Kota Suoyang

Kota Suoyang
Situs Warisan Dunia UNESCO
Tembok luar Kota Suoyang
LokasiGuazhou, Gansu, Tiongkok
Bagian dariJalur Sutra: Jaringan Rute Koridor Chang'an-Tianshan
KriteriaCultural: (ii), (iii), (vi)
Referensi1442
Pengukuhan2014 (Sesi ke-38)
Luas15,7886 ha (39,014 ekar)
Koordinat40°14′47″N 96°12′19″E / 40.24628°N 96.20514°E / 40.24628; 96.20514
Kota Suoyang di Gansu
Kota Suoyang
Location of Kota Suoyang in Gansu
Kota Suoyang di Tiongkok
Kota Suoyang
Kota Suoyang (Tiongkok)

Kota Suoyang (Hanzi: 锁阳城; pinyin: Suǒyáng Chéng), dikenal juga sebagai Kuyu (苦峪), adalah kota kuno di Jalur Sutra yang kini berupa reruntuhan di Guazhou, Provinsi Gansu, Tiongkok. Kota ini pertama kali berdiri sebagai wilayah administratif Ming’an pada 111 SM pada masa Kaisar Wu dari Dinasti Han. Pada tahun 295 M, kota tersebut dipindahkan dan dibangun kembali di lokasi saat ini oleh Kaisar Hui dari Dinasti Jin. Selama lebih dari seribu tahun, khususnya pada masa Dinasti Tang dan Dinasti Xia Barat, Suoyang berperan sebagai pusat administratif, ekonomi, militer, dan budaya di Koridor Hexi. Kota ini ditinggalkan pada abad ke-16 setelah serangkaian konflik pada masa Dinasti Ming.

Reruntuhan Suoyang mencakup kota bagian dalam, kota bagian luar, serta beberapa yangmacheng, yaitu kandang hewan yang juga berfungsi sebagai benteng pada masa perang. Di luar dinding kota ditemukan situs wilayah Ming’an lama, lebih dari dua ribu makam, serta sisa jaringan irigasi. Kawasan arkeologi ini mencakup sejumlah situs Buddha, seperti Kuil Ta’er, Gua Seribu Buddha Timur, Gua Jianquanzi (碱泉子石窟), dan Gua Hanxia (旱峡石窟).[1]

Pada 2014 Kota Suoyang dimasukkan dalam Daftar Situs Warisan Dunia UNESCO sebagai bagian dari Jalur Sutra: Jaringan Rute Koridor Chang'an-Tianshan.[2] Penetapan ini didasarkan pada nilai sejarah dan budaya kawasan tersebut sebagai simpul penting jalur perdagangan kuno yang menghubungkan Tiongkok dengan Asia Tengah. Kompleks ini dinilai merepresentasikan pertukaran lintas budaya yang intens pada masa Jalur Sutra, mencakup perkembangan agama, arsitektur, teknologi, serta pola pemukiman di sepanjang rute perdagangan tersebut.[3]

Lokasi

Kota Suoyang terletak di Gurun Gobi, di bagian tenggara Kota Suoyangcheng modern di Guazhou, pada ketinggian sekitar 1.358 meter di atas permukaan laut. Kota ini berada di sebuah oasis yang menjadi salah satu titik penting Koridor Hexi, yang menghubungkan Dunhuang di sebelah barat dan Jiuquan di sebelah timur.[4]

Reruntuhan Kota

Kota bagian dalam

Kota bagian dalam memiliki bentuk persegi tidak beraturan dengan luas sekitar 285.000 m². Keempat sisi dindingnya masing-masing berukuran 493,6 meter di sisi timur, 576 meter di sisi barat, 457,3 meter di sisi selatan, dan 534 meter di sisi utara. Dinding terbuat dari tanah padat dengan lebar dasar sekitar 19 meter dan tinggi yang masih tersisa antara 9 hingga 12,5 meter. Dua jalan utama membentang dari gerbang barat dan gerbang utara, disertai jaringan gang serta lorong yang bercabang dari kedua jalur tersebut. Sebuah dinding pemisah membagi kawasan kota bagian dalam menjadi dua sektor, yaitu sektor barat yang lebih luas dan menunjukkan konsentrasi temuan arkeologis berupa sisa-sisa permukiman dan lapisan arang tebal, serta sektor timur yang relatif lebih lapang dengan temuan yang lebih sedikit dan dipandang sebagai zona administratif. Pada sudut barat laut kota bagian dalam masih berdiri sebuah menara pengawas dari tanah padat(disebut dengan bata jemuran atau adobe) dengan tinggi sekitar 18 meter, yang merupakan salah satu struktur paling terpelihara di situs tersebut.[4]

Kota bagian luar

Kota bagian luar Suoyang memiliki denah persegi tidak beraturan, dengan dinding yang masih dapat dirunut sepanjang sisi timur 530,5 meter, barat 649,9 meter, dan utara 1.178,6 meter. Dinding selatan terputus menjadi dua segmen akibat kerusakan historis, masing-masing sepanjang 497,6 meter di bagian timur dan 452,8 meter di bagian barat. Lebar dasar dinding berkisar antara 4 hingga 6 meter, sementara tinggi bagian yang tersisa berada pada rentang 4 hingga 11 meter. Di sisi utara kawasan ini terdapat dinding internal yang memisahkan bagian utara kota luar dari kota bagian dalam. Kawasan kota luar dipandang sebagai batas terluas permukiman Suoyang pada masa Dinasti Tang, ketika kota mencapai perkembangan maksimal. Runtuhnya kawasan ini terutama disebabkan oleh banjir besar yang berasal dari pegunungan selatan, yang menerobos dinding selatan, memisahkan struktur tersebut menjadi dua bagian, dan menimbun banyak bangunan di dalamnya dengan lapisan sedimen setebal sekitar 70 sentimeter. Setelah peristiwa tersebut, kota bagian luar beserta dindingnya tidak pernah dipugar atau dibangun kembali.[4]

Yangmacheng

Di antara kota bagian dalam dan kota bagian luar terdapat beberapa struktur yangmacheng, yaitu kompleks berbenteng yang berfungsi sebagai kandang hewan dan elemen pertahanan. Struktur semacam ini merupakan ciri umum permukiman pada masa Dinasti Tang dan digunakan untuk memisahkan manusia dari ternak guna mengurangi risiko penularan penyakit, serta berperan sebagai titik pertahanan tambahan ketika terjadi konflik. Kajian arkeologis tidak menunjukkan adanya kegiatan perbaikan atau penggunaan kembali terhadap yangmacheng di Suoyang setelah berakhirnya periode Tang.[4]

Situs di Luar Kota

Kuil Ta’er

Sekitar satu kilometer di sebelah timur Suoyang terdapat reruntuhan Kuil Ta’er, sebuah kompleks keagamaan Buddha yang dalam sejumlah sumber sejarah diidentifikasi sebagai lokasi Kuil Raja Ashoka. Situs ini mengalami kehancuran selama penindasan agama Buddha oleh Kaisar Wu dari Zhou Utara, dan dibangun kembali pada masa Dinasti Tang serta Xia Barat. Catatan menyebutkan bahwa Xuanzang, biksu terkemuka dari periode Tang, pernah menyampaikan ajaran di kawasan ini sebelum memulai perjalanannya ke India. Sisa struktur yang terlihat pada masa kini, termasuk satu pagoda utama dan sebelas pagoda pendamping, umumnya berasal dari periode Xia Barat.[5]

Makam dan Pemakaman

Di kawasan sekitar Suoyang telah teridentifikasi lebih dari 2.100 makam, dengan penanggalan yang mencakup periode sejak Dinasti Han namun didominasi oleh makam-makam dari masa Dinasti Tang. Sebagian besar kompleks pemakaman tersebut belum mengalami ekskavasi sistematis. Pengecualian penting adalah sebuah makam besar dari periode Tang yang digali pada tahun 1992 setelah mengalami gangguan akibat aktivitas penjarahan. Ekskavasi tersebut menghasilkan beragam artefak, termasuk figurine sancai, patung penjaga makam, kain sutra, porselen, dan sejumlah koin. Karakter dan kualitas temuan ini mengindikasikan bahwa makam tersebut kemungkinan milik seorang pejabat berpangkat tinggi di Guazhou atau seorang pedagang kaya yang berperan dalam aktivitas ekonomi di jalur perdagangan Jalur Sutra.[4][5][6]

Sistem Irigasi

Sisa-sisa jaringan irigasi kuno yang luas masih dapat diidentifikasi di wilayah luar Suoyang. Sistem ini menyalurkan air dari Sungai Shule (dikenal sebagai Sungai Ming pada masa Han dan Sungai Ku pada masa Tang) melalui rangkaian saluran utama dan sekunder yang diperkirakan memiliki panjang keseluruhan sekitar 90 kilometer.[6] Jaringan tersebut mengairi area pertanian seluas lebih dari 60 kilometer persegi dan mendukung pemanfaatan lahan yang pada masa Han dan Tang diperkirakan mencapai sekitar 300.000 mu. Dengan tingkat pelestarian struktural yang tinggi dan cakupan yang luas, sistem ini merupakan salah satu contoh sistem irigasi kuno yang paling signifikan dan relatif tidak terganggu di wilayah barat laut Tiongkok.[5]

Sejarah

Pendirian daerah administrasi Ming’an (冥安縣) pada 111 SM di bawah Komandansi Dunhuang pada masa Dinasti Han menandai awal pembentukan struktur administratif di kawasan yang kemudian menjadi Suoyang. Pada tahun 295 M, Dinasti Jin Barat memindahkan pusat pemerintahan Komandansi Jinchang (晉昌郡) dan membangun kota baru di lokasi Suoyang saat ini, yang berfungsi sebagai pusat komando sekaligus ibu kota. Setelah keruntuhan Jin Barat, wilayah ini dikuasai secara bergantian oleh beberapa kerajaan regional, termasuk Liang Awal, Qin Awal, Liang Akhir, Liang Selatan, Liang Barat, dan Wei Utara.[5][7]

Reorganisasi administratif pada masa Dinasti Sui mengubah nama Ming’an menjadi daerah administrasi Changle. Ketika Dinasti Tang berkuasa, Komandansi Jinchang berganti menjadi Prefektur Guazhou, sedangkan Changle dinamai ulang menjadi Kabupaten Jinchang. Pada periode ini, kota mencapai perkembangan pesat dan diperkirakan memiliki populasi sekitar 50.000 jiwa.[8] Pada 776 Ketika Dinasti Tang melemah akibat pemberontakan An Lushan, wilayah tersebut berada di bawah kendali Kekaisaran Tibet sebelum direbut kembali oleh Zhang Yichao pada 849. Setelah berakhirnya Dinasti Tang, Guazhou dikuasai oleh Xia Barat sejak 1036 dan berfungsi sebagai kota penting serta pusat militer kawasan. Usai kehancuran Xia Barat oleh Mongol pada 1227, struktur administratif Guazhou baru dipulihkan kembali pada masa Dinasti Yuan.[9]

Pada masa Dinasti Ming, kota ini dikenal sebagai Kuyu, nama yang tercatat sejak 1405 dalam sumber resmi Ming Shilu. Pada 1472, penguasa Hami dipindahkan ke Kuyu untuk menghindari tekanan dari kelompok Mongolia. Tembok kota yang berasal dari masa Tang dan Xia Barat diperbaiki pada 1494, tetapi konflik berkepanjangan antara kelompok Mongol, Moghulistan, dan suku-suku pengembara menyebabkan kerusakan berat, sehingga kota akhirnya ditinggalkan pada abad ke-16.[5] Sebutan Kota Suoyang menjadi populer pada masa Dinasti Qing melalui sebuah novel yang menggambarkan pengepungan kota dan penyelamatan pasukan dengan memanfaatkan tanaman suoyang (Cynomorium), sehingga nama tersebut kemudian melekat pada reruntuhan kota.[1]

Pelestarian

Pada tahun 1996 Dewan Negara Republik Rakyat Tiongkok menetapkan Kota Suoyang sebagai Situs Sejarah dan Budaya Utama yang Dilindungi Tingkat Nasional (No. 4-50).[10] Pada 2010 situs ini dinominasikan oleh Administrasi Warisan Budaya Nasional sebagai kandidat untuk status Taman Arkeologi Nasional. Pada tahun 2014 Kota Suoyang termasuk dalam 33 lokasi yang dicatat dalam Daftar Situs Warisan Dunia UNESCO sebagai bagian dari Jalur Sutra: Jaringan Rute Koridor Chang'an-Tianshan. Luas wilayah situs Warisan Dunia ini mencapai 15.788,6 hektar (39.014 acre).[2][6]

Referensi

  1. ^ a b "锁阳城:集多种遗迹为一体的罕见古遗址--甘肃频道--人民网". gs.people.com.cn (dalam bahasa Chinese (China)). Diakses tanggal 2025-11-27.
  2. ^ a b "Suoyang city added to World Heritage list". www.chinadaily.com.cn. Diakses tanggal 2025-11-27.
  3. ^ Centre, UNESCO World Heritage. "Silk Roads: the Routes Network of Chang'an-Tianshan Corridor". UNESCO World Heritage Centre (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-27.
  4. ^ a b c d e Yao, Xue. "锁阳城遗址及墓群(丝绸之路申遗项目)[Suoyang City ruins and tombs]". Institute of Archaeology, Chinese Academy of Social Sciences. Diakses tanggal 2025-11-27.
  5. ^ a b c d e "敦煌资源学术网-Article". dh.dha.ac.cn. Diakses tanggal 2025-11-27.
  6. ^ a b c "The Site of Suoyang City Introduction-Site of Suoyang City -". www.silkroads.org.cn. Diakses tanggal 2025-11-27.
  7. ^ Zhou, Zhenhe, ed. (2007). Zhongguo xing zheng qu hua tong shi (Edisi Di 1 ban). Shanghai Shi: Fu dan da xue chu ban she. ISBN 978-7-309-05593-1.
  8. ^ "A Forgotten Ancient City". english.cri.cn. Diakses tanggal 2025-11-27.
  9. ^ Li, Hongwei, ed. (2014). 瓜州锁阳城遗址 [The Suoyang City Ruins of Guazhou]. Xi'an: San Qin Publishing. ISBN 978-7-5518-0559-9. OCLC 871188507
  10. ^ "国务院关于公布第四批全国重点文物保护单位的通知_中国概况_国情_中国政府网". www.gov.cn. Diakses tanggal 2025-11-27.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement