Lobi bahan bakar fosil

Sebuah pom bensin Shell di Hiroshima, Jepang

Lobi bahan bakar fosil merupakan bentuk dari lobi yang dilakukan oleh perwakilan perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam industri bahan bakar fosil (minyak bumi, batu bara, dan gas fosil) serta industri yang memiliki kaitan dengan bahan bakar fosil seperti bahan kimia, plastik, penerbangan, dan lain-lain.[1] Mengingat kekayaan dan pentingnya industri-industri tersebut dalam perekonomian lokal, nasional, dan internasional, tindakan lobi ini dapat memiliki kapasitas dan dana untuk memengaruhi dan menghalangi kebijakan pemerintah, khususnya kebijakan yang berkaitan dengan perubahan iklim,[2] perlindungan lingkungan, dan kesehatan lingkungan.[3]

Lobi bahan bakar fosil aktif di sebagian besar negara dengan perekonomian yang bergantung pada sumber daya fosil dan tata kelola yang demokratis, dengan laporan mengenai upaya lobi tersebut paling menonjol di Kanada, Australia, Amerika Serikat, dan Eropa. Perusahaan minyak besar seperti ExxonMobil, Shell (perusahaan), BP (perusahaan), TotalEnergies, Chevron Corporation, dan ConocoPhillips merupakan badan usaha terbesar yang terkait dengan upaya lobi tersebut.[4] Di Amerika Serikat, American Petroleum Institute merupakan pelobi industri yang kuat dan memiliki pengaruh signifikan di parlemennya.[5][6][7] Adapun di Australia, Australian Energy Producers merupakan institusi setara yang juga mengatur kebijakan pemerintah yang menguntungkan bagi perusahaan minyak dan gas di negara tersebut.[8]

Kehadiran perusahaan-perusahaan bahan bakar fosil besar dan berbagai perusahaan minyak nasional di forum-forum global, seperti Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim,[9] Persetujuan Iklim Paris,[9] dan Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa, dikritisi sebagai bagian dari upaya lobi untuk meminimalkan dampak forum terhadap industri mereka.[10] Selain itu, upaya lobi ini juga dikritisi karena memanfaatkan krisis internasional untuk mencoba mencabut peraturan yang membatasi serta membenarkan pengembangan industri bahan bakar fosil,[11][12] seperti pada saat Pandemi Covid-19[11] dan Invasi Ukraina oleh Rusia.[12][13]

Pengaruh

Perusahaan-perusahaan yang terus berinvestasi dalam eksplorasi dan eksploitasi bahan bakar fosil baru benar-benar melanggar tugas fidusia mereka karena ilmu pengetahuan sangat jelas menyatakan bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang tidak dapat lagi kita lakukan.

Christiana Figueres, sekretaris eksekutif Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa[14]

Secara global, laba bersih industri minyak dan gas mencapai rekor US$4 triliun pada tahun 2022.[15]
Setelah pandemi COVID-19, laba perusahaan energi meningkat meningkatnya harga bahan bakar fosil akibat invasi Ukraina oleh Rusia, menurunnya tingkat utang, penghapusan pajak atas proyek yang ditutup di Rusia, dan mundurnya rencana sebelumnya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.[16]

Lobi industri bahan bakar fosil memiliki sejarah konflik kepentingan internasional dan pemerintahan global yang demokratis. Diperkirakan bahwa selama tahun 2010-an, lima perusahaan bahan bakar fosil terbesar, beserta kelompok industrinya, menghabiskan setidaknya €251 juta untuk melobi Uni Eropa terkait dengan kebijakan iklim.[17] Selama periode tersebut, pelobi tersebut juga mencoba untuk memengaruhi kebijakan di Kanada dan Australia.[18][19]

Secara publik, perusahaan bahan bakar fosil berulang kali menyatakan komitmennya terhadap lingkungan, termasuk mendukung Persetujuan Paris yang bertujuan untuk membatasi pemanasan global di bawah 2 °C pada tahun 2100.[20] Kendati demikian, laporan internal dari BP dan Shell menunjukkan bahwa perusahaan tersebut membuat rencana model bisnis kontingensi untuk meningkatkan suhu global hingga lebih dari 3 °C pada tahun 2050.[20]

Dampak terhadap lingkungan

Sejak tahun 2015, banyak pelobi energi berpengaruh merupakan bagian dari perusahaan pencemar teratas di Amerika Serikat, dengan Conoco, Exxon, dan General Electric merupakan tiga dari perusahaan berperingkat enam teratas.[21] Menurut Environmental Integrity Project, sebuah organisasi nirlaba nonpartisan yang didirikan pada Maret 2002 oleh mantan pengacara di Badan Perlindungan Lingkungan AS, "perusahaan seperti ExxonMobil dan Sunoco terus melaporkan rekor keuntungan sembari meningkatkan emisi lingkungan."[22] Dampak ini membuat banyak lobi energi dikritisi karena menggunakan pengaruhnya untuk memblokir atau melemahkan kebijakan terkait perubahan iklim global.[23]

Penyangkalan perubahan iklim

Isu perubahan iklim dan tanggung jawab manusia, yang sudah mendapatkan konsensus dalam komunitas ilmiah, masih menjadi subjek yang dicampur dengan motif politik atau ekonomi untuk meremehkan, mengabaikan, atau menyangkal isu tersebut. Ilmuwan iklim telah melaporkan adanya tekanan dari pemerintah dan industri minyak untuk menyensor atau menekan pekerjaan mereka dan menyembunyikan data dan temuan ilmiah, dengan arahan khusus untuk tidak mengomunikasikan subjek iklim secara publik. Pelobi bahan bakar fosil juga mengidentifikasi dirinya secara terbuka atau diam-diam mendukung upaya untuk melemahkan dan mendiskreditkan konsensus ilmiah mengenai perubahan iklim.[24][25]

Penyangkalan perubahan iklim sering dikaitkan dengan kelompok lobi bahan bakar fosil, Koch bersaudara, pendukung industri, serta wadah pemikir dan media alternatif ultrakonservatif.[26]: 351 [27][28]Lebih dari 90% makalah yang skeptis terhadap perubahan iklim umumnya datang dari pemikir sayap kanan.[29] Penyangkalan semacam ini melemahkan upaya untuk menindaklanjuti dan memitigasi perubahan iklim, serta memberikan pengaruh kuat dalam argumen kontra di politik perubahan iklim.[30][28]: 691–698 

Meski demikian, diketahui bahwa dahulunya, perusahaan minyak menerbitkan hasil penelitian yang secara umum sependapat dengan pandangan komunitas ilmiah tentang perubahan iklim. Sejak tahun 1970-an, perusahaan-perusahaan minyak telah mengorganisir kampanye penyangkalan perubahan iklim yang meluas dan sistematis untuk menyebarkan disinformasi publik, sebuah strategi yang sering kali dibandingkan dengan penyangkalan terorganisir industri tembakau terhadap bahaya merokok. Beberapa kampanye bahkan diketahui dilakukan oleh orang-orang yang sebelumnya bekerja dalam industri tersebut.[31][32][33]

Afrika Selatan

Di Afrika Selatan, industri batu bara, khususnya pertambangan, memiliki pengaruh lobi yang kuat.[34][35] Menurut Badan Energi Internasional pada tahun 2023, Afrika Selatan mengandalkan tenaga batu bara untuk menjalankan 85% listrik negara tersebut.[36] Perusahaan listrik terbesar negara tersebut, Eskom, memasok 90% listrik, di mana 80% pasokannya diperoleh dari pembangkit listrik tenaga batu bara.[36] Meskipun cadangan batu bara di negara tersebut kian menipis (yang juga menyebabkan seringnya pemadaman listrik),[37] tetapi lobi batu bara terus menentang upaya pemerintah dalam transisinya menuju energi terbarukan, terutama Just Energy Transition Partnership (JETP).[35] Pelobi batu bara juga bermitra dengan politis untuk menunda atau melemahkan rancangan undang-undang berkaitan dengan perubahan iklim dan pajak karbon.[35]

Amerika Serikat

Plakat "Pisahkan minyak dan negara", di Pawai Iklim Rakyat (2017)

Pada pemilihan umum tahun 2000, berbagai perusahaan minyak dan gas menyumbangkan lebih dari $34 juta ke partai kontestan untuk uang kampanye, di mana 78% uang tersebut masuk ke Partai Republik. Pada tahun 2004 dan 2006, masing-masing $25 juta dan $19 juta disumbangkan untuk kepentingan yang sama, di mana Partai Republikan mendapatkan porsi uang terbanyak. Hal yang sama dilakukan oleh perusahaan listrik, yang diperkirakan menyumbang sekitar $15 sampai $20 juta.[38][39] Pada tahun 2003 dan 2006, lobi bahan bakar fosil juga menyumbang $58,3 juta untuk kampanye tingkat negara bagian. Sebagai perbandingan, lobi energi alternatif hanya dapat menyumbang sekitar setengah juta dolar selama periode tersebut.[40]

Selama pemilu Amerika Serikat 2012, termasuk pemilihan presiden, terdapat indikasi pengeluaran yang dilakukan oleh lobi bahan bakar fosil dalam memengaruhi kebijakan politik dari kedua calon presiden.[41]


Pada tahun 2022, sekitar $125,05 juta dihabiskan oleh industri bahan bakar fosil untuk memengaruhi kebijakan pemerintah AS.[42]

Referensi

  1. ^ "Why fossil fuel lobbyists are dominating climate policy during Covid-19". Greenhouse PR. 23 July 2020. Diarsipkan dari asli tanggal 4 April 2023. Diakses tanggal 4 September 2020.
  2. ^ Oreskes, Naomi; Conway, Erik M. (2010). Merchants of Doubt (Edisi 1st U.S.). New York: Bloomsbury Press. ISBN 978-1-59691-610-4. OCLC 461631066.
  3. ^ "Lobbying threat to global climate action". DW.COM. Deutsche Welle. 5 November 2021. Diakses tanggal 6 April 2022.
  4. ^ Laville, Sandra (22 March 2019). "Top oil firms spending millions lobbying to block climate change policies, says report". The Guardian. ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 25 October 2019.
  5. ^ The Guardian, 19 July 2021 "How a Powerful U.S. Lobby Group Helps Big Oil to Block Climate Action" Diarsipkan 6 September 2021 di Wayback Machine.
  6. ^ Yale Environment 360, 19 July 2019 "Fossil Fuel Interests Have Outspent Environmental Advocates 10:1 on Climate Lobbying" Diarsipkan 6 September 2021 di Wayback Machine.
  7. ^ Reuters Events, 23 November 2015 "Lobbying: Climate Change—Beware Hot Air" Diarsipkan 6 September 2021 di Wayback Machine.
  8. ^ "Gaslighting: How APPEA and its members continue to oppose genuine climate action". ACCR (dalam bahasa Inggris). 2021-06-14. Diakses tanggal 2024-01-03.
  9. ^ a b "IPCC: We can tackle climate change if big oil gets out of the way". The Guardian. 5 April 2022. Diakses tanggal 6 April 2022.
  10. ^ "'Pushes us closer to the abyss': Former Azerbaijani oil executive to head COP29". France 24 (dalam bahasa Inggris). 2024-01-07. Diakses tanggal 2024-02-10.
  11. ^ a b "Oil and gas companies exploit coronavirus to roll back environmental regulations". DW.COM. Deutsche Welle. 16 April 2020. Diakses tanggal 6 April 2022.
  12. ^ a b "US fossil fuel industry leaps on Russia's invasion of Ukraine to argue for more drilling". The Guardian. 26 February 2022. Diakses tanggal 6 April 2022.
  13. ^ Manjoo, Farhad (24 March 2022). "Opinion. We're in a Fossil Fuel War. Biden Should Say So". The New York Times. ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 6 April 2022.
  14. ^ Cited in Tim Flannery, Atmosphere of Hope. Solutions to the Climate Crisis, Penguin Books, 2015, pp. 123–24 (ISBN 9780141981048).
  15. ^ "World Energy Investment 2023" (PDF). IEA.org. International Energy Agency. May 2023. hlm. 61. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 7 August 2023.
  16. ^ Bousso, Ron (8 February 2023). "Big Oil doubles profits in blockbuster 2022". Reuters. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 March 2023. ● Details for 2020 from the more detailed diagram in King, Ben (12 February 2023). "Why are BP, Shell, and other oil giants making so much money right now?". BBC. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 April 2023.
  17. ^ Laville, Sandra (24 October 2019). "Fossil fuel big five 'spent €251m lobbying EU' since 2010". The Guardian. ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 4 September 2020.
  18. ^ "Canadian fossil fuel industry exerts 'consistent and steady' pressure on government: report – 660 NEWS". www.660citynews.com. 11 November 2019. Diakses tanggal 4 September 2020.
  19. ^ Knaus, Christopher (12 February 2020). "Fossil-fuel industry doubles donations to major parties in four years, report shows". The Guardian. ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 4 September 2020.
  20. ^ a b Ben Chapman (27 October 2017). "BP and Shell planning for catastrophic 5°C global warming despite publicly backing Paris climate agreement". The Independent. Diakses tanggal 30 December 2018.
  21. ^ "PERI: Home". Diarsipkan dari asli tanggal 1 October 2011. Diakses tanggal 6 April 2015.
  22. ^ "EIP: Worst oil refineries produce significantly more carcinogenic air pollution than other facilities, raising questions about consistency of oil industry reporting" (PDF). Environmental Integrity Project. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 8 May 2007. Diakses tanggal 1 June 2007.
  23. ^ Administrator. "Global Warming & the Energy Corporations". Diakses tanggal 6 April 2015.
  24. ^ Stoddard, Isak; Anderson, Kevin; Capstick, Stuart; Carton, Wim; Depledge, Joanna; Facer, Keri; Gough, Clair; Hache, Frederic; Hoolohan, Claire; Hultman, Martin; Hällström, Niclas; Kartha, Sivan; Klinsky, Sonja; Kuchler, Magdalena; Lövbrand, Eva; Nasiritousi, Naghmeh; Newell, Peter; Peters, Glen P.; Sokona, Youba; Stirling, Andy; Stilwell, Matthew; Spash, Clive L.; Williams, Mariama; et al. (18 October 2021). "Three Decades of Climate Mitigation: Why Haven't We Bent the Global Emissions Curve?". Annual Review of Environment and Resources (dalam bahasa Inggris). 46 (1): 653–689. doi:10.1146/annurev-environ-012220-011104. hdl:1983/93c742bc-4895-42ac-be81-535f36c5039d. ISSN 1543-5938. S2CID 233815004. Diakses tanggal 31 August 2022.
  25. ^ Vidal, John (27 June 2011). "Climate sceptic Willie Soon received $1m from oil companies, papers show". The Guardian. London.
  26. ^ Jacques, Peter J.; Dunlap, Riley E.; Freeman, Mark (2008). "The organisation of denial: Conservative think tanks and environmental scepticism". Environmental Politics (dalam bahasa Inggris). 17 (3): 349–385. Bibcode:2008EnvPo..17..349J. doi:10.1080/09644010802055576. ISSN 0964-4016. S2CID 144975102.
  27. ^ Hoggan, James; Littlemore, Richard (2009). Climate Cover-Up: The Crusade to Deny Global Warming. Vancouver: Greystone Books. ISBN 978-1-55365-485-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 June 2021. Diakses tanggal 19 March 2010. See, e.g., pp. 31 ff, describing industry-based advocacy strategies in the context of climate change denial, and p73 ff, describing involvement of free-market think tanks in climate-change denial.
  28. ^ a b Dunlap, Riley E. (2013). "Climate Change Skepticism and Denial: An Introduction". American Behavioral Scientist (dalam bahasa Inggris). 57 (6): 691–698. doi:10.1177/0002764213477097. ISSN 0002-7642. S2CID 147126996.
  29. ^ Xifra, Jordi (2016). "Climate Change Deniers and Advocacy: A Situational Theory of Publics Approach". American Behavioral Scientist. 60 (3): 276–287. doi:10.1177/0002764215613403. hdl:10230/32970. S2CID 58914584.
  30. ^ Painter, James; Ashe, Teresa (2012). "Cross-national comparison of the presence of climate scepticism in the print media in six countries, 2007–10". Environmental Research Letters. 7 (4): 044005. Bibcode:2012ERL.....7d4005P. doi:10.1088/1748-9326/7/4/044005. ISSN 1748-9326.
  31. ^ Egan, Timothy (5 November 2015). "Exxon Mobil and the G.O.P.: Fossil Fools". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 August 2021. Diakses tanggal 9 November 2015.
  32. ^ Goldenberg, Suzanne (8 July 2015). "Exxon knew of climate change in 1981, email says – but it funded deniers for 27 more years". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 November 2015. Diakses tanggal 9 November 2015.
  33. ^ 'Shell knew': oil giant's 1991 film warned of climate change danger Diarsipkan 24 April 2017 di Wayback Machine., The Guardian
  34. ^ "South Africa's coal lobby is resisting a green transition". 19 June 2023.
  35. ^ a b c Molekwa, Thabo (2023-06-19). "South Africa's coal lobby is resisting a green transition". Climate Home News (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2025-04-02.
  36. ^ a b "Why Is Coal Still King in South Africa?". Columbia Political Review (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-04-02.
  37. ^ "Why Is Coal Still King in South Africa?". Columbia Political Review (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-04-02.
  38. ^ "Electric Utilities". Diarsipkan dari asli tanggal 21 April 2008. Diakses tanggal 6 April 2015.
  39. ^ "Oil & Gas". Diarsipkan dari asli tanggal 21 April 2008. Diakses tanggal 6 April 2015.
  40. ^ "ENERGY & ENVIRONMENTAL GIVING IN THE STATES" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 26 March 2009.
  41. ^ Fossil Fuel Industry Ads Dominate TV Campaign Diarsipkan 25 February 2017 di Wayback Machine. 13 September 2012
  42. ^ "Oil & Gas Lobbying Profile". OpenSecrets. Diakses tanggal 2 May 2023.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement