Punjul, Karangrejo, Tulungagung


Punjul
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Timur
KabupatenTulungagung
KecamatanKarangrejo
Kode Kemendagri35.04.08.2011 Suntingan nilai di Wikidata
Luas... km²
Jumlah penduduk4799 jiwa (2019)
Kepadatan... jiwa/km²
Peta
PetaKoordinat: 7°58′37″S 111°53′18″E / 7.97694°S 111.88833°E / -7.97694; 111.88833


Punjul adalah sebuah desa di Kecamatan Karangrejo, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia. Sejarah Desa Punjul dimulai dari tahun 1910 yakni sejak jaman penjajahan Belanda. Tidak banyak yang bisa menjelaskan tentang asal mula terbentuknya desa ini. Namun diketahui nama Punjul dahulu dikenal dengan nama Jebuk karena saat itu di wilayah ini banyak ditemukan pohon jebuk (sejenis pinang). Jebuk saat itu dipimpin oleh seorang uceng bernama Sumorejo. Wilayah Jebuk bergabung dengan wilayah besar yang kini menjadi Punjul. Dan Sumorejo diangkat menjadi demang. Jebuk dikenal dengan tanah yang luas dan subur. Wilayah ini merupakan sumber pangan, tempat bagi banyak orang untuk mencari kehidupan. Misalnya mencari kayu untuk dijual, pakan ternak, sehingga bisa dikatakan Jebuk memberi kehidupan bagi wilayah lainnya. Jebuk yang penuh dengan kelebihan (bahasa Jawa: punjul) senantiasa memberi “tulung” kepada masyarakat manapun yang singgah. Seiring berjalannya waktu nama Punjul justru yang dikenal banyak orang, dan nama Jebuk justru makin tak terdengar.[1]

A. Wilayah Dusun

  1. Genengan
  1. Punjul
  1. Tawang
  1. Ploso

B. Batas Wilayah

  • Utara: Desa Tulungrejo
  • Timur: Desa Sukorejo
  • Selatan: Desa Gedangan
  • Barat: Kec. Sendang

Lembaga Pendidikan Desa Punjul memiliki beberapa lembaga pendidikan formal dan non-formal. Lembaga pendidikan formal diantaranya adalah SDN Punjul 1 yang terletak di Dukuh Genengan, SDN Punjul 2 yang terletak di Dukuh Tawang, TK Dharma Wanita dan SDN Punjul 3 yang terletak di Dukuh Tumpuk, SDN Punjul 4 yang terletak di Dukuh Plapar, dan SMP-SMA Sunan Ampel yang terletak di Dukuh Bolu. Adapun lembaga pendidikan non-formal terdiri dari tingkat ula (dasar), diantaranya adalah TPQ Barokah al-Munawwir di Dusun Punjul, TPQ Al-Mannan di Dusun Genengan dan TPQ di Dusun Tawang. Sedangkan tingkat wustho (menengah) ada Madrasah Al-Ghozaliyah di Pon. Pes Bolu, Dukuh Bolu.[2]

Masjid As-Sholihin Kilas balik dari sejarah berdirinya Masjid As-Sholihin di Desa Punjul ini dibangun pada 1980 silam. Sebelumnya, pada masa tersebut, masyarakat sekitar masih banyak yang menganut kepercayaan abangan sehingga keberadaan Masjid As-Sholihin menjadi satu-satu masjid di wilayah tersebut. “Dulunya masyarakat sini kan abangan, jadi belum banyak yang kenal dengan agama dan masjid pun jarang. Hanya satu dulu yang ada di atas sana,” ungkapnya (Muhammad Shafwat Qalby. Pengurus Masjid)[3]

Pon.Pes Al-Ghozali Bolu Pondok Pesantren Al Ghazali bertempat di Dusun Bolu, Desa Punjul, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Tulungagung. Pondok pesantren ini merupakan salah satu pesantren tertua di wilayah Tulungagung. Didirikan oleh Romo K.H. Abdullah Faqih pada tahun 1885 M. Beliau merupakan putra Almh. Raden Ayu dan H. Ali yang masih merupakan kerabat dekat Pangeran Diponegoro. Perjuangan beliau diawali dengan melakukan pengajian tarekat bersama masyarakat sekitar. Seiring berjalannya waktu, pengajian tarekat tersebut dilaksanakan secara rutin sehingga lambat laun berkembang menjadi pondok pesantren. Pada tahun 1929 M beliau wafat dan kepemimpinan pesantren beralih kepada putra bungsunya, yaitu Romo K.H. Ghozali (1898-1979 M). Seperti halnya Sang Ayah, dalam kepemimpinannya, beliau memperlakukan para santri dengan penuh kasih sayang melebihi putra-putrinya sendiri. Beberapa perubahan yang berhasil dilakukan semasa kepemimpinan beliau adalah perubahan sistem pendidikan klasikal sebagaimana diterapkan di Pesantren Tebuireng semasa itu, penerapan administrasi, mengenalkan koperasi sebagai bentuk wirausaha santri, dan memperkenalkan ilmu-ilmu alat yang terdiri dari ilmu nahwu, shorof serta mengembangkan ilmu fiqih. Setelah Kyai Ghozali wafat, beliau digantikan oleh putra bungsunya, Romo KH. Muhsin Ghozali. Sampai saat ini beliau yang masih memimpin dan menjadi pengasuh Pesantren Al Ghazali. Pembaharuan-pembaharuan yang dilakukan di bawah kepemimpinannya adalah pengembangan metode pembelajaran Alfiyah Ibnu Malik, Ilmu Manthiq dan Ilmu Balaghoh dengan sistem kursus, serta mendirikan lembaga pendidikan formal, yakni pendidikan tingkat SMP dan SMA. Harapan ke depan, santri tidak hanya memiliki bekal ilmu agama tetapi juga berpadu dengan ilmu umum dan kemasyarakatan sesuai dengan zaman. Konsekuensi adanya pembaharuan tersebut, Pesantren Al Ghazali memberikan dua macam pelayanan pendidikan, yakni dengan menyelenggarakan pengajian Kitab Kuning Madrasah Diniyah dan menyediakan pendidikan formal SMP dan SMA. Sistematika pelaksanannya untuk pengajian kitab kuning diampu oleh Agus Faisol Amin, pengajaran Alfiyah ibnu Malik, manthiq dan balaghah langsung diampu oleh pengasuh pondok pesantren yaitu K.H. Muhsin Ghozali.[4]

Referensi

Pranala luar


Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement