Impor sampah ke Indonesia
Impor sampah ke Indonesia merupakan bagian dari masalah perdagangan sampah global yang melibatkan Indonesia menjadi negara penerima. Indonesia menjadi pusat industri daur ulang global setelah Tiongkok melarang impor sampah pada 2018.[1] Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), impor sampah plastik Indonesia pada 2024 secara keseluruhan mencapai 262,9 ribu ton dengan nilai mencapai 105 juta dolar AS, naik 4% dari 2023 yang sebanyak 252,3 ribu ton.[2] Jenis sampah yang masuk meliputi limbah nonbahan berbahaya dan beracun (B3) untuk kelompok kertas dan plastik. Data yang dikumpulkan The Guardian menyebutkan bahwa Indonesia mengimpor sekitar 3 juta ton kertas bekas dan karton setiap tahunnya.[1] Sebagaimana negara berkembang lainnya, Indonesia saat ini belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang baik.[3]
Berdasarkan catatan Global Initiative Against Transnational Organized Crime, impor sampah ke Asia dan Afrika telah lama dilakukan oleh negara-negara Barat, tepatnya sejak 1970-an.[3] Sampah-sampah yang berdatangan ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, berasal dari Eropa, Amerika Utara, Jepang, Selandia Baru, dan Australia.[1][2][4] Indonesia hingga saat ini hanya memiliki fasilitas daur ulang sampah dasar, sehingga belum mampu melakukan pengelolaan sampah yang efektif dan aman. Sementara itu, sampah yang datang juga banyak yang berupa limbah campuran ataupun B3 yang perlu penanganan khusus. Hal ini diperparah dengan penyelundupan jenis sampah di luar kesepakatan oleh negara-negara pengekspor, seperti sampah plastik kemasan makanan yang elastis.[3]
Sampah plastik yang tidak dapat didaur ulang berakhir dengan dibuang dan dibakar, sehingga berpotensi menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan. Beberapa kasus yang terjadi adalah penggunaan sampah plastik skrap hasil impor sebagai bahan bakar industri tahu rumahan di sejumlah wilayah di Jawa Timur, seperti di Desa Tropodo, Sidoarjo.[1][4][5] Ada lebih dari 50 pengusaha tahu yang menggunakan sampah plastik bermutu rendah sebagai bahan bakar untuk menekan biaya produksi.[6] Plastik skrap merujuk kepada komponen-komponen jenis plastik yang telah terurai dari bentuk aslinya dan mempunyai fungsi yang tidak sama lagi dengan barang semula.[7] Hasil pembakaran di industri tahu ini telah membawa dampak buruk bagi lingkungan di sekitar desa Bangun dan Tropodo. Berdasarkan laporan riset kolaborasi the International Pollutants Elimination Network (IPEN), yayasan Nexus3 (Indonesia), Ecoton, dan Arnika (lembaga swadaya masyarakat lingkungan Ceko) pada 2019, telur ayam dari dua desa tersebut mengandung kadar dioksin tinggi dan dinyatakan tertinggi di Asia.[8][9]
Impor sampah elektronik
Selain sampah plastik dan logam, sejak sekitar 2004 Indonesia bersama Malaysia, Thailand, dan Filipina menjadi negara tujuan ekspor sampah barang elektronik (e-waste) dari Amerika Serikat. Berdasarkan laporan investigasi badan pengawas lingkungan Basel Action Network (BAN) yang berbasis di Seattle, AS, jutaan toh sampah elektronik 10 perusahaan Amerika dikirim ke beberapa negara berkembang yang belum memiliki teknologi pengelolaan limbah elektronik yang memadai. Limbah elektronik yang masuk ke negara-negara Asia Tenggara tersebut berupa perangkat bekas, seperti telepon seluler dan komputer, yang mengandung material berharga dan logam beracun seperti timbal, kadmium, dan merkuri.[10]
Daftar rujukan
- ^ a b c d Neilson, Michael (2025-05-09). "Toxic tofu? How plastic waste from the west fuels food factories in Indonesia". The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2025-06-20.
- ^ a b Yonatan, Agnes Z. (24 April 2025). "Indonesia Terima Kiriman Sampah dari Eropa, Ada Plastik hingga Kertas". GoodStats. Diakses tanggal 2025-06-20.
- ^ a b c Pandu, Pradipta (2024-09-08). "Mengatasi Dampak Negatif Impor Sampah ke Indonesia". Kompas. Diakses tanggal 2025-06-20.
- ^ a b Trigger (2025-05-23). "Limbah Plastik Impor Dibakar untuk Produksi Tahu di Jawa Timur, Picu Bahaya Kesehatan dan Lingkungan". Trigger. Diakses tanggal 2025-06-20.
- ^ Astuti, Runik Sri (2022-05-31). "Industri Tahu di Sidoarjo Kembali Gunakan Bahan Bakar dari Sampah Plastik". Kompas. Diakses tanggal 2025-06-20.
- ^ Purningsih, Dewi (2019-11-26). "Dioksin Bakaran Sampah Plastik Mengontaminasi Telur di Jawa Timur". Greeners. Diakses tanggal 2025-07-06.
- ^ Raudya, Pramesti, Maghfira; Wahyudi, Fendy Eko, (2020-09-25). "Analisis perubahan kebijakan impor skrap plastik Indonesia dari negara-negara maju tahun 2016-2019 / 47/HI/2020". eprints2.undip.ac.id. Diakses tanggal 2025-06-21. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
- ^ Says, Mold Remediation Service Near Me (2025-05-06). "Akibat Impor Sampah Negara Maju, Tropodo Jadi Salah Satu Daerah Paling Beracun Dunia - Nexus3 Foundation" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-07-06.
- ^ Kahfi, Kharishar (2019-11-04). "Plastic or egg? Imported waste contaminates East Java's food chain: Report - National". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-07-06.
- ^ Ramadhan, Adhitya (2025-10-24). "Mengapa Indonesia Menjadi Tempat Pembuangan Limbah Elektronik?". Kompas.id. Diakses tanggal 2025-10-25.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


