Kecelakaan KRL Commuter Line Bintaro 2013

Kecelakaan KRL Commuter Line
Bintaro 2013
Kejadian saat KRL terguling dan terbakar
Peta
Rincian
TanggalDesember 9, 2013; 12 tahun lalu (2013-12-09)
Waktu11.15-11.20 WIB
LetakBintaro, Jakarta, Indonesia
Koordinat06°15′23″S 106°45′46″E / 6.25639°S 106.76278°E / -6.25639; 106.76278
NegaraIndonesia
Jalur1 (Serpong-Tanah Abang)
OperatorPT KAI Commuter Jabodetabek
Daerah Operasi I Jakarta
Jenis kecelakaanTabrakan dengan truk tangki
PenyebabKesalahan teknis
(Palang Pintu kereta api yang tidak berfungsi)
Kesalahan manusia
(Truk Bermuatan Tangki menerobos)
Statistik
Kereta api1 (Kereta rel listrik Tokyo Metro seri 7000)
Kru3
Meninggal dunia7 (4 penumpang, 3 petugas KRL)
Luka-luka73
KerusakanGerbong pertama yang khusus untuk penumpang wanita hingga gerbong ketiga anjlok dan terguling ke kanan
sehingga kabin masinis rusak berat
serta truk muatan tangki terbakar parah

Kecelakaan KRL Commuter Line Bintaro 2013 (juga disebut Tragedi Bintaro II) adalah kecelakaan kereta api yang terjadi pada tanggal 9 Desember 2013, ketika sebuah kereta api rel listrik (KRL) Commuter Line menabrak sebuah truk tangki Pertamina yang membawa bahan bakar jenis premium sebanyak 24.000 liter di perlintasan kereta api Pondok Betung, Bintaro pada Senin pagi.[1] Palang pintu perlintasan kereta api yang tidak berfungsi dengan baik menyebabkan sebuah truk tangki menerobos perlintasan saat kereta komuter mendekat.[2]

Kronologi

KRL Commuter Line jurusan Serpong–Tanah Abang bernomor 1131 berangkat dari Serpong sekitar pukul 11.01, tetapi sedikit terlambat karena ada perbaikan AC. Setelah itu berangkat menuju Pondok Ranji. Disitulah kesalahan mulai terjadi. Truk tangki melewati perlintasan, sesaat kemudian KRL akan melintas. Petugas langsung mengibarkan semboyan berupa bendera merah. Dikarenakan jarak antara truk dan KRL sudah terlalu dekat, sehingga KRL tidak dapat berhenti sebelum perlintasan, pada akhirnya pada pukul 11.25 terjadilah tabrakan. Sekitar pukul 11.30 barulah tiga kali terjadi ledakan.

Lokasi

Tabrakan terjadi di perlintasan sebidang Jalan Bintaro Permai bernomor JPL 57A dekat dengan Pondok Betung, sekitar 200 meter dari lokasi Tragedi Bintaro 1 pada tahun 1987.

Sebelum kejadian

Asisten masinis sempat memberitahukan bahwa akan siap-siap menghadapi tabrakan, tetapi penumpang tidak menghiraukan. Penumpang langsung terjatuh dan miring ke kanan. Saksi mata menyebutkan bahwa KRL berhenti mendadak dan lampu kereta mati. Penumpang di gerbong 1 & 2 berhamburan ke belakang karena di depan hawanya terasa panas.

Korban

Kondisi TM 7021/7121F yang sudah tidak beroperasi pascakecelakaan Bintaro 2013, di Stasiun Cikaum.

Masinis, Asisten Masinis, Teknisi Kereta meninggal karena posisi mereka terjepit. Sementara 2 penumpang wanita yang bernama Ny. Rosa meninggal di Rumah Sakit Suyoto Veteran. Masinis KA 1131, Darman Prasetyo dimakamkan di Purworejo.[butuh rujukan]

Pascakejadian

Kecelakaan ini membuat lalu lintas kereta api antara Kebayoran dan Pondok Ranji terhambat, sehingga kereta dari arah Merak maupun Tanah Abang tidak bisa melintas. Butuh beberapa waktu sampai jalur bisa dilewati, dan kereta api yang pertama melewati jalur ini pasca-kecelakaan adalah kereta api Krakatau Express dari arah Kediri pada dini hari esok harinya. Namun KRL belum bisa melintas karena aliran Listrik Aliran Atas (LAA) belum selesai diperbaiki. Setelah beberapa hari, akhirnya KRL pun bisa melintas. Pada beberapa hari pasca-kecelakaan, kecepatan di tempat kejadian perkara dibatasi 5 km/jam.

Meskipun korban jiwa dari kecelakaan ini tidak sebanyak kecelakaan-kecelakaan sebelumnya, tetapi ini membuat PT KAI Commuter Jabodetabek melakukan pembenahan, seperti penambahan petunjuk keadaan darurat pada KRL, mengingat pada saat kejadian, banyak penumpang yang kebingungan untuk membuka pintu saat darurat, juga jalan keluar lewat jendela.

Kecelakaan ini mengakibatkan salah satu KRL Tokyo Metro seri 7000, yaitu set 7121F harus afkir. Meskipun kereta yang rusak berat hanya kereta 7121 dan sisanya tidak rusak atau rusak ringan, akibat kerusakan di kereta 7121 yang sudah sulit diperbaiki, khususnya bagian kabin masinis, maka KRL ini berhenti beroperasi dan menjadi bahan kanibalisasi komponen untuk kereta yang masih beroperasi. Kini, KRL Tokyo Metro 7000 set 7121F telah dirucat di Stasiun Cikaum, kecuali kereta yang bertabrakan (7121) yang disimpan di Depo Depok. Pada akhir tahun 2017, kereta 7121 pun dirucat di Depo Depok.

Tiga orang awak kabin KRL yang gugur pada kecelakaan ini diabadikan dengan prasasti yang ditempatkan di Stasiun Tanah Abang, dan perlintasan sebidang tempat terjadinya kecelakaan kini telah ditutup dan jalan layang telah dibangun untuk mencegah kecelakaan serupa terulang. Selain itu nama masinis Darman Prasetyo diabadikan menjadi nama sebuah Balai Pelatihan Teknik Traksi, sebuah sekolah bagi calon masinis yang berada di Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

Referensi

  1. ^ "Updated: Train Crashes Into Gas Tanker in Bintaro, Several Killed". The Jakarta Globe. Diakses tanggal 9 Desember 2013.
  2. ^ "Kecelakaan KRL Bintaro Diduga karena Malafungsi Palang Pintu". Metrotvnews.com. 9 Desember 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-12-13. Diakses tanggal 10 Desember 2013.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement