Kota Lama (Ponorogo)

Kota Lama adalah kawasan di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur yang terletak di timur Kecamatan Ponorogo. Kota Lama adalah lokasi ibu kota Ponorogo sebelum dipindahkan ke Kecamatan Ponorogo sekarang. Pemindahan ini terjadi pada masa bupati Mertohadinegoro atau KRMA Mertonegoro di tahun 1837 dan tiap tahunnya dirayakan dalam Kirab Pusaka pada bulan Suro. Saat ini Kota Lama berubah menjadi kawasan Pasar Pon yang ramai di perbatasan Kecamatan Ponorogo, Jenangan, Siman, dan Babadan.[1][2] Kota Lama pernah diwacanakan sebagai kecamatan tersendiri pada tahun 2018 tetapi batal akibat pengalihan anggaran dan tidak dilanjutkan sampai sekarang.[3]
Kota Lama juga disebut sebagai Kutho Wetan (yang berarti Kota Timur) sedangkan ibu kota Ponorogo yang sekarang disebut Kutho Tengah. Batoro Katong mendirikan Ponorogo di kawasan ini sekitar abad ke-15.[4] Kawasan Kota Lama memiliki beberapa peninggalan sejarah seperti Makam Batoro Katong dan Masjid Jami' Kauman Kota Lama yang banyak dikunjungi peziarah.[2][5] Kawasan Kota Lama sendiri merupakan daerah yang ramai dan padat penduduk dengan berbagai fasilitas seperti Pasar Pon, institusi pendidikan seperti Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo dan Universitas Muhammadiyah Ponorogo, serta berbagai taman seperti Taman Jatimori dan Taman Wisata Ngembag.
Sejarah

Raden Patah dari Kesultanan Demak mengirim utusan ke daerah Wengker untuk membangun pemukiman baru sekaligus menyebarkan Agama Islam. Utusan tersebut terdiri dari Batoro Katong yang didampingi oleh Kyai Ageng Mirah dan Selo Aji. Mereka mendirikan kota baru di wilayah Wengker yang saat itu dikuasai oleh Ki Ageng Kutu. Batoro Katong berhasil mendirikan sebuah pemukiman yang dinamakan Ponorogo sekitar tahun 1496. Ki Ageng Kutu hanya mengakui kekuasaan Majapahit dan menolak kekuasan Demak serta penyebaran Islam, sehingga dia menyatakan perang melawan Batoro Katong. Singkat cerita, Ki Ageng Kutu mengalami kekalahan dan Ponorogo makin berkembang pesat.[4] Batoro Katong kemudian menjadi adipati pertama di Ponorogo dan dilanjutkan oleh adipati-adipati lainnya, yakni sebagai berikut:[7]
- Raden Batoro Katong
- Pangeran Panembahan Agung
- Pangeran Dodol
- Pangeran Sedo Karya
- Pangeran Adipati Sepuh
- Pangeran Ronggo Wicitro I
- Pangeran Ronggo Wicitro II
- Raden Tumenggung Mertowongso I
- Raden Tumenggung Mertowongso II
- Raden Tumenggung Surobroto
- Raden Tumenggung Adipati Surodiningrat !
- Raden Adipati Suroloyo
- Raden Adipati Surodiningrat II
Keadaan berubah ketika Ponorogo jatuh ke tangan Belanda pasca Perang Diponegoro. Ponorogo (Kutho Wetan / Kota Timur) disatukan dengan kadipaten di sekitarnya seperti Sumoroto (Kutho Kulon / Kota Barat) dan Polorejo (Kutho Lor / Kota Utara). Tidak hanya itu, Belanda juga memindahkan ibu kota Ponorogo ke lokasi yang lebih strategis dengan KRMA Mertonegoro atau Mertohadinegoro dipilih sebagai bupati. Mertonegoro berhasil melakukan pemindahan ibu kota ke lokasi yang disebut "Kutho Tengah" pada tahun 1837 dengan membangun alun-alun, kantor pemerintahan, dan infrastruktur lainnya.[4][8]
Wilayah administrasi dan wacana pemekaran
Pemerintah Kabupaten Ponorogo pernah mewacanakan terbentuknya dua kecamatan baru di Ponorogo yaitu Kecamatan Kota Lama dan Sumberejo pada tahun 2018. Namun karena adanya Covid-19, terjadi pengalihan anggaran sehingga pemekaran kecamatan tersebut dibatalkan dan sampai sekarang tidak dilanjutkan kembali.[3]
Rencananya, Kecamatan Kota Lama mencakup kelurahan dan desa berikut:[3]
| No. | Kelurahan / Desa | Kecamatan | Nama Dusun / Dukuh / Lingkungan |
|---|---|---|---|
| 1 | Cokromenggalan | Ponorogo | Krajan, Kuat, Sambirejo |
| 2 | Japan | Babadan | Asem Growong, Krajan, Sidorejo |
| 3 | Kadipaten | Babadan | Gelungrejo, Jurang Gandul, Kebon, Krajan, Menggungan, Trasaan |
| 4 | Kertosari | Babadan | Kertosari Utara, Kertosari Selatan, Turikerep |
| 5 | Mangunsuman | Siman | Mangunsuman Krajan, Jembangan, Jetak, Karanglo, Klego, Suwaung |
| 6 | Mrican | Jenangan | Krajan, Jali, Klego, Nguluk, Pondok, Trenceng |
| 7 | Patihan Wetan | Babadan | Krajan, Batikan, Kranggan |
| 8 | Ronowijayan | Siman | Ronowijayan, Bakalan, Secinde, Sirah Ngembag |
| 9 | Setono | Jenangan | Krajan, Gondoloyo, Plampitan, Serut |
| 10 | Singosaren | Jenangan | Krajan, Jepuran, Jetak, Panjen, Segaran, Semampir, Tawangsari |
Galeri
Referensi
- ^ Nanang Diyanto (2015-08-10). "Bernostalgia di Kota Lama Ponorogo". KOMPAS.
- ^ a b Nur Wachid (2019-05-24). "Jejak Religi Pusat Pemerintahan Kota Lama". RADAR MADIUN.
- ^ a b c Charoline Pebrianti (2018-04-23). "Ponorogo Bakal Punya Dua Kecamatan Baru". DETIK.
- ^ a b c Ahmad Choirul Rofiq (2020). HISTORIOGRAFI LOKAL : BABAD PONOROGO DAN KEPAHLAWANAN MASYARAKAT PONOROGO (PDF). Yogyakarta: Bintang Pustaka Madani.
- ^ M. Marhaban (2021-04-30). "Masjid Jami Kauman Kota Lama, Saksi Sejarah Berdirinya Ponorogo". TIMES INDONESIA.
- ^ Charoline Pebrianti (2023-07-19). "Kirab Pusaka Jadi Penanda Malam 1 Suro di Ponorogo". DETIK.
- ^ Shandy A A Miraza, Damar Sasongko, Purwanto PW (2016-05-12). "Masjid Agung Kota Lama (Kutho Wetan) Ponorogo". ASLI PONOROGO. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ^ Nanang Diyanto (2024-02-09). "Mengenang KRMA Mertonegoro, Sang Arsitek Tata Kota Ponorogo: Memimpin di Tengah Badai Politik". NU PONOROGO.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


