Kekaisaran Toungoo Pertama

Kekaisaran Toungoo Pertama (bahasa Burma: တောင်ငူ ခေတ်, [tàʊɴŋù kʰɪʔ]; juga dikenal sebagai Dinasti Toungoo Pertama, Kekaisaran Burma Kedua atau Kekaisaran Toungoo) adalah kekuatan dominan di Asia Tenggara Daratan pada paruh kedua abad ke-16. Pada masa kejayaannya, Toungoo "memegang kedaulatan dari Manipur sampai Kamboja dan dari perbatasan Arakan sampai Yunnan" dan "mungkin merupakan kekaisaran terbesar dalam sejarah Asia Tenggara". Dinasti yang "paling sukses dalam hal penjelajahan dan militer" dalam sejarah Burma tersebut juga "berumur terpendek".

Kekaisaran ini berkembang dari sebuah Kepangeranan (kerajaan kecil) Toungoo, sebuah negara kecil taklukan Kerajaan Ava sampai tahun 1510. Negara kecil yang terkurung daratan ini mulai bangkit sekitar tahun 1530-an di bawah kepemimpinan Raja Tabinshwehti, yang ingin mendirikan negara terbesar di Myanmar seperti Kerajaan Pagan pada tahun 1550. Pewaris takhtanya yang terkenal, Raja Bayinnaung, mengadakan perluasan wilayah kekaisaran secara besar-besaran, menaklukkan sebagian besar daratan Asia Tenggara pada tahun 1565. Dekade berikutnya ia habiskan dengan mempertahankan keutuhan wilayahnya, menumpas pemberontakan yang dilakukan oleh bangsa Siam, Lan Xang, dan Negara-negara Shan paling utara. Dari tahun 1576 dan setelahnya, ia menyatakan pengaruh wilayah yang sangat luas di bagian barat—negara-negara trans-Manipur, Arakan, dan Sailan. Kekaisaran, secara bersama-sama mempertahankan hubungan perlindungan-klien. Pasca wafatnya Raja Bayinnaung pada tahun 1581, kekaisaran segera mengalami kemunduran. Pewaris Bayinnaung, Raja Nanda Bayin, tidak mendapat dukungan penuh dari raja-raja bawahan, yang mempercepat runtuhnya kekaisaran 18 tahun setelahnya.

Berdirinya Kekaisaran Toungoo Pertama menandai berakhirnya zaman kerajaan-kerajaan kecil di daratan Asia Tenggara. Meskipun kekaisaran luas ini berumur pendek, kekuatan-kekuatan yang mendasari kebangkitannya tidaklah demikian. Dua negara penerusnya, Restorasi Toungoo Burma dan Siam Ayutthaya, memulai menguasai wilayah barat dan tengah daratan Asia Tenggara, masing-masing, sampai pertengahan abad ke-18.

Daftar pustaka

  • Aung-Thwin, Michael A.; Maitrii Aung-Thwin (2012). A History of Myanmar Since Ancient Times (Edisi illustrated). Honolulu: University of Hawai'i Press. ISBN 978-1-86189-901-9.
  • Aung Tun, Sai (2009). History of the Shan State: From Its Origins to 1962. Chiang Mai: Silk Worm Books. ISBN 978-974-9511-43-5.
  • Prince Damrong Rajanubhab (1928). Chris Baker (ed.). Our Wars with the Burmese: Thai–Burmese Conflict 1539–1767. Diterjemahkan oleh Aung Thein (Edisi 2001). Bangkok: White Lotus. ISBN 974-7534-58-4.
  • Dijk, Wil O. (2006). Seventeenth-century Burma and the Dutch East India Company, 1634–1680 (Edisi illustrated). Singapore: NUS Press. ISBN 9789971693046.
  • Fernquest, Jon (Spring 2005). "The Flight of Lao War Captives from Burma back to Laos in 1596: A Comparison of Historical Sources" (PDF). SOAS Bulletin of Burma Research. 3 (1). ISSN 1479-8484. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2022-01-18. Diakses tanggal 2021-10-05.
  • Harvey, G. E. (1925). History of Burma: From the Earliest Times to 10 March 1824. London: Frank Cass & Co. Ltd – via archive.org.
  • Htin Aung, Maung (1967). A History of Burma. New York and London: Cambridge University Press.
  • Huxley, Andrew (2012). "Lord Kyaw Thu's Precedent: a Sixteenth Century Law Report". Dalam Paul Dresch; Hannah Skoda (ed.). Legalism: Anthropology and History. Oxford: Oxford University Press. ISBN 9780191641473.
  • James, Helen (2004). Keat Gin Ooi (ed.). Southeast Asia: a historical encyclopedia, from Angkor Wat to East Timor, Volume 2. ABC-CLIO. ISBN 1-57607-770-5.
  • Kala, U (1724). Maha Yazawin (dalam bahasa Burma). Vol. 1–3 (Edisi 2006, 4th printing). Yangon: Ya-Pyei Publishing.
  • Lieberman, Victor B. (1984). Burmese Administrative Cycles: Anarchy and Conquest, c. 1580–1760. Princeton University Press. ISBN 0-691-05407-X.
  • Lieberman, Victor B. (2003). Strange Parallels: Southeast Asia in Global Context, c. 800–1830, volume 1, Integration on the Mainland. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-80496-7.
  • Maha Sithu (2012) [1798]. Kyaw Win; Thein Hlaing (ed.). Yazawin Thit (dalam bahasa Burma). Vol. 1–3 (Edisi 2nd). Yangon: Ya-Pyei Publishing.
  • Myint-U, Thant (2006). The River of Lost Footsteps—Histories of Burma. Farrar, Straus and Giroux. ISBN 978-0-374-16342-6.
  • Phayre, Lt. Gen. Sir Arthur P. (1883). History of Burma (Edisi 1967). London: Susil Gupta.
  • Ratchasomphan (Sænluang.) (1994). David K. Wyatt (ed.). The Nan Chronicle. SEAP Publications. ISBN 9780877277156.
  • Sein Lwin Lay, Kahtika U (1968). Mintaya Shwe Hti and Bayinnaung: Ketumadi Taungoo Yazawin (dalam bahasa Burma) (Edisi 2006, 2nd printing). Yangon: Yan Aung Sarpay.
  • Simms, Peter; Sanda Simms (2001). The Kingdoms of Laos: Six Hundred Years of History (Edisi illustrated). Psychology Press. ISBN 9780700715312.
  • Smith, Ronald Bishop (1966). Siam; Or, the History of the Thais: From 1569 A.D. to 1824 A.D. Vol. 2. Decatur Press.
  • Stuart-Fox, Martin (2008). Historical Dictionary of Laos. Scarecrow Press. ISBN 9780810864115.
  • Tarling, Nicholas (1999). The Cambridge History of Southeast Asia. Vol. 2 (Edisi illustrated). Cambridge University Press. ISBN 9780521663700.
  • Than Tun (1983). The Royal Orders of Burma, A.D. 1598–1885. Vol. 1. Kyoto: Kyoto University.
  • Than Tun (2011). "23. Nga Zinga and Thida". Myanmar History Briefs (dalam bahasa Burma). Yangon: Gangaw Myaing.
  • Thaw Kaung, U (2010). Aspects of Myanmar History and Culture. Yangon: Gangaw Myaing.
  • Thein Hlaing, U (2000). Research Dictionary of Burmese History (dalam bahasa Burma) (Edisi 2011, 3rd). Yangon: Khit-Pya Taik.
  • Yule, Capt. Henry (1857). Dr. Norton Shaw (ed.). "On the Geography of Burma and Its Tributary States". The Journal of the Royal Geographical Society. 27. London: The Royal Geographical Society.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement