Pertempuran Rantai

Pertempuran rantai
Bagian dari Serangan umat Muslim terhadap Kekaisaran Sasaniyah

Peta yang menunjukkan lokasi Kazima, Uballa dan Hufeir di Kuwait dan Irak sekarang.
TanggalApril 629 AD[1]
LokasiKazima[2]
Hasil Kemenangan Kekhalifahan Rasyidin
Pihak terlibat
Kekhalifahan Rasyidin Kekaisaran Sasaniyah
Tokoh dan pemimpin
Khalid bin Walid
  • Hormozd  [3]
  • Qubaz
  • Anoshagan
Kekuatan
18,000 240,000 (sumber-sumber primer) 150-000-200,000 (estimasi modern)
Korban
Ringan Berat

Pertempuran Sallasil (bahasa Arab: معركة ذات السلاسل Dhat al-Salasil)[4] atau Pertempuran Rantai (Dzatu Salasil) adalah sebuah pertempuran antara Kekhalifahan Rasyidin melawan Kekaisaran Sasaniyah Persia pada April 629 (riwayat lain 633 M). Pertempurannya terjadi di Kazima (sekarang Kuwait) tidak lama setelah Perang Riddah usai. Pertempuran ini juga salah satu pertempuran yang dilakukan Kekhalifahan Rasyidin di mana pasukan umat muslim bertujuan untuk memperluas wilayah kekuasaannya.

Latar belakang

Mutsana bin Haritha asy-Shaybani adalah seorang kepala suku di Arabia Timur bagian utara, yang tinggal dekat dengan perbatasan Persia. Setelah perang riddah, Mutsana menyerbu kota-kota Persia di Mesopotamia. Penyerbuan itu berjalan sukses, dengan dirinya berhasil memperoleh sejumlah harta rampasan. Mutsana bin Haritsa pergi ke Madinah untuk menginformasikan Khalifah Abu Bakar tentang keberhasilannya, dan Abu Bakar menunjuknya sebagai komandan atas rakyatnya; setelah hal ini dia mulai melakukan penyerangan yang lebih dalam ke Mesopotamia. Dengan menggunakan mobilitas pasukan kavaleri ringan-nya, dia dapat dengan mudah menyerang kota manapun di dekat gurun dan menghilang lagi ke dalam gurun, membuat tentara Sasaniyah tidak mampu mengejarnya. Tindakan Mutsana menginspirasi Abu Bakar untuk mencaplok Mesopotamia dari Sasaniyah. Untuk memastikan kemenangan, Abu Bakar menetapkan dua langkah: tentaranya akan terdiri dari para sukarelawan, dan mereka akan dikomandoi oleh jenderal terbaiknya, Khalid bin Walid. Setelah mengalahkan Musailimah yang memproklamirkan diri sebagai nabi dalam Pertempuran Yamamah, Khalid masih berada di distrik Yamamah ketika Abu Bakar mengiriminya perintah untuk memerangi Kekaisaran Persia Sasaniyah. Menjadikan Al-Hirah (sebuah daerah di Mesopotamia) sebagai tujuan misi Khalid, Abu Bakar mengirim bala bantuan dan memerintahkan para kepala suku di timur laut Arabia yakni Mutsana bin Haritsa, Mazhur bin Adi, Harmalah dan Sulmah untuk beroperasi di bawah komando Khalid. Pada sekitar minggu ketiga bulan Maret 633 Masehi (minggu pertama Muharram 12 Hijriah) Khalid berangkat dari Yamama dengan pasukan yang terdiri dari 10.000 orang. Namun, sebelum melakukan hal itu, ia menulis surat kepada Hormozd (Hurmuz), gubernur Persia di distrik perbatasan Dast Meisan:[5]

Masuklah Islam dan kalian akan aman. Atau setuju untuk membayar Jizyah, dan anda dan orang-orang anda akan berada di bawah perlindungan kami, jika tidak, anda hanya akan menyalahkan diri anda sendiri atas konsekuensi-konsekuensi yang akan terjadi, karena saya membawa orang-orang yang menginginkan kematian sama berhasratnya dengan anda menginginkan kehidupan.[6]

Kepala-kepala suku dan prajurit-prajurit mereka (masing-masing 2.000 orang) bergabung dengan Khalid dalam misinya. Dengan demikian Khalid memasuki Kekaisaran Persia dengan 18.000 pasukan.[6] Komandan Persia memberitahu kaisarnya tentang ancaman dari Arabia dan memusatkan para tentaranya untuk pertempuran, yang terdiri dari sejumlah besar pasukan bantuan Arab Kristen.

Strategi Khalid

Tentara Sasaniyah adalah salah satu tentara yang paling kuat dan dilengkapi dengan perlengkapan terbaik pada masa itu, dan merupakan pasukan yang ideal untuk konfrontasi langsung. Satu-satunya kelemahan tentara Persia adalah kurangnya mobilitas: orang-orang Persia yang bersenjata berat tidak mampu bergerak cepat, dan setiap gerakan yang berkepanjangan akan melelahkan mereka. Di sisi lain, pasukan Khalid sangat lincah; mereka menunggang unta dengan kuda-kuda yang siap untuk serangan kavaleri. Strategi Khalid adalah menggunakan kecepatannya sendiri untuk mengeksploitasi kurangnya mobilitas pasukan Sasania. Dia berencana untuk memaksa pasukan Persia untuk bergerak ke sana ke mari sampai mereka kelelahan, dan kemudian melakukan penyerangan ketika pasukan Persia sudah kehabisan tenaga. Kondisi geografi membantu Khalid bin Walid melaksanakan strategi ini dengan sukses. Ada dua rute ke Uballa, melalui Kazima atau melalui Hufair, sehingga Khalid menulis surat kepada pemimpin Persia, Hormozd, dari Yamamah sehingga ia akan menduga Khalid akan tiba melalui rute langsung dari Yamama ke Kazima dan kemudian ke Uballa.[7]

Pertempuran

Menyangka Khalid bin al-Walid akan datang melalui Kazima, Hormozd bergerak dari Uballa ke Kazima. Namun di Kazima tidak ditemukan tanda-tanda tentara Muslim. Segera informasi diberikan oleh para pengintai bahwa Khalid bin Walid sedang bergerak menuju Hufeir. Dikarenakan Hufeir hanya berjarak 21 mil dari Uballa, hal ini membahayakan pangkalan Hormozd. Uballa yang merupakan pelabuhan penting Kekaisaran Sassaniyah, terletak di dekat kota Basrah modern. Hormozd segera memerintahkan pasukannya untuj berpindah ke Hufeir, yang berjarak 50 mil jauhnya. Khalid menunggu di Hufeir sampai para pengintai memberitahukan kepadanya tentang kedatangan Hormozd yang tergesa-gesa. Melewati padang pasir, Khalid bergerak menuju Kazima. Setibanya di Hufeir, Hormozd diberitahu tentang perjalanan Khalid menuju Kazima. Karena Hormozd tidak bisa menyerahkan rute Kazima kepada kaum Muslim, tentara Sassaniyah yang bersenjata berat sekali lagi diperintahkan untuk berangkat menuju Kazima. Orang-orang Persia tiba di Kazima dalam keadaan kelelahan.[7]

  Pasukan Rasyidin
  Pasukan Sasaniyah
Pergerakan pasukan Khalid bin Walid dan pasukan Sassaniyah sebelum pertempuran. Strategi Khalid adalah untuk menguras tenaga tentara Sassaniyah.

Hormozd dengan segera mengerahkan pasukan untuk berperang dalam formasi reguler dari pusat dan sayap. Para jenderal yang memimpin sisi sayapnya adalah Qubaz dan Anoshagan. Para prajurit mengikatkan diri mereka dengan rantai sebagai tanda kepada musuh bahwa mereka siap mati daripada lari dari medan pertempuran jika kalah. Hal ini mengurangi bahaya terobosan oleh kavaleri musuh, karena dengan orang-orang yang dihubungkan bersama dengan rantai, tidak mudah bagi kelompok kavaleri untuk merobohkan beberapa orang dan membuat celah untuk penetrasi. Karena tentara Sasaniyah diorganisir dan dilatih untuk pertempuran yang terencana, taktik ini memungkinkan mereka untuk berdiri seperti batu karang dalam menghadapi serangan musuh. Namun, rantai memiliki satu kelemahan utama: jika terjadi kekalahan, para prajurit tidak mampu menarik diri, karena rantai bertindak sebagai belenggu. Penggunaan rantai itulah yang memberi nama pertempuran ini.[8] Hormozd telah mengerahkan pasukannya tepat di depan tepi barat Kazima, menjaga agar kota itu tetap tertutup oleh penempatan pasukannya. Khalid mengerahkan pasukannya dengan padang pasir di belakang mereka, sehingga mereka bisa mundur ke sana jika kalah sementara pasukan Persia membelakangi sungai.

Khalid menunjuk Asim bin Amru dan Adi bin Hatim sebagai komandan sayap kanan dan kiri. Gaung perang berdentang. Hurmuz berteriak, “Satu lawan satu, dimana Khalid?!”[7]

Kiri Pergerakan Pasukan Khalid, Kanan Pergerakan Pasukan Hurmuz.

Khalid  maju keluar barisan menjawab tantangan  panglima musuh. Tiba-tiba suasana hening menyaksikan dua jawara berhadap-hadapan. Di belakang Hurmuz beberapa pasukan khusus ia tempatkan untuk menyerang dan mengepung Khalid ketika duel berlangsung. Mereka pun mulai bertarung dengan  pedang dan pelindung. Keduanya bertahan dengan kemampuan masing-masing. Hurmuz lalu menantang duel tanpa senjata, maka mereka pun bergulat.

Ketika sudah terdesak dan kalah, Hurmuz memanggil bantuan pasukan elite-nya untuk membunuh Khalid. Beberapa pasukan Persia telah mengelilingi Khalid yang masih bergelut dengan Hurmuz. Secepat kilat, seseorang  jagoan meluncur dari barisan Muslimin  untuk  memberikan bantuan. Qa’qa’ datang pada saat kritis. Ia seorang diri menjatuhkan pasukan khusus Persia satu per satu, sampai seluruhnya tersungkur. Khalid  mengumandangkan serangan  sehingga  majulah  seluruh Muslimin tumpah ruah menuju pasukan Persia yang bertahan dengan ikatan rantainya.[7]

Tentara Persia yang kelelahan tidak mampu bertahan lama dalam serangan yang dilancarkan oleh umat Muslim tersebut dan kaum Muslimin berhasil menembus garis depan Persia di banyak tempat. Merasa kalah, jenderal-jenderal Persia yang memimpin sisi sayap, Qubaz dan Anoshagan (Anushjan), memerintahkan penarikan mundur, yang menyebabkan penarikan mundur total. Sebagian besar orang Persia yang tidak dirantai berhasil melarikan diri, tetapi mereka yang dirantai bersama-sama tidak dapat bergerak cepat, dan ribuan dari mereka tewas dibunuh.[7]

Setelahnya

Setelah Pertempuran Rantai, Khalid mendapatkan rampasan perang sebanyak 1.000 unta[9] dan mengalahkan pasukan Persia dalam tiga pertempuran lainnya dan merebut sasarannya, yakni Al-Hirah.[5] Penaklukan pertama yang dilakukan umat Muslim atas Irak selesai dalam waktu empat bulan. Abu Bakar tidak memerintahkan Khalid untuk bergerak lebih dalam ke wilayah Sassaniyah, karena Sassaniyah telah menginstruksikan bala bantuan. Perintah Khalid saat ini adalah untuk berangkat untuk menguasai penduduk Persia di Hira. Setelah sembilan bulan, ia mengutus Khalid untuk memimpin penaklukan oleh kaum Muslim atas Suriah.

Referensi

  1. ^ Parvaneh Pourshariati, The Decline and Fall of the Sasanian Empire, (I.B. Tauris, 2011), 193.
  2. ^ "Chapter 19: The Battle of Chains". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-08-18. Diakses tanggal 2015-01-27.
  3. ^ Parvaneh Pourshariati, The Decline and Fall of the Sasanian Empire, 193.
  4. ^ Parvaneh Pourshariati, The Decline and Fall of the Sasanian Empire, 192.
  5. ^ a b Dzahabi, Imam (2017). Terjemah Siyar A'lam an-Nubala. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-270-8
  6. ^ a b Tabari: Vol. 2, p. 554.
  7. ^ a b c d e Grania, Abu Fatah (2008). Panglima Surga. Jakarta: Cicero Publishing. ISBN 9789791751285
  8. ^ Tabari: Vol. 3, p. 206.
  9. ^ Katsir, Ibnu (2012). Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement