Pemberontakan umat Buddhis

Pemberontakan umat Buddhis tahun 1966 (Vietnam: Nổi dậy Phật giáo 1966), atau lebih dikenal sebagai Krisis di Vietnam Tengah (Vietnam: Biến động Miền Trung), adalah periode kerusuhan sipil dan militer di Vietnam Selatan, yang sebagian besar berpusat di wilayah yang dikuasai oleh Korps I, Angkatan Darat Republik Vietnam. Wilayah ini merupakan pusat Buddhisme di Vietnam yang pada masa itu, para aktivis warga sipil dan biksu Buddhis berada di garis depan menentang serangkaian kebijakan junta militer yang memerintah negara tersebut, sekaligus mempersoalkan tentang eskalasi Perang Vietnam.

Diskriminasi terhadap mayoritas penduduk Buddhisme terhadap pemerintahan Ngô Đình Diệm yang beragama Katolik, mendorong pertumbuhan lembaga atau institusi Buddhis, agar dapat berpartisipasi dalam kancah politik nasional dan memperoleh perlakuan yang lebih baik. Setelah serangkaian peristiwa kudeta militer pascajatuhnya rezim Diệm tahun 1963, Nguyễn Cao Kỳ dan Nguyễn Văn Thiệu membentuk junta militer pada 1965, yang masing-masing menjabat sebagai Perdana Menteri dan Kepala Negara boneka. Pada awalnya, bentuk pemerintahan Kỳ-Thiệu mendekati sistem feodal, seperti gabungan aliansi panglima perang alih-alih sebuah negara. Setiap wilayah diperintah oleh Panglima Korps sebagai wilayah kekuasannya dan menyerahkan sebagian pajak yang mereka kumpulkan kepada pemerintah di Saigon dan menyimpan sisanya untuk mereka sendiri.[1] Pada masa itu, ketegangan dalam masyarakat Vietnam antara faksi Buddhis dan Katolik masih terus berlanjut.

Perebutan kekuasaan yang dikombinasikan dengan unsur keagamaan antara Nguyễn Cao Kỳ dan seorang panglima Korps I, Jenderal Nguyễn Chánh Thi, seorang penganut Buddhis yang populer di wilayah tersebut dan dilihat sebagai perwira cakap berkemauan keras, yang dianggap sebagai sebuah ancaman dalam pandangan Kỳ. Kỳ meyakini bahwa dirinya telah mendapat dukungan dari Amerika untuk melawan Thi, setelah menghadiri konferensi yang disebut dengan Deklarasi Honolulu pada Februari 1966.[1] Pada Maret 1966, Kỳ mencopot Thi dari jabatannya dan memerintahkannya untuk diasingkan ke Amerika Serikat dengan alasan yang dibuat-buat sebagai perawatan medis. Hal ini memicu protes yang meluas dikalangan warga sipil dan anggota pasukan Korps I terhadap rezim Kỳ dan menghentikan operasi militer terhadap Viet Cong. Sebelum keberangkatan Thi ke Amerika Serikat, Kỳ mengizinkan Thi kembali ke kesatuannya Korps I, tetapi kedatangan Thi ke daerah asalnya, semakin mengobarkan sentimen anti-Kỳ. Elemen masyarakat yang terdiri dari aktivis umat Buddhis, para pelajar dan loyalis Thi di kesatuan militer, bersatu membentuk "Gerakan Perjuangan" yang menyerukan untuk mengembalikan tampuk pemerintahan kepada warga sipil dan mendesak diselenggarakannya pemilihan umum. Sementara itu, gelombang aksi protes dan pemogokan, melumpuhkan aktivitas warga sipil. Stasiun-stasiun radio pemerintah diambil alih, lalu digunakan untuk kampanye anti-Kỳ dan operasi-operasi militer dihentikan. Kerusuhan juga menyebar hingga ke ibu kota Saigon dan kota-kota lain di selatan.

Awal April 1966, Kỳ menyatakan bahwa pusat utama Korps I yang berada di kota Da Nang, berada dalam kendali komunis dan menyatakan secara terbuka akan membunuh wali kotanya, yang telah menyatakan dukungannya terhadap Gerakan Perjuangan. Kỳ menggerakkan kekuatan militer ke kota tersebut dan berangkat ke sana untuk mempersiapkan serangan, tetapi terpaksa mundur dan mulai berdialog dengan para pemimpin umat Buddhis, karena jelas ia tidak memiliki cukup kekuatan untuk mengalahkan oposisi. Sementara itu, untuk menegaskan upayanya dalam memperoleh kembali kendali, ia mencopot panglima pengganti Thi, Nguyễn Văn Chuân dan menunjuk Tôn Thất Đính sebagai penggantinya. Kemudian Đính menyatakan bahwa ia telah meredakan situasi, tetapi Kỳ menganggap bahwa pernyataan tersebut untuk menyenangkan dirinya dan bulan berikutnya, pada Mei 1966 ia mengambil alih kendali dan mencopot Đính dari posisinya. Pada bulan-bulan sebelumnya, kekuatan Amerika juga terlibat dalam kebuntuan tersebut dan Gerakan Perjuangan memandang bahwa keterlibatan Amerika sebagai sikap bias terhadap Kỳ yang mengarah kepada ketegangan konfrontasi.

Menjelang akhir Mei 1966, Kỳ mulai memaksakan kekuatannya terhadap masalah tersebut dan melemahkan Gerakan Perjuangan secara bertahap sebagaimana pemberontak Korps I yang juga melemah, meskipun terdapat beberapa keberatan dari pihak Amerika yang menyatakan bahwa serangan-serangan agresif Kỳ berpotensi menyebabkan kerusakan kolateral. Pada satu tahap, pasukan Kỳ berakhir dalam sebuah pertempuran kecil dengan pasukan Amerika, dan pihak Amerika berada di tengah-tengah kebuntuan antara faksi-faksi Vietnam. Ketika pasukan Kỳ mengambil alih Da Nang dan Huế dalam pertempuran jalanan, para pendukung Gerakan Perjuangan melihat intervensi Amerika terhadap masalah ini sebagai pihak yang mendukung Kỳ hingga timbulnya sikap anti-Amerika. Kerusuhan anti-Amerika mengakibatkan sejumlah bangunan Amerika dibakar. Kemenangan Kỳ mengakhiri pengaruh gerakan Buddhisme dalam politik dan menjadikan pemimpinnya Thích Trí Quang sebagai tahanan rumah, sementara itu, Thi berangkat ke Amerika Serikat.

Latar belakang

Gerakan aktivis Buddhisme di Vietnam Selatan muncul sebagai hasil dari pemerintahan Presiden Ngô Đình Diệm, yang berkuasa di negara tersebut sejak 1955 hingga 1963.[2]

Pemerintahan Diệm yang memerintah dengan bias agama yang kuat di negara dengan mayoritas penduduk penganut Buddhisme, yang diperkirakan berjumlah antara 70 hingga 90 persen.[3][4][5][6][7] Sebagai minoritas Katolik Vietnam, Diệm mengikuti kebijakan pro-Katolik yang menimbulkan kebencian masyarakat Buddhisme, karena sikap bias pemerintah terhadap umat Katolik dalam hal pelayanan publik, promosi militer, alokasi tanah, bantuan usaha hingga keringanan pajak.[8] Banyak perwira-perwira militer yang berpindah agama karena hal ini.[9] Selain itu, distribusi senjata api ke desa-desa bagi milisi pertahanan diri yang bertujuan untuk menghalau gerilyawan Viet Cong, hanya diberikan kepada milisi Katolik.[10] Beberapa pendeta Katolik, bahkan memiliki pasukan bersenjata pribadinya sendiri.[11] Sejumlah desa penganut Buddhisme, berpindah agama secara massal untuk menerima bantuan atau terhindar dari penggusuran paksa oleh rezim Diệm.[12]

Gereja Katolik adalah pemilik tanah terbesar di negara tersebut. Rezim Diệm tidak mencabut kebijakan otoritas kolonial Prancis yang memberlakukan status "swasta" kepada penganut Buddhisme, yang memerlukan izin resmi untuk menyelenggarakan aktivitas atau kegiatan keagamaan publik dan membatasi pendirian tempat-tempat ibadah.[13] Lebih lanjut, di bawah program reformasi tanah, Gereja Katolik dibebaskan dari redistribusi dan memperoleh pengecualian khusus dalam perolehan properti.[14] Pemerintah juga tidak secara proporsional mengalokasikan dana ke desa-desa mayoritas Katolik dan penganutnya secara de facto dibebaskan dari kerja rodi yang diberlakukan kepada seluruh warga negara.[15]

Pada 8 Mei 1963, para pejabat pemerintahan rezim Diệm, melarang pengibaran bendera umat Buddhis pada hari raya Waisak untuk memperingati Sang Buddha. Hal ini mengakibatkan kemarahan umat, dengan alasan karena bendera Vatikan telah dikibarkan seminggu sebelumnya untuk memperingati perayaan kerabat Diệm, Uskup Ngô Đình Thục.[16][17] Pada hari yang sama, di kota Huế sekelompok umat Buddhis melancarkan aksi protes terhadap pelarangan ini. Polisi dan tentara melepaskan tembakan dan granat kepada para pengunjuk rasa, yang mengakibatkan sembilan orang tewas.[18][19]

Diệm menyangkal untuk bertanggung jawab atas insiden tersebut, ia menyalahkan komunis Viet Cong atas peristiwa yang terjadi. Hal ini mengakibatkan ketidakpuasan di kalangan umat Buddhis dan memicu gerakan protes terhadap diskriminasi agama dalam pemerintahan Diệm yang didominasi Katolik Roma. Perselisihan tersebut dikenal dengan Krisis Buddhis yang memancing pembangkangan sipil secara luas dalam skala besar, bertujuan untuk mencabut Dekrit Nomor 10, agar memperoleh kesetaraan agama.[20][21] Namun, di tengah kebuntuan yang terus berlanjut, Lê Quang Tung dari Pasukan Pertahanan Khusus Republik Vietnam yang loyal terhadap kerabat Diệm, seorang penasihat utama, Ngô Đình Nhu, menyerbu tempat-tempat ibadah Buddhis di seluruh negeri, yang diperkirakan menewaskan ratusan umat dan Biksu Buddhis serta menangkap ribuan lainnya. Setelahnya, pemerintah Amerika berbalik melawan Diệm dan diam-diam mendorong terjadinya kudeta. Pada 1 November 1963, Diệm digulingkan dari pemerintahan, lalu Diệm dan Nhu terbunuh keesokan harinya.[22]

Selama 18 bulan setelah era Diệm, Vietnam Selatan mengalami periode ketidakstabilan negara secara terus menerus, karena banyak terjadinya kudeta dan pemberontakan-pemberontakan yang gagal.[23] Selain persaingan individu di antara para perwira senior, pertikaian juga dipicu oleh konflik internal karena tekanan-tekanan dari gerakan keagamaan. Umat Buddhis melakukan dialog dan lobi untuk menghapus kebijakan-kebijakan Diệm yang pro-Katolik. Di sisi lain, umat Katolik yang hak-hak istimewanya dikurangi pasca-pemerintahan Diệm, menuduh rezim Nguyễn Khánh mempersekusi mereka atas nama umat Buddhis. Selama periode tersebut, kerusuhan-kerusuhan agama terus berlangsung di negara tersebut.[24][25]

Pada September 1964, Jenderal Katolik Lâm Văn Phát dan Dương Văn Đức berupaya menggulingkan Khánh, setelah keduanya dicopot dari jabatannya karena pengaruh dan tekanan umat Buddhis, tetapi upaya kudeta tersebut gagal.[26][27] Pada Februari 1965, Phát kembali melakukan upaya kudeta dengan bantuan sesama perwira Katolik Phạm Ngọc Thảo, yang secara terbuka menyerukan ingatan tentang Diệm. Upaya kudeta kedua ini juga gagal hingga akhirnya Phát dan Thảo melarikan diri. Namun, ketidakmampuan Khánh dalam mengamankan kemenangannya, membuatnya berada dalam pengasingan.[28] Pada pertengahan tahun 1965, Nguyễn Cao Kỳ dan Nguyễn Văn Thiệu mengambil alih kekuasaan, masing-masing sebagai Perdana Menteri dan Kepala Negara boneka.[23]

Karena sifat politik di Vietnam terpecah-pecah pasca-era Diệm, tidak ada perwira yang dapat memerintah dengan tegas tanpa mempertimbangkan pendapat pihak lainnya.[23] Para Jenderal yang memimpin empat Korps di Vietnam Selatan, berwenang mengawasi wilayah-wilayah geografis dan diberi kewenangan serta kekuasaan yang luas. Mereka tampak seperti panglima perang di wilayah masing-masing, karena tidak adanya pemerintahan sipil dan dengan senang hati adanya pengaturan federasi seperti ini. Perdana Menteri Kỳ dapat diterima oleh pihak Amerika dan akan memberikan bantuan militer Amerika kepada para panglima sekaligus memberikan otonomi regional yang substansial kepada mereka.[23]

Meskipun pemerintahan Kỳ dan Thiệu terkendali, ketegangan mengenai isu terkait agama masih tetap ada. Setelah satu bulan berjalan, pemimpin umat Buddhis, Thích Trí Quang, menyerukan agar Kepala Negara Thiệu dicopot, karena ia merupakan anggota partai Katolik Cần Lao yang dipimpin oleh Diệm yang mengecam "kecenderungan fasis"[29] dan menyatakan bahwa anggota Partai Cần Lao sedang melemahkan Perdana Menteri Kỳ.[29] Bagi Quang, Thiệu merupakan simbol dominasi Katolik era pemerintahan Diệm, ketika kemajuan didasarkan pada keagamaan. Quang menginginkan Jenderal Thi yang pro-Buddhis sebagai pemimpin negara dan mengecam Thiệu atas dugaan kejahatan masa lalunya terhadap umat Buddhis.[30] Quang juga menyatakan bahwa "Thi adalah seorang Buddhis, tetapi tidak terlalu perduli dengan agama."[31]

Para aktivis Buddhis ingin mengakhiri perang melalui penyelesaian negosiasi dengan pihak komunis dan kepergian pihak Amerika.[23] Hal ini menempatkan mereka dalam perselisihan dengan para jenderal yang pro-perang dan pro-Amerika. Jelas bahwa umat Buddhis akan melakukan semacam protes terhadap Kỳ dan Thiệu. Perdana Menteri memandang bahwa para aktivis Buddhis tersebut sebagai pengkhianat dan menganggapnya sebagai sebuah kesempatan untuk mematahkan pengaruh mereka.[23]

Rivalitas Nguyễn Cao Kỳ dan Nguyễn Chánh Thi

Dalam lingkungan pemerintahan Vietnam Selatan, Jenderal Nguyễn Chánh Thi adalah seorang penganut Buddhis dan seorang panglima yang dipandang berkompeten. Ia dianggap sebagai ancaman oleh Perdana Menteri Kỳ.[23] Banyak pengamat politik di Saigon yang berpikir bahwa Thi ingin menggulingkan Kỳ dan menganggapnya sebagai ancaman terbesar bagi para perwira lainnya termasuk ancaman stabilitas junta.[32] Menurut memoar Kỳ, Thi merupakan "pelaku intrik yang terlahir" memiliki "kecenderungan sayap-kiri".[23] Majalah Time edisi Februari 1966, mengeklaim bahwa Thi lebih dinamis ketimbang Kỳ dan dapat merebut kekuasaan kapan saja.[33] Sejarawan Robert Topmiller berpikir bahwa Kỳ mungkin saja membaca artikel tersebut dan menganggapnya sebagai suatu ketidakstabilan, sehingga ia memutuskan untuk bergerak melawan Thi.[33]

Thi yang berasal dari Vietnam Tengah,[34] adalah Panglima Korps I, yang mengawasi lima provinsi paling utara di Vietnam Selatan dan Divisi ke-1 serta Divisi ke-2 Angkatan Darat Republik Vietnam.[34] Thi dikenal memiliki loyalitas yang "mengakar" dari para prajuritnya.[23] Sebagian besar anggota pasukan militer di Vietnam Selatan adalah milisi-milisi Regional (garda sipil) dan Pasukan Populer (korps bela diri) yang bertugas di daerah asli mereka masing-masing dan menyukai seorang panglima dengan hubungan kedekatan yang bersifat kedaerahan.[23] Dukungan dari umat Buddhis dan pasukan-pasukan regionalnya, memberikan Thi basis kekuatan yang kuat dan menjadi sulit bagi perwira-perwira lain dan pihak Amerika untuk bergerak melawannya.[23]

Thi adalah anggota senior dari sepuluh orang perwira dalam pemerintahan junta yang menentang para aktivis Buddhis. Thi bertindak sebagai penyeimbang dan memenuhi kebutuhan umat Buddhis, menginginkan agar ia dipandang sebagai seorang teman. Thi mengizinkan para mahasiswa untuk menerbitkan majalah yang sangat kritis terhadap pemerintahan militer.[34] Thi juga menempatkan bawahan yang sangat ia percaya, untuk menjabat sebagai Kepala Polisi Nasional yang meningkatkan kekuatan politiknya.[32] Sejarawan Stanley Karnow berkata tentang Thi dan Kỳ, bahwa "Keduanya berkarakter flamboyan yang mengenakan seragam mencolok, dengan kumis yang sinis, kedua perwira muda tersebut juga berteman dan persaingan di antara mereka sepertinya menggambarkan perebutan kekuasaan pribadi kronis yang melanda Vietnam Selatan. Namun, perselisihan keduanya mencerminkan lebih dari ambisi individu."[35] Keduanya juga dikenal karena baret merah mereka yang penuh warna.[36]

Terdapat laporan yang menunjukkan sikap pembangkangan Thi terhadap Kỳ. Panglima militer Amerika di Vietnam, William Westmoreland mengatakan bahwa Thi pernah menolak melapor kepada Kỳ di Saigon ketika diminta.[33] Dalam suatu kesempatan pada awal Maret, Kỳ berkunjung ke Korps I untuk melakukan protes kepada Thi dan Thi berkomentar kepada para stafnya, bertanya dengan nada mengejek "Haruskah kita peduli dengan pria kecil yang lucu dari Saigon ini atau haruskah kita mengabaikannya?"[32] Komentar Thi yang agak keras, masih dalam jangkauan pendengaran Kỳ. Politikus Vietnam, Bùi Diễm, berpikir bahwa Perdana Menteri menanggap komentar Thi sebagai tantangan langsung terhadap otoritasnya.[33] Banyak surat kabar di Vietnam yang kritis terhadap pemerintah saat itu, secara rutin diberedel, sehingga informasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Banyak pemimpin-pemimpin politik yang secara salah memperkirakan bahwa pihak Amerika akan sejalan. Mereka kerap menyalahartikan laporan-laporan negatif media Amerika, sebagai pernyataan resmi Washington, sehingga mendorong terjadinya kudeta.

Majalah Time memuat pernyataan bahwa, Thi "menjalankannya [Korps I] sebagaimana panglima perang masa lampau, menaati perintah pusat yang cocok dengannya dan dengan senang hati mengabaikan sisanya".[32] Sejarawan George McTurnan Kahin menyatakan, Kỳ mungkin saja takut bahwa Thi akan memisahkan diri dari Saigon dan membuat Vietnam Tengah menjadi negara merdeka. Analis CIA, Douglas Pike yang bekerja di Vietnam, berspekulasi bahwa ini akan menjadi bagian yang besar dari pemikiran Kỳ, karena masyarakat Vietnam kerap memiliki kecenderungan yang kuat terhadap kedaerahan.[33] Pada Februari 1966, Kỳ menghadiri konferensi yang disebut dengan Deklarasi Honolulu di Amerika Serikat, ketika Presiden Lyndon B. Johnson berulang kali memujinya sebagai pemimpin yang kuat.[37] Ego Kỳ semakin meningkat karena pujian tersebut dan sepulangnya dari sana, ia berkeyakinan bahwa pihak Amerika akan mendukungnya apabila ia mencopot Thi dari jabatannya.[37]

Pemecatan Nguyễn Chánh Thi

Kỳ menghimpun dukungan voting atas pemecatan Thi oleh delapan dari sepuluh jenderal junta militer, yang berarti bahwa termasuk dirinya, terdapat sembilan perwira yang mendukung.[34] Hanya karena Thi satu-satunya non-pendukung, Kỳ dan sejawatnya mencopot Thi dari junta militer dan komando korps pada 10 Maret 1966.[36] Kỳ membuat ancaman bahwa ia akan mengundurkan diri apabila keputusan tersebut bukan merupakan suara bulat, dengan menyatakan bahwa junta perlu menunjukkan kekuatan, sehingga Thi memutuskan voting untuk pemecatan dirinya sendiri.[38]

Dalam pertemuan tersebut, Thi menyatakan bahwa ia mengetahui para jenderal lainnya tidak mendukung dirinya. Kemudian Thi membuat mereka kesal dengan mengecam komitmen mereka terhadap negara. Thi mengatakan bahwa penduduk tidak akan pernah mendukung upaya perang para jenderal, selama mereka hidup dengan nyaman.[38] Junta menempatkan Thi sebagai tahanan rumah sambil menunggu keberangkatan atas pengasingannya, kemudian menunjuk bawahan Thi, mantan panglima Divisi ke-1, Nguyễn Văn Chuân, sebagai panglima Korps I yang baru,[38] kemudian pos panglima Divisi ke-1 digantikan oleh Phan Xuân Nhuận.[39]

Pada awalnya, Kỳ mengatakan bahwa Thi berangkat ke luar negeri untuk menjalani perawatan medis terkait masalah saluran penapasan.[36] Dalam sebuah pengumuman resmi, dikatakan bahwa Junta "telah menerima permohonan Thi untuk berlibur".[40] Thi menjawab pengumuman tersebut dengan mengatakan "satu-satunya sinus yang saya miliki adalah aroma korupsi."[36] Kỳ mengungkapkan alasannya mengapa ia memberhentikan Thi dari jabatannya, karena ia menuduh Thi terlalu sayap-kiri, memerintah wilayah-wilayah tengah seperti panglima perang, memiliki istri simpanan yang dicurigai sebagai komunis dan terlalu konspiratif.[41] Namun, Kỳ tidak mengatakan bahwa Thi mendukung upaya negosiasi, sebagai cara agar perang dapat berakhir, tetapi ia memiliki rekam jejak dalam menyingkirkan para pejabat dan tokoh militer yang mempromosikan kebijakan semacam itu.[41]

Walaupun Thi memiliki hubungan yang baik dengan umat Buddhis di wilayahnya, terutama dengan pemuka aktivis, Biksu Thích Trí Quang, yang menurut sebuah laporan mengenai pemecatan Thi yang dilakukan oleh Kỳ, didukung pula oleh Quang. Apabila Kỳ mengira bahwa Quang tidak mengorganisasi aksi unjuk rasa terhadap pemecatan Thi, pada kenyataannya, perkiraan Kỳ adalah salah, sebagaimana Quang memanfaatkan krisis tersebut untuk menyoroti seruan umat Buddhis agar terbentuknya pemerintahan sipil.[40] Terdapat klaim bahwa Quang selalu berniat untuk menantang Kỳ, terlepas Thi telah disingkirkan atau tidak.[42]

Rezim Kỳ-Thiệu didukung oleh Amerika melalui Jenderal Westmoreland, Duta Besar Amerika, Henry Cabot Lodge Jr. dan Menteri Pertahanan, Robert McNamara dalam perang melawan komunis. Pihak Amerika menentang Thi yang dianggap tidak cukup tegas dalam menghadapi komunisme.[23] Pihak Amerika ingin agar Thi mendapatkan kemudahan untuk keluar dari koridor kekuasaan di Vietnam Selatan, dengan menawarkan kehidupan masa depan di Amerika dan fasilitas pendidikan bagi anak-anaknya.[23] Di sisi lain, Thi didukung oleh marinir laut Lewis W. Walt, seorang panglima yang memimpin pasukan Amerika di Korps I, juga sebagai penasihat senior Thi di Angkatan Darat Republik Vietnam.[23] Ia sangat menghargai kemampuan Thi sebagai seorang perwira.[23]

Pemecatan Thi mengakibatkan aksi unjuk rasa yang meluas di provinsi-provinsi utara.[36] Pada awalnya, unjuk rasa pro-Buddhis di Korps I dan Saigon berjalan tertib. Namun, seiring berjalannya waktu, demonstrasi tersebut memicu kerusuhan dari kelas pekerja, prajurit militer yang tidak puas, hingga pegawai negeri sipil yang merasa kecewa terkait masalah ekonomi, lalu mereka bergabung dengan para demonstran anti-pemerintah.[40] Kỳ mencoba untuk mengabaikan aksi unjuk rasa tersebut dan menunggu hingga aksi mereda serta mengabaikan para demonstran, agar "tidak ada martir".[40] Thi sangat populer di kalangan umat Buddhis di kota Huế. Mogok massal telah melumpuhkan 90% aktivitas masyarakat di kota Da Nang.[36] Terdapat sekitar 10,000 orang yang menghadiri rapat umum Buddhis di Saigon yang menyerukan agar diselenggarakannya pemilihan umum dan menuntut adanya pemerintahan sipil. Para Biksu menggunakan alasan pemecatan Thi sebagai fokus perhatian pada pemerintahan junta.[43]

Pada pertengahan hingga akhir Maret 1966, Kỳ memimpin upaya-upaya untuk meredam ketidakpuasan masyarakat melalui dialog dan pertemuan dengan para pemimpin Buddhis, lalu menjanjikan akan diselenggarakannya pemilihan umum dan reformasi sosial. Namun, ia juga memperingatkan bahwa aksi demonstrasi akan tetap ditekan.[43] Duta Besar Lodge bertemu dengan Quang untuk memperingatkannya tentang pengambilan tindakan yang agresif, yang menunjukkan sikap kekhawatiran Amerika terhadap situasi tersebut.[43] Meskipun Quang menuduh Kỳ "terlibat dalam kultus individu",[43] sebagian besar spanduk umat Buddhis memfokuskan kritik mereka terhadap Kepala Negara Thiệu yang beragama Katolik.[43]

Kemudian, Kỳ mengizinkan Thi untuk kembali ke Da Nang pada 16 Maret, seolah-olah untuk memulihkan ketertiban.[44] Kỳ menyatakan bahwa ia mengizinkan Thi kembali ke daerah lamanya sebagai isyarat niat baik, untuk menjaga agar Vietnam Tengah berada dalam situasi yang kondusif dan berjanji akan melakukan kunjungan perpisahan terhadap Thi sebelum ia berangkat ke pengasingan.[44] Karena popularitas Thi, isyarat yang disampaikan Kỳ dianggap sebagai pertaruhan politik. Bagaimanapun, Thi berpidato yang bernada ironi, penuh dengan rujukan-rujukan sarkasme tentang keperluannya untuk berangkat ke Amerika Serikat dalam rangka pengobatan.[44]

Keesokan harinya, Thi pergi ke bekas ibu kota Kekaisaran, Kota Huế untuk menghadapi kerumuman para pendukungnya yang berjumlah sekitar 20,000 orang.[34] Jurnalis The New York Times, Neil Sheehan, mengatakan bahwa aksi massa menampilkan tulisan "tidak diragukan lagi bahwa penguasa junta Saigon sedang berada dalam masalah".[44] Thi berkata kepada massa yang berkerumun, "pikirkan tentang negara kita, bukan tentang saya".[36] Thi juga berkata kepada seorang jurnalis bahwa ia akan menerima "jabatan apapun yang berguna bagi negara", yang membuat sebagian orang berpikir bahwa Thi menginginkan kedudukan Kỳ atau Thiệu.[36] Menurut majalah Time, pidato Thi menunjukkan bahwa ia "jelas terpecah antara keinginan menggalang dukungan untuk kembali ke kesatuan dan ketidaksukaan prajuritnya untuk menambah perselisihan".[43] Pidato Thi diikuti dengan presentasi mahasiswa dan para pemimpin Buddhis yang menyerukan untuk mencopot Thiệu dan Menteri Pertahanan Nguyễn Hữu Có dari jabatannya. Keduanya adalah jenderal Katolik yang terkenal jahat karena korupsinya yang merajalela.[44] Bagaimanapun juga, meski terjadi aksi demonstrasi besar-besaran dan dukungan untuk Thi, tidak ada bentrokan atau ketegangan pada saat itu. Seorang pemimpin Buddhis terkemuka mengatakan "Kita sangat berterima kasih kepada para jenderal,... Kỳ membawa stabilitas dalam delapan bulan terakhir" setelah ia menjadi pemimpin Vietnam Selatan.[43]

Para pengunjuk rasa membentuk organisasi pro-Thi dan anti-Kỳ yang disebut dengan Komite Perjuangan Sipil-Militer yang lebih dikenal sebagai Gerakan Perjuangan.[23] Pesan dan pengaruh organisasi tersebut dengan cepat menyebar. Beberapa dari mereka mengambil alih stasiun radio pemerintah di kota Da Nang dan membuat siaran anti-junta dan bergabung dengan para mahasiswa.[23] Pada awalnya, mimbar para pengunjuk rasa ini tidak ditanggapi dengan kekhawatiran dan dianggap bahwa rezim telah memutuskan untuk menunggu aksi protes mereda, alih-alih mengambil risiko eskalasi dengan menekan aksi protes tersebut. Pengurus stasiun radio di Da Nang mengizinkan para pendukung Thi untuk bersiaran.[45] Pada saat itu, kelompok-kelompok oposisi tidak terorganisasi dengan baik dan tampak seperti tidak yakin akan tujuan mereka, sementara keadaan masih berada dalam situasi yang kondusif.[45]

Penolakan atas Saigon meningkat, ketika Gerakan Perjuangan mengeklaim atas pasukan militer di Provinsi Quang Nam yang meliputi Da Nang termasuk pangkalan militernya di sana. Umat Buddhis di kota Huế turut berpartisipasi dengan mengambil alih stasiun radio, lalu bergabung bersama Gerakan Perjuangan. Diperkirakan sekitar empat ratus mahasiswa menguasai stasiun radio selama dua hari dan menyiarkan pidato-pidato yang mengkritik pemerintahan junta Kỳ. Meskipun mereka menyerang Amerika atas dukungan mereka terhadap junta, secara ironis mereka memutar lagu "The Stars and Stripes Forever", karya John Philip Sousa di sela-sela pidato mereka.[45]

Pada akhir Maret, situasi semakin memburuk.[23] Gerakan tersebut menjadi gerakan anti-Amerika, juga anti-pemerintah Saigon. Pengaruh gerakan semakin meningkat hingga sebagian besar anggota Korps I, beroperasi secara independen dari kendali pemerintah pusat. Washington menjadi khawatir atas terjadinya peristiwa ini dan Kỳ memutuskan untuk bertindak.[23] Melalui pernyataan terbuka, Wali Kota Da Nang juga mendukung pasukan pemberontak dari Korps I Angkatan Darat Republik Vietnam serta menolak untuk menaati perintah Kỳ.[23]

Kỳ lalu memberhentikan Kepala Kepolisian Huế, seorang loyalis Thi. Anggota kepolisian setempat menanggapinya dengan melakukan aksi pemogokan dan berunjuk rasa menentang pemecatan pimpinannya. Pada akhir pekan, sekitar 20,000 warga sipil bersama-sama dengan anggota militer berseragam, melakukan aksi unjuk rasa di ibu kota, dengan membawa spanduk yang menyatakan "Turunkan [Kepala Negara] Thiệu dan Kỳ".[46] Gerakan tersebut juga menyerukan pemogokan umum selama dua hari,[46] yang mengakibatkan aktivitas bongkat muat di Pelabuhan Da Nang menjadi terhambat.[45] Sebagian besar masyarakat yang turut serta dalam aksi unjuk rasa karena ketidakpuasan ekonomi yang diakibatkan oleh tingkat inflasi yang tinggi, alih-alih protes karena hal terkait agama atau kebijakan demokrasi yang ketat.[40] Kỳ menanggapi situasi ini secara nasional dengan memperingatkan bahwa junta akan "bertindak tegas" untuk menghentikan agitasi yang terjadi. Namun, ia melunak dengan menjanjikan adanya konstitusi baru paling lambat bulan November dan pemilihan umum nasional akan dimajukan, sehingga dapat diselenggarakan pada akhir tahun.[45]

Pada pendukung Thích Trí Quang tidak ingin menunggu jadwal sebagaimana yang disampaikan oleh Kỳ, dengan meminta Majelis Konstituante untuk menyusun konstitusi baru yang akan dipilih dari dewan-dewan provinsi dan kota, ketika umat Buddhis memperoleh suara terbanyak dalam pemilu, tetapi, Kỳ menolaknya.[46] Sementara Quang sepertinya sependapat dengan Kỳ, pemimpin Buddhis yang berbasis di Saigon, Thich Tam Chau tampaknya terbuka untuk berkompromi dengan Kỳ.[46]

Ancaman militer dan keresahan yang terus berlanjut

Pada 1 April 1966, Kỳ mengirim Jenderal Pham Xuan Chieu ke Korps I, untuk membujuk Thi agar mau bergabung dengan junta Saigon. Namun, ketika Chieu tiba di kota Huế, ia disergap oleh sekelompok mahasiswa anti-Kỳ dan diarak keliling kota menggunakan becak, sebelum ia dibebaskan kemudian.[47]

Pada 3 April, Kỳ menyelenggarakan konferensi pers yang menyatakan bahwa Da Nang berada di bawah kendali komunis dan ia bersumpah untuk menggelar operasi militer untuk mengambil alih atas kendali wilayah tersebut. Pernyataan Kỳ menyiratkan bahwa umat Buddhis adalah agen komunis.[23] Kỳ juga bersumpah akan membunuh wali kota Da Nang dengan mengatakan "Pemerintah akan jatuh atau Wali kota Da Nang ditembak."[46] Pada malam berikutnya, Kỳ mengerahkan tiga batalion marinir ke kota Da Nang dengan menggunakan pesawat angkut militer Amerika. Pasukan marinir tersebut tetap berada di Pangkalan Udara Da Nang dan tidak melakukan tindakan apa pun terhadap pada pemberontak di kota.[23] Segera setelahnya, dua pasukan Ranger Vietnam[47] dan beberapa pasukan kepolisian anti-huru hara bersama pasukan terjun payung, bergabung dengan batalion.[48]

Pada 5 April, Kỳ berangkat ke Da Nang untuk mengambil alih komando operasi dalam rangka mengintimidasi pasukan pemberontak. Namun, kehadirannya memicu provokasi lokal antara pasukan militer dan elemen sipil di kota. Jenderal Chuan mengerahkan pasukannya untuk memblokir seluruh rute keluar dari area Pangkalan Udara Da Nang dan mengatakan kepada Kỳ bahwa pasukannya tidak akan dikerahkan di luar area pangkalan, yang mungkin akan mengakibatkan terjadinya tindak kekerasan apabila hal tersebut dilakukan.[49] Jenderal Chuan mengatakan bahwa isu terkait politik tidak dapat diselesaikan dengan aksi militer. Kemudian, Jenderal Nhuan dari Divisi ke-1 Huế, muncul untuk mendukung aksi Gerakan Perjuangan dan bersumpah untuk melawan para loyalis Kỳ apabila mereka datang.[49] Akhirnya Kỳ terpaksa membuat pengumuman yang memalukan bahwa ia akan menarik pasukannya ke Saigon dan meminta maaf kepada masyarakat Da Nang karena menuduhnya sebagai komunis.[50]

Sementara itu, kerusuhan sipil terus berlanjut di kota-kota Vietnam Selatan. Di Kota Huế, sekitar 5.000 orang turun ke jalan untuk melakukan aksi unjuk rasa, sementara 10.000 orang lainnya turun ke jalan-jalan di kota Da Nang. Sekelompok massa yang berjumlah sekitar 10.000 orang menjarah gedung-gedung pemerintah di kota pesisir selatan tengah Qui Nhơn, sementara sekitar 2.000 orang tentara bersama beberapa perwira senior juga melakukan demonstrasi.[46]

Puncak kerusuhan terjadi di ibu kota Saigon, ketika para mahasiswa pro-Buddhis melakukan aksi huru-hara dengan tongkat dan rantai sepeda yang dijadikan senjata, lalu merusak sejumlah kendaraan, kemudian melempar batu-batu dan meneriakkan slogan anti-Amerika.[46] Pecah pertempuran jalanan antara polisi dengan pasukan pendukung Kỳ, ketika para demonstran melawan gas air mata dengan lemparan batu, tombak, botol kaca bahkan granat tangan.[40] Pihak kepolisian kerap kehilangan kendali dalam membubarkan para demonstran, hingga memaksa mereka untuk melarikan diri, termasuk wali kota militer Saigon yang turun ke jalan untuk menghimbau para demonstran agar mengakhiri aksi unjuk rasa yang turut dilempari benda-benda.[40] Stasiun radio nasional di ibu kota juga diduduki oleh sekitar 300 orang umat Buddhis yang menggelar aksi duduk, hingga akhirnya dibubarkan oleh polisi setempat.[46] Kerusuhan serupa juga terjadi di kota-kota Dataran Tinggi Tengah, di Da Lat, Pleiku dan Buôn Ma Thuột.[40]

Secara pribadi, Kỳ mengambil alih komando dan mendapati bahwa jalanan menuju kota, diblokir oleh warga sipil umat Buddhis dan kelompok pro-Thi dari Korps I.[48] Mendapati kebuntuan, Kỳ menyadari bahwa ia tidak dapat meraih kemenangan. Kemudian ia mengatur pertemuan dan acara media dengan Chuan dan para pendukung Gerakan Perjuangan.[48]

Selama aksi unjuk rasa yang terjadi pada awal April, umat Buddhis menyerukan sebuah konstitusi, agar junta menyerahkan kekuasaan kepada eksekutif dan legislatif terpilih, sebagaimana yang telah berulang kali dijanjikan Kỳ. Umat Buddhis menginginkan adanya Majelis Konstituen yang akan menyusun draf konstitusi, anggotanya dipilih dari dewan regional dan kota dengan dominasi umat Buddhis, suatu hal yang ditentang oleh Kỳ.[46] Kỳ kembali dipermalukan yang salah memperhitungkan dengan mengerahkan pasukan militernya ke Da Nang yang dimaksudkan sebagai unjuk kekuatan, tetapi akhirnya bernegosiasi dengan umat Buddhis yang menuntut amnesti bagi para perusuh dan tentara yang memberontak serta meminta Kỳ untuk menarik pasukannya dari Da Nang kembali ke Saigon.[40] Para biksu mengatakan bahwa mereka akan memerintahkan Gerakan Perjuangan untuk "menangguhkan sementara segala bentuk perjuangan untuk membuktikan niat baik".[40] Chau mengambil sikap moderat tentang masalah konstitusi, tetapi Quang menolak dan protes tetap terus berlanjut.[46]

Referensi

Kutipan

  1. ^ a b Karnow 1997, hlm. 459-460.
  2. ^ Tucker 2000, hlm. 288–290.
  3. ^ Moyar 2006, hlm. 215–216.
  4. ^ "South Viet Nam: The Religious Crisis". Time (dalam bahasa Inggris). 14 Juni 1963. Diarsipkan dari asli tanggal 4 Desember 2012. Diakses tanggal 21 Agustus 2007.
  5. ^ Tucker 2000, hlm. 49, 291, 293..
  6. ^ Maclear 1981, hlm. 63.
  7. ^ "The Situation In South Vietnam – SNIE 53–2–63". The Pentagon Papers (dalam bahasa Inggris) (Edisi Gravel). 10 Juli 1963. hlm. 729–733. Diarsipkan dari asli tanggal 9 November 2017. Diakses tanggal 21 Agustus 2007.
  8. ^ Tucker 2000, hlm. 291.
  9. ^ Gettleman 1966, hlm. 280–282.
  10. ^ "Diệm's other crusade". The New Republic (dalam bahasa Inggris). 22 Juni 1963. hlm. 5–6.
  11. ^ Warner 1963, hlm. 210.
  12. ^ Buttinger 1967, hlm. 993.
  13. ^ Karnow 1997, hlm. 294.
  14. ^ Buttinger 1967, hlm. 933.
  15. ^ Jacobs 2006, hlm. 91.
  16. ^ Hammer 1987, hlm. 103–105.
  17. ^ Jacobs 2006, hlm. 142.
  18. ^ Jacobs 2006, hlm. 143.
  19. ^ Hammer 1987, hlm. 113–114.
  20. ^ Jacobs 2006, hlm. 144–147.
  21. ^ Jones 2003, hlm. 252–260.
  22. ^ Tucker 2000, hlm. 288–292.
  23. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v Brush, Peter (April 2005). "The 1966 Buddhist Crisis in South Vietnam" (dalam bahasa Inggris). Historynet. Diarsipkan dari asli tanggal 17 Juli 2011. Diakses tanggal 16 Juli 2010.
  24. ^ Karnow 1997, hlm. 395.
  25. ^ Karnow 1997, hlm. 348–352.
  26. ^ Kahin 1986, hlm. 230–232.
  27. ^ Moyar 2006, hlm. 327.
  28. ^ Kahin 1986, hlm. 297–302.
  29. ^ a b Moyar 2004, hlm. 779.
  30. ^ McAllister 2008, hlm. 777.
  31. ^ Moyar 2004, hlm. 781.
  32. ^ a b c d "The Saigon Thi Party". Time (dalam bahasa Inggris). 25 Maret 1966. Diarsipkan dari asli tanggal 30 September 2007. Diakses tanggal 11 Oktober 2009.
  33. ^ a b c d e Topmiller 2006, hlm. 34.
  34. ^ a b c d e Martin, Douglas (26 Juni 2007). "Obituaries: Nguyen Chanh Thi, 84, was ousted as general in South Vietnam". The New York Times (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 11 Oktober 2009.
  35. ^ Karnow 1997, hlm. 460.
  36. ^ a b c d e f g h Sullivan, Patricia (26 Juni 2007). "South Vietnamese Gen. Nguyen Chanh Thi". The Washington Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 11 Oktober 2009.
  37. ^ a b Karnow 1997, hlm. 459.
  38. ^ a b c Topmiller 2006, hlm. 35.
  39. ^ Wiest 2008, hlm. 58.
  40. ^ a b c d e f g h i j "South Viet Nam: The Storm Breaks". Time (majalah) (dalam bahasa Inggris). 15 April 1966. Diakses tanggal 11 November 2009.
  41. ^ a b Wiest 2008, hlm. 34.
  42. ^ The World: South Vietnam (dalam bahasa Inggris), vol. 87, Time (majalah), 22 April 1966, hlm. 25
  43. ^ a b c d e f g "South Viet Nam: Smoke, Fire & Welfare". Time (dalam bahasa Inggris). 26 Maret 1966. Diakses tanggal 20 November 2025.
  44. ^ a b c d e Topmiller 2006, hlm. 38.
  45. ^ a b c d e "South Viet Nam: The Political Climate". Time (dalam bahasa Inggris). 1 April 1966. Diakses tanggal 10 Desember 2025.
  46. ^ a b c d e f g h i j "South Viet Nam: The Capital of Discontent". Time (dalam bahasa Inggris). 8 April 1966. Diakses tanggal 16 Februari 2026.
  47. ^ a b Wiest 2008, hlm. 59.
  48. ^ a b c Topmiller 2006, hlm. 53.
  49. ^ a b Kahin 1986, hlm. 423.
  50. ^ Kahin 1986, hlm. 424.

Daftar pustaka

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement