Perang Banten (1682–1683)

Perang Banten tahun 1682 atau bisa disebut juga sebagai Perang Saudara Banten atau orang Barat lebih mengenalnya sebagai Bantam war, adalah pertempuran saudara antara Sultan Ageng Tirtayasa melawan anaknya yang bernama Sultan Haji yang dibantu oleh VOC. Perang ini dilatarbelakangi oleh Sultan Haji yang ingin menjadi Sultan Banten setelah Sultan Ageng Tirtayasa.[1][2]

Perang Saudara Banten
Bagian dari Peperangan Tahta Banten

Pertempuran di Banten tahun 1682, oleh Jan Luyken[3]
Tanggal1682-1683
LokasiBanten & Jawa Barat
Hasil
  • Kemenangan Haji–VOC
Perubahan
wilayah
Kesultanan Banten menjadi wilayah bawahan VOC
Pihak terlibat
Sekutu Sultan Haji
Perusahaan Hindia Timur Belanda
Sekutu Sultan Tirtayasa
Kesultanan Banten
Tokoh dan pemimpin
Sultan Haji
Cornelis Speelman
Saint Martin
François Tack
Willem Caeff
Jacob de Roy
Sultan Ageng Tirtayasa (POW)
Pangeran Purbaya Menyerah
Yusuf Al-Makassari (POW)
Untung
Kekuatan
1.000+ pasukan[5][4] 4.000–5.000 pasukan

Latar belakang

Sultan Abulfath dikaruniai seorang anak pertama dengan nama Abdul Kohar, seperti yang dilakukan oleh para leluhurnya Sultan Abulfath mengangkat anak pertamanya sebagai Putra Mahkota para tanggal 16 Februari 1671 bersamaan dengan datangnya Syarif Mekkah yang isinya adalah pemberian gelar Abdul Kohar dengan gelar Sultan Abu'n Nasr Abdul Kohar.[1][6] Setelah mendapatkan gelar tersebut, Sultan Abulfath memberikan tugas kepada Abu'n Nasr untuk mengurus Banten dalam negeri, sedangkan urusan luar diatur oleh Sultan Abulfath. Setelah memberikan tugas kepada anaknya Sultan Abulfath pergi ke Keraton Tirtaya, sedangkan Abu'n Nasr tinggal di Surosowan, dan di tempat inilah(Tirtayasa) Sultan Abulfath disebut sebagai Sultan Ageng Tirtayasa.[1]

Awal konflik

Namun semakin hari Abu'n Nasr dapat dipengaruhi oleh VOC dan hidup layaknya seperti orang-orang VOC lainnya,[7][8] melihat anaknya yang demikian Sultan Ageng Tirtayasa menyuruh anaknya untuk pergi Haji dan belajar tentang Islam lebih dalam lagi. Selama ia pergi Haji, Putra Mahkota sementara diganti oleh anak Sultan Ageng Tirtayasa lainnya yang bernama Pangeran Purbaya. Namun ternyata tugas yang dilakukan oleh Pangeran Purbaya jauh lebih baik daripada Abu'n Nasr. Untuk itu Sultan Ageng Tirtayasa menunjuk Pangeran Purbaya sebagai penerus tahta Sultan Ageng Tirtayasa. [7]

Konflik menjadi memanas

Setelah pulangnya Abu'n Nasr dari Mekkah ia lebih dikenal sebagai nama panggilan Sultan Haji, saat Sultan Haji mengetahui bahwa Pangeran Purbaya memiki pengaruh yang banyak dibanding dirinya, terjadilah perselisihan antara Pangeran Purbaya dengan Sultan Haji, kesempatan ini dimanfaatkan oleh VOC untuk menguasai Banten. Sultan Haji menganggap seluruh rakyat Banten memusuhinya dirinya, dan menganggap orang-orang Belanda sebagai temannya.[7][4] Singkatnya hubungan mereka pun semakin dekat, ditunjukan pada tahun 1680 ia mengirimkan surat selamat atas diangkatnya Cornelis Speelman sebagai gubernur-jenderal baru di Batavia. Sebenarnya Sultan Ageng Tirtayasa memiliki misi untuk menyerang Batavia pada saat ia mempimpin, tetapi melihat anaknya yang demikian Sultan Ageng Tirtayasa menjadi marah dan bersedia untuk menyatukan seluruh Banten sebelum menyerang Batavia.[9]

Serangan Sultan Tirtayasa

Sebelum melakukan serangan ke Batavia, Sultan Ageng Tirtayasa memutuskan untuk terlebih dahulu menyatukan seluruh Banten, Yaitu menggantikan Sultan Haji.

Penyerbuan ke Surosowan

Pada tanggal 26-27 Februari 1681 Sultan Ageng Tirtayasa sendiri mempimpin penyerangan ke Keraton Surosowan untuk mengepung Sultan Haji, perlawanan pun dilakukan oleh para pengawal Surosowan melawan pasukan Sultan Ageng Tirtayasa, Akhirnya Surosowan dapat dikuasai oleh Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Haji pun melarikan diri dan meminta perlindungan kepada Jacob de Roy.[10][11][2]

Serangan Balik Haji–VOC

Melihat keadaan Surosowan yang sedemikian rusuh, Cornelis Speelman memerintahkan Saint-Martin dengan 2 kapal penuh pasukan untuk pergi menyerang Surosowan, namun mereka tidak dapat mendarat di Banten karena ramainya pasukan Banten disana. Mengetahui keadaan yang demikian Cornelis Speelman memerintah Kapten Francois Tack bersama Saint-Martin untuk menyerang dari Laut sedangkan dari darat dipimpin oleh Kapten Hartsinck dengan kekuatan 1,000 pasukan.

Pertempuran Surosowan

Hartsinck dengan 1,000 pasukannya menyerbu Tirtayasa lalu ke Surosowan dari arah Tangerang, sedangkan Tack dengan Saint-Martin menyerang ke Surosowan dari Laut, setelah melewati Pertempuran,Sultan Ageng Tirtayasa mundur kearah Tirtayasa dan akhirnya Surosowan pun dapat dikuasai oleh VOC.[5][12]

Pertempuran Tangerang-Angke

Pada saat yang sama Hartsinck menyerang Tangerang dan Angke, setelah mendapatkan pertempuran yang sangat sengit, akhirnya pasukan VOC dapat menguasai Tangeran dan Angke dengan bantuan Kapten Tack, Pasukan Banten mundur ke arah Tanara dan bertahan disana. Dengan ditaklukkannya Tangerang, Angke dan Surosowan, Sultan Ageng Tirtayasa hanya dapat bertahan di Tirtayasa dan Tanara saja.[5]

Kejatuhan Tirtayasa

Untuk mengakhiri perang ini VOC dan Sultan Haji berunding untuk mengepung Tirtayasa dari 2 arah Barat dan Timur, setelah sepakat Sultan Haji dan Kapten Tack menyerang dari Arah Barat, sedangkan Hartsinck dan Kapten Jonker menyerang dari arah Timur, Seluruh pasukan Banten dikerahkan untuk mempertahankan Tirtayasa. Namun, semakin lama pertempuran pasukan Banten banyak yang gugur, untuk merugikan pihak VOC, Sultan Ageng Tirtayasa membakar Keraton Tirtayasa agar saat VOC menduduki Tirtayasa, VOC tidak mendapatkan apapun di Keraton Tirtayasa.[13][14] Sultan Ageng Tirtayasa, Syeikh Yusuf, dan pembesar lainnya melarikan diri kearah Lebak dan Priangan untuk melakukan gerilya disana, sedangkan Pangeran Purbaya lari kearah Tangerang.[15]

Gerilya Pangeran Purbaya–Syeikh Yusuf

Sultan Ageng Tirtayasa dan pengawalnya bersembunyi di Lebak untuk menghindari kejaran pasukan VOC.[13]

Penangkapan Sultan Ageng Tirtayasa

Saat bersembunyi di hutan, Sultan Ageng Tirtayasa mendapatkan surat dari Sultan Haji untuk kembali ke Surosowan untuk hidup kembali dengan damai, tanpa rasa curiga sedikit pun Sultan Ageng Tirtayasa dengan para pengawalnya pergi ke Surosowan untuk menemui anaknya yaitu Sultan Haji, setelah tinggal lama di Surosowan, VOC memanfaatkan hal ini untuk menangkap Sultan Ageng Tirtayasa dan memenjarakannya di Batavia, hal inilah membuat Banten menjadi lemah dan dijadikan negara bawahan oleh VOC. [16][17]

Gerilya Pangeran Purbaya–Sheik Yusuf

Pangeran Purbaya, Syeikh Yusuf, dan pembesar lainnya memutuskan untuk bergerilya sambil pergi menuju Cirebon untuk meminta bantuan kepada raja Cirebon agar dapat membantu mereka membebaskan Sultan Ageng Tirtayasa. Rencana ini diketahui VOC, mendengar hal itu VOC mengirimkan van Happel ke Cirebon agar tidak ada kekhawatiran jika mereka bergabung dengan pasukan Jawa. Pasukan gerilya Banten ini berjumlah sekitar 4,000 hingga 5,000 pasukan.[18] Pangeran Purbaya melalui daerah Utara, sedangkan Syeikh Yusuf melewati daerah Priangan.[13]

Pertempuran Ciamis

Saat menuju Cirebon, Syeikh Yusuf menggunakan perahu kearah selatan, dan sampailah di sungai Citanduy, Disinilah Syeikh Yusuf mengadakan penyerangan terhadap VOC, awalnya Syeikh Yusuf dapat memenangkan pertempuran ini, namun serangan balik dilakukan VOC, Pangeran Kidul tewas ditangan VOC demikian pula dengan istri Syeikh Yusuf ditawan oleh VOC. Syeikh Yusuf bersama dengan pengawal lainnya berhasil meloloskan diri ke Sukapura dan melanjutkan perjalannya ke Cirebon. [19][20]

Penangkapan Syeikh Yusuf

Kedatangan Syeikh Yusuf, karya G.S. Smithard; J.S. Skelton

VOC kesulitan karena tidak pernah mendapatkan Syeikh Yusuf, akhirnya VOC memberikan hasukan kepada pendudu siapa saja yang dapat menangkap Syeikh Yusuf akan diberikan 1,000 ringgit.[21] mengatur rencana untuk menangkap Syeikh Yusuf, VOC menculik anak Syeikh Yusuf dan dibawa ke Sukapura, hal inilah dilakukan VOC agar Syeikh Yusuf dapat datang dan bertemu langsung dengan pemimpin VOC disana untuk berunding dan membebaskan anaknya, sesampainya disana Syeikh Yusuf ditangkap dan dibawa ke Cirebon, Batavia, Ceylon Belanda, lalu ke Afrika Selatan. [20][18][22]

Penyergapan di Cikalong

Untung Suropati sebagai pelayan Pieter Cnoll dan Cornelia van Nijenroode

Pangeran Purbaya bersama dengan 800 pasukannya melanjutkan perjuangannya di Cikalong. VOC yang saat itu berhasil membujuk Untung sebagai Kapten dari VOC menyuruh untuk menjemput Pangeran Purbaya, tetapi disisi lain VOC mengutus kan Vaandrig Willem Kuffeler untuk mengikuti Untung ke Cikalong. Disana mereka berunding, saat berunding Kuffeler menghina dan menjelekan Pangeran Purbaya. Untung yang merupakan satu rumpun dengan Pangeran Purbaya pun merasa terhina, Untung menyerang tenda Kuffeler pada malam hari dan berhasil membunuh 20 pasukan VOC, Untung pun kembali menjadi buronan VOC dan pergi ke Kartasura untuk bergabung dengan pasukan disana.[20][23][24][25][26][27]

Menyerahnya Pangeran Purbaya

Saat diperjalanan Pangeran Mohammad Saleh yang merupakan saudara Pangeran Purbaya pun ditangkap oleh VOC, Pangeran Purbaya merasa perjuangan dirinya sudah tidak ada artinya, Pangeran Purbaya memutuskan menyerah di Batavia, lalu dipenjarakan oleh di Batavia.[28][27]

Referensi

  1. ^ a b c Michrob, Halwany, A. Mudjahid Chudari 1989, hlm. 107.
  2. ^ a b Siti Maria Ulfah, hlm. 8.
  3. ^ [1]
  4. ^ a b c Aris Muzhiat 2022, hlm. 51.
  5. ^ a b c Michrob, Halwany, A. Mudjahid Chudari 1989, hlm. 111.
  6. ^ Hoesein Djajadiningrat 1983, hlm. 55.
  7. ^ a b c Michrob, Halwany, A. Mudjahid Chudari 1989, hlm. 108.
  8. ^ Tjandrasasmita 1967, hlm. 35.
  9. ^ Michrob, Halwany, A. Mudjahid Chudari 1989, hlm. 109.
  10. ^ Michrob, Halwany, A. Mudjahid Chudari 1989, hlm. 110-111.
  11. ^ Tjandrasasmita 1967, hlm. 41.
  12. ^ Siti Maria Ulfah, hlm. 9.
  13. ^ a b c Michrob, Halwany, A. Mudjahid Chudari 1989, hlm. 112.
  14. ^ Tjandrasasmita 1967, hlm. 44.
  15. ^ Siti Maria Ulfah, hlm. 10.
  16. ^ Michrob, Halwany, A. Mudjahid Chudari 1989, hlm. 112-113.
  17. ^ Tjandrasasmita 1967, hlm. 45-46.
  18. ^ a b Herni Indriani, hlm. 10.
  19. ^ Michrob, Halwany, A. Mudjahid Chudari 1989, hlm. 113.
  20. ^ a b c Michrob, Halwany, A. Mudjahid Chudari 1989, hlm. 114.
  21. ^ Nina Herlina 2004, hlm. 54-55.
  22. ^ Verelladevanka, Adryamarthanino (2022). Peran Syeikh Yusuf di Indonesia. Kompas.id.
  23. ^ Ratnawati Anhar 1984, hlm. 53.
  24. ^ Qur'anul, Hidayat (2023). Dendam Kesumat Belanda ke Untung Surapati, Seluruh Keturunannya Ditumpas Habis. Okezone.com.
  25. ^ Iswara N, Raditya (2018). Untung Surapati, Bekas Budak yang Mengawini Perempuan Belanda. tirto.id.
  26. ^ Siti, Fatimah (2024). Untung Suropari. jendelapuspita.com.
  27. ^ a b Herni Indriani, hlm. 11.
  28. ^ Michrob, Halwany, A. Mudjahid Chudari 1989, hlm. 115.

Sumber

  • Michrob, Halwany, A. Mudjahid Chudari, 1989, Catatan masa lalu Banten, Pengurus Daerah Tingkat II Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Serang.
  • Hoesein Djajadiningrat, 1983, Tinjauan kritis tentang sejarah Banten: sumbangan bagi pengenalan sifat-sifat penulisan sejarah Jawa, Djambatan
  • Nina Herlina Lubis, 2004, Banten dalam pergumulan sejarah: sultan, ulama, jawara, LP3ES, ISBN 979-3330-12-0
  • Herni Indriani, Strategi Sultan Ageng Tirtayasa dalam mempertahankan Kesultanan Banten, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
  • Uka Tjandrasasmita, 1967, Sultan Ageng Tirtajasa:Musuh besar kompeni Belanda, Nusalarang, Serang
  • Ny. Ratnawati Anhar. 1984. Untung Surapati. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan direktorat sejarah dan nilai tradisional proyek inventarisasi dan dokumentasi sejarah nasional Jakarta
  • Aris Muzhiat, 2022, Gerakan sosial masyarakat Banten abad XIX:Gejolak ekonomi, politik dan agama, 1808-1845, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement