Keresidenan Ternate
Keresidenan Ternate adalah sebuah keresidenan yang pernah didirikan pada masa Hindia Belanda. Wilayah Keresidenan Ternate meliputi seluruh wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, dan Kesultanan Bacan serta daerah taklukannya.[1][2][3] Pada tahun 1876, terjadi pemberontakan oleh Dano Baba Hasan atas tuntutan pengakuan sebagai sultan Kesultanan Jailolo yang telah ditaklukkan oleh Belanda.[4] Pemberontakan ini berhasil ditumpas pada tahun 1877 oleh para sultan dalam Keresidenan Ternate.[5] Wilayah Keresidenan Ternate menjadi lokasi perdagangan dan pengangkutan kayu sejak tahun 1895. Sebelum itu pada tahun 1881, wilayah Keresidenan Ternate telah menjadi lokasi pengadaan perkebunan, perikanan dan pertambangan.[6]
Wilayah dan pemerintahan
Wilayah Keresidenan Ternate meliputi seluruh wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, dan Kesultanan Bacan.[2] Sebelum tahun 1814, Keresidenan Ternate temasuk dalam Wilayah Kepulauan Maluku yang merupakan bagian dari Hindia Belanda. Keresidenan Ternate berada dalam pemerintahan yang sama dengan Keresidenan Manado. Setelah Hindia Belanda dikembalikan ke Pemerintah Belanda dari Inggris melalui Konvensi London 1814, Pemerintah Hindia Belanda mengubah struktur pemerintahan di Kepulauan Maluku. Wilayah Kepulauan Maluku dihapuskan dari stuktur pemerintahan dan digantikan dengan Pemerintahan Kepulauan Maluku. Dalam Pemerintahan Kepulauan Maluk hanya terdapat Keresidenan Ternate dan Keresidenan Banda dengan pusat pemerintahan di Kota Ambon.[7] Jabatan sebagai Residen Ternate pada tahun 1863 diberikan kepada P. Van der Crab. Ia menjabat hingga tahun 1864.[1]
Pada tahun 1866, Gubernur Jenderal Hindia Belanda menetapkan Keresidenan Ternate sebagai keresidenan otonom. Tanggung jawab atas pemerintahan di Keresidenan Ternate langsung dilaporkan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Ketetapan ini dinyatakan dalam Surat Keputusan Gubernur Jenderal No. 2 tertanggal 6 Desember 1866.[2] Ketetapan ini diberlakukan sejak tanggal 10 Desember 1966.[3] Cakupan wilayah Keresidenan Ternate pada saat itu meliputi wilayah Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, dan Kesultanan Bacan dan daerah taklukannya. Daerah taklukan ini membentang dari Pulau Rau dan Pulau Morotai di utara. Di bagian selatan, cakupannya termasuk Kepulauan Sula. Kesultanan Tidore juga menaklukkan Pulau Vaigeu, Salawai dan Misol di Kepulauan Papua. Daerah taklukan lainnya meliputi distrik Batanta dan Mandono di pantai timur Sulawesi. Sementara itu, Kesultanan Ternate menaklukkan bagian selatan tanjung Taliabu.[3]
Peristiwa bersejarah
Pemberontakan Dano Baba Hasan (1876-1877)
Pada tahun 1876, seorang kerabat dari Kedaton Ternate yang bernama Dano Baba Hasan menuntut pengakuan Pemerintah Hindia Belanda atas dirinya sebagai penguasa Kesultanan Jailolo dengan gelar Sultan Jailolo. Tuntutan ini berawal dari permintaan penduduk di bagian timur Pulau Halmahera untuk menjadikannya sebagai Sultan Jailolo dan meneruskan kekuasaan kesultanan menggantikan Sultan Muhammad Asgar. Gubernur Maluku menolak tuntutan tersebut dan Dano Baba Hasan kembali ke Pulau Halmahera. Setibanya di Pulau Halmahera, Dano Baba Hasan mulai mengumpulkan pajak sebagai upeti dari penduduk yang dipimpinnya.[4]
Dano Baba Hasan memulai pemberontakan pada tanggal 3 September 1876 setelah didesak oleh para sangaji dan bobato dari wilayah Weda, Waigeo, Maba dan Patani. Ia membentuk pasukan dari Tobelo dan Galela di bagian utara Pulau Halmahera dan dari rakyat di bagian timur Pulau Halmahera. Pasukan Dano Baba Hasan menyerang dan menghancurkan Kao pada tanggal tersebut. Kemudian pada tanggal 7 September, Baba Hasan beserta pasukannya berkumpul di Tobelo.[4] Residen Ternate saat itu adalah A.J. Langeveld. Ia mengirimkan laporan pemberontakan kepada para sultan di Pulau Ternate, Pulau Tidore dan Pulau Bacan. Setelah laporan diterima, bala bantuan Residen Ternate menggerakkan pasukan untuk menuntas pemberontakan. Di sisi lain, Sultan Bacan mengutus Kaicil Jamal ke Tobelo untuk mengadakan perundingan damai tetapi gagal mencapai perdamaian.[5] Akhirnya pasukan Belanda, Ternate dan Tidore mulai mendarat di utara Tobelo dan menyerang pasukan Baba Hasan. Kekalahan dialami oleh pasukan Baba Hasan dan ia menyerah pada tanggal 21 Juni 1877. Ia kemudian diasingkan ke Pulau Muntok.[5]
Kegiatan ekonomi
Pada tahun 1895, wilayah Keresidenan Ternate yang diurusi oleh Sultan Ternate telah memberikan izin kepada pedagang dari Eropa untuk mengadakan pengangkutan kayu. Sebelumnya pada tahun 1881, wilayah Keresidenan Ternate yang diurusi oleh Sultan Bacan telah mendatangani kontrak dengan perusahaan Bacan Maatschapij yang berisi izin mengadakan kegiatan perkebunan, perikanan dan pertambangan di wilayah kekuasaannya. Kedua sultan ini masing-masing menerima imbalan dan tunjangan atas izin perdagangan dan izin pengadaan kegiatan tersebut.[6]
Referensi
Catatan kaki
- ^ a b Amal 2006, hlm. 9.
- ^ a b c Hasim 2022, hlm. 97.
- ^ a b c Loupatty, S. R., dkk. (2020). Kajian Historiografi: Jaringan Niaga Masa Lalu di Maluku Utara (PDF). Ambon: Balai Pelestarian Nilai Budaya Maluku. hlm. 35. ISBN 978-623-92863-2. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b c Amal 2006, hlm. 28.
- ^ a b c Amal 2006, hlm. 29.
- ^ a b Hasim 2022, hlm. 75.
- ^ Hasim 2022, hlm. 92.
Daftar pustaka
- Amal, M. Adnan (2006). Amal, Taufik Adnan (ed.). Kepulauan Rempah-Rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250 - 1950 (PDF). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Hasim, Rustam (2022). Sultan dalam Sejarah Politik Ternate 1945 - 2002 (PDF). Ternate: Lembaga Penerbitan Universitas Khairun. ISBN 978-602-6824-33-2. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


