Kesultanan Funj

Wilayah kekuasaan Kesultanan Funj saat masa keemasan pada tahun 1700.

Kesultanan Funj, juga dikenal sebagai Funjistan, Kesultanan Sennar,[a] atau Kesultanan Biru,[b] adalah sebuah kerajaan yang terletak di wilayah yang kini mencakup Sudan, barat laut Eritrea, dan barat Etiopia. Kerajaan ini didirikan pada tahun 1504 oleh bangsa Funj dan segera memeluk Islam, meskipun pada awalnya hanya secara simbolis. Hingga bentuk Islam yang lebih ortodoks mulai diterapkan pada abad ke-18, negara ini tetap berkarakter sebagai “kerajaan Afrika dengan tampilan luar yang Islami”,[2] yang memerintah atas penduduk dengan latar etnis yang beragam.[3]

Pada masa kejayaannya, wilayah kekuasaan Funj membentang dari Jeram Ketiga Sungai Nil di utara hingga ke Dataran Tinggi Etiopia dan Sungai Sobat di selatan, dari Laut Merah di timur hingga Kordofan dan Pegunungan Nuba di barat.[3] Kesultanan ini mencapai puncak kekuasaannya pada akhir abad ke-17, tetapi mulai mengalami kemunduran dan akhirnya runtuh pada abad ke-18 dan ke-19. Pada tahun 1821, sultan terakhir yang kekuasaannya telah sangat melemah menyerah tanpa perlawanan terhadap invasi Mesir Utsmaniyah.[4]

Sejarah

Asal-usul

Nubia Kristen, yang diwakili oleh dua kerajaan abad pertengahan, Makuria dan Alodia, mulai mengalami kemunduran sejak abad ke-12.[5] Sekitar tahun 1365, Kerajaan Makuria hampir sepenuhnya runtuh dan hanya tersisa sebagai negara kecil di Nubia Hilir, sebelum akhirnya lenyap sekitar 150 tahun kemudian.[6] Nasib Alodia tidak terlalu jelas;[5] beberapa kajian arkeologis menunjukkan bahwa kerajaannya mungkin telah runtuh sejak abad ke-12 atau tak lama sesudahnya, ketika ibu kotanya, Soba, tidak lagi digunakan.[7] Pada abad ke-13, wilayah Sudan tengah tampaknya terpecah menjadi sejumlah negara kecil.

Antara abad ke-14 dan ke-15, wilayah Sudan diduduki oleh suku-suku Badui yang memperkenalkan agama Islam dan bahasa Arab ke daerah tersebut.[3][8] Pada abad ke-15, salah satu tokoh Badui yang disebut dalam tradisi Sudan sebagai Abdallah Jammah dari suku Abdallabi membentuk federasi kesukuan dan menghancurkan sisa-sisa Kerajaan Alodia. Pada awal abad ke-16, federasi ini diserang oleh bangsa Funj dari selatan, kelompok penggembala nomaden yang masih menganut kepercayaan tradisional.[9][10]: 407 

Asal-usul dan afiliasi etnis bangsa Funj masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Beberapa teori menyebut mereka berasal dari bangsa Nubia atau Shilluk, sementara teori lain berpendapat bahwa Funj bukan kelompok etnis melainkan kelas sosial. Asal-usul lain yang mungkin termasuk dari Bornu, Eritrea, atau Etiopia bagian utara.[11] Tradisi Sudan menyebut bahwa para penguasa Funj menurunkan garis keturunan dari Bani Umayyah.[10]: 407, 411 [12]: 173 

Pada abad ke-14, seorang pedagang Muslim bernama al-Hajj Faraj al-Funi dari bangsa Funj telah terlibat dalam perdagangan Laut Merah.[13] Berdasarkan tradisi lisan, suku Dinka yang bermigrasi ke hulu Sungai Nil Putih dan Nil Biru setelah runtuhnya Alodia sempat berkonflik dengan bangsa Funj dan berhasil mengalahkan mereka.[14] Pada akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16, suku Shilluk tiba di pertemuan Sungai Sobat dan Nil Putih, di mana mereka berhadapan dengan masyarakat menetap yang disebut dalam tradisi mereka sebagai Apfuny, Obwongo, atau Dongo — yang kemudian diidentifikasi sebagai bangsa Funj. Bangsa Funj, yang dianggap lebih maju, akhirnya dikalahkan dalam serangkaian perang dan dipaksa untuk berasimilasi atau berpindah ke utara.[15][16]

Terdapat dua versi mengenai pendirian Kesultanan Funj pada tahun 1504. Versi pertama, yang tercatat dalam Kronik Funj (disusun pada abad ke-19), menyebut bahwa kepala suku Funj bernama Amara Dunqas bersekutu dengan Abdallah Jammah untuk menaklukkan Soba, meskipun sebagian sejarawan menilai bahwa suku Abdallabi telah menaklukkan Soba lebih dahulu.[12]: 172  Versi kedua, sebagaimana dicatat oleh penjelajah James Bruce, menggambarkan adanya pertempuran di dekat Arbadji antara kedua pihak tersebut. Terlepas dari perbedaannya, Kesultanan Funj berdiri, dengan para kepala suku Abdallabi menempati posisi bawahan,[17][10]: 407  dan bangsa Funj dengan cepat memeluk Islam.[12]: 173 

Pada tahun 1523, kerajaan ini dikunjungi oleh penjelajah Yahudi David Reubeni, yang menyamar sebagai seorang syarif.[18] Dalam catatannya, Reubeni menggambarkan penguasa Amara Dunqas sebagai seorang Muslim yang sering berkeliling wilayahnya.[12]: 173  Ia dikatakan memerintah atas “orang kulit hitam dan kulit putih”[19] di wilayah yang membentang dari selatan pertemuan Sungai Nil hingga sejauh utara Dongola,[18] memiliki kawanan ternak dalam jumlah besar, dan memimpin banyak pasukan berkuda.[19]

Catatan

  1. ^ Berdasarkan nama ibu kotanya Sennar.
  2. ^ Karena konvensi tradisional Sudan yang menyebut orang kulit hitam sebagai biru.[1]

Referensi

  1. ^ Bender, M. Lionel (1983). "Color Term Encoding in a Special Lexical Domain: Sudanese Arabic Skin Colors". Anthropological Linguistics. 25 (1): 19–27. JSTOR 30027653. Diakses tanggal 15 March 2021.
  2. ^ Loimeier 2013, hlm. 141.
  3. ^ a b c Spaulding, Jay (2005). "Funj Sultanate, Sixteenth to Eighteenth Centuries". Encyclopedia of African History 3-Volume Set (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-135-45670-2.
  4. ^ Alan Moorehead, The Blue Nile, revised edition (New York: Harper and Row, 1972), p. 215
  5. ^ a b Grajetzki 2009, hlm. 117.
  6. ^ Werner 2013, hlm. 143–146.
  7. ^ Grajetzki 2009, hlm. 123.
  8. ^ Hasan 1967, hlm. 176.
  9. ^ Loimeier 2013, hlm. 140–141.
  10. ^ a b c Kropachek, Lubos (1984). "Nubia from the late 12th century to the Funj conquest in the early 15th century". General history of Africa: Volume 4. UNESCO Publishing. ISBN 978-0-435-94807-8.
  11. ^ Kleppe, Else Johansen (1997). "The Funj Problem in Archaeological Perspective". Sudan Notes and Records (1): 1–24. ISSN 0375-2984. JSTOR 44947724.
  12. ^ a b c d Hassan, Yusuf; Ogot, B. A. (1992). "The Sudan, 1500–1800". General History of Africa: Volume 5. UNESCO Publishing.
  13. ^ O'Fahey & Spaulding 1974, hlm. 22.
  14. ^ Beswick 2004, hlm. 32–33.
  15. ^ Beswick 2014, hlm. 108–110.
  16. ^ Beswick 2004, hlm. 33.
  17. ^ O'Fahey & Spaulding 1974, hlm. 25–26.
  18. ^ a b O'Fahey & Spaulding 1974, hlm. 23.
  19. ^ a b Crawford 1951, hlm. 136.

Bibliografi

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement