Produksi beras di Indonesia

Wanita Jawa menanam padi di sebuah sawah dekat Prambanan, Yogyakarta

Produksi beras di Indonesia berpusat di beberapa provinsi di Sumatra, Jawa dan Sulawesi. Faktor produksi beras di Indonesia yaitu lahan sawah, curah hujan dan hama tanaman padi. Produksi beras di Indonesia menjadi tolok ukur ketahanan pangan di Indonesia dan stabilitas nasional. Pengaturan produksi beras di Indonesia dilakukan oleh Pemerintah Indonesia.

Wilayah produksi

Produksi beras di Indonesia berpusat di beberapa provinsi. Di Sumatra, produksi beras berpusat di Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. Di Jawa, produksi beras berpusat di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Provinsi lain yang juga menjadi pusat produksi beras di Indonesia adalah Sulawesi Selatan.[1]

Produktivitas

Pada tahun 2018, produksi beras di Indonesia sebanyak 37,90 juta ton. Jumlah tersebut dihasilkan dari produksi padi sebanyak 59,20 juta ton. Namun, pada tahun 2020, produksi beras di Indonesia mengalami penurunan menjadi 34,99 juta ton. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan produksi padi menjadi 54,65 juta ton. Faktor yang menyebabkan penurunan ini adalah pengurangan luas lahan panen dan produktivitas komoditas padi.[2]

Faktor produksi

Faktor produksi beras di Indonesia yang utama adalah sawah yang menggunakan irigasi. Produktivitas yang tinggi diperoleh pada sawah irigasi dengan jaminan ketersediaan air untuk penanaman padi lebih dari sekali dalam setahun. Faktor produksi lainnya adalah lahan sawah yang tidak memiliki irigasi. Produktivitasnya ditentukan oleh ketersediaan air hujan.

Sedangkan faktor produksi beras di Indonesia ditinjau dalam skala pulau adalah curah hujan dan kondisi lahan. Curah hujan yang tinggi menyebabkan banjir yang merusak padi. Sedangkan curah hujan yang rendah menyebabkan kekeringan. Faktor lain yang memengaruhi produksi beras di Indonesia adalah keberadaan hama tanaman padi.[3]

Peran penting

Ketersediaan pangan

Indonesia memiliki negara dengan tingkat populasi penduduk yang tinggi. Produksi beras di Indonesia dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk Indonesia. Pemusatan produksi beras di Indonesia dilakukan di wilayah dengan tingkat populasi penduduk yang tinggi, antara lain Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sumatera Utara.[1]

Produksi beras di Indonesia merupakan tolok ukur ketersediaan pangan Indonesia. Ini karena usaha tani padi berperan sebagai pekerjaan dan sumber pendapatan utama bagi para petani di Indonesia. Selain itu, beras juga merupakan komoditas politik di Indonesia yang mampu memengaruhi stabilitas nasional. Karena itu, Pemerintah Indonesia mengambil kewenangan falam mengatur urusan peningkatan produksi beras di Indonesia. Kewenangan ini bertujuan untuk mengendalikan stabilitas harga beras.[4]

Fluktuasi harga beras

Data historis harga beras per tahun sangat terbatas, terutama untuk periode awal kemerdekaan.

Tahun Harga Rata-Rata per Sak (50 kg) Keterangan/Sumber
1945 Rp 50 Sekitar Rp1/kg, awal kemerdekaan[5]
1965 Rp 125.000 Sekitar Rp2.500/kg, masa inflasi tinggi[6]
1970 Rp 17.000 Sekitar Rp340/kg, Orde Baru awal[7]
1980 Rp 25.000 Estimasi, harga stabil Orde Baru
1990 Rp 50.000 Estimasi, harga stabil Orde Baru
1998 Rp 140.000 Sekitar Rp2.800–3.400/kg, krisis moneter[8]
2000 Rp 100.000 Sekitar Rp2.000/kg, pasca-krisis
2010 Rp 250.000 Sekitar Rp5.000/kg, data BPS
2020 Rp 600.000 Sekitar Rp12.000/kg, data BPS
2024 Rp 900.000 Sekitar Rp18.000/kg, rekor tertinggi[9]
2025 Rp 690.000 Sekitar Rp13.800–Rp14.000/kg, harga rata-rata nasional[10]

Referensi

  1. ^ a b "Profil Komoditas Beras" (PDF). Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan. hlm. 13. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2022-06-26. Diakses tanggal 16 Juli 2022.
  2. ^ Analisis RKP dan Pembicaraan Pendahuluan APBN No. 02/an.PKA/PP/VI/2021: Tinjauan Kritis Produksi Padi Nasional (PDF). Pusat Kajian Anggaran, Badan Keahlian – Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. 2021. hlm. 1. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2022-07-16. Diakses tanggal 2022-07-16.
  3. ^ Wardani, C., dkk. (2019). "Kinerja Ketahanan Beras Di Indonesia: Komparasi Jawa Dan Luar Jawa Periode 2005-2017" (PDF). Jurnal Ketahanan Nasional. 25 (1): 17. ISSN 0853-9340. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  4. ^ Sanny, Lim (2010). "Analisis Produksi Beras di Indonesia" (PDF). Binus Business Review. 1 (1): 246.
  5. ^ Ardewa, Gerardo Viagta Orsa (2024-08-10). "Sejarah Ketergantungan Beras Masyarakat Indonesia: Bermula dari Soekarno". Historical Meaning. Diakses tanggal 2025-07-05.
  6. ^ Kompasiana.com (2020-03-20). "Bandung 1965, Rp 1000 Jadi Rp 1 dan "Panic Buying"". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-07-05.
  7. ^ Ardewa, Gerardo Viagta Orsa (2024-08-10). "Sejarah Ketergantungan Beras Masyarakat Indonesia: Bermula dari Soekarno". Historical Meaning. Diakses tanggal 2025-07-05.
  8. ^ "berapa harga beras dari tahun ke tahun sejak 1998-2020 - Brainly.co.id". brainly.co.id. 2020-08-20. Diakses tanggal 2025-07-05.
  9. ^ "Antre Beras dari Masa ke Masa". Kompaspedia. 2024-03-06. Diakses tanggal 2025-07-05.
  10. ^ Damiana. "Mendadak Badan Pangan Ingatkan Harga Beras Harus Segera Dijinakkan". CNBC Indonesia. Diakses tanggal 2025-07-05.

Lihat pula

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement