Pertempuran Firaz
| Pertempuran Firaz | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari ekspansi Islam | |||||||
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
| Kekhalifahan Rasyidin |
Kekaisaran Sasaniyah Kekaisaran Bizantium | ||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
| Khalid bin Walid | Hormozd Jadhuyih[2] | ||||||
| Pasukan | |||||||
| Pasukan Rasyidin |
Pasukan Sasaniyah Pasukan Bizantium | ||||||
| Kekuatan | |||||||
| ~35.000[3][4] | 200.000–500.000 (sumber barat)[4] | ||||||
| Korban | |||||||
| Minimal (sumber sejarawan)[4] | 100.000 (sumber sejarawan)[4] | ||||||
Pertempuran Firaz (bahasa Arab: مَعْرَكَة الْفِرَاض) juga dikenal sebagai Pertempuran Firadh,[5] terjadi sekitar bulan Januari tahun 634 M atau Dzulqoidah 12 H, antara Kekhalifahan Rasyidin dan pasukan gabungan Kekaisaran Sasaniyah dan Kekaisaran Bizantium.[2] Pertempuran ini dimenangkan oleh Rasyidin, menjadi akhir dari invasi pertama Mesopotamia oleh Arab.
Pada akhir tahun 633, kaum Muslim menguasai lembah Eufrat. Di lembah ini, Firaz, di ujung terluar Kekaisaran Persia di perbatasan Suriah (Syam), masih memiliki garnisun Persia. Khalid memutuskan untuk mengusir pasukan Persia dari pos terdepan ini karena khawatir pasukan Persia akan melakukan invasi ulang yang terencana ke wilayah yang telah direbut. Ia berbaris ke Firaz dengan pasukan Muslim setelah Pertempuran Ainut Tamr dan tiba di sana pada minggu pertama bulan Desember 633. Firaz adalah perbatasan antara kekaisaran Persia dan Bizantium, dan garnisun Persia serta Bizantium ditempatkan di sana. Dalam menghadapi pasukan Muslim, garnisun Bizantium memutuskan untuk membantu garnisun Persia.[6]
Khalid memberi musuh pilihan untuk menyeberangi Sungai Eufrat. Segera setelah musuh menyeberangi Sungai Eufrat, Khalid memerintahkan pasukan Muslim untuk bergerak. Pasukan gabungan Persia dan Bizantium menguasai sungai di belakang mereka. Di Firaz, Khalid menerapkan taktik yang sama seperti yang ia terapkan di Mazar. Ketika barisan depan kedua pasukan terlibat dalam pertempuran, Khalid menempatkan musuhnya di kedua sisi dengan bantuan sayap belakangnya. Dengan gerakan cepat, pasukan Muslim bergegas menuju jembatan di sungai, dan berhasil mendudukinya. Dengan demikian, musuh tertahan dalam gerakan menjepit. Khalid memenangkan pertempuran.
Setelah pertempuran ini, Khalid berdiam di al-Firadh selama sepuluh hari, sambil menginstruksikan kepada pasukannya untuk kembali ke Heraat lima hari sebelum berakhirnya bulan Dzulhijjah. Kemudian ia memerintahkan 'Ashim bin Amru agar berjalan terlebih dahulu. Sementara Khalid memerintahkan Syajarah bin al-A'az agar berjalan di tengan. Khalid bergerak ke wilayah Suriah (Syam) untuk membantu Abu Ubaidah bin Jarrah menghadapi Bizantium.[6]
Sumber
- Kaegi, Walter E. (1995). Byzantium and the Early Islamic Conquests. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 0-521-41172-6.
- Muir, William (1891). The Caliphate Its Rise, Decline, and Fall (Edisi Digitized May 19, 2012). Religious Tract Society. hlm. 62. Diakses tanggal 18 October 2021.
- Tabari, Abu Jaafar, Mohammed bin Jarir, Tarikh ar Rusul wal Mulk, Volume II
- A.I. Akram, The Sword of Allah: Khalid bin al-Waleed, His Life and Campaigns Lahore, 1969
- Takirtakoglou, Konstantinos (2021). "The Battle of Firāḍ: The Day on Which Khālid b. al-Walīd Did [Not] Defeat Both Byzantines and Persians". Journal of Medieval Military History. 19: 1–20. ISBN 9781783275915.
- ^ Michael G. Morony, Iraq After the Muslim Conquest, (Gorgias Press, 2005), 225.[1]
- ^ a b Parvaneh Pourshariati, Decline and Fall of the Sasanian Empire:The Sasanian-Parthian Confederacy and the Arab Conquest of Iran, (I.B.Tauris, 2008), 201-202. [2]
- ^ Battle of firaz by Fredric p.miller
- ^ a b c d Abu Ja'far Muhammad ibn Jarir al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (History of the Prophets and Kings), Vol. I, p. 2027
- ^ Takirtakoglou, Konstantinos (2021), Rogers, Clifford J.; France, John; DeVries, Kelly (ed.), "The Battle of Firāḍ: The Day on Which Khālid b. al-Walīd Did [Not] Defeat Both Byzantines and Persians", Journal of Medieval Military History: Volume XIX, Boydell & Brewer, hlm. 1–20, ISBN 978-1-80010-228-6, diakses tanggal 2024-06-16
- ^ a b Katsir, Ibnu (2012). Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


