Operasi Tonga
| ||||||||||||||||||||||||||||||
Operasi Tonga adalah nama sandi untuk operasi udara yang dilaksanakan oleh Divisi Lintas Udara ke-6 Inggris pada Juni 1944. Operasi ini merupakan bagian dari Operasi Overlord dan pendaratan Normandia dalam Perang Dunia Kedua.
Pasukan terjung payung dan infanteri udara dari Divisi tersebut, mendarat di sisi timur wilayah invasi yang bertugas merebut jembatan strategis di atas Terusan Caen dan Sungai Orne, yang nantinya akan digunakan pasukan sekutu untuk bergerak maju setelah pendaratan laut. Pasukan yang dipimpin oleh Richard Nelson Gale ini, juga bertugas menghancurkan jembatan-jembatan lain agar tidak dapat digunakan oleh pasukan Jerman serta mengamankan desa-desa penting, termasuk menghancurkan Baterai Merville yang diyakini oleh intelijen Sekutu sebagai tempat yang berisi artileri-artileri berat Jerman. Artileri ini berpotensi digunakan untuk membombardir area pantai (yang diberi sandi Sword) dan diperkirakan akan menimbulkan banyak korban dari pasukan Sekutu yang akan mendarat di pantai tersebut. Setelah tujuan-tujuan tersebut tercapai, pasukan ini kemudian bertugas membangun dan mengamankan pangkalan terdepan yang berfokus pada jembatan-jembatan yang telah direbut, hingga pasukan tersebut dapat saling terhubung dengan pasukan darat Sekutu lain yang bergerak maju.
Divisi ini menghadapi kendala yang didera oleh cuaca buruk dan navigasi pilot yang kurang baik, sehingga banyak pasukan terjun payung yang diterjunkan secara tidak akurat di seluruh area operasi Divisi. Hal ini mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan mempersulit jalannya operasi. Khususnya pasukan dari Batalion Parasut ke-9 yang bertugas untuk menghancurkan Baterai Merville, hanya mampu mengumpulkan sebagian kecil kekuatannya untuk melakukan serangan, yang berakibat jatuhnya banyak korban. Namun, Baterai tersebut akhirnya dapat dihancurkan dan senjata-senjata di dalamnya dapat dinonaktifkan.
Pasukan kecil infanteri udara dari Batalion ke-2 Infranteri Ringan Oxfordshire dan Buckinghamshire, dapat mengamankan dua jembatan di atas Terusan Caen dan Sungai Orne dalam sebuah gebrakan cepat. Divisi tersebut juga berhasil menghancurkan jembatan-jembatan lain dan menduduki desa-desa, termasuk membuat pangkalan terdepan dan berhasil menahan sejumlah serangan Jerman, hingga pasukan darat Sekutu dapat mencapai lokasi tersebut dari pantai. Divisi tersebut juga memastikan bahwa pasukan laut tidak diserang dalam beberapa jam awal yang sangat vital, setelah pasukan tersebut mendarat di pantai dengan kondisi yang rentan diserang, melalui pembatasan akses komunikasi pasukan Jerman untuk konsolidasi pasukannya.
Latar belakang

Operasi Tonga diawali dari perencanaan Operasi Overlord oleh Sekutu untuk melakukan invasi dan pembebasan wilayah Prancis yang diduduki Jerman. Rencana invasi dimulai pada Mei 1943, ketika Presiden Franklin D. Roosevelt dan Perdana Menteri Britania Raya, Winston Churchill bertemu dalam Konferensi Washington.[4] Kedua pemimpin tersebut memutuskan bahwa seluruh pasukan Sekutu yang ada, harus difokuskan di Britania Raya dan rencana invasi Eropa Barat Laut harus dimulai. Kemudian ditetapkan sebuah operasi dengan nama "Overlord" yang akan dimulai pada Mei 1944 dan pembentukan Staf Perencanaan Gabungan Inggris-Amerika di bawah kepemimpinan Frederick E. Morgan sebagai Kepala Staf Panglima Tertinggi Sekutu (COSSAC).[4]
Sebagaimana Operasi Skycraper yang menyatakan pengerahan terhadap dua Divisi Lintas Udara untuk mendukung lima Divisi Infanteri dalam pendaratan di pantai, dengan satu Divisi yang akan mendarat di Caen dan Divisi lain mendarat di pantai timur Semenanjung Cotentin. Draf awal Overlord menyatakan komitmen Pasukan Lintas Udara untuk mendukung pendaratan pasukan darat dan melindungi area-area pendaratan.[5] Sebuah proposal ambisius yang disebut dengan "Rencana C", diajukan oleh Kepala Staf Angkatan Darat Amerika Serikat, George C. Marshall, tentang keterlibatan penerjunan udara besar-besaran di Sungai Seine, dengan tujuan untuk membelah pasukan Jerman menjadi dua bagian pada peristiwa D-Day.[6][7] Pada akhirnya, Morgan dan stafnya memutuskan bahwa invasi harus dilakukan sepanjang tiga puluh mil di garis depan, dari Sungai Orne ke arah barat.[8] Rencana akhir, menggunakan tiga Divisi dalam serangan pertama, dengan pasukan udara yang akan diterjunkan ke kota Caen pada awal hari pertama, untuk merebut jalur pelarian.[9]
Rencana tersebut mengalami revisi-revisi lanjutan, setelah penunjukkan Sir Bernard Montgomery sebagai Panglima Grup Angkatan Darat ke-21 dan komando seluruh pasukan darat yang mendarat di Normandia. Pada 21 Januari 1944, revisi rencana Overlord, disampaikan kepada Dwight D. Eisenhower yang terpilih sebagai Panglima Tertinggi Sekutu untuk invasi tersebut. Revisi rencana Montgomery tersebut, memperluas area pendaratan yang meliputi seluruh garis pantai, antara Sungai Orne dan pantai timur Semenanjung Cotentin, dengan lima Divisi yang akan mendarat di pantai-pantai, didukung oleh tiga Divisi Lintas Udara untuk mendarat di kedua sisi area pendaratan, guna mengamankan sisi mereka dan melindungi pasukan pendaratan dari perlawanan Jerman. Pasukan Lintas Udara Inggris ditugaskan ke sisi timur dan pasukan Amerika ke sisi barat.[10]
Pendahuluan
Persiapan Inggris

Divisi Lintas Udara ke-6 di bawah pimpinan Richard Gale, terpilih untuk melakukan operasi lintas udara di sisi timur wilayah invasi.[11] Divisi ini baru diaktifkan pada April 1943 dan Overlord merupakan operasi tempur pertamanya.[12] Pembentukan Divisi ini dimaksudkan untuk melakukan operasi lintas udara tingkat Divisi, alih-alih serangkaian operasi tempur yang lebih kecil. Terdapat perdebatan cukup panjang terkait tugas-tugas Divisi ini.[13]
Pada akhir Januari 1944, Gale mencatat bahwa ia "belum memiliki indikasi tugas yang pasti" untuk unit pasukannya dan tetap membuka seluruh opsi yang akan diputuskan.[14] Hal ini tercermin berdasarkan diskusi yang masih berlangsung di tingkat strategis terhadap rencana yang lebih luas untuk D-Day. Pada 17 Februari 1944, Frederick Arthur Montague Browning, Panglima seluruh pasukan udara Inggris, tiba di markas Divisi Lintas Udara ke-6 untuk memberi arahan kepada Gale tentang pencapaian yang diharapkan dari Divisi tersebut selama invasi. Peran ini diberi sandi Operasi Tonga.[11]
Rencana awal operasi ini tidak melibatkan seluruh pasukan Divisi, tetapi hanya satu brigade parasut dan baterai anti-tank untuk bergabung dengan Divisi Infanteri ke-3 Inggris. Pasukan ini ditugaskan untuk merebut jembatan-jembatan di atas Terusan Caen dan Sungai Orne, dekat kota Bénouville dan Ranville.[15] Gale merasa berkeberatan dengan rencana operasi tersebut, yang beralasan bahwa satu brigade tidak akan cukup untuk melakukan tugas-tugas yang dimaksud dengan anggota pasukan yang terbatas. Gale meminta agar anggota pasukan Divisi dapat dikerahkan seluruhnya dalam operasi. Setelah berdiskusi dengan atasannya, Browning menyetujui usulan Gale tersebut dan meminta Gale untuk membuat rencana operasi.[16]
Selain melindungi sisi timur pendaratan laut pasukan Sekutu dan mengambil alih wilayah-wilayah strategis penting di Caen bagian timur, terdapat tiga tugas khusus bagi Divisi Lintas Udara ke-6, sebagai bagian dari Operasi Tonga, yakni (1). Untuk menguasai dua jembatan di atas Terusan Caen dan Sungai Orne di Bénouville dan Ranville, sekaligus mempertahankan posisi jembatan atas perlawanan dan serangan balik pasukan Jerman. Gale mengetahui bahwa kedua jembatan tersebut sangat penting untuk jalur suplai dan bala bantuan pasukannya. Namun, ia tidak mengetahui bahwa jembatan-jembatan tersebut tidak mendukung untuk dilewati tank. (2). Menghancurkan baterai artileri pantai Merville yang terletak di Franceville Plage, dengan penjagaan ketat pasukan Jerman. Divisi juga memastikan bahwa baterai artileri Jerman, tidak menyerang pasukan Inggris yang mendarat di Pantai Sword. (3). Divisi ditugaskan untuk menghancurkan jembatan-jembatan di sepanjang Sungai Dives, yang terletak dekat kota-kota Varaville, Robehomme, Bures dan Troarn. Kemudian mempertahankan wilayah-wilayah yang telah direbut dari Jerman, hingga wilayah tersebut dibebaskan oleh pasukan darat Inggris yang bergerak maju.[16]

Pada Februari 1944, dimulai rencana terperinci Operasi Tonga yang diawali dengan penugasan secara luas sejumlah pesawat angkut untuk pengerahan seluruh anggota pasukan Divisi. Dua grup dari Angkatan Udara Britania Raya (RAF) dikerahkan untuk operasi tersebut dan memastikan bahwa pengerahan pasukan ke medan pertempuran, dapat dilakukan dalam dua kali pengangkutan udara. Kemudian para pilot dan awak pesawat, mulai melakukan pelatihan formasi terbang dan pelatihan awak udara khusus, untuk memastikan bahwa mereka terbiasa dengan kebutuhan operasi.[17] Dalam upaya mencari cara yang paling efisien untuk pengerahan grup Brigade ke satu zona pendaratan atau ke beberapa zona pendaratan lainnya, Divisi Lintas Udara ke-6 melakukan latihan lintas udara skala besar beberapa kali.[18]
Pada 6 Februari 1944, Brigade Parasut ke-3 melakukan latihan penerjunan yang seluruh anggota pasukannya diterjunkan dari 98 pesawat angkut. Kemudian pada akhir Maret 1944, Pasukan Divisi melakukan latihan penerjunan yang disebut dengan "Bizz II', menggunakan 284 pesawat untuk menerjunkan seluruh anggota pasukannya menggunakan parasut atau pesawat layang. Simulasi operasi lintas udara skala penuh, dilakukan antara 21 hingga 26 April 1944 yang disebut dengan "Mush", menggunakan sekitar 700 pesawat untuk mengerahkan pasukan Divisi Lintas Udara ke-1 Inggris, Brigade Parasut ke-1 Polandia, didukung oleh pasukan Divisi Lintas Udara ke-6 yang bergerak melalui darat.[18]
Pelatihan Divisi menjadi lebih intensif menjelang tanggal operasi. Unit-unit pesawat layang menghabiskan waktu berjam-jam di udara setiap hari, melakukan manuver-manuver yang diperlukan untuk pendaratan pasukan udara sesuai dengan rencana. Setelah para pilot cukup berlatih pada siang hari, mereka juga melakukan latihan operasi pada malam hari. Di area latihan, mereka juga membuat puluhan tiang-tiang serupa dengan yang ada di Normandia dan unit-unit pasukan teknis, mengukur sebagaimana cepat mereka dapat menghancurkan rintangan-rintangan tersebut.[18]
Batalion yang ditugaskan untuk menyerang Merville, membangun replika baterai artileri Merville di kamp khusus dan menghabiskan waktu dua minggu untuk melakukan pelatihan di kamp tersebut. Sementara pasukan yang ditugaskan untuk operasi cepat dalam merebut jembatan-jembatan di atas Sungai Orne dan Terusan Caen, dipindahkan ke Exeter, Inggris, lalu melakukan latihan intensif di sekitar Sungai Exe dan kanal yang berada di dekatnya, sebagaimana tujuan utama misi mereka.[19]
Para pilot pesawat layang dan pesawat angkut, diberikan pengarahan secara konstan dengan ribuan foto dan peta dari zona-zona pendaratan dan area di sekelilingnya, termasuk puluhan maket-maket dari zona dan target-target utama, seperti baterai Merville dan jembatan-jembatan. Sebuah film berwarna dibuat berdasarkan foto-foto pengintaian udara yang diputar dengan kecepatan dan ketinggian tepat di atas maket, yang secara realistis menyimulasikan jalur-jalur bagi para pilot menuju zona-zona pendaratan.[20]
Persiapan Jerman
Divisi Lintas Udara ke-6 akan menghadapi formasi pasukan Angkatan Darat Jerman (Heer) yang ditempatkan di wilayah sekitar Caen dan Sungai Orne. Pada Juni 1944, pasukan tersebut terdiri dari Divisi Infanteri ke-711 dan ke-716 yang merupakan formasi statis dan para anggota pasukannya terdiri dari tentara yang diturunkan pangkatnya secara medis, serta anggota pasukan yang direkrut dari Uni Soviet dan Eropa Timur melalui wajib militer.[11] Kedua Divisi juga memiliki kumpulan berbagai macam senjata-senjata anti-tank dan artileri, termasuk sejumlah kecil tank dan senjata artileri swagerak Jerman dan Prancis.[21]
Penilaian Sekutu terhadap Divisi tersebut, bahwa keduanya dinilai tidak efisien, berdasarkan intelijen Sekutu yang menilai tingkat efisiensi Divisi tersebut pada tingkat empat puluh persen, bila dibandingkan dengan Divisi Infanteri kelas satu pada peran statis dan tingkat efisiensi lima belas persen pada peran serangan balik. Intelijen Sekutu juga mencatat bahwa dua kompi tank berada di area tersebut, sebagaimana sejumlah formasi ad hoc yang dibentuk dari tempat-tempat pelatihan.[21] Pasukan pendukung Divisi statis Jerman yang berbasis di dekat Caen adalah Divisi Panzer ke-21. Sementara pasukan pendukung di area timur Caen, adalah pasukan Resimen Panzergrenadier ke-125 yang ditempatkan di Vimont. Pasukan pendukung Divisi Jerman yang ditempatkan di area sebelah barat Terusan Caen dan jembatan Sungai Orne adalah Batalion ke-2, Resimen Panzergrenadier ke-192 yang berbasis di Cairon.[22][23][24]
Inti dari Divisi Jerman adalah para veteran Korps Afrika, meskipun formasi baru ini dilengkapi persenjataan dengan berbagai macam tank yang berusia lebih tua dan kendaraan lapis baja lainnya.[25] Lebih jauh lagi, terdapat pasukan Divisi Panzer Lehr yang berbasis di Chartres, berjarak kurang dari satu hari perjalanan ke area tersebut.[26] Pasukan Jerman lainnya yang dianggap sebagai ancaman Sekutu adalah pasukan udara Waffen SS Divisi Hitlerjugend SS Panzer ke-12, yang berbasis di Lisieux. Pasukan ini dilengkapi dengan sejumlah besar tank, termasuk Tank Panther dan artileri swagerak, yang diyakini dapat tiba di sekitar area pendaratan Sekutu dalam waktu dua belas jam.[21]

Pada November 1943, Adolf Hitler menunjuk Erwin Rommel sebagai Inspektur Jenderal Pertahanan Pesisir dan panglima Grup Angkatan Darat B. Kemudian ia memerintahkan pasukan Jerman untuk membangun sejumlah besar posisi pertahanan statis dan rintangan-rintangan. Melalui kunjungannya, Rommel kemudian melakukan peninjauan terhadap basis-basis pertahanan yang telah dibangun, lalu segera memulai proses perbaikan dan peningkatan atas basis pertahanan tersebut, terutama pertahanan yang terletak di pedalaman. Ia meyakini bahwa tidak lebih dari tiga puluh persen, pertahanan pasukan Jerman telah memadai.[27] Pertahanan anti-udara yang disiapkan Rommel terdiri dari penanaman ranjau-ranjau untuk membuat ladang ranjau, termasuk membangun sistem pertahanan yang dikenal dengan "Asparagus Rommel". Sistem pertahanan yang terdiri dari tiang-tiang atau pasak setinggi dua meter, saling terhubung dengan kawat-kawat dan banyak di antaranya terkait dengan ranjau atau jebakan-jebakan lain yang bertujuan untuk menghancurkan pesawat layang dan menewaskan atau melukai pasukan penerjun.[28]
Dalam catatan hariannya, Rommel mencatat tentang sebuah inspeksi yang dilakukannya dalam satu area bahwa, satu Divisi telah menempatkan lebih dari 300.000 tiang untuk mencegah pendaratan udara dan satu Korps telah mendirikan lebih dari 900.000 tiang.[29] Baterai Merville adalah emplasemen yang dijaga ketat pasukan Jerman, berdiameter sekitar 400 meter, terdiri dari artileri anti-pesawat ringan dan empat kasemat yang mampu menampung artileri hingga 150 mm. Emplasemen ini terdiri dari dua perimeter dengan bagian dalam dikelilingi oleh kawat berduri dan ladang ranjau, kemudian perimeter terluar juga dikelilingi oleh kawat berduri dan parit anti-tank. Baterai Merville dilindungi oleh dua titik pasukan yang meliputi tiga puluh bunker, pos pengamatan, bunker yang berisi pos komando dan dua benteng pertahanan.[30]
Pertempuran
Penerjunan

Pada 5 Juni 1944 pukul 22:56, Operasi Tonga dimulai, ketika enam pesawat pengebom berat Inggris berjenis Handley Page Halifax, lepas landas dari Pangkalan Tarrant Rushton, Inggris, dengan menarik pesawat layang yang membawa pasukan Cepat, terdiri dari Kompi D, Batalion Infanteri Ringan Oxfordshire dan Buckinghamshire ke-2 (bagian dari Brigade Pendaratan Udara ke-6, dalam invasi awal ini tergabung dalam Batalion Parasut ke-5), ditambah dengan kekuatan dua peleton pasukan dari Kompi B dan rombongan pasukan sapper dari Korps Royal Engineer. Keseluruhan pasukan tersebut dikomandoi oleh John Howard yang ditugaskan untuk merebut jembatan-jembatan di atas Terusan Caen dan Sungai Orne.[31]
Selanjutnya, antara pukul 23:00 hingga 23:20, enam pesawat angkut lepas landas membawa pasukan pemandu militer dari Kompi Parasut Independen ke-22 yang bertujuan untuk menandai tiga zona pendaratan yang akan digunakan oleh pasukan udara Divisi tersebut.[32] Kemudian, enam belas pesawat angkut berjenis Armstrong Whitworth Albemarle lainnya, menyusul mengikuti pesawat angkut yang berada di depannya, dengan membawa pasukan dari unsur-unsur Batalion Parasut ke-9, Batalion Parasut Kanada ke-1 dan Brigade Parasut ke-3.[33]
Sisa pesawat angkut lainnya yang membawa pasukan Divisi, lepas landas tiga puluh menit kemudian. Gelombang pasukan ini terbagi menjadi tiga kelompok, dengan kelompok pertama terdiri dari 239 pesawat angkut berjenis Douglas Dakota dan Short Stirling, serta tujuh belas pesawat layang Horsa, yang membawa sebagian besar pasukan dari Brigade Parasut ke-3 dan ke-5 lengkap dengan persenjataannya. Pasukan ini dijadwalkan untuk diterjunkan di zona pendaratan masing-masing pada 00:50. Kelompok kedua, terdiri dari 65 pesawat angkut Horsa dan empat pesawat layang berjenis Hamilcar mengangkut pasukan Divisi dan baterai anti-tank. Kelompok kedua dijadwalkan untuk diterjunkan pada 03:20. Kelompok ketiga terdiri dari tiga pesawat layang Horsa yang membawa pasukan sapper dan prajurit dari Batalion Parasut ke-9 yang akan diterjunkan di atas Baterai Merville pada 04:30.[33]
Pendudukan jembatan Terusan Caen dan Sungai Orne

Unit pertama yang mendarat di Normandia adalah pasukan Cepat dari Divisi Lintas Udara ke-6 pimpinan Howard.[35] Menggunakan enam pesawat layang dalam selang waktu lima menit, dengan tiga pesawat layang mendaratkan pasukan dekat jembatan Terusan Caen dan dua dekat jembatan di Sungai Orne, sementara pesawat layang terakhir yang juga ditujukan untuk mendaratkan pasukan di area jembatan Sungai Orne, mendarat sekitar tujuh mil dari lokasi target, karena kesalahan navigasi.[36][37] Sesampainya di darat, pasukan tersebut langsung menyerang posisi pasukan Jerman di parit dan menyerang para penjaga, termasuk melemparkan granat-granat ke bunker beton yang diyakini menyimpan alat pemicu ledakan untuk menghancurkan jembatan.[38]
Di jembatan Sungai Orne, sekumpulan senapan mesin berhasil dihancurkan melalui tembakan mortir, tetapi tidak ada pasukan Jerman yang ditemukan bertahan. Kedua peleton berhasil merebut jembatan, sebelum mereka menghubungi Howard melalui kontak radio untuk memberitakan keberhasilannya. Kedua jembatan berhasil diamankan dalam waktu lima belas menit dengan sedikit korban jiwa.[39] Terungkap pula bahwa jembatan-jembatan tersebut tidak dipasangi bahan peledak seperti yang diduga sebelumnya.[38]
Sementara menunggu sisa pasukan Divisi lainnya dan kedatangan Batalion Parasut ke-7 untuk memperkuat posisinya, pasukan Divisi harus menghalau beberapa upaya spontan pasukan Jerman untuk merebut kembali jembatan-jembatan tersebut. Dua unit tank Jerman berupaya untuk memasuki area jembatan dan salah satu dari tank tersebut berhasil dilumpuhkan dengan senjata anti-tank PIAT.[40]
Pemandu militer
Para pemandu dari Kompi Parasut Independen ke-22, terbang mengikuti pasukan Cepat dari jarak dekat. Para pemandu tersebut bertugas untuk menandai zona-zona pendaratan yang akan digunakan oleh seluruh pasukan Divisi. Namun, karena faktor awan tebal dan navigasi yang kurang baik, hanya satu tim pemandu yang berhasil mendarat dengan tepat. Pesawat-pesawat yang membawa pasukan pemandu lainnya, harus melakukan dua hingga tiga kali putaran ke zona pendaratan masing-masing sebelum pasukan mereka diterjunkan.[41] Para pemandu yang ditargetkan untuk mendarat di zona pendaratan N, diterjunkan secara melebar, sehingga mereka tidak berhasil mencapai zona pendaratan tersebut dalam waktu tiga puluh menit.[42]
Salah satu tim pemandu yang ditargetkan untuk mendarat di zona pendaratan K, secara tidak sengaja mendarat di zona N tanpa menyadari kesalahan, kemudian tim pemandu tersebut segera memasang suar radio dan penanda, yang mengakibatkan sejumlah pasukan diterjunkan ke area yang salah. Sementara itu, tim pemandu yang dipimpin oleh Bob Midwood, berhasil mendarat di zona pendaratan K, sesuai target. Sebuah tim pemandu dari Batalion Parasut ke-9 yang ditugaskan untuk menandai zona pendaratan bagi pasukan yang bertugas untuk menghancurkan Baterai Merville, hampir musnah, ketika pesawat pengebom Avro Lancaster melancarkan serangan udara yang meleset ke area tim pemandu tersebut berada, alih-alih menyerang Baterai Merville itu sendiri.[42]
Brigade Parasut ke-5
Karena faktor cuaca dan navigasi, pasukan dari Brigade Parasut ke-5 yang dipimpin oleh Nigel Poett, diterjunkan tidak sebagaimana mestinya. Komponen pendukung pasukan dari Batalion Parasut ke-7 diterjunkan secara terpisah dan terpencar-pencar, sehingga komandan batalion hanya dapat memimpin sekitar empat puluh persen dari keseluruhan anggota pasukan pada pukul 03:00, meskipun lebih banyak pasukan yang mendarat sepanjang malam dan siang. Kontainer suplai yang ditemukan oleh pasukan udara, relatif sedikit, sehingga tidak banyak senjata berat atau perangkat radio yang mereka miliki.[43] Namun, Batalion Parasut ke-7 akhirnya berhasil bertemu dengan pasukan Infanteri Ringan Oxfordshire dan Buckinghamshire ke-2, lalu membangun pertahanan terhadap perlawanan dan serangan balik Jerman. Respon serangan balik Jerman pertama kali dimulai antara pukul 05:00 hingga 07:00, yang terdiri dari serangan terisolasi oleh tank-tank Jerman dan serangan tersebut kerap tidak terkoordinasi. Serangan-serangan serupa juga dilancarkan oleh kendaraan-kendaraan lapis baja dan pasukan infanteri Jerman yang intensitasnya meningkat sepanjang hari.[44][45] Pada pukul 10:00, pasukan Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe) berupaya untuk menghancurkan jembatan Caen. Upaya tersebut termasuk serangan pesawat tunggal yang menjatuhkan bom seberat 450 kg, meskipun gagal meledak, ditambah dengan serangan dua kapal pantai Jerman yang berupaya untuk melakukan serangan terhadap jembatan. Namun, akhirnya pasukan Jerman tersebut dapat dihalau mundur.[44][46]

Seiring berjalannya waktu, Batalion ke-2, Resimen Panzergrenadier ke-192 Jerman, melakukan perlawanan dan serangan balik terhadap pasukan Sekutu di wilayah Bénouville dalam upayanya mencapai jembatan. Pasukan Cepat dan Batalion Parasut ke-7, bertahan pada posisinya dan berhasil menghancurkan 13 dari 17 tank Jerman yang mencoba melewatinya. Pasukan Inggris bergerak maju ke Bénouville dan membersihkan pasukan Jerman yang tersisa melalui pertempuran kota. Menjelang tengah hari, sebagian besar anggota pasukan dari Batalion Parasut ke-7 yang sempat hilang, tiba di jembatan.[24] Meskipun serangan Jerman secara bertubi-tubi dengan ganas, pasukan Batalion dan pasukan Cepat, mampu mempertahankan posisi jembatan hingga pukul 19:00, ketika elemen terdepan dari Divisi Infanteri ke-3 tiba dan mulai membebaskan pasukan udara. Proses tersebut selesai sekitar pukul 01:00 dinihari pada 7 Juni 1944.[44]
Brigade dari dua batalion lainnya, ke-12 dan ke-13 yang diterjunkan pada pukul 05:00, juga dalam kondisi yang terpencar-pencar. Keduanya bahkan saling menjauh dari titik pertemuan dan tidak ada dari keduanya yang memiliki kekuatan lebih dari enam puluh persen, meskipun pasukan udara individu dan kelompok-kelompok kecil akan bergabung dengan mereka sepanjang hari.[47] Kedua Batalion ditugaskan untuk mengamankan wilayah di sekitar zona pendaratan N, termasuk mengamankan jembatan yang telah direbut oleh pasukan Cepat. Tugas yang jauh semakin sulit karena kondisi pasukan yang terpencar-pencar di wilayah tersebut. Misi pasukan Batalion Parasut ke-12 untuk mengamankan desa-desa di Le Bas de Ranville, dapat terselesaikan hingga pukul 04:00. Sementara itu, pasukan Batalion Parasut ke-13 yang bertugas untuk menduduki kota Ranville juga dapat menyelesaikan misinya di sekitar waktu yang sama, meskipun menghadapi perlawanan pasukan Jerman yang lebih berat dari yang dihadapi batalion-batalion lainnya.[48]
Satu kompi pasukan dari Batalion Parasut ke-13, ditugaskan untuk tetap berada di zona pendaratan batalion, guna memberikan perlindungan terhadap kompi sapper, karena mereka ditugaskan untuk menghancurkan tiang-tiang pasak dan bahan peledak di wilayah tersebut, sehingga pasukan Divisi Lintas Udara ke-6 dapat mendarat tanpa hambatan.[49] Kedua batalion mempertahankan area masing-masing hingga digantikan oleh pasukan yang mendarat dari pantai. Batalion Parasut ke-12, dibombardir dengan tembakan mortir dan artileri berat Jerman, tetapi mampu menangkis dua perlawanan balik pasukan Resimen Panzergrenadier ke-125. Serangan pertama berhasil dikalahkan dengan mengancurkan tank dan menangkap sejumlah tentara Jerman sebagai tawanan. Serangan kedua berhasil dipatahkan melalui bala bantuan pasukan baterai anti-tank yang baru mendarat.[50]
Brigade Parasut ke-3
Brigade Parasut ke-3 yang dikomandoi oleh James Hill, mulai mendarat bersamaan waktunya dengan unsur-unsur dari Brigade Parasut ke-5, juga dilanda masalah yang sama. Seluruh unit pasukannya tercerai berai di seluruh wilayah, karena masalah navigasi yang buruk, masalah cuaca dan beberapa zona pendaratan yang tidak ditandai dengan tepat atau zona yang ditandai tetapi pada posisi yang salah, karena kesalahan pasukan pemandu militer.[51]
Batalion Parasut ke-8 yang ditugaskan untuk menghancurkan dua jembatan di dekat Bures dan jembatan ketiga dekat Troarn, juga mengalami kendala yang sama, karena pasukan terjun payungnya terpencar luas dengan sejumlah pasukannya mendarat di wilayah operasi Brigade Parasut ke-5.[52] Ketika komandan pasukan, Alastair Pearson, tiba di titik pertemuan batalion pada pukul 01:20, ia mendapati hanya tiga puluh pasukan terjun payung dan sekelompok kecil pasukan sapper dengan Jeep dan trailer. Jumlah pasukan yang tiba, meningkat hingga 140 pada pukul 03:30, tetapi tetap tidak ada tanda-tanda pasukan sapper yang dibutuhkan untuk menghancurkan jembatan-jembatan tersebut.[53]
Oleh karenanya, Pearson memutuskan untuk mengirim sejumlah kecil pasukan untuk menghancurkan jembatan di Bures, lalu memimpin sisa pasukan lainnya menuju persimpangan jalan di bagian utara Troarn, untuk menunggu kedatangan pasukan Sekutu lainnya sebelum melakukan serangan. Pasukan yang dikirim ke Bures, mendapati bahwa jembatan tersebut telah dihancurkan oleh sekelompok pasukan sapper, yang telah berhasil mencapai jembatan tersebut beberapa jam sebelumnya, kemudian mereka bergabung kembali dengan batalion dekat Troarn yang kini jumlah pasukannya bertambah, setelah lima puluh orang lainnya bergabung.[53] Untuk memastikan status jembatan di Troarn, dikirim satu regu pengintai dan satu regu sapper ke lokasi jembatan, tetapi regu ini dihujani tembakan oleh pasukan Jerman yang bersembunyi di salah satu rumah yang diduduki di dekat jembatan.[54]

Setelah baku tembak singkat, pasukan terjun payung berhasil menangkap sejumlah tentara Jerman dari Divisi Panzer ke-21, kemudian mereka bergerak menuju jembatan dan menemukan kondisi jembatan yang telah dihancurkan sebagian. Para pasukan sapper lalu memperlebar jembatan yang hancur tersebut dan pasukan pengintai, kembali mundur untuk bergabung kembali dengan pasukan batalion di persimpangan jalan.[54] Setelah misinya tercapai, pasukan batalion lalu bergerak ke arah utara dan berposisi di dekat Le Mesnil untuk memperluas pangkalan terdepan yang telah dibentuk oleh pasukan Divisi.[52]
Batalion Parasut Kanada ke-1 juga turut ambil bagian dalam Divisi, dengan tugas utamanya menghancurkan dua jembatan, satu di area Varaville dan satu lagi di Robehomme.[52] Sebagaimana pasukan dari unit-unit lainnya, Batalion Parasut Kanada ke-1 pun terpencar-pencar di area operasi. Satu kelompok pasukan diterjunkan sejauh 16 km dari zona pendaratan semestinya dan satu kelompok lagi diterjunkan tidak jauh dari pantai invasi. Beberapa di antaranya diterjunkan di daerah yang banjir di sekitar Varaville dan sebagian dari mereka tenggelam, terseret arus bawah air karena beban peralatan yang mereka bawa.[54]
Pada pukul 03:00, pasukan sapper yang bertugas untuk menghancurkan jembatan belum tiba, sehingga pasukan terjun payung yang tiba lebih dulu di lokasi, mengumpulkan sejumlah kecil bahan peledak yang mereka bawa untuk meledakkan jembatan dan membuatnya menjadi rapuh. Sebelum mencapai target jembatan di Robehomme, kelompok pasukan dari unit-unit pasukan terjun payung dan pasukan sapper, bertemu di sepanjang perjalanan menuju jembatan dan mendapati bahwa jembatan tersebut masih utuh. Pasukan sapper akhirnya tiba pada pukul 06:00 dan melanjutkan proses penghancuran jembatan yang didukung oleh pasukan terjun payung.[41]
Sementara itu, kompi lain dari batalion yang tengah berupaya untuk menyelesaikan tugasnya, yakni membersihkan garnisun musuh dari Varaville, menghancurkan emplasemen senjata, menghancurkan jembatan di atas Sungai Divette, termasuk menghancurkan pemancar radio di dekat Varaville, tetapi kompi tersebut sangat kekurangan pasukan, dengan hanya sekitar 100 kekuatan yang ada.[55]
Sekelompok kecil pasukan yang dipimpin oleh komandan kompi, melakukan serangan terhadap kubu pertahanan Jerman di luar Varaville yang dijaga oleh kira-kira sembilan puluhan tentara Jerman, yang dilengkapi dengan sekumpulan senapan mesin dan artileri. Senjata-senjata tersebut mengakibatkan banyak jatuhnya korban dari kelompok pasukan Kanada dan menewaskan komandan kompi, serta terjadi kebuntuan hingga pukul 10:00, ketika pasukan Jerman akhirnya menyerah, setelah dibombardir dengan mortir. Pasukan terjun payung kemudian dibebaskan oleh Pasukan Komando Inggris dari Brigade Layanan Khusus ke-1.[56]
Pertempuran baterai artileri Merville

Brigade Parasut ke-3, dari Batalion Parasut ke-9, ditugaskan dengan sejumlah misi, yakni menghancurkan baterai artileri Merville, menguasai dan menduduki desa Le Plein termasuk memblokir jalan yang menuju ke desa tersebut dan merebut markas pasukan Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine) di Sallenelles dekat Sungai Orne.[51] Namun, dalam kondisi pasukan yang diterjunkan secara berpencar di wilayah tersebut, dengan pasukan terjun payung yang mendarat cukup jauh dari zona pendaratan yang seharusnya, Komandan Batalion Terence Otway mendarat sekitar 370 m dari zona pendaratan. Ia mendarat di sebuah rumah petani yang digunakan pasukan batalion Jerman sebagai pos komando. Setelah baku tembak singkat dan membantu pasukan terjun payung lainnya yang tersebar, Otway tiba di zona pendaratan pada 01:30.[57]
Pada pukul 02:35, hanya 110 pasukan terjun payung yang telah bergabung dengan ketersediaan hanya satu senjata mesin dan sejumlah torpedo Bangalore. Hal ini merupakan kemunduran signifikan bagi pasukan Sekutu, sebagaimana rencana misi mereka yang bertujuan untuk menghancurkan baterai artileri, sangat bergantung kepada keberadaan seluruh pasukan batalion yang didukung pasukan sapper, termasuk persenjataan berat dalam jumlah yang banyak.[58] Berdasarkan perintah bahwa baterai artileri Jerman harus sudah dihancurkan pada 05:30, Otway merasa bahwa ia tidak dapat menunggu waktu lebih lama untuk menunggu anggota pasukannya datang, maka ia memutuskan untuk melakukan serangan dengan 150 anggota pasukan yang ada, disusul dengan pasukan tertinggal yang bergabung bersamanya pada 02:45.[59]
Pasukan batalion tiba di lokasi baterai artileri Jerman pada 04:00. Mereka bergabung dengan sekelompok pasukan pemandu yang masih selamat, karena sebelumnya sebagian dari mereka dihantam oleh pasukan Angkatan Udara Inggris yang salah sasaran. Seluruh pasukan mulai bersiap melakukan serangan, sementara para pemandu menandai area-area yang akan ditempatkan torpedo bangalore.[58] Pasukan batalion terbagi menjadi empat kelompok penyerang, masing-masing akan menyerang empat kasemat di lokasi baterai artileri. Pasukan batalion telah siap pada 04:30, ketika pesawat layang yang membawa pasukan sapper, tiba di atas baterai tersebut.[60]

Dari tiga pesawat layang yang ditugaskan dalam misi tersebut, hanya dua yang sampai ke Normandia. Satu pesawat layang terpaksa dibatalkan misinya dan mendarat di Inggris. Kedua pesawat layang yang sampai ke Normandia, terkena tembakan anti-pesawat oleh baterai artileri Jerman, ketika menuju zona pendaratan. Satu pesawat layang mendarat sekitar 3,2 km dari lokasi semestinya dan satu lagi mendarat di sisi ladang ranjau dekat baterai artileri Jerman. Pasukan dari pesawat layang tersebut, langsung terlibat dalam baku tembak dengan pasukan Jerman yang menuju baterai artileri untuk memperkuat pertahanan di baterai artileri.[61][62] Otway meluncurkan serangan, segera setelah pesawat layang terbang melampaui baterai artileri, dengan memerintahkan pasukannya untuk meledakkan perimeter yang nantinya akan membentuk dua lajur di perimeter luar untuk aksi penyerangan. Pasukan Jerman yang menyadari adanya ledakan, mulai melepaskan tembakan ke arah pasukan terjun payung. Hal ini mengakibatkan jatuhnya banyak korban.[63]
Hanya empat tentara yang ditugaskan untuk menyerang kasemat keempat, dapat bertahan cukup lama. Mereka menonaktifkan senjata Jerman dengan melakukan serangkaian tembakan ke lubang terbuka dan melempar granat melalui ventilasi udara. Kasemat lainnya dapat dilumpuhkan dengan granat fosfor dan granat fragmentasi, karena kru pasukan Jerman mengabaikan pintu-pintu tidak terkunci yang mengarah ke baterai artileri.[63] Pasukan terjun payung dapat menangkap dan membawa sejumlah tawanan Jerman, lalu menyiapkan bahan peledak untuk meledakkan artileri-artileri di dalam baterai. Terungkap pula bahwa artileri yang digunakan bukanlah senjata modern dengan kaliber 150 mm, tetapi howitzer lapangan kaliber 100 mm era Perang Dunia I yang digunakan Cekoslowakia.[62]
Pasukan terjun payung memberdayakan bahan peledak yang mereka miliki dengan meledakkan satu meriam menggunakan granat Gammon dan menyumbat moncong meriam satu dan lainnya dengan peluru. Namun, misi tersebut tidak dilakukan secara menyeluruh, karena setidaknya satu meriam kembali beraksi ketika pasukan Jerman menduduki kembali baterai tersebut.[63] Setelah pasukan terjun payung menyelesaikan misi penyerangan, lalu mereka mengumpulkan para tawanan Jerman, termasuk yang terluka, untuk bergerak mundur menjauh dari lokasi baterai artileri Jerman. Pasukan terjun payung tidak memiliki radio komunikasi dan sebagai tindakan kontingensi, apabila tidak ada sinyal yang diterima oleh kapal penjelajah ringan HMS Arethusa pada 05:30, kapal tersebut akan menghujani baterai artileri dengan tembakan.[64]
Meskipun pasukan terjun payung dapat menyelesaikan misi utamanya, tetapi dengan pengorbanan yang besar. Mereka kehilangan lima puluh orang prajuritnya yang tewas dan dua puluh lima orang terluka. Pasukan Batalion kemudian menyerang Le Plein dan menghalau pasukan Jerman setingkat peleton yang berada di lokasi tersebut.[64] Karena pasukan batalion tidak memiliki kekuatan lagi untuk melakukan misi lainnya, mereka yang selamat, kembali mundur ke titik pertemuan yang direncanakan pada 05:30.[63]
Pasukan Divisi dan Operasi Mallard

Pada pukul 03:35, pasukan Divisi Lintas Udara ke-6, mendarat dengan pesawat layang di zona pendaratan yang telah dibuka oleh pasukan sapper. Hanya beberapa pesawat saja yang gagal mendarat di zona pendaratan, karena cuaca buruk dan faktor kesalahan navigasi. Selanjutnya, setelah pasukan terjung payung berkumpul, mereka kemudian bergerak ke area Le Bas de Ranville dan berposisi di sana. Kontak telah terjalin dengan pasukan dari Brigade Parasut ke-5 pukul 05:00 dan pasukan Brigade Parasut ke-3 pukul 12:35. Kemudian, Divisi tersebut bergabung dengan pasukan Brigade Layanan Khusus ke-1 yang bergerak maju dari pantai-pantai invasi pada 13:53.[52]
Pada 21:00, Operasi Mallard dimulai. Operasi ini adalah gelombang terakhir pendaratan pasukan yang terdiri dari 220 pesawat layang berjenis Horsa dan Hamilcar. Pesawat-pesawat tersebut membawa serombongan pasukan Brigade Pendaratan Udara ke-6 dari Divisi Lintas Udara ke-6 dan unit-unit pasukan lainnya. Pesawat-pesawat tersebut tiba di zona pendaratan masing-masing yang disambut dengan tembakan senjata ringan dan mortir pasukan Jerman.[33][65] Pada 7 Juni 1944, tepat pukul 00:00, seluruh pasukan Divisi telah dikerahkan seluruhnya ke sisi timur pantai-pantai invasi (kecuali pasukan Resimen Devonshire, Batalion Ke-12, dari Brigade Pendaratan Udara ke-6 yang dijadwalkan tiba melalui laut pada 7 Juni 1944).
Dengan berakhirnya hari, Brigade Parasut ke-3 menguasai front sepanjang 6.4 km dengan Batalion Parasut ke-9 menguasai Le Plein, Batalion Parasut Kanada ke-1 di Le Mesnil dan Batalion Parasut ke-8 di bagian selatan Bois de Bavent. Brigade Parasut ke-5 dari Batalion Parasut ke-12, menduduki Le bas de Ranville dan Batalion Parasut ke-13 menguasai Ranville, sementara Batalion Parasut ke-7 dipindahkan sebagai pasukan cadangan. Meskipun demikian, Brigade Pendaratan Udara ke-6 siap mengerahkan dua batalionnya untuk memperluas pangkalan terdepan, sementara Brigade Layanan Khusus ke-1, berada di bawah komando Divisi untuk menduduki desa-desa di bagian utara dan timur laut zona pendaratan N.[66]
Kesudahan
Analisis
Operasi Tonga merupakan operasi militer yang seluruh misinya, sukses dijalankan oleh Divisi Lintas Udara ke-6 dan dapat tercapai dalam batas waktu yang telah ditetapkan untuk masing-masing unit Divisi. Meskipun demikian, terdapat banyak kendala dan masalah-masalah yang terjadi karena banyaknya pasukan tercerai berai yang diakibatkan karena kesalahan navigasi oleh para pilot yang membawa pasukan ke medan pertempuran. Sepuluh dari 85 pesawat layang, meleset hingga lebih 3.2 km jauhnya dari zona pendaratan yang semestinya. Namun, hal-hal yang tak diinginkan tersebut, membuat pasukan Jerman menjadi kebingungan karena area pendaratan pasukan Sekutu menjadi sangat luas.[67]
Korban
Divisi Lintas Udara ke-6, kehilangan 800 dari 8.500 pasukan antara 5 hingga 6 Juni 1944.[3] Selain itu, empat belas tank hancur selama aksi serangan balasan pasukan Jerman di area jembatan Sungai Orne dan Terusan Caen, termasuk sebuah kapal perang yang juga turut hancur.[68]
Misi lanjutan
Divisi Lintas Udara ke-6, berhasil memukul mundur serangan yang dilancarkan pasukan Jerman antara 7 hingga 10 Juni 1944.[69] Divisi ini mempertahankan wilayah yang telah dikuasai Sekutu antara Sungai Orne dan Sungai Dives hingga 14 Juni 1944, hingga wilayah di selatan pangkalan terdepan yang merupakan bagian dari pangkalan Sungai Orne, diambil alih oleh pasukan dari Divisi Infanteri ke-51.[35]

Pada 10 Juni 1944, diputuskan untuk memperluas pangkalan terdepan hingga ke Sungai Orne bagian timur dengan menugaskan pasukan Divisi Lintas Udara ke-6. Namun, jumlah kekuatan pasukan Divisi, dianggap tidak mencukupi untuk menjalankan misi tersebut, sehingga pasukan dari Brigade Parasut ke-3 ditambah oleh pasukan dari Batalion ke-5 Resimen Kerajaan Skotlandia (Black Watch) untuk menambah kekuatan pasukan. Pada 11 Juni, Batalion ke-5, melancarkan serangan ke kota Bréville yang mendapatkan perlawanan hebat dari pasukan Jerman, hingga pasukan batalion dapat dipukul mundur dengan jatuhnya sejumlah korban. Hari berikutnya, seluruh front pasukan Brigade Parasut ke-3, menjadi sasaran bombardir dan serangan artileri oleh pasukan Jerman yang mengerahkan tank bersama pasukan infanterinya. Pasukan Jerman berfokus pada posisi yang dikuasai oleh Batalion Parasut ke-9.[70][71]
Batalion Parasut ke-9 dan sisa pasukan Black Watch, yang mempertahankan Chateau Saint-Côme, terpaksa mundur bertahap. Namun, setelah Otway menyatakan bahwa batalionnya tidak akan mampu untuk bertahan lebih lama lagi dari gempuran pasukan Jerman, James Hill mengumpulkan sejumlah pasukannya untuk melakukan aksi serangan balasan yang akhirnya dapat membalikkan posisi.[72][73]
Dalam minggu-minggu berikutnya, untuk menambah jumlah kekuatan pasukan Divisi Lintas Udara ke-6, divisi tersebut ditambah sejumlah pasukan dari Brigade Putri Irene (Brigade Infanteri Bermotor Kerajaan Belanda) dan Brigade Infanteri Belgia ke-1.[35] Setelah periode peperangan statis, pada 7 Agustus 1944, pasukan divisi mulai melakukan persiapan untuk melakukan operasi penyerangan. Pada 16/17 Agustus, pasukan Divisi mulai bergerak untuk maju ke posisi pertahanan Jerman yang kuat. Pergerakan ini berlanjut hingga 26 Agustus, ketika pasukan divisi dapat mencapai wilayah muara Sungai Seine. Pasukan divisi telah maju sejauh 72 km dalam sembilan hari pertempuran.[74] Richard Gale menyatakan bahwa, meskipun pasukan "tidak dilengkapi dengan perlengkapan yang cukup untuk melakukan pengejaran cepat."[75] Pergerakan ini sukses menguasai dan membebaskan sekitar 1.000 km2 wilayah-wilayah Prancis yang dijajah dan menangkap lebih dari 1.000 orang tentara Jerman.
Antara 6 hingga 26 Agustus 1944, jumlah korban tercatat sejumlah 4.457 orang yang terdiri dari 821 tewas, 2.709 terluka dan 927 dilaporkan hilang.[76][77] Pasukan divisi ini akhirnya ditarik dari garis depan pada 27 Agustus dan diberangkatkan ke Inggris pada awal September 1944.[76]
Referensi
Kutipan
- ^ The Parachute Regiment (26 Maret 2004). "D-Day – The Normandy Landings" (dalam bahasa Inggris). Ministry of Defense. Diarsipkan dari asli tanggal 1 November 2006. Diakses tanggal 11 Juni 2008.
- ^ Niklas Zetterling. "German Order of Battle" (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 13 Juli 2008. Diakses tanggal 24 Juli 2008.
- ^ a b Air Ministry 2013, hlm. 89.
- ^ a b Otway 1990, hlm. 156.
- ^ Buckingham 2005, hlm. 24.
- ^ Crookenden 1976, hlm. 67.
- ^ Hand 1995, hlm. 87.
- ^ Buckingham 2005, hlm. 24–25.
- ^ Otway 1990, hlm. 157.
- ^ Buckingham 2005, hlm. 27.
- ^ a b c Harclerode 2005, hlm. 305.
- ^ Tugwell 1971, hlm. 202.
- ^ Buckingham 2005, hlm. 16.
- ^ Gale 1948, hlm. 23–24.
- ^ Harclerode 2005, hlm. 305–307.
- ^ a b Harclerode 2005, hlm. 307.
- ^ Otway 1990, hlm. 168.
- ^ a b c Otway 1990, hlm. 169.
- ^ Otway 1990, hlm. 170.
- ^ Otway 1990, hlm. 171.
- ^ a b c Otway 1990, hlm. 174.
- ^ Fowler 2010, hlm. 11.
- ^ Ford 2002, hlm. 47.
- ^ a b Ambrose 2003, hlm. 155–159, 162, 168.
- ^ Fowler 2010, hlm. 11–12.
- ^ Ford & Zaloga 2009, hlm. 204.
- ^ Buckingham 2005, hlm. 37.
- ^ Harclerode 2005, hlm. 308.
- ^ Devlin 1979, hlm. 369.
- ^ Buckingham 2005, hlm. 41.
- ^ Harclerode 2005, hlm. 309.
- ^ Buckingham 2005, hlm. 119.
- ^ a b c Buckingham 2005, hlm. 120.
- ^ Moreman et al. 2007, hlm. 227.
- ^ a b c Air Ministry 2013, hlm. 73.
- ^ Buckingham 2005, hlm. 120–121.
- ^ Harclerode 2005, hlm. 312–313.
- ^ a b Buckingham 2005, hlm. 122.
- ^ Harclerode 2005, hlm. 313.
- ^ Buckingham 2005, hlm. 129.
- ^ a b Buckingham 2005, hlm. 123.
- ^ a b Buckingham 2005, hlm. 125.
- ^ Harclerode 2005, hlm. 314.
- ^ a b c Otway 1990, hlm. 178.
- ^ Harclerode 2005, hlm. 314–316.
- ^ Fowler 2010, hlm. 55.
- ^ Otway 1990, hlm. 179.
- ^ Buckingham 2005, hlm. 127.
- ^ Harclerode 2005, hlm. 315.
- ^ Harclerode 2005, hlm. 316.
- ^ a b Otway 1990, hlm. 180.
- ^ a b c d Otway 1990, hlm. 181.
- ^ a b Harclerode 2005, hlm. 321.
- ^ a b c Harclerode 2005, hlm. 322.
- ^ Harclerode 2005, hlm. 324.
- ^ Harclerode 2005, hlm. 324–325.
- ^ Buckingham 2005, hlm. 142–143.
- ^ a b Buckingham 2005, hlm. 143.
- ^ Harclerode 2005, hlm. 318.
- ^ Buckingham 2005, hlm. 143–144.
- ^ Nigl 2007, hlm. 71.
- ^ a b Harclerode 2005, hlm. 319.
- ^ a b c d Buckingham 2005, hlm. 145.
- ^ a b Harclerode 2005, hlm. 320.
- ^ Harclerode 2005, hlm. 326-327.
- ^ Harclerode 2005, hlm. 327.
- ^ Otway 1990, hlm. 182.
- ^ Ambrose 2003, hlm. 130–131, 153–159, 162, 168.
- ^ Harclerode 2005, hlm. 328–330.
- ^ Otway 1990, hlm. 185.
- ^ Harclerode 2005, hlm. 334.
- ^ Harclerode 2005, hlm. 335.
- ^ Saunders 1971, hlm. 196.
- ^ Otway 1990, hlm. 187–188, 191.
- ^ Gale 1948, hlm. 126.
- ^ a b Otway 1990, hlm. 191.
- ^ Harclerode 2005, hlm. 363.
Daftar pustaka
- Air Ministry (2013) [1945]. Carruthers, Bob (ed.). By Air to Battle: The Official History of the British Paratroops in World War II (dalam bahasa Inggris). Barnsley: Pen and Sword Books. ISBN 9780117083462. OL 38750289M.
- Ambrose, Stephen E. (2003). Pegasus Bridge (dalam bahasa Inggris). London: Pocket Books. ISBN 9780743450683. OL 7950279M.
- Barber, Neil (2002). The Day The Devils Dropped In: The 9th Parachute Battalion in Normandy (dalam bahasa Inggris). Pen & Sword. ISBN 9781844150458. LCCN 2002489987. OL 3648853M.
- Brereton, Lewis H. (1946). The Brereton Diaries: The War in the Air in the Pacific, Middle East and Europe, 3 October 1941 – 8 May 1945 (dalam bahasa Inggris). Tannenberg Publishing. ISBN 9781782898757
- Buckingham, William F. (2005). D-Day: The First 72 Hours (dalam bahasa Inggris). Tempus Publishing. ISBN 9780752428420. OL 7982477M.
- Crookenden, Napier (1976). Dropzone Normandy (dalam bahasa Inggris). Ian Allan. ISBN 9780711006607. OL 4953989M.
- Devlin, Gerard M. (1979). Paratrooper! The Saga of Parachute and Glider Combat Troops (dalam bahasa Inggris). Robson Books. ISBN 9780312596545. LCCN 77023674. OCLC 037382. OL 10393210M.
- Ellis, Lionel F.; et al. (2004) [1962]. Victory in the West: The Battle of Normandy. History of the Second World War (dalam bahasa Inggris). Vol. I. Naval & Military Press. ISBN 9781845740580. LCCN 2009675420. OL 24019123M.
- Ford, Ken (2002). D-Day 1944: Sword Beach & British Airborne Landings. Campaign (dalam bahasa Inggris). Vol. III. Oxford: Osprey. ISBN 9781841763668. OL 8922329M.
- Ford, Ken; Zaloga, Steven J (2009). Overlord the D-Day Landings (dalam bahasa Inggris). Oxford United Kingdom: Osprey. ISBN 9781846034244. LCCN 2009284044. OL 23622815M.
- Fowler, Will (2010). Pegasus Bridge: Bénouville D-Day 1944. Raid (dalam bahasa Inggris). Oxford: Osprey. ISBN 9781846038488. LCCN 2010549850. OCLC 449845234. OL 25543733M.
- Gale, Richard N. (1948). With the 6th Airborne Division in Normandy (dalam bahasa Inggris). Ian Allan. OCLC 4447265.
- Hand, Roger (1995). "Overlord and Operational Art". Military Review (dalam bahasa Inggris). 75 (3). Fort Leavenworth, Kansas: Combined Arms Center: 86–92. ISSN 0026-4148.
- Harclerode, Peter (2005). Wings of War – Airborne Warfare 1918–1945 (dalam bahasa Inggris). Weidenfeld & Nicolson. ISBN 9780304367306. OL 10321718M.
- Moreman, Tim; Smith, Carl; Rottman, Gordon L.; Quarrie, Bruce; Antill, Peter (2007). Airborne: World War II Paratroopers in Combat (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury: Osprey. ISBN 9781846031960. LCCN 2007279539. OCLC 123375472. OL 8961987M.
- Nigl, Alfred J. (2007). Silent Wings Savage Death (dalam bahasa Inggris). Santa Ana, CA: Graphic Publishers. ISBN 9781882824311.
- Otway, Terence B. H. (1990). The Second World War 1939–1945 Army – Airborne Forces (dalam bahasa Inggris). Imperial War Museum. ISBN 9780901627575. OCLC 24954179. OL 9767707M.
- Saunders, Hilary A. St. G. (1971). The Red Beret: The Story of The Parachute Regiment at War, 1940–1945 (dalam bahasa Inggris). London: New English Library. ISBN 9781786259257.
- Tugwell, Maurice (1971). Airborne to battle: a History of Airborne Warfare, 1918–1971 (dalam bahasa Inggris). London: Kimber. ISBN 9780718302627. LCCN 73889362. OCLC 281786. OL 5031216M.
Pustaka lanjutan
- Harclerode, Peter (2002). Go To It! The Illustrated History of the 6th Airborne Division (dalam bahasa Inggris). Caxton. ISBN 184067136X. OL 12564057M.
- Stacey, C. C. J. (1960). The Victory Campaign: The Operations in North-West Europe 1944–1945 (PDF). Official History of the Canadian Army in the Second World War (dalam bahasa Inggris). Vol. III. Ottawa: The Queen's Printer and Controller of Stationery. OCLC 58964926. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 21 Desember 2020. Diakses tanggal 8 Juni 2014.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


