Ngerebong

Tradisi Ngerebong

Pepatih Poleng Kesiman saat Tradisi Ngerebong berlangsung (Minggu, 13 Oktober 2024)

Ngerebong merupakan sebuah tradisi sakral keagamaan di Bali yang biasa digelar di Pura Agung Petilan, Desa Adat Kesiman, Kecamatan Denpasar Timur. Denpasar sejak Tahun 1937M. Ngerebong berarti berkumpul, pada saat itu di yakini berkumpulnya para dewa. Ngerebong merupakan tradisi yang digelar oleh umat Hindu di Pura Agung Petilan (Pura Pangrebongan).[1] Upacara Ngerebong tergolong upacara Bhuta Yadnya atau Pacaruan, sehingga, upacara Ngerebong itu bertujuan untuk mengingatkan umat Hindu melalui media ritual sakral untuk memelihara keharmonisan hubungan antarmanusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan sesama umat manusia dan manusia dengan alam lingkungannya (Tri Hita Karana). Tradisi ini biasanya dilakukan setiap Enam6 Bulan dalam penanggalan kalender Bali yakni pada hari Minggu atau Redite Pon wuku Medangsia atau 8 Hari setelah Kuningan.[1] Jalanan akan ditutup apabila tradisi ini dilaksanakan, karena masyarakat percaya tradisi ini merupakan tradisi sakral.[2]

Penjor Agung yang tertancap di sekitar Pura Agung Petilan Kesiman (Minggu, 13 Oktober 2024) pict by: @swasthikawijaya

Ciri khas dari tradisi ini terletak pada Penjor-Penjor Agung (Raksasa/Bigsize) yang dihiasi sedemikian rupa, yang dilaksanakan oleh Yowana Desa Adat Kesiman (Yowana Kesiman) diperkirakan dimulai sejak 2014 silam, dengan dimeriahkan oleh 32 Sekhaa Teruna Teruni yang ada di Desa Adat Kesiman (Kelurahan KK, Petilan KP, Kertalangu KT). Masyarakat Kesiman mengawali upacara Ngerebong dengan sembahyang di pura.[2] Ngerebong bersamaan dengan digelarnya tabuh rah/tajen atau mengadu Ayam.

Puncak dari acara Ngerebong adalah penyisiran jalan oleh polisi adat setempat (pecalang), kemudian pengikut upacara keluar dari pura untuk melanjutkan ritual dengan mengelilingi wantilan (tempat adu ayam) sebanyak 3 kali.[2] Pada saat mengitari wantilan, ada peserta upacara mengalami Kerauhan atau kerasukan dengan berteriak, menangis, dan menari dengan diiringi Baleganjur Bebarongan (alunan musik tradisional Bali).[2] Dalam keadaan kesurupan ada yang menghujamkan keris ke dada, leher, lidah, bagian wajah bahkan ubun-ubun (hal ini disebut juga dengan ngurek atau ngunying).[3] Selama aksi itu berlangsung, warga yang tidak mengalami Kerauhan atau Kerasukan mengamankan agar tidak melukai warga lainnya yang tidak kesurupan.[3] Ritual Ngerebong akan berakhir pada saat matahari tenggelam, karena yakini roh-roh yang merasuki tubuh warga akan dipulangkan ke alamnya dengan menggunakan persembahyangan bersama dan mendapat siraman air yang telah disucikan atau Tirta.[3] Tujuannya untuk membangkitkan guna rajah untuk di-somia atau diharmoniskan agar patuh dengan arahan guna sattwam. Upacara ini wajib dilaksanakan karena dipercayai sebagai manifestasi dari pengabdian kepada Ida sang Hyang Widi Wasa.[1]

Sejarah

Kisah Jangkrik Banaran

Tradisi Ngerebong berawal dari kisah Raja Kesiman Gusti Ngurah Kesiman yang melakukan ekspansi ke Sasak Lombok atau sering disebut dengan Kisah Jangkrik Banaran

Kisah Jangkrik Banaran Raja Kesiman melawan Kerajaan Sasak (pict by: @phototirta)

Sebelum melakukan ekspansi kedua, Raja Kesiman melakukan ritual untuk memohon anugerah ke Pura Uluwatu. Sebelumnya Raja Kesiman memohon anugerah di Pura Uluwatu yang kemudian diberi anugerah sebuah keris yang selanjutnya digunakan untuk memperlancar penyerangan ke Kerajaan Sasak Lombok. Berbekal keris tersebut akhirnya Kerajaan Kesiman berhasil menaklukkan Kerajaan Sasak.

Meski berhasil ditaklukkan, Kerajaan Sasak belum mau menyerahkan daerah kekuasaannya. Pihaknya kembali melakukan banding dan menantang Kerajaan Kesiman untuk melakukan adu jangkrik. Tanpa berpikir panjang, Raja Kesiman pun menyanggupi karena berpikir bahwa tantangan tersebut adalah adu jangkrik biasa. Padahal jangkrik yang digunakan oleh Kerajaan Sasak adalah jangkrik siluman. Hal ini lantas membuat Kerajaan Kesiman menelan kekalahan.

Berbekal emosi yang membara, Raja Kesiman akhirnya kembali ke Bali dan memohon anugerah ke Pura Uluwatu. Sebelum permohonan anugerahnya dikabulkan, Raja Kesiman pun harus menyetujui syarat yang diajukan yang berbunyi "Wanen sing Cening Ngerehang Lemah? (Beranikah engkau memerintah wilayah ini)."

Sesudah menyanggupi syarat yang diberikan, Raja Kesiman diminta mengambil kilian jangkrik di pesisir Jimbaran, tepatnya di Pura Muaya. Sementara untuk sadek jangkrik, Raja Kesiman diminta memohon di Pura Dalem Kesiman.

Saat diadu, Jangkrik Banaran berubah menjadi banaspati dalam wujud barong, dan berhasil mengalahkan jangkrik Kerajaan Sasak. Karena Kerajaan Sasak kalah, maka iapun harus menepati janjinya, sehingga semua masyarakat yang beragama muslim atau yang dikenal dengan Bugis diserahkan ke Kerajaan Kesiman.

Sejak tahun 1925 mulai dilakukan persiapan-persiapan untuk meresistensi Tradisi Ngerebong di bawah pemerintahan Distrik Kumbawa Kesiman. Berdirinya Pura Agung Petilan dengan tujuan untuk meresistensi Ngerebong dan sejak saat itu tradisi Ngerebong dilakukan di Pura Agung Petilan yang sebelumnya dilakukan di Pura Dalem Puri Kesiman.[4]

Sumber: BaliExpress, dan I Gede Anom Ranuara, S.Pd., S.Sn., M.Si., M.Ag., (Guru Anom)

Referensi

  1. ^ a b c "Tradisi Ngerebong – Ngurek di Kesiman". balitoursclub.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-07-10. Diakses tanggal 11 Juni 2014.20.15.. ;
  2. ^ a b c d "Ngerebong, Tradisi Unik dari Kesiman". palingindonesia.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-07-14. Diakses tanggal 11 Juni 2014.22.30. ;
  3. ^ a b c "Tradsi Ngerebong di Kesiman". balipost.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-04-14. Diakses tanggal 11 Juni 2014.21.00. ;
  4. ^ Suarna, Nyoman. "Tradisi Ngerebong, Kisah Jangkrik Banaran Melawan Kerajaan Sasak - Bali Express". Tradisi Ngerebong, Kisah Jangkrik Banaran Melawan Kerajaan Sasak - Bali Express. Diakses tanggal 2025-10-27.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement