Kerajaan Setul Mambang Segara
Setul, secara resmi Kerajaan Setul Mambang Segara (Melayu: Kerajaan Setul Mambang Segara; Jawi: نڬري ستول ممبڠ سڬارا; Thai: เมืองสตูล; RTGS: Mueang Satun[1]) adalah sebuah kerajaan Melayu yang didirikan di pantai utara Semenanjung Melayu. Negara ini didirikan pada tahun 1808 setelah pemisahan antara penguasa Kesultanan Kedah.[2] Pemisahan tersebut menyebabkan wilayah tersebut diserahkan kepada cabang keluarga kerajaan. Kedaulatan kerajaan secara efektif berakhir pada tahun 1916, setelah pembubaran oleh pemerintah Siam. Perbatasannya sebagian besar diwariskan kepada provinsi penerusnya, yaitu Provinsi Satun, Thailand saat ini.
Etimologi
Setul mendapatkan namanya dari Buah Setul, nama lokal untuk pohon cottonfruit yang merupakan pohon asli daerah tersebut, sedangkan gelar kehormatannya—Mambang Segara—adalah varian Melayu dari Dewa Laut, yang berpotensi terkait dengan mistisisme Melayu kuno karena lokasinya di lepas pantai barat Semenanjung Malaya.[2] Interpretasi dari Mambang Segara juga dapat dilihat pada lambang provinsi saat ini.
Negara bagian ini juga secara informal disebut sebagai Setoi, sebuah kata serumpun Bahasa Melayu Kedah dari wilayah tersebut. Dalam bahasa Thailand, negara bagian ini dikenal sebagai "Satun". Pelafalan bahasa Thailand ini kemudian diadopsi menjadi nama provinsi saat ini.
Sejarah
Asal

Dulunya berlokasi di pusat Kerajaan Kedah, Setul menjadi terkenal setelah kematian Abdullah Mukarram Shah, sultan Kedah ke-20, pada tahun 1797. Runtuhnya raja mengakibatkan penobatan Ahmad Tajuddin Halim Shah II sebagai yang baru sultan. Pemilihan tersebut didukung dan diakui oleh Kerajaan Rattanakosin Siam, yang menganggap Kedah sebagai pengikut mereka. Namun, pengangkatan tersebut dengan cepat memicu krisis separatis yang parah di keluarga kerajaan setelah ditentang oleh putra mahkota, Tunku Bisnu. Untuk membantu mendamaikan kedua pihak yang bersaing, Siam menunjuk Tunku Bisnu sebagai penguasa Setul, yang menandai lahirnya Kedah menjadi dua kerajaan terpisah.[3]
Tunku Bisnu menghabiskan sebagian besar masa pemerintahannya di Kedah, tepatnya di provinsi Satun, Setul, dengan urusan lokal sebagian besar dikelola oleh ajudannya, Dato' Wan Abdullah. Meskipun demikian, sebagaimana tercatat dalam "Syair Sultan Maulana", diceritakan bahwa Tunku Bisnu adalah penguasa yang cakap yang memimpin pasukan Kedah selama perang melawan pasukan Dinasti Konbaung Burma di Phuket (sekarang Phuket, Thailand).
Referensi
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


