikiran Aristotelian klasik dan teologi Kristen dengan kemajuan teknologi baru yang mengikuti jejak Copernicus, Galileo, dan Newton.[6] Gambaran mekanis modern tentang kosmos, di mana hukum-hukum universal yang dapat didefinisikan secara matematis mengarahkan gerak benda-benda tak bernyawa tanpa campur tangan sesuatu yang nonfisik, khususnya menantang cara-cara mapan dalam memandang pikiran, tubuh, dan Tuhan. Sebagai tanggapan, para filsuf—banyak di antaranya terlibat dalam kemajuan eksperimental—menciptakan dan menyempurnakan berbagai perspektif tentang hubungan manusia dengan kosmos.
Tiga peristiwa sejarah penting yang sangat membentuk pemikiran Barat adalah Zaman Penemuan, kemajuan ilmu pengetahuan modern, dan reformasi Protestan beserta perang saudara yang mengikutinya. Hubungan antara filsafat dan penelitian ilmiah bersifat rumit karena banyak ilmuwan modern awal menganggap diri mereka sebagai filsuf, sehingga mencampurkan kedua disiplin tersebut.[9] Kedua bidang ini pada akhirnya berpisah, meskipun kekhawatiran epistemologis dan metodologis filsafat kontemporer mengenai kepastian ilmiah tetap bertahan terlepas dari pemisahan tersebut.[7]
Era intelektual modern awal juga berkontribusi terhadap perkembangan filsafat Barat. Teori-teori filosofis baru, seperti metafisika, keberadaan sipil, epistemologi, dan pemikiran rasionalis, dikembangkan.[6] Ada penekanan kuat pada kemajuan dan ekspansi rasionalisme, yang menempatkan rasionalitas, penalaran, dan penemuan sebagai pusat dalam upaya memahami realitas.[6]
Karakteristik
Periode modern awal muncul dari perubahan dramatis dalam banyak bidang kehidupan manusia. Di antara karakteristik paling penting adalah formalisasi sains, percepatan kemajuan ilmiah, serta pembentukan politik sipil, pengadilan hukum, dan negara-bangsa yang terskularisasi.[6] Ada pula skeptisisme terhadap konsep-konsep interpretatif tradisional yang terkait dengan era modern, seperti pembedaan antara kaum empiris dan kaum rasionalis, yang mencerminkan pergeseran filosofis dan historis menjauhi etika, filsafat politik, serta epistemologi metafisik.[6]
Individualisme juga muncul sebagai reaksi terhadap kepercayaan dan otoritas, menantang unsur-unsur kekristenan dan filsafat yang dikristenkan yang biasanya berpadu dengan siapa pun yang menjadi pemimpin politik pada waktu itu.[6] Kenaikan kelas borjuis secara bertahap menantang kekuasaan Gereja dan memulai perjalanan menuju pemisahan resmi antara gereja dan negara. Situasi politik dan ekonomi Eropa Modern turut memengaruhi pemikiran filosofis, terutama dalam bidang etika dan filsafat politik.[6]
Revolusi Ilmiah juga memperoleh legitimasi selama periode ini. Upaya modern awal untuk memahami filosofi tentang infinitas berfokus pada tiga bentuk ketidaksetujuan fundamental mengenai konsep tak hingga—perbedaan yang berasal dari tradisi filsafat akademik.[6] Filsuf seperti Leibniz dan Spinoza menggunakan pembedaan ini untuk membedakan antara infinitas kualitatif milik Tuhan dan konsep matematika mengenai tak hingga yang bersifat abstrak.[7] Para pemikir modern awal juga membedakan antara infinitas aktual dan infinitas potensial. Tradisi akademik secara historis menolak keberadaan infinitas aktual di dunia ciptaan, tetapi mengakui infinitas potensial, mengikuti pendekatan Aristoteles terhadap paradoks Zeno.[8]
Selain itu, kemunculan pemikiran modern awal terkait erat dengan perubahan dalam konteks intelektual dan budaya periode tersebut, seperti kemajuan ilmu pengetahuan alam, kontradiksi teologis di dalam dan antara Gereja Katolik dan Protestan, serta pertumbuhan negara-bangsa modern.[9]
Referensi
- ^ Tlumak, Jeffrey (2013-01-11). "Classical Modern Philosophy". doi:10.4324/9780203642429.
- ^ a b Kuklick, Bruce (1984-11-08). Seven thinkers and how they grew: Descartes, Spinoza, Leibniz; Locke, Berkeley, Hume; Kant. Cambridge University Press. hlm. 125–140. ISBN 978-0-521-25352-9.
- ^ Berman, Marshall (1982). All that is solid melts into air: the experience of modernity. New York: Simon and Schuster. ISBN 978-0-671-24602-0.
- ^ Hansson, Sven Ove (2006-05-01). "Book Review: The Future for Philosophy, ed. by Brian Leiter". Disputatio. 1 (20): 346–348. doi:10.2478/disp-2006-0004. ISSN 2182-2875.
- ^ Zalta, Edward (2006-09-01). "The Stanford Encyclopedia of Philosophy: A university/library partnership in support of scholarly communication and open access". College & Research Libraries News. 67 (8): 502–504. doi:10.5860/crln.67.8.7670. ISSN 2150-6698.
- ^ a b c d e f g h Russell, Bertrand (2004). History of Western Philosophy (dalam bahasa Inggris). Psychology Press. ISBN 978-0-415-32505-9.
- ^ a b Russell, Bertrand (1946). History Of Western Philosophy.
- ^ Huggett, Nick (2019). Zalta, Edward N.; Nodelman, Uri (ed.). Zeno’s Paradoxes (Edisi Winter 2019). Metaphysics Research Lab, Stanford University.
- ^ Spruyt, Hendrik (2002-06). "T HE O RIGINS , D EVELOPMENT, AND P OSSIBLE D ECLINE OF THE M ODERN S TATE". Annual Review of Political Science (dalam bahasa Inggris). 5 (1): 127–149. doi:10.1146/annurev.polisci.5.101501.145837. ISSN 1094-2939.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


