Pejagatan, Kutowinangun, Kebumen
Pejagatan | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Tengah | ||||
| Kabupaten | Kebumen | ||||
| Kecamatan | Kutowinangun | ||||
| Kode pos | 54393 | ||||
| Kode Kemendagri | 33.05.10.2010 | ||||
| Luas | 1.42 km² | ||||
| Jumlah penduduk | 2.844 jiwa | ||||
| Kepadatan | ... jiwa/km² | ||||
| |||||
Pejagatan adalah desa di Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia.
Geografis
Total area Desa Pejagatan mencapai 1.42 km² dengan keliling 6.08 km dan berlokasi sekitar 14.8 km sebelah timur dari pusat kota Kebumen. Desa ini dikelilingi oleh Desa Triwarno di sebelah utara, Desa Ungaran di sebelah barat dan selatan, Desa Tersobo di sebelah selatan dan timur, dan Desa Sidogede di sebelah timur. Desa Pejagatan merupakan desa paling timur Kecamatan Kutowinangun, karena berbatasan langsung dengan Kecamatan Prembun melalui Desa Tersobo dan Desa Sidogede. Desa Pejagatan berlokasi sekitar 17,2 km sebelah barat dari Stasiun Kutoarjo dan 49,1 km barat laut Yogyakarta International Airport (YIA).
Sejarah
Didesak Pemerintah Hindia Belanda, pada 1918 beberapa tokoh desa bersatu dan melakukan pemilihan pemimpin dengan sistem blengketan (proses penggabungan beberapa kelurahan atau desa menjadi satu kelurahan/desa yang lebih besar). Beberapa desa/kelurahan lama sebelum terbentuknya Desa Pejagatan antara lain: Desa Konduran (pernah dipimpin Mbah Cokropati), Desa Kedungsumur (pernah dipimpin Mbah Rinjem), Desa Krajan dan Desa Karunan (pernah dipimpin Mbah Karun). Blengketisasi Pejagatan dapat diurai sebagai berikut. Blengketan antara Desa Konduran dan Desa Kedungsumur dimenangkan oleh Kedungsumur, yang kemudian tercetus nama baru "Desa Telogo Warno". Sedangkan blengketan Desa Krajan dan Karunan yang dipimpin satu lurah mengusulkan nama "Desa Pejagatan". Prosesi blengketan berikutnya merupakan penentuan nama baru desa antara "Telogo Warno" dan "Pejagatan" yang berakhir dengan ditetapkannya nama "Desa Pejagatan" sebagai nama baru dari gabungan wilayah desa-desa sebelumnya. Kata "Pejagatan" memiliki makna Jagat Raya. Berikut beberapa tokoh desa yang pernah memimpin wilayah-wilayah sebelum blengketisasi sampai dengan era sekarang:
- Cokropati (1860-1884) *memimpin Konduran, sebelum blengketisasi
- Ngarif (1885-1901) *tidak ada data
- Karun (1902-1923) *memimpin Karunan dan Krajan, sebelum dan sekitar masa blengketisasi
- Jayareja (1924-1945)
- Dulah Judi (1946-1967)
- Ashar Sodiq (1968-1989)
- Khamid Nuryanto (1990-1998)
- Mualip (1999-2013) *cucu Jayareja
- Hidayat Djuhri (2013-2019)
- Mualip (2019-sekarang)[1]
Masyarakat
Kondisi Umum
Penduduk Desa Pejagatan berjumlah sekitar 2.844 jiwa dengan mayoritas berprofesi sebagai buruh. Penduduk desa ini tersebar di empat pedukuhan, yaitu: Krajan, Karunan, Kedungsumur, dan Konduran.[2] Setiap pedukuhan memiliki satu masjid yang difungsikan untuk ibadah salat jumat, salat idul fitri & idul adha, serta ibadah lima waktu dan mengaji. Selain keempat masjid utama, terdapat pula beberapa langgar/surau dan mushola di setiap pedukuhan. Seluruh instansi pendidikan formal terdapat di Dukuh Krajan, yaitu SD Negeri 1 Pejagatan, SD Negeri 2 Pejagatan, dan MI Pejagatan (yayasan pendidikan swasta). Kantor desa juga berada di dukuh ini. Berdasarkan luas wilayah, Dukuh Kedungsumur merupakan pedukuhan yang terbesar di antara dukuh-dukuh lainnya. Di Kedungsumur berdiri Pasar Tradisional Kedungsumur yang buka pada pagi hingga menjelang siang di hari Senin, Kamis, dan Sabtu. Pasar ini menyediakan segala bahan pokok yang dibutuhkan masyarakat. Di sepanjang jalan utama Dukuh Kedungsumur juga terjadi pertumbuhan ekonomi cukup signifikan ditandai dengan menjamurnya ruko-ruko, warung pinggir jalan, dan jajanan yang buka hingga malam hari.
Sebagian masyarakat desa juga menggemari aktivitas memancing, khususnya di Jembatan Ungaran-Pejagatan. Jembatan ini merupakan jembatan batas wilayah sekaligus penghubung penting antara Desa Ungaran dan Desa Pejagatan. Tempat ini tidak hanya digemari pemancing dari kedua desa ini, melainkan juga pemancing dari kecamatan-kecamatan lain di Kebumen, antara lain dari Puring, Sruweng, Prembun, dan Pejagoan. Biasanya para pemancing beraktivitas sampai larut malam bahkan sampai pukul tiga dini hari.[3]
Bahasa
Penduduk Desa Pejagatan termasuk ke dalam golongan penutur dialek bagelen.
Adat Istiadat
Gombrang
Gombrang adalah kegiatan membersihkan makam leluhur desa setiap 10 Syuro dan 25 Ruwah. Tradisi ini merupakan pengingat bahwa yang hidup pasti kembali ke Sang Pemberi Hidup.[1]
Syabanan
Syabanan adalah wujud nyata warga desa memperingati datangnya bulan puasa Ramadhan yang dilakukan pada pertengahan bulan Syaban selama tiga hari dua malam. Kebanyakan warga Desa Pejagatan akan keluar (saba/sobo) selepas maghrib sampai tengah malam di sepanjang jalan utama desa (ruas jalan dari MI Pejagatan lurus ke utara sampai dengan Pasar Tradisional Kedungsumur) untuk menikmati sajian jajanan tradisional dan hiburan.[1]
Likuran dan Lawean
Likuran (dua-puluh-satu-an) dan lawean (dua-puluh-lima-an) merupakan tradisi memperingati hari kedua puluh satu dan kedua puluh lima pada bulan puasa Ramadhan setiap tahunnya. Tradisi ini diwujudkan dengan tradisi "enthak enthik" di mana warga desa akan membuat sapitan. Sapitan adalah ayam yang dibakar dengan sapit bambu di atas tungku dengan ditutup daun pisang. Tradisi ini dilengkapi anak-anak kecil yang bermain dan membuat tenda di depan rumah menggunakan jarik dan atau terpal pada malam hari. Anak-anak juga akan menyanyikan lagu tradisional enthak-enthik.[1]
Tari Jagat Gerabah
Tarian ini menggambarkan prosesi pembuatan gerabah mulai dari pengolahan tanah, idek (injak-injak tanah liat), lèlèr (proses membuat bentuk gerabah secara manual dengan tangan dan pottery wheel), nggerus (menggerus bagian gerabah yang kurang rapi), sampai dengan proses pembakaran gerabah. Tarian ini ditujukan untuk mengajak semua warga desa, khususnya anak muda untuk nguri-uri budhaya lèlèr atau membuat gerabah. Tari Jagat Gerabah merupakan hasil inisiasi perintisan Desa Eduwisata Gerabah. Tari ini diinisiasi tiga gadis remaja yang menari menggunakan busana tari khas adat Kebumen yang didesain khusus untuk Tari Jagat Gerabah. Tari ini diiringi alat musik kendang, terompet, dan perkusi.[1]
Eduwisata Gerabah
Produksi gerabah di Desa Pejagatan telah menjadi tradisi turun menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Saat ini, gerabah tidak hanya diproduksi untuk meningkatkan ekonomi perajin. Kerajinan gerabah di desa ini telah memasuki level lebih tinggi, yaitu memadukan edukasi dan wisata atau dapat disebut dengan istilah eduwisata. Untuk mendukung eduwisata gerabah di desa ini, Museum Gerabah Kebumen telah diresmikan Bupati Kebumen H. Arif Sugiyanto, S.H., di Dukuh Krajan RT 002 RW 001 Desa Pejagatan pada 28 Juni 2024, yang bertujuan melestarikan budaya dan sejarah lokal serta jadi pusat penelitian dan meningkatkan daya tarik wisata daerah. Museum ini menyediakan koleksi gerabah dari berbagai zaman, teknik dan fasilitas pembuatan gerabah, serta sejarah dan kisah di balik setiap artefak. Pendirian Museum Gerabah Kebumen ini sekaligus mendukung pemerintah Kabupaten Kebumen dalam program Geopark Kebumen yang telah diakui UNESCO. Geopark Kebumen mencakup situs-situs geologi, ekologi, dan budaya unik bernilai tinggi, salah satunya yakni gerabah Pejagatan.[4]
Gerabah asal Pejagatan tidak hanya dipasarkan di pasar lokal di wilayah Kabupaten Kebumen, tetapi juga menembus pasar di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatra, dan Bali. Jenis gerabah yang dipasarkan berupa souvenir, alat makan tradisional, tempat makan kelinci, cup lampu, hiasan taman, dan lain-lain. Salah satu produk gerabah Pejagatan adalah Gerabah Anti Racun yang berwarna hitam alami. Beberapa bentuk produknya meliputi cobek, mangkuk, piring rintik, kendil, teko, kendi, gelas mug, pengaron, dan padasan serta bentuk lain sesuai pesanan. Gerabah anti racun ini telah diberi anugerah Original Rekor Indonesia (ORI) atas prakarsa pembuatan 1000 gelas mug tanah liat dan pembuatan logo terbesar dari tanah liat pada Mei tahun 2018. Selain itu, gerabah lokal Pejagatan ini juga menjadi partner edukatif dan riset dosen dan mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto secara berkelanjutan.[2]
Makanan Khas: Emping
Emping adalah makanan berbahan dasar biji melinjo dan memiliki bentuk bulat hingga oval. Desa Pejagatan mempunyai produk makanan lokal khas berupa emping yang diproduksi ibu-ibu perajin emping berjumlah sekitar 20 orang yang mayoritas tinggal di Dukuh Karunan. Mereka tergabung dalam Kelompok Perajin Emping Jagat Barokah. Produksi emping di Dukuh Karunan dilatarbelakangi keinginan ibu-ibu untuk membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Pemasaran emping meliputi wilayah sekitar desa, kecamatan, bahkan keluar kabupaten dan provinsi.[5]
Sepak Bola
Sepak bola sejak lama telah menjadi hiburan dan membudaya di kehidupan masyarakat Desa Pejagatan. Desa ini memiliki klub sepak bola kebanggaan bernama PS (Persatuan Sepak Bola) Sumber Jagat yang berdiri tahun 1965 dan telah meraih puluhan trophy kompetisi. Tim ini berkandang di Lapangan Desa Pejagatan. PS Sumber Jagat pernah menjadi runner-up divisi tertinggi Asosiasi Kabupaten Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (ASKAB PSSI) Kebumen pada tahun 2019. PS Sumber Jagat menjadi tim yang disegani di wilayah Kebumen Timur. Sebagai desa "gila" bola, maka di bawah PS Sumber Jagat didirikanlah Sekolah Sepak Bola (SSB) Sumber Jagat yang berisi puluhan siswa berusia antara 9 tahun sampai dengan 14 tahun. Pendirian SSB ini ditujukan untuk pembinaan dan pendidikan karakter sekaligus pengembangan bakat anak sejak usia dini. Pelatihan rutin dilaksanakan pada hari Selasa, Jumat, dan Minggu pada pukul 15.00 - 17.00 WIB di Lapangan Desa Pejagatan. SSB ini dilatih oleh tiga pelatih, yaitu Nanang Setiawan, Trisno Aji Nugroho, dan tim kepelatihan lainnya yang tergabung di PS Sumber Jagat. Fasilitas latihan SSB Sumber Jagat cukup memadai dengan adanya dukungan dari APBDesa Pejagatan.[6]
Referensi
- ^ a b c d e "Asal Mula Desa Pejagatan dan Adat Istiadat yang Membudaya Sumber : https://pejagatan.kec-kutowinangun.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/109/95". ;
- ^ a b Kebumen, Pemerintah Kabupaten. "Kerajinan Gerabah dan Eduwisata Gerabah - Website Resmi Desa Pejagatan Kecamatan Kutowinangun Kabupaten Kebumen". Website Resmi Desa Pejagatan Kecamatan Kutowinangun Kabupaten Kebumen (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-22.
- ^ "Jembatan Ungaran-Pejagatan Menjadi Tempat Mancing Malam Sumber : https://pejagatan.kec-kutowinangun.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/75". ;
- ^ Kebumen, Pemerintah Kabupaten. "Post - Website Kecamatan Kutowinangun Kabupaten Kebumen". Post - Website Kecamatan Kutowinangun Kabupaten Kebumen (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-22.
- ^ "Penghasil Produk Kerajinan Makanan Emping Sumber : https://pejagatan.kec-kutowinangun.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/6/36". ;
- ^ "Mengenal Lebih Dekat Sekolah Sepak Bola (SSB) "Sumber Jagat" Sumber : https://pejagatan.kec-kutowinangun.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/84". ;
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



