Kerajaan Fazughli

Kerajaan Fazughli adalah negara pra-kolonial yang terletak di wilayah yang kini mencakup Sudan bagian tenggara dan Ethiopia bagian barat. Menurut tradisi lisan, kerajaan ini didirikan oleh para pengungsi dari Kerajaan Nubia Alodia setelah ibu kotanya, Soba, jatuh ke tangan bangsa Arab atau Funj sekitar tahun 1500. Berpusat di daerah pegunungan Fazughli di tepi Sungai Nil Biru, kerajaan ini berfungsi sebagai wilayah penyangga antara Kesultanan Funj dan Kekaisaran Ethiopia. Kerajaan Fazughli bertahan hingga akhirnya digabungkan ke dalam wilayah Kesultanan Funj pada tahun 1685.
Sejarah
Sejarah awal
Pada Abad Pertengahan, sebagian besar wilayah Sudan tengah dan selatan, termasuk daerah Fazughli di perbatasan dengan Ethiopia, berada di bawah kekuasaan Kerajaan Nubia Kristen Alodia.[1] Sejak abad ke-12, Alodia mulai mengalami kemunduran,[2] yang semakin nyata sekitar tahun 1300.[3] Pada abad ke-14 dan ke-15, suku-suku Badui Arab menaklukkan sebagian besar wilayah Sudan,[4] bahkan mencapai Pulau Aba di selatan.[5] Menjelang paruh kedua abad ke-15, hampir seluruh wilayah Alodia telah didiami oleh orang Arab, kecuali daerah sekitar Soba — ibu kota Alodia yang terletak di pertemuan Sungai Nil Biru dan Nil Putih.[6]
Soba akhirnya ditaklukkan oleh bangsa Arab atau oleh bangsa Funj. Sumber-sumber Sudan memberikan beragam tanggal mengenai peristiwa ini, yaitu sekitar abad ke-9 Hijriah (1396–1494 M),[7] akhir abad ke-15,[8] tahun 1504[9] atau 1509.[10] Setelah itu, bangsa Funj mendirikan kesultanan dengan ibu kota di Sennar, yang wilayahnya meluas hingga ke Jeram Ketiga Sungai Nil di utara.[11]
Sejarawan Jay Spaulding berpendapat bahwa Kerajaan Alodia masih bertahan setelah jatuhnya Soba. Ia meyakini bahwa “Kerajaan Soba” yang disebut oleh penjelajah Yahudi David Reubeni pada tahun 1523 sebenarnya merujuk pada Alodia, yang kemungkinan berlokasi di tepi timur Sungai Nil Biru. Kerajaan ini memiliki wilayah yang luasnya dapat ditempuh dalam sepuluh hari perjalanan dan mencakup “Kerajaan Al Ga’l,” yang digambarkan sebagai wilayah bawahan dari Amara Dunqas, sultan Sennar.[12] Nama “Al Ga’l” kemungkinan mengacu pada suku Arab Jaalin.[13] Berdasarkan tradisi lisan, Spaulding juga mengemukakan bahwa bangsa Alodia pada akhirnya meninggalkan wilayah mereka di lembah Nil Biru bagian bawah dan mundur ke daerah pegunungan Fazughli di selatan, tempat mereka mendirikan kembali kerajaan mereka.[12]
Tradisi lokal juga mengenang adanya migrasi orang Alodia menuju Fazughli.[14] Fazughli sebagai tempat pengasingan bangsa Nubia juga disebutkan dalam Kronik Funj yang disusun sekitar tahun 1870.[15] Suatu kebudayaan arkeologis yang dikenal sebagai “tradisi Jebel Mahadid”,[16] berpusat di Mahadid di wilayah Qwara, Ethiopia barat, dengan arsitektur monumental dan tembikar yang mirip dengan temuan di Soba, baru-baru ini dikaitkan dengan para pengungsi Alodia tersebut. Berdasarkan bukti arkeologis, diduga bahwa mereka telah mulai tiba di wilayah perbatasan Ethiopia-Sudan sejak abad ke-14. Dengan demikian, mereka kemungkinan tiba ketika Kerajaan Alodia masih ada, meskipun sudah berada dalam masa kemunduran yang parah.[17]
Namun, perlu dicatat bahwa tradisi yang menghubungkan Fazughli dengan Alodia mungkin tidak sepenuhnya berdasarkan fakta sejarah, melainkan berfungsi untuk melegitimasi kekuasaan raja Fazughli.[18]
Referensi
- ^ Zarroug 1991, hlm. 97.
- ^ Welsby & Daniels 1991, hlm. 9.
- ^ O'Fahey & Spaulding 1974, hlm. 19.
- ^ Hasan 1967, hlm. 176.
- ^ Hasan 1967, hlm. 162.
- ^ Hasan 1967, hlm. 128.
- ^ Vantini 1975, hlm. 786–788.
- ^ Hasan 1967, hlm. 133.
- ^ Vantini 1975, hlm. 784.
- ^ Vantini 2006, hlm. 487–489.
- ^ Hasan 1967, hlm. 134.
- ^ a b Spaulding 1974, hlm. 13–14.
- ^ O'Fahey & Spaulding 1974, hlm. 29.
- ^ Spaulding 1974, hlm. 14.
- ^ Vantini 1975, hlm. 788.
- ^ Gonzalez-Ruibal & Falquina 2017, hlm. 12.
- ^ Gonzalez-Ruibal & Falquina 2017, hlm. 16–18.
- ^ Gerhards 2021, hlm. 455–456.
Bibliografi
- Gerhards, Gabriel (2021). "Some notes on the Christian medieval heritage of the Gezira (central Sudan)". Polish Archaeology in the Mediterranean. 30/2 (30/2). University of Warsaw: 439–460. doi:10.31338/uw.2083-537X.pam30.2.12. ISSN 2083-537X. S2CID 247653902.
- Gonzalez-Ruibal, Alfredo; Falquina, Alvaro (2017). "In Sudan's Eastern Borderland: Frontier Societies of the Qwara Region (ca. AD 600–1850)". Journal of African Archaeology. 15 (2). Brill: 173–201. doi:10.1163/21915784-12340011. ISSN 1612-1651.
- Gonzalez-Ruibal, Alfredo (2014). An Archaeology of Resistance: Materiality and Time in an African Borderland. Archaeology in Society. ISBN 978-1442230903.
- Hasan, Yusuf Fadl (1967). The Arabs and the Sudan. From the seventh to the early sixteenth century. Edinburgh University. OCLC 33206034.
- O'Fahey, R.S.; Spaulding, Jay L. (1974). Kingdoms of the Sudan. Methuen Young Books. ISBN 0416774504.
- Paez, Pedro (2011). Isabel Boavida; Hervé Pennec; Manuel Joao Ramos (ed.). Pedro Páez's History of Ethiopia, 1622. Vol. 1. Hakluyt Society. ISBN 978-1908145000.
- Spaulding, Jay (1974). "The Fate of Alodia" (PDF). Meroitic Newsletter. 15. Académie des Inscriptions et Belles-Lettres: 12–30. ISSN 1266-1635.
- Spaulding, Jay (1985). The Heroic Age in Sennar. Red Sea. ISBN 1569022607.
- Triulzi, A. (1981). Salt, Gold and Legitimacy: prelude to the history of a no-man's land Bela Shangul, Wallagga, Ethiopia (1800–98). Istituto di Studi Orientale. OCLC 10273177.
- Vantini, Giovanni (1975). Oriental Sources concerning Nubia. Heidelberger Akademie der Wissenschaften. OCLC 174917032.
- Vantini, Giovanni (2006). "Some new light on the end of Soba". Dalam Alessandro Roccati and Isabella Caneva (ed.). Acta Nubica. Proceedings of the X International Conference of Nubian Studies Rome 9–14 September 2002. Libreria Dello Stato. hlm. 487–491. ISBN 88-240-1314-7.
- Welsby, Derek; Daniels, C.M. (1991). Soba. Archaeological Research at a Medieval Capital on the Blue Nile. The British Institute in Eastern Africa. ISBN 1872566022.
- Zarroug, Mohi El-Din Abdalla (1991). The Kingdom of Alwa. University of Calgary. ISBN 0-919813-94-1.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


