Baleganjur

Pagelaran Baleganjur di Kota Denpasar, 13 April 2019

Balaganjur atau Baleganjur adalah salah satu ensambel gamelan Bali. Istilah ini berasal dari kata Bala dan Ganjur. Bala berarti pasukan atau barisan, Ganjur berarti berjalan.[1] Jadi Balaganjur atau Baleganjur adalah suatu pasukan atau barisan yang sedang berjalan, yang kini pengertiannya lebih berhubungan dengan sebuah barungan gamelan yang berjalan.[2]

Sejarah Baleganjur

Panggung Baleganjur, di Denpasar tahun 2019

Baleganjur merupakan sebuah ensambel gamelan yang berkembang dari barungan gamelan bonang atau bebonangan, baik dari segi instrumentasi maupun struktur komposisinya.[2] Gamelan Baleganjur diyakini sebagai turunan langsung dari Gamelan Bonang, yang menurut tradisi lisan pertama kali dikembangkan oleh para seniman Bali di Desa Tangkas, Klungkung, pada awal abad ke-15.

Gamelan Bonang sendiri merupakan barungan instrumen pukul (perkusif) berpencon yang terdiri atas reong, trompong, kajar, kempli, kempur, dan gong. Selain itu, ensambel ini dilengkapi dengan dua buah kendang yang dimainkan menggunakan tongkat panggul cedugan. Susunan instrumen tersebut menciptakan pola ritmis dan dinamis yang menjadi ciri khas dalam berbagai pertunjukan maupun upacara adat Bali.

Dalam Lontar Prakempa disebutkan bahwa Gamelan Bonang digunakan untuk mengiringi upacara ngaben. Hal ini menunjukkan kesinambungan fungsi antara Gamelan Bonang dan Baleganjur dalam konteks ritual kematian, di mana keduanya memainkan peran penting dalam struktur musikal upacara keagamaan, khususnya dalam prosesi pengantaran roh menuju alam baka.

Pada masa awal kemunculannya, Gamelan Baleganjur digunakan untuk mengiringi pasukan yang akan bertempur di medan perang. Fungsinya tidak terbatas sebagai hiburan, melainkan berperan penting dalam membangkitkan semangat juang, meningkatkan moral prajurit, serta menciptakan suasana yang menggetarkan selama pertempuran. Jejak penggunaan Baleganjur dalam konteks militer ini dapat ditemukan dalam berbagai sumber tradisional Bali, seperti dalam teks-teks lontar babad.

Seiring waktu, fungsi Gamelan Baleganjur mengalami transformasi. Dari semula digunakan dalam konteks peperangan, ensambel ini kemudian beralih fungsi menjadi pengiring upacara keagamaan, pawai adat, serta prosesi kematian seperti ngaben.[2] Dalam perkembangannya di era modern, Baleganjur juga digunakan dalam berbagai kegiatan non-ritual, seperti pawai kesenian, acara olahraga, lomba layang-layang, hingga menjadi bagian dari kompetisi kesenian yang bersifat festival.[3]

Instrumen Baleganjur

Instrumen dalam Baleganjur terdiri dari:

  • 1 buah kendang lanang
  • 1 buah kendang wadon
  • 4 buah reong(Dong,Deng,Dung,Dang)
  • 2 Ponggang(Dung,Dang)
  • 8-10 buah cengceng
  • 1 buah kajar
  • 1 buah kempli
  • 1 buah kempur
  • 1 pasang gong(lanang’wadon)
  • 1 buah bende

Referensi

  1. ^ Suartaya, Kadek (2007). Pentas seni ritus Bali. Arti Foundation. hlm. 91. ISBN 978-979-1145-09-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ a b c Dibia, I. Wayan; Ballinger, Rucina (2012-11-27). Balinese Dance, Drama & Music: A Guide to the Performing Arts of Bali (dalam bahasa Inggris). Tuttle Publishing. hlm. 35. ISBN 978-1-4629-0867-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ Bandem, I Made.Ensiklopedi Musik Bali.1993

Pranala luar

  • Bandem, Made (1993). Ensiklopedi Gamelan Bali
  • Mudra Jurnal Seni Budaya (1993)

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement