Sei Mencirim, Kutalimbaru, Deli Serdang
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
Sei Mencirim | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Sumatera Utara | ||||
| Kabupaten | Deli Serdang | ||||
| Kecamatan | Kutalimbaru | ||||
| Kode pos | 20354 | ||||
| Kode Kemendagri | 12.07.04.2014 | ||||
| Luas | ±632.000m² | ||||
| Jumlah penduduk | ... jiwa | ||||
| Kepadatan | ... jiwa/km² | ||||
| |||||
Sei Mencirim merupakan salah satu desa yang terletak di kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, provinsi Sumatera Utara, Indonesia.
Desa Sei Mencirim adalah Desa yang terdiri dari berbagai suku yang berasal dari Wilayah Sumatera Utara dan juga Pulau jawa.
Sejarah
Pada masa kolonial Belanda, wilayah ini dikenal dengan nama Serba Naman dan merupakan bagian dari area perkebunan yang dikelola pihak kolonial. Tahun 1937, sebanyak 45 kepala keluarga (KK) yang berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat didatangkan melalui sistem kontrak, dengan jumlah penduduk sekitar 135 jiwa. Bersama penduduk lokal, jumlah KK menjadi 145, semuanya bekerja di bawah pengawasan perkebunan Belanda. Serba Naman dikenal karena hasil tembakaunya yang bermutu tinggi, sehingga fasilitas seperti saluran air bersih dari Sibolangit diberikan. Bukti historis masih dapat ditemukan pada wilayah yang dikenal sebagai Jalan Pipa di Dusun III Sei Mencirim.
Pada tahun 1942, wilayah ini diambil alih oleh Jepang yang menggantikan tanaman tembakau dengan tanaman padi untuk memenuhi kebutuhan pangan. Irigasi dibuat dalam bentuk sungai-sungai kecil, dan perubahan tersebut turut memengaruhi nama desa yang kemudian menjadi Desa Sei Beras.
Setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945, masyarakat setempat merasa terbebas dari sistem kerja paksa Jepang. Lahan perkebunan kemudian diserahkan oleh Belanda kepada pemerintah Indonesia. Pemerintahan Presiden Soekarno-Hatta memberikan sebagian lahan kepada para pekerja lokal sebagai bentuk penghargaan atas jasa mereka dalam membuka dan mengelola lahan.
Pada tahun 1956, terjadi pemekaran wilayah yang membagi Desa Sei Beras menjadi lima desa, salah satunya adalah Desa Sei Mencirim. Luas wilayah desa ini adalah sekitar 632 hektare dan telah diakui secara administratif oleh pemerintah Indonesia.
Kepala desa pertama yang memimpin adalah Bapak Djase. Setelah masa jabatannya berakhir, kepemimpinan dilanjutkan oleh Bapak Rais, kemudian Bapak Rasid hingga tahun 1975, dan dilanjutkan oleh Bapak Kastolan. Tahun 1982, Bapak Rasid kembali menjabat hingga digantikan sementara oleh Bapak Alfian pada tahun 1987. Bapak Alfian kemudian terpilih kembali secara resmi pada pemilihan kepala desa tahun 1998.
Pada tahun 2002, kepala desa dijabat oleh Bapak Awaluddin, S.Ag. hingga tahun 2007. Selanjutnya, Bapak Julianto terpilih pada tahun 2008 dan menjabat sampai tahun 2015. Tahun 2016, Bapak Eri Saputra memimpin hingga wafat pada tahun 2021. Setelah itu, dilakukan Pemilihan Kepala Desa Antar Waktu (PAW) dan terpilihlah Bapak Johan Wahyu, S.Pd.I., yang kembali terpilih dalam pemilihan tahun 2022.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



