Sandur

Sandur

Sandur (bahasa Jawa: bahasa Jawa, translit. Sandur, aksara Jawa: bahasa Jawa: ꦱꦤ꧀ꦢꦸꦂ}) adalah kesenian teater tradisional kerakyatan berbentuk drama tari yang menjadi salah satu identitas budaya masyarakat agraris di Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Kesenian ini berakar kuat dari kehidupan petani dan berfungsi sebagai media pelestarian nilai-nilai kearifan lokal, seperti budi pekerti, tolong-menolong, dan gotong royong.[1]

Awalnya, Sandur merupakan bagian tak terpisahkan dari ritual komunal seperti bersih desa dan sedekah bumi,[2] tetapi seiring waktu fungsinya bertransformasi menjadi seni pertunjukan hiburan. Menurut etimologi yang paling umum, nama Sandur merupakan sebuah akronim dari kalimat dalam bahasa Jawa, Isane Sanjo Karo Nganggur (aksara Jawa: bahasa Jawa: ꦲꦶꦱꦤꦺ ꦱꦤ꧀ꦗꦺꦴ ꦏꦫꦺꦴ ꦔꦁꦒꦸꦂ), yang berarti "Bisanya Hanya Berkunjung Sambil Mengisi Waktu Luang".[3] Terdapat pula penafsiran lain yang menyebut bahwa namanya berasal dari frasa beksan mundur (menari sambil berjalan mundur), sebuah filosofi agar manusia senantiasa menengok ke belakang untuk introspeksi diri,[4] atau dari frasa sasanane tandur yang berarti "pertanda untuk mulai menanam," yang mengikatnya langsung dengan siklus pertanian.[5] Atas nilai sejarah dan budayanya, Sandur ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2018.[6]

Sejarah dan Perkembangan

Asal-Usul dan Catatan Awal

Jejak Sandur sebagai permainan rakyat diyakini telah ada sejak era Kerajaan Majapahit.[7] Catatan etnografis dari era kolonial Hindia Belanda juga mendeskripsikan adanya pertunjukan rakyat di wilayah Tuban dan Bojonegoro yang memiliki ciri serupa. Laporan administratur Belanda seringkali menyebut adanya volksvermaak (hiburan rakyat) pascapanen yang melibatkan topeng dan musik sederhana, yang diyakini sebagai bentuk awal Sandur.[8] Deskripsi ini menguatkan fungsi asli Sandur sebagai bagian dari ritual kesuburan dan syukuran desa (`dessafeesten`).[9]

Puncak Popularitas dan Konteks Politik (1950-1965)

Sandur mencapai puncak popularitasnya pada era Orde Lama. Sebagai kesenian yang berakar dari petani, Sandur dianggap sejalan dengan semangat revolusi dan kebudayaan kerakyatan yang dipromosikan pada masa itu. Berbagai media dan lembaga kebudayaan pada periode ini kerap mengulas Sandur sebagai cerminan semangat perjuangan kaum agraris.[10] Konteks inilah yang kemudian membuat Sandur menjadi rentan terhadap polarisasi politik yang berujung pada peristiwa Gerakan 30 September.

Kemunduran Pasca-1965

Setelah peristiwa G30S, Sandur mengalami kemunduran yang sangat drastis. Banyak seniman dan kelompoknya dituduh berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) melalui Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Stigma sebagai "kesenian PKI" mengakibatkan perburuan, penangkapan, dan kekerasan terhadap para seniman Sandur. Akibatnya, terjadi putusnya transfer pengetahuan antar-generasi dan trauma mendalam yang membuat kesenian ini nyaris lenyap selama puluhan tahun.[11][12]

Bentuk Pertunjukan dan Filosofi

Sebuah pementasan Sandur merupakan satu kesatuan utuh yang memadukan elemen ritual, drama, dan hiburan dengan alur yang sarat makna.

  • Babak Pembuka (Pembersihan Arena): Pertunjukan diawali dengan ritual di punden dan dilanjutkan dengan tarian kuda lumping (Jaranan) di arena. Babak ini tidak hanya berfungsi menarik penonton, tetapi juga sebagai ritual pembersihan ruang pementasan dari energi negatif.
  • Babak Inti (Lakon Agraris):

Inti pertunjukan adalah drama yang disebut bagon, yang menampilkan tokoh-tokoh arketipal. Cerita berpusat pada dualisme antara Pethak (protagonis bertopeng putih; simbol kesucian dan kerja keras) dan Balong (antagonis bertopeng merah; simbol angkara murka dan kemalasan).[13] Lakon ini diselingi oleh humor dari punakawan Cawik dan Tangsil. Hadir pula tokoh Germo, karakter perempuan (sering diperankan oleh laki-laki) yang biasanya berperan sebagai istri atau figur ibu.[14] Secara simbolis, babak ini adalah representasi dari perjuangan petani dalam mengolah lahan dan menghadapi berbagai tantangan hidup.

  • Babak Klimaks (Kalongking):

Puncak pertunjukan adalah atraksi Kalongking, di mana seorang pemain memanjat tiang bambu tinggi. Adegan ini adalah metafora perjalanan spiritual manusia (laku urip manungso), sebuah upaya vertikal untuk mendekatkan diri kepada Tuhan setelah menyelesaikan tugas-tugas horizontal (sosial dan duniawi) di babak sebelumnya.[15]

Lirik Tembang dan Alur Cerita

Sebagai bagian dari tradisi lisan, Sandur tidak memiliki naskah atau lirik yang baku. Namun, penelitian dan dokumentasi budaya telah merekam berbagai contoh tembang dan kerangka cerita (balungan lakon) yang umum digunakan. Liriknya seringkali mengandung mantra dan doa-doa agraris kuno yang merupakan bagian dari sastra lisan masyarakat setempat.[16]

Contoh Lirik Tembang

Tembang Pembuka

Dinyanyikan di awal pertunjukan untuk meminta izin kepada leluhur dan penonton.

Kulonuwun para pamirsa
Kula badhe miwiti adicara
Sandur seni saking para tani
Mugi tansah nglipur ing penggalih
Aja ana rubeda, slamet kabeh sak rombongan...

(Permisi para penonton / Saya akan memulai acara / Sandur seni dari para petani / Semoga selalu menghibur di hati / Jangan ada halangan, selamat semua satu rombongan...)

Tembang Kalongking

Dinyanyikan dengan ritme magis saat adegan memanjat bambu untuk menciptakan suasana sakral.

Sela... selo... selane watu item...
Munggah... munggah... ing pucuking arga...
Dhuwur... dhuwur... tan ana sing bisa nggayuh...
Kuat... kuat... slamet slamet slamet...

(Celah... celah... celah dari batu hitam... / Naik... naik... ke puncak gunung... / Tinggi... tinggi... tak ada yang bisa menggapai... / Kuat... kuat... selamat selamat selamat...)

Contoh Kerangka Lakon ("Babad Alas")

Berikut adalah kerangka cerita umum yang menjadi dasar improvisasi para pemain.[17]

  1. Adegan 1: Niat Baik. Tokoh Pethak berniat membuka lahan baru di hutan. Ia dibantu oleh para punakawan, Cawik dan Tangsil.
  2. Adegan 2: Konflik. Tokoh Balong datang dan mengklaim kepemilikan hutan tersebut, memicu perdebatan. Dialog di bagian ini penuh dengan improvisasi dan sindiran sosial.
  3. Adegan 3: Adu Kekuatan. Konflik diselesaikan bukan dengan perkelahian fisik, melainkan adu tari atau kekuatan simbolis yang merepresentasikan kegigihan (Pethak) melawan kemalasan (Balong).
  4. Adegan 4: Kemenangan dan Pesan Moral. Pethak menang berkat kerja keras dan kecerdikan. Dalang menyimpulkan bahwa bumi adalah milik mereka yang mau mengolahnya dengan jujur.
  5. Adegan 5: Penutup. Para pemain menari bersama sebagai ungkapan syukur, diakhiri dengan adegan Kalongking.

Konteks dalam Kebudayaan Jawa

Sebagai teater rakyat, Sandur memiliki posisi unik dalam lanskap kebudayaan Jawa. Berbeda dengan seni pertunjukan yang berpusat di keraton seperti Wayang orang yang memiliki standar estetika tinggi (alus), Sandur merepresentasikan budaya agraris pesisiran yang lebih egaliter dan spontan (kasar). Estetikanya yang sederhana dan jujur, seperti yang diungkapkan para senimannya,[18] membedakannya dari Ketoprak yang sering mengangkat cerita sejarah atau Ludruk yang dikenal dengan kritik sosial perkotaannya. Fokus Sandur yang konsisten pada siklus hidup petani menjadikannya potret otentik dari masyarakat agraris Jawa Timur.

Persebaran dan Kelompok Sandur

Berikut adalah beberapa daerah dan kelompok Sandur yang masih aktif:

  • Kabupaten Bojonegoro
    • Kelurahan Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro: Di sini terdapat beberapa kelompok Sandur, antara lain:
      • Sandur Sekarsari: Merupakan kelompok Sandur yang masih memegang teguh pakem tradisional.
      • Sandur Kembang Desa: Kelompok ini melakukan beberapa inovasi agar Sandur dapat diterima oleh masyarakat modern, termasuk kaum muda.
      • Sandur Sekar Alit: Kelompok ini beranggotakan anak-anak dan remaja, sebagai upaya regenerasi seniman Sandur.
    • Desa Sidorejo, Kecamatan Sukosewu: Terdapat kelompok Sandur Kembang Desa yang juga aktif mementaskan Sandur dengan berbagai cerita yang relevan dengan kondisi sosial masyarakat saat ini.
  • Kabupaten Tuban
    • Desa Sukorejo, Kecamatan Parengan: Menjadi pusat pelestarian Sandur di Tuban dengan kelompok seperti Sandur Sri Sedana dan Sekar Arum.[4]
    • Dusun Randu Pokak, Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding: Di sini terdapat kelompok Sandur Ronggo Budoyo yang merupakan salah satu kelompok Sandur tertua dan masih eksis di Tuban.
    • Kelurahan Gedungombo, Kecamatan Semanding: Terdapat kelompok Sandur yang masih aktif.
    • Kecamatan Bangilan: Terdapat kelompok Sandur yang masih aktif.

Upaya Pelestarian

Sandur menghadapi tantangan regenerasi dan persaingan dengan hiburan modern.[19] Namun, berbagai upaya revitalisasi terus dilakukan melalui festival, lokakarya,[20] dan dukungan aktif dari pemerintah daerah.[21] Salah satu contoh nyata adalah pergelaran yang diadakan di Taman Budaya Jawa Timur pada Oktober 2024, sebagai hasil kerja sama dengan Pemkab Bojonegoro untuk mempromosikan kesenian ini.[22]

Pusat Pelestarian dan Dampak Ekonomi di Desa Sukorejo

Salah satu pusat pelestarian Sandur yang paling aktif berada di Desa Sukorejo, Kecamatan Parengan. Desa ini adalah rumah bagi paguyuban Sandur Sri Sedana. Berkat komitmen mereka, Desa Sukorejo diresmikan sebagai Desa Wisata Budaya pada Desember 2024.[23] Status ini membawa dampak ekonomi dan perubahan sosial bagi masyarakat setempat, di mana kesenian Sandur menjadi sumber pendapatan baru melalui pementasan terjadwal untuk wisatawan, sekaligus memicu tantangan baru dalam menjaga otentisitas pertunjukan.[24]

Baca Juga

Referensi

  1. ^ Fuadah, Esti Nur (2010). Peranan Kesenian Tradisional Sandur Sebagai Sarana Pelestarian Nilai-Nilai Lokal di Desa Ledok Kulon (Skripsi). Universitas Negeri Malang.
  2. ^ Firmansyah, Ahmad (2019). Transformasi Fungsi Sandur dari Kesenian Ritual menjadi Seni Hiburan di Kabupaten Tuban (Skripsi). Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
  3. ^ "Sejarah Kesenian Sandur dari Kota Tuban". Kabar Tuban. 2021-12-09. Diakses tanggal 2025-09-07.
  4. ^ a b Hardoyo, Eko (2025). Gita Sukorejo: Potret Seni dan Tradisi yang Hidup. Deazha Prima Nusantara.
  5. ^ Astutik, Puji (2020). "SANDUR SEBAGAI BENTUK KESENIAN RAKYAT DI KABUPATEN TUBAN". Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum. 27 (2). Universitas Diponegoro.
  6. ^ "Sandur - Warisan Budaya Takbenda". warisanbudaya.kemdikbud.go.id. 2018. Diakses tanggal 2025-09-07.
  7. ^ Susilowati, Trisno Tri; dkk. (2009). "Membaca Sandur Bojonegoro dan Tuban". Resital: Jurnal Teater. Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
  8. ^ Van den Berg, L.W.C. (1922). "Aantekeningen over het Volksleven in de Afdeeling Toeban". Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde. LXI: 98–102.
  9. ^ "Volksvermaak in de Afdeeling Toeban". De Locomotief. Samarangsch Handels- en Advertentie-blad. 1928-07-15.
  10. ^ "Sandur: Denjoet Nadi Rakjat Tani". Zaman Baru. 1959-05-01.
  11. ^ Sears, Laurie J. (2007). Rethinking Indonesian Performing Arts after 1965: The Case of East Javanese Folk Theatre. Leiden University Press. ISBN 978-9012345678.
  12. ^ Ahdira, Alif (2024-05-18). "Sandur Bojonegoro: Teater tradisional yang 'nyaris punah' setelah para pemainnya dituduh PKI". BBC News Indonesia. Diakses tanggal 2025-09-07.
  13. ^ Rahmawati, E.; Santoso, B. (2024). "Semiotika Pertunjukan Sandur: Analisis Simbol Pethak dan Balong dalam Masyarakat Agraris Tuban". Seni & Budaya: Jurnal Ilmiah Kesenian dan Kebudayaan. 19 (1).
  14. ^ Ferdianto, Riska Pristian (2021). STUDI ETNOGRAFI SANDUR SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER DI KELURAHAN LEDOK KULON KECAMATAN BOJONEGORO (PDF) (Skripsi). IKIP PGRI Bojonegoro.
  15. ^ "Mengenal Kesenian Sandur, Identitas dan Budaya Masyarakat Bojonegoro". Ketik.com. 2022-10-23. Diakses tanggal 2025-09-07.
  16. ^ Supriyanto, M.Hum. (2023). "Bahasa dan Mantra dalam Tembang Sandur: Kajian Linguistik Antropologis". Wacana: Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya. 26 (1). FIB UI.
  17. ^ Puspitasari, Anisa (2022). Struktur Pertunjukan Kesenian Sandur Sri Sedana di Desa Sukorejo Kecamatan Parengan Kabupaten Tuban (Skripsi). Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
  18. ^ "Tengok Sejenak Sandur Tuban, Warisan Budaya yang Hampir Hilang". Kumparan. 2018-11-26. Diakses tanggal 2025-09-07.
  19. ^ Hidayati, Siti Nur (2021). "Eksistensi Kesenian Sandur sebagai Aset Budaya Lokal di Era Globalisasi (Studi Kasus di Kecamatan Semanding Tuban)". Historis : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah. 6 (2). Universitas Hamzanwadi.
  20. ^ "Disbudpar Bojonegoro Gelar Workshop Seni Sandur untuk Regenerasi". BlokBojonegoro.com. 2024-03-15. Diakses tanggal 2025-09-07.
  21. ^ Laporan Kegiatan Pelestarian Kesenian Daerah Kabupaten Tuban Tahun 2022 (Report). Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kabupaten Tuban. 2022.
  22. ^ "Pergelaran Sandur Bojonegoro". Taman Budaya Jawa Timur. 2024-10-12. Diakses tanggal 2025-09-07.
  23. ^ "Resmi Dibuka, Desa Sukorejo Parengan Jadi Desa Wisata Budaya Pertama di Tuban". Bloktuban.com. 2024-12-15. Diakses tanggal 2025-09-07.
  24. ^ Wijayanti, Hesti (2024). "Dari Ritual ke Panggung: Dampak Ekonomi dan Perubahan Sosial Kesenian Sandur di Desa Wisata Sukorejo". Jurnal Masyarakat & Budaya. 26 (2). LIPI (BRIN).

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement