Kebudayaan Mentawai
Kebudayaan Mentawai adalah kebudayaan yang diterapkan dalam kehidupan suku Mentawai di Kepulauan Mentawai.[1] Semboyan yang melandasi kebudayaan Mentawai ialah musara kasimaeru yang berarti bersama menuju kebaikan.[2][3] Kebudayaan Mentawai memiliki entitas kebudayaan berupa rumah panjang Uma, pakaian khas yang disebut kabit, dan tato yang dibuat pada tubuh suku Mentawai.[4]
Sejak akhir abad ke-17 Masehi, kebudayaan Mentawai di bagian selatan Kepulauan Mentawai telah mengalami perubahan akibat pengaruh kebudayaan dari para pendatang.[5] Pada zaman modern, kebudayaan Mentawai juga mengalami modernisasi akibat adanya keperluan terhadap barang kebutuhan harian yang mesti dibeli dengan uang. Peningkatan kebutuhan akan uang membuat sistem pertanian subsisten dalam kebudayaan Mentawai berubah menjadi sistem pertanian komersial.[6]
Penerapan
Kebudayaan Mentawai merupakan kebudayaan yang berkembang pada masyarakat dari suku Mentawai di Pulau Siberut dan pulau-pulau di sekitarnya yang termasuk bagian dari Kepulauan Mentawai. Masyarakat suku Mentawai masih mengadakan pola budaya yang bersifat tradisional.[1] Pusat kebudayaan Mentawai terletak di Pulau Siberut.[7] Adat yang berlaku dalam kebudayaan Mentawai dilandasi oleh semboyan yaitu musara kasimaeru.[2] Semboyan ini berarti bersama menuju kebaikan dan diberlakukan dalam seluruh aspek kehidupan bermasyarakat di Kepulauan Mentawai.[3]
Entitas budaya
Entitas budaya dalam kebudayaan Mentawai yaitu rumah panjang Uma, pakaian khas yang disebut kabit, dan tato yang dibuat pada tubuh suku Mentawai. Pada awal dasawarsa 1970-an, kesenian dan ritual kebudayaan Mentawai pernah mengalami tekanan kebudayaan dari Pemerintah Indonesia pada masa Orde Baru. Namun tekanan kebudayaan tersebut dihilangkan sejak tahun 1992 dalam Era Reformasi di Indonesia melalui penetapan kawasannya sebagai daerah otonom berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 1999.[4]
Pengaruh budaya luar
Suku Mentawai merupakan masyarakat yang tidak mengalami isolasi sosial terhadap kebudayaan di luar Kepulauan Mentawai. Karena itu, kebudayaan Mentawai terpengaruh oleh kebudayaan lain.[8] Pada akhir abad ke-17 Masehi, kebudayaan Mentawai yang bersifat tradisional mulai terpengaruh oleh kebudayaan lain yang berasal dari penduduk pendatang. Pulau-pulau di Kepulauan Mentawai yang paling awal ditinggali oleh para pendatang ialah Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan. Ketiga pulau tersebut terletak di bagian selatan Kepulauan Mentawai. Para pendatang membuka perkebunan rempah-rempah di Kepulauan Mentawai khususnya perkebunan lada. Sementara itu, Pulau Siberut baru dihuni oleh penduduk pendatang pada tahun 1904 M. Kedatangan pendatang yang lebih awal di ketiga pulau tersebut membuat kebudayaan Mentawai penduduknya menjadi lebih bersifat terbuka dibandingkan dengan kebudayaan Mentawai pada penduduk di Pulau Siberut.[5]
Pada zaman modern, kebudayaan Mentawai juga mengalami modernisasi akibat adanya kebutuhan terhadap barang-barang yang tidak dapat diproduksi sendiri oleh suku Mentawai. Barang-barang ini antara ain berupa baju, sabun, peralatan rumah tangga dan peralatan elektronik. Kebutuhan terhadap barang-barang tersebut membuat kebutuhan akan uang untuk membelinya juga meningkat. Peningkatan kebutuhan akan uang membuat sistem pertanian subsisten dalam kebudayaan Mentawai berubah menjadi sistem pertanian komersial.[6]
Referensi
Catatan kaki
- ^ a b Munaf, dkk. 2001, hlm. 10.
- ^ a b Basyar dan Yurnaldi 2021, hlm. 4.
- ^ a b Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Republik Indonesia (5 Februari 2025). "Peraturan Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Nomor 1 Tahun 2025 tentang Logo dan Tunggul Unit Pelaksana Teknis Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan dan Basarnas Spesial Grup". Biro Hukum dan Kerja Sama, Kantor Pusat Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan. hlm. 54. Diakses tanggal 18 Juni 2025.
- ^ a b Basyar dan Yurnaldi 2021, hlm. 3.
- ^ a b Munaf, dkk. 2001, hlm. 20.
- ^ a b Christyawaty, dkk. 2007, hlm. 63-64.
- ^ Munaf, dkk. 2001, hlm. 6.
- ^ Christyawaty, dkk. 2007, hlm. 63.
Daftar pustaka
- Basyar, B., dan Yurnaldi (Desember 2021). Yudas Sabaggalet: Menghantar Pariwisata Mentawai ke Level Dunia (PDF). Padang: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas. ISBN 978-623-395-280-4. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Christyawaty, E., dkk. (2007). Effendi, Nursyirwan (ed.). Sistem Perladangan Suku Bangsa Mentawai di Muntei, Siberut Selatan (PDF). Padang: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang. ISBN 978-979-9388-78-0. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Munaf, Y., dkk. (2001). lndiyati, H., dan Ekoyanantiasih, R. (ed.). Kajian Semiotik dan Mitologis terhadap Tato Masyarakat Tradisional Kepulauan Mentawai (PDF). Jakarta: Pusat Bahasa. ISBN 979-685-181-4. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


